Showing posts with label Cara Hidup Islam. Show all posts
Showing posts with label Cara Hidup Islam. Show all posts

Bagaimana Rasulullah Shollohu Álaihi wa Salla Merawat "Jerawat"?


Jauh beradab - abad yang lalu Rasulllah mengajar cara mengatasi jerawat. Jauh sebelum teknologi modern ada, bahkan apa yang Rasulullah ajarka terbukti secara ilmiah.
Masya Allah, sungguh Islam melalui Rasullah sangat memperhatikan umatnya. Bahkan untuk masalah jerawat, Rasulullah mengajarkan cara perawatan dan penanggulangannya. Jerawat bagi sebagian orang mengganggu, apalagi ketika jerawat menyebabkan radang atau infeksi.

Sedangkan menurut ulama Ibnu Qayyim Al-Jawziyah, jerawat atau dalam bahasa arab disebut "batsrah" adalah sejenis benjolan kecil yang terdiri dari semacam dzat panas yang tumbuh secara alami.

Lalu bagaimana Rasulullah merawat wajah dan mengobati "Jerawat"?

1. Berwudhu
Rasulullah menganjurkan bagi kita untuk menjaga wudhu, ketika kita berwudhu maka kita membersihkan kotoran kotoran penyebab jerawat dari muka. Rasulullah bersabda:

"Tahukah kalian bila seseorang memiliki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya di antara kuda-kuda yang berwarna hitam, yang tidak ada warna selainnya, bukankah Ia akan mengenali kudanya? Para sahabat menjawab, Tentu Ya Rasulullah, Rasulullah kemudian bersabda, Umatku nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi, kedua tangan dan kaki karena bekas wudhu mereka." (HR Muslim)

Selain membersihkan wajah dari kotoran, wudhu juga dapat menggugurkan dosa dari tubuh, sebagimana hadist Rasulullah: 

"Begitu seseorang berwudhu misalkan pada urutan pertama berkumur dan menghirup air, kemudian mengeluarkannya dari hidungnya melainkan keluar semua dosa-dosa dari mulut dan hidung. Kemudian jika ia membasuh mukanya menurut apa yang diperintahkan Allah, jatuhlah dosa-dosa mukanya dari ujung jenggotnya bersama tetesan air. Kemudian bila membasuh kedua tangan sampai kedua siku, jatuhlah dosa-dosa dari ujung jari-jarinya bersama tetesan air. Kemudian mengusap kepala maka jatuh semua dosa dari ujung rambut bersama tetesan air, kemudian membasuh dua kaki sampai ke mata kaki, maka jatuhlah semua dosa kakinya dari ujung jari bersama tetesan air. Maka bila ia shalat sambil memuja dan memuji Allah menurut lazimnya, dan membersihkan hati dari segala sesuatu selain Allah, maka keluar dari semua dosanya bagaikan lahir dari perut ibunya." (HR Muslim)

 Insya Allah ketika kita menjaga wudhu maka akan mendapatkan kebaikan yang berlipat
- Menghilangkan kotoran
- Menggugurkan dosa

2.   Mengoleskan Minyak Zarirah (minyak pohon arum/pacar belanda) ke Wajah

Istri nabi Aisyah R.A bercerita, suatu hari pada haji wada' Rasulullah SAW menemui istri Beliau. Rasulullah lalu melihat di antara dijari jemari mereka tumbuh semacam jerawat. Rasulullah lantas bertanya kepada istrinya, “Apakah engkau punya minyak wangi dzarirah?.” Mereka menjawab punya. Rasulullah bersabda, “Bubuhkan dijerawatmu itu seraya membaca doa

Allahumma musogghiral kabiir wa mukabbiras soghir soggir maabi

artinya: "Ya Allah, yang mengecilkan yang besar dan membesarkan yang kecil, kecilkanlah jerawat ini."

Hadits yang diakui oleh Adz-Dzahabi di atas dikeluarkan oleh Al-Hakim. Adz-Dzahabi mengatakan sanadnya shahih.

Silakan dicoba, semoga bermanfaat dan pahala mengalir. Aamiin

Pohon Arum atau Pacar Belanda

Bentuk Tumbuhan Arum atau Pcar Belanda





Pilih Syurga atau Neraka, Kelak Kita Semua Akan Ke Akhirat



Kehidupan ini sungguh singkat, bila dihitung berdasarkan hitungan akhirat. Kita hanya hidup selama 60 menit, sungguh sesuatu yang singkat. Kita lahir--tumbuh menjadi balita--tumbuh menjadi remaja--tumbuh menjadi dewasa--tmenjadi tua--kemudian meninggal.
Bila kita tidak memanfaatkan waktu yang singkat ini, niscaya kita pasti menyesal dan penyesalan itu tak bisa diulang lagi. Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Demi Waktu"
"Sesungguhnya manusia dalam kerugian"
(Al-Hasyr: 1-2)

Api sebuah lilin bisa membuat kita terbakar, api yang Allah Azza wa Jalla turunkan ke dunia ini hanyalah 1/70 kali api di Akhirat. Rasulullah ketika diperlihatkan  neraka Jahannam tiba - tiba Rasulullah pingsan.

Berikut ini video tentang perjalanan hidup yang begitu singkat, semoga bermanfaat

Hakikat Kebahagian

 
 

Orang yang bahagia adalah orang yang apabila memperoleh nikmat bersyukur; apabila memperoleh musibah, bersabar; dan apabila berbuat dosa, beristighfar.


Banyak pendapat saling berlainan dalam mendefinisikan makna kebahagian. Masing-masing memiliki kamus tersendiri sesuai pemahaman dan keyakinan pandangannya terhadap kehidupan, lingkungan , dan wawasan ilmunya. Pendapat mereka berkisar seputar harta, kenikmatan dan kesenangan; pengetahuan dan seni; hobi dan rekreasi; kebebasan dan bacaan; kemenangan dan kesuksesan; serta tuntunan-tuntunan hidup yang lain.
Di sisi lain, orang yang beriman dan beramal shalih adalah sebaik-baik makhluk. Neraca timbangan mereka dalam mengukur kehidupan yang bahagia adalah syariat yang suci. Hujjah mereka adalah wahyu Ilahi. Dalil perkataan mereka adalah risalah rabbaniyah yang diemban para Rasul dan dibawa para Nabi Shollohu A’laihi wa Sallam. Kebagian, menurut mereka adalah tauhid yang murni, yang tak tercemari noda syirik. Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”

Iman yagn kuat kepada Allah, Alquran dan Rasul-Nya; sikap ridha terhadap hokum-hukum Allah dan tunduk kepada-Nya siertai dengan ketaatan tanpa tawar-menawar—yang dengannya mereka menjalankan apa yang dilarang--; bersbar terhadap ketentuan takdir di dalamnya; ridha dengan aoa yang dibagikan Allah untuk mereka; menerima hokum Allah yang berlaku atas mereka; memuji Allah atas karunia nikmat yang diberikan kepada mereka dan bersyukur atas hidayah kepada pemberinya, seraya mengharapkan balasan yang baik kepada  Dzat yang menentukan dan memutuskannya.
Singkat kata, orang yang bahagia adalah orang yang apabila memperoleh nikmat bersyukur; apabila memperoleh msuibah, bersabar, dan apabila berbuat dosa, beristighfar.
Ketaatan akan menjadikannya konsisten terhadap wahyu dan sunnah Nabi; msuibah akan menjadikannya sabar—yang dengan itu beribadah dan mengharapkan pahala dari-Nya; sedangkan  dosa-dosa akan membuatnya beristighfar dan meminta ampun pada Allah, serta menyertainya.
Niat seorang mukmin selau berada dalam kebaikan. Bangun dan tidurnya, makan dan minumnya, selalu diniatkan untuk emngharapkan pahala dari Allah Azza wa Jalla, sehingga seluruh aktivitasnya menjelma menjadi ibadah. Desah nafasnya sebagai ketaatan dan aktivitasnya sebagai taqorrub (pendekatan diri kepada Allah). Seluruh kegiatan dan amal ibadahnya adalah lillah (untuk Allah). Niat, perkataan, dan perbuatannya untuk Allah; daya dan upayanya karena pertolongan Allah; usaha dan ikhtiarnya semuanya dia pasrahkan kepada Allah; inabah, taubat, dari kembalinya kepada Allah; demikian pula mahabbah (kecintaan), wala’ (loyalitas) dan pemberiannya adalah karena Allah.

Susah Senang Sama Saja

Jika fasilitas duniawi dianugerahkan kepadanya, dia jadikan  dunia itu untuk menjaga agamanya. Sebaliknya, jika fasilitas tersebut diambil darinya, jika dunia membelakanginya, dia justru memuji Allah karena telah menyelamatkannya dari fitnah, sehingga menjadi orang yang senang dan bahagia.
Jika Allah menganugerahkan pakaian baru, misalnya, dia memperlihatkan nikmat Allah tersebut, menyebut-nyebut karunina-Nya dan mengumumkan kemurahan hati-Nya atas pemberian itu.
Jika Allah memberinya pakaian using dan lusuh, dia tetao memuji Allah, tunduk dan merendahkan diri di hadapan-Nya, dan menganggapnya sebagi pemberian dari Allah. Karena, ia menganggap Allah telah menjauhkannya dari baju—yang mungkin akan—membuat dirinya angkuh, ujub dan sombong; dan Allah menjaganya dari suatu pakaian—yang mungkin—menyimpan benih kecongkakan dan ketakaburan. Dia tahu bahwa pakaian takwa adalah lebih baik dan selimut keshalihan adalah lebih elok serta lebih indah.
Jika dia menduduki satu jabatan, maka dia jadikan jabatannya sebagau jalan untuk meraih syurga, melakukan perbaikan, dan membrai manfaat kepada hamba-hamba Allah Azza wa Jalla lainnya. Dia tahu bahwa jabatan adalah ujian dari Allah, untuk mengetahui apakah pemiliknya bersyukur atas karunia tersebut atau justru dia mengingkarinya.
Jika badannya sehat, dia jadikan itu sebagai saranan berbuat kebaikan dan mencari bekal dengan amal ketaatan. Jika sakit, dia jadikan sakitnya untuk menghilangkan bekas-bekas pengaruh maksiat dan mengikis dosa-dosa. Dia merasa bahagia dalam setiap tempat persinggahan yang dilaluinya sepanjang umur, dan ridha dengan keadaan yang Allah turunkan padanya;

Kenakanlah bagi setiap keadaan, pakaiannya
Baik kenikmatannya ataupun kesengsaraannya


Di setiap keadaan, dia menginvestasikan musibah apapun yang datang untuk kebaikannya kelak. Dia orientasikan musibah apapun yang menimpa untuk mendekatkan diri kepada Allah; mengubah kerugiannya menjadi keuntungan, capek-lelahnya menjadi kesegaran. Jika kehilanganmata, dia mengharapkan gantinya dari Allah. Allah Azza wa Jall berfirman dalam sebuah hadist Qudsi:

“Barangsiapa diuji dengan hal yang dicintainya (yakni kedua matanya), lalu dia bersabar, maka Allah akan menggantikan keduanya dengan syurga.”

Jika Allah mengambil kekasihnya di dunia, maka dia meminta balasan pahalanya dari Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam sebuah hadist Qudsi:

“Tiadalah balasan dari sisi-Ku bagi hamba-Ku yang mukmin apabila Aku mengambil orang yang dicintainya (anak, saudara, teman) di dunia, kemudian dia bersabar danmengharapkan pahalanya, kecuali syurga.” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad)

Sistem Ekonomi Menurut Islam



Islam mengadakan batas-batas serta meletakkan lunas-lunas untuk menetapkan
segala urusan ekonomi manusia di atas prinsip-prinsip kebenaran, keadilan dan
amanah, dan dia memutuskan bahawa sistem ekonominya itu hanyalah akan
berjalan dan bekerja di dalam mengurus dan membelanjakan kekayaan di dalam
lingkungan batas-batas yang digariskan ini, tidak akan menyimpang buat
selama-lamanya daripadanya. Adapun cara-cara melaburkan kekayaan dan
bentuk-bentuk pengurusan serta pengusahaannya, maka tidaklah diberi
perhatian sedikit pun oleh Islam, malah dibiarkannya berlaku dan membaharui
mengikut putaran zaman dan hari; kerana hal itu adalah di antara
perkara-perkara yang menjajari kemajuan yang sentiasa timbul dan
berubah-ubah dari sehari ke sehari di mana ianya terbentuk dan tercorak
mengikut keadaan-keadaan dan suasana-suasana manusia, juga mengikut
hajat-hajat yang menemui mereka di dalam…
Barang siapa mendapat hak-hak milik dengan jalan-jalan halal yang diharuskan
di dunia ini, maka tidak syak lagilah bahawa hak-hak ini patut dihormati dan
dipelihara dalam segala keadaan. Samada pemilikan ini mempunyai syaratsyarat
'sah'nya yang penuh pada pandangan syarak atau tidak, maka bolehlah
disiasat dan diselidiki. Sekiranya tidak penuh syarat-syarat sahnya pada
pandangan syarak, maka mestilah ianya dicabut daripada tuannya, tetapi
hak-hak milik yang diakui oleh syara' dan undang-undang, tidaklah harus bagi
mana-mana Dewan Perundangan atau mana-mana kerajaan merampaskannya
daripada pemilik-pemiliknya ataupun menokok dan mengurangkan sesuatu dari
hak-hak mereka yang halal itu. Tidak harus sekali-kali lahir di bumi ini satu
sistem - dengan nama kepentingan umum - mahu menghapuskan hak-hak yang
telah diakui oleh syari'at Islam. Seperti mengabaikan ikatan-ikatan yang
dikenakan oleh syari'at Islam terhadap hak-hak milik individu untuk menjaga
kepentingan orang ramai itu dianggapkan sebagai satu kezaliman dan
pencabulan terhadap kebenaran, maka begitu jugalah - terlalu berlebih-lebihan
dalam mengenakan ikatan ini, tidak kurang pula kezaliman dan pencabulannya.
Adalah merupakan di antara tanggungjawab- tanggungjawab kerajaan Islam
supaya menghormati hak-hak para individu yang halal dan mengambil daripada
mereka hak-hak orang ramai yang diwajibkan oleh syari'at Islam ke atas mereka.
Bahawa Allah Subhanahu Wata'ala telah menciptakan manusia ini dan dia tidak
menjadikan mereka sama-rata di dalam pembahagian ni'mat, malah dilebihkan
setengah atas setengah mengikut hikmat dan kehendakNya. Perbezaan di antara
hamba-hamba Allah ini ternyata di dalam ketampanan dan kecantikan mereka,

di dalam kemerduan suara mereka, di dalam kegagahan tubuh-badan mereka
dan di dalam kecekapan fikiran mereka dan seterusnya dari perkara-perkara
yang seumpama itu yang mana persediaannya sudah ada sejak mereka
diperanakkan lagi. Begitu juga tentang masalah rezeki itu. Fitrah (hal semulajadi)
yang di atasnya Allah ciptakan manusia, menghendaki agar ada perbezaan dan
berlebih-kurang dalam rezeki manusia yang mana keadaannya serupalah dengan
bakat-bakat yang lain lagi. Tiap-tiap rancangan yang dipilih dan ditadbirkan
urusannya untuk mengadakan persamaan ekonomi di antara hamba-hamba
Allah seperti mana yang didakwakan itu adalah palsu dari asasnya lagi mengikut
apa yang dilihatkan oleh Islam; kerana Islam tidak pernah mengatakan dengan
persamaan dalam rezeki itu sendiri, tetapi dia mengatakan dengan persamaan
dalam peluang-peluang berusaha dan bekerja untuk mencari kehidupan dan
menuntut rezki. Matlamat yang ditujukan oleh Islam ialah supaya dapat
dihapuskan dari dalam masyarakat manusia segala sekatan dan rintangan
undang-undang atau tradisi yang menyekat manusia dan membantutnya
daripada menjalankan usaha dan mengerahkan daya-tenaganya pada jalan
pencarian rezki mengikut tenaga-tenaga dan bakat-bakat yang telah disediakan
oleh Allah baginya. Begitu juga Islam bermaksud hendak melenyapkan daripada
masyarakat manusia segala keistimewaan dan keutamaan yang menjaminkan
kekayaan turun-temurun untuk stengah-setengah lapisan, keturunan atau
keluarga tertentu, di mana Islam melingkunginya dengan meletakkan
pengawasan terlebih dahulu. Kedua-dua jalan ini (jalan menyama- ratakan rezki
manusia dan jalan penjaminan kekayaan turun-temurun) mengalihkan
perbezaan semulajadi serta berlebih-kurangan yang tabi'i itu secara paksa kepada
perbezaan yang sedikit dan tidak semulajadi. Kedua-dua jalan ini ditolak oleh
Islam dan mahu dihapuskannya. Dan Islam menetapkan satu sistem ekonomi
masyarakat di atas satu methode semulajadi yang padanya dibuka pintu-pintu
kerja dan usaha kepada tiap-tiap orang dari anggota masyarakat. Mereka yang
mahu mempersamakan di antara hamba sebagai zakat yang wajib. Hasil
bijian-bijian serta buah-buahan yang dikeluarkan oleh bumi adalah diambil
sebanyak 10% atau 5%. Begitu juga Syan'ai telah mewajibkan 20% dari hasil
setengah-setengah logam dan diambil juga kadar-kadar yang difardukan
daripada hasil-hasil binatang dan ternakan mengikut bilangannya masingmasing.
Syariat juga telah memfardukan supaya harta-harta yang telah
diperolehi dengan jalan-jalan ini dibelanjakan dalam usaha menolong orangorang
fakir miskin, anak-anak yatim, orang-orang dhaif dan susah. Ini adalah
satu jaminan sosial yang kerananya mustahil didapati di dalam masyarakat Islam
itu seorang manusia yang tidak mendapat sesuatu yang termesti dari hajat-hajat
penghidupan. Begitu juga mustahil terdapat ketika itu seorang pekerja yang
terpaksa mencari rezki dengan keringat dahinya kerana takutkan kebuluran
sehingga dia sanggup menerima sahaja apa-apa syarat upahan yang amat kerdil
yang dikemukakan kepadanya oleh para pemilik dan majikan. Oleh yang
demikian, tenaga mana-mana individu dari anggota- anggota masyarakat itu

tidaklah boleh jatuh lebih rendah daripada garis 'minimum' yang masih
membolehkannya memberi sumbangan di dalam perjuangan ekonomi.
Barang siapa mendapat sesuatu dari perbendaharaan Tuhannya sebagai modal,
lalu dia membaikinya dan menjadikannya perkara yang manfaat dan berguna
dengan usaha dan kerjanya sendiri, dialah yang menjadi tuan dan pemiliknya.
Contohnya ialah seperti tanah mati yang hak milik atasnya tidak dipunyai oleh
sesiapa pun. Bilamana ada seseorang mengambil dan membaikinya, lalu
menggunakannya pada jalan yang memberi manfaat serta membuahkan hasil -
tanah itu tidak boleh direbutkan dari miliknya. Begitulah bermulanya segala
hak-hak milik di bumi ini seperti mana yang dilihatkan oleh Islam. Tatkala
manusia meneroka bumi ini pada mula-mulanya, adalah segala sesuatu itu
merupakan pengharusan yang menyeluruh buat sekalian anak-anak Adam
'Alaihissalam. Sesiapa yang mendapatkan sesuatu, lalu membaiki dan
menjadikannya benda yang berguna dan manfaat, dialah yang menjadi tuan dan
pemiliknya; ertinya dia berhak mengkhusus- kan pemakaiannya buat dirinya
sahaja, dan dia berhak meminta sewa daripada orang yang mahu mengambil
manfaat dengan harta itu. Ini adalah asas semulajadi yang di atasnya terdiri
binaan segala soal-soal ekonomi manusia. Kerana itu munasabahlah bahawa asas
ini terus tinggal dengan tetapnya, dijaga dan dihormati.
Islam ingin membangunkan orang perseorangan dan masyarakat di atas neraca
yang lurus dan mahu mengembelingkan kedua-duanya di atas keseimbangan
yang secukup-cukupnya di mana hak-hak perseorangan - dari segi hak
perseorangannya - masih ada dan kebebasannya masih dipelihara, sedangkan
kebebasan itu tidak pula merosakkan masyarakat malah manfaat untuknya.
Islam tidak memandang baik kepada satu sistem politik atau ekonomi yang
menghancurkan hak-hak perseorangan untuk kepentingan masyarakat serta
tidak meninggalkan langsung untuknya kebebasan yang tidak boleh tidak buat
menyempurnakan segala bakat semulajadi dan teras keindividuannya. Natijah
yang mesti berlaku dari pengambilan seluruh jalan kehidupan serta saluran
prodaksi sebagai milik bersama itu ialah, bahawa sekalian warganegara itu
terikat dengan tali-tali pengontrol masyarakat sehingga tidak dapat lagi mereka
menceraikan diri daripadanya dan tidak dapat bergerak. Ternyata sangat payah,
malah mustahil, dalam keadaan seumpama ini, bahawa hak perseorangan
warganegara itu akan terus subur serta mencapai ketinggiannya. Apa yang
termaklumnya ialah, bahawa memelihara hak perseorangan itu adalah
berkehendakkan kepada kebebasan ekonomi yang begitu luas sepertimana juga
berkehendakkan kepada membelanjakan harta-harta yang diperolehi dengan
jalan-jalan yang halal itu melainkan ke dalam jalan-jalan yang halal juga. Untuk
tujuan ini, Islam telah meletakkan batas-batas untuk pengeluaran biaya di mana
seseorang boleh hidup dengan kehidupan yang baik dan bersih, tetapi dia tidak
boleh membelanjakan harta-hartanya ke dalam jalan-jalan keji dan berpoya-poya,
pun dia tidak boleh mengeluarkannya untuk menonjol-nonjolkan kemewahan
dan kelumayanannya supaya dia meninggikan diri di atas sesama sebangsanya
dan supaya dia dipandang oleh orang sekelilingnya seperti mereka memandang
kepada pembesar-pembesar yang bongkak. Di sana terdapat beberapa rupa
pemborosan dalam membelanjakan harta yang diharamkan oleh undang-undang
Islam dengan jelas dan terang, dan di sana terdapat pula beberapa rupa
pemborosan lain, sekalipun tidak diharamkan dengan terang oleh Islam, tetapi
dia memberi pilihan tentangnya kepada kerajaan Islam sekiranya dia mahu
mengenakan undang-undang ke atas manusia dan menengah mereka daripada
membelanjakan harta mereka dengan berlebih-lebihan. Jika seseorang
mempunyai harta yang lebih selepas dibelanjakan di dalam perkara- perkara
harus dan teliti, dia boleh pula memilih sama ada hendak mengumpul dan
menyimpannya atau pun hendak mengalihkannya ke dalam bidang-bidang
perusahaan dan perniagaan dengan maksud menambah serta memperbanyakkan
-nya. Cuma Islam meletakkan sempadan-sempadan dan ikatan-ikatan tertentu di
dalam kedua-dua keadaan ini. Jika dia ingin mengumpulnya, dia mestilah
menunaikan zakat pada tiap-tiap tahun daripada hartanya yang lebih dari nisab.
Dan jika dia mahu mengalihkannya, dia tidak boleh mengalih kecuali ke dalam
perusahaan yang halal serta perniagaan yang harus. Kemudian perniagaan ini
sama ada diuruskan sendiri oleh perseorangan atau pun dia memperkongsikan
keuntungan dari kerugiannya dengan orang lain bila mana dia menyerahkan
harta dan barang-barangnya kepada orang itu atas jalan syarikat samada berupa
mata - wang, tanah atau perkakas-perkakas. Jika seseorang mendapat kekayaan
yang bertimbun di dalam sempadan-sempadan dan ikatan-ikatan ini setelah
sekian lama berusaha, dia tidaklah berdosa apa-apa pada pandangan Islam;
malah itu merupakan satu ni'mat yang dikurniakan oleh Allah ke atas hambaNya
dan satu kemuliaan yang dianugerahkan kepadanya. Dalam pada itu pun, Islam
mensyaratkan kepadanya dua syarat untuk menjamin entiti masyarakat. Pertama:
Tiap-tiap tahun hendaklah dia menunaikan zakat hartanya dan juga satu per
sepuluh daripada hasil-hasil pertaniannya yang telah diwajibkan oleh Allah.
Kedua: Hendaklah dia melayani dengan baik dan insaf akan orang-orang yang
berkongsi dengannya atau orang-orang yang mengambil upah daripadanya
dalam usaha perniagaan, perindustrian atau pertanian. Sekiranya dia tidak
melayani mereka dengan adil dan saksama, kerajaan Islam akan memaksanya
untuk itu.
Kemudian kekayaan yang terkumpul di dalam lingkungan sempadan-sempadan
yang diharuskan ini pula, tidak direlai oleh Islam tinggal tersimpan buat masa
yang lama. Malah Islam memutuskan dengan hukum undang-undang (undangundang
pusaka) untuk menyibar dan membahagi-bahagikannya pada tiap-tiap
generasi. Aliran undang-undang Islam di dalam masalah ini adalah sangat
berlainan daripada segala aliran mana-mana undang-undang lain di dunia ini.
Apa yang ditujukan oleh undang-undang lain ialah, bahawa kekayaan yang
sekali sudah terkumpul itu berhak terkumpul terus untuk beberapa jenerasi.
Tetapi Islam sesebaliknya telah membawa satu undang-undang syumul yang
menengaskan bahawa harta yang telah dikumpulkan oleh seseorang di dalam
hidupnya itu, hendaklah dibahagi-…

Cincin Menurut Islam Bagian 2




CINCIN EMAS HARAM BAGI LAKI-LAKI

Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah melarang kaum laki-laki dari umatnya memakai cincin emas. Bahkan semua perhiasan yang terbuat dari emas telah diharamkan di dalam Islam bagi kaum laki-laki. Di dalam sebuah hadits dari Abdullah al-Ghafiqi berkata:
سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ يَقُولُ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَرِيرًا بِشِمَالِهِ وَذَهَبًا بِيَمِينِهِ ثُمَّ رَفَعَ بِهِمَا يَدَيْهِ فَقَالَ إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي حِلٌّ لِإِنَاثِهِمْ
"Aku mendengar Ali ibn Abi Thalib رضي الله عنه berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم memegang kain sutra di tangan kirinya dan emas di tangan kanannya, kemudian beliau mengangkatnya, lalu bersabda, 'Dua benda (emas dan surra) ini haram bagi laki-laki dari umatku, dan halal bagi wanita umatku.'" (HR Ibnu Majah: 3595, dishahihkan oleh al-Albani dalam al-lrwa': 277 dan Adabuz Zifaf: 150)
Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani رحمه الله, "Ibnu Daqiq al-'Id berkata, 'Larangan (hadits di atas) secara lahiriah hukumnya haram, inilah perkataan para imam, dan menjadi ketetapan di atas hal itu.' 'Iyadh berkata, 'Adapun yang dinukil dari Abu Bakar ibn Muhammad ibn Amr ibn Hazm bahwa dia memakai cincin emas, maka (jika shahih) itu adalah menyelisihi yang lebih kuat/syadz, dan bisa juga (dia memakainya) karena belum sampainya dalil (larangan) kepadanya, karena seluruh (ulama) umat ini setelah itu sepakat atas keharamannya (cincin emas bagi laki-laki).'" (Fathul Bari 10/317)
CINCIN PERAK BOLEH BAGI LAKI-LAKI

Lajnah Da'imah, di dalam salah satu fatwanya, menetapkan:
"Kaum laki-laki dibolehkan memakai cincin yang terbuat dari perak baik karena ada kebutuhan atau bukan karena kebutuhan, sebagaimana dalil-dalil yang datang di dalam sunnah (Nabi صلى الله عليه وسلم) yang suci." (Fatawa Lajnah Da'imah 24/61)
Fatwa di atas didasari oleh beberapa hadits, di antaranya dari Anas ibn Malik رضي الله عنه, beliau berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ خَاتَمَ فِضَّةٍ فِي يَمِينِهِ
"Sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah memakai cincin perak di tangan kanannya." (HR Muslim: 5608)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata, "Adapun (laki-laki) memakai cincin perak, maka dibolehkan dengan kesepakatan para imam, karena telah datang dalil shahih dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa beliau memakai cincin perak, bahkan sahabatnya juga memakainya; berbeda dengan cincin emas (bagi laki-laki), maka hukumnya haram dengan kesepakatan para imam empat karena telah datang dalil shahih dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa beliau melarang (cincin emas) itu." (Majmu' Fatawa 25/63)

PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG
CINCIN BESI BAGI LAKI-LAKI

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memakai cincin besi bagi kaum laki-laki. Sebagian ulama melarang dan sebagian lain membolehkan.
Adapun yang melarang, mereka berdalil dengan sebuah hadits dari Abdullah ibn Buraidah dari ayahnya berkata:
"Ada seseorang datang kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dengan memakai cincin emas, lalu Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, 'Mengapa aku mencium darimu bau berhala?' Kemudian orang tersebut melemparkan (cincin emas)nya, lalu dia datang lagi dengan memakai cincin dari besi, lalu Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, 'Mengapa aku melihat pada dirimu ada perhiasan penduduk neraka?' Lalu orang tersebut melemparkan (cincin besi)nya, sambil bertanya, 'Wahai Rasulullah, cincin apa yang boleh aku pakai?' Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, 'Buatlah dari perak, dan jangan melebihi 1 mitsaal!" (HR Abu Dawud: 4223 dan an-Nasa'i: 9508)
Asy-Syaikh Ibnu Baz رحمه الله berkata, "Tidak mengapa (laki-laki) memakai jam tangan dan cincin dari besi, hal itu sebagaimana telah ada keterangan dalam hadits al-Bukhari dan Muslim bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bertanya kepada seorang laki-laki yang sedang meminang (wanita) 'carilah (mahar) meskipun cincin dari besi'. Adapun hadits yang diriwayatkan tentang larangan (cincin dari besi) itu, maka hadits tersebut syadz (menyelisihi yang lebih kuat). Hadits itu bertentangan dengan hadits yang shahih ini." (Fatawa Islamiyyah, asy-Syaikh Ibnu Baz, 4/324)
Larangan memakai cincin dari besi, haditsnya lemah, sebagaimana hadits Abdullah ibn Buraidah telah dinyatakan dha'if (lemah) oleh al-Albani (di dalam Dha'if an-Nasa'i: 5195, Misykat al-Mashabih: 4396, dan Adabuz Zifaf. 146). Dan hadits tersebut juga dinyatakan dha'if/lemah oleh Lajnah Da'imah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta' ditandatangani oleh Ibnu Baz sebagai ketua, Abdurrazzaq sebagai wakil, dan Abdullah al-Ghadiyan sebagai anggota (Fatawa Lajnah Da'imah 24/65).
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله berkata, "Hukum asal segala sesuatu itu halal, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Dan menurutku, di dalam masalah (cincin besi) ini sepatutnya kita untuk menjauhinya, karena hadits yang dijadikan dalil oleh pihak yang melarang (cincin besi) itu, meskipun di dalamnya ada cacat, hal itu cukup menjadikan masalah ini menjadi syubhat/rancu bagi kita, sedangkan menjauhi syubhat adalah termasuk perintah agama Islam sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, 'Perkara halal itu jelas, dan perkara haram itu jelas, dan antara keduanya itu ada perkara syubhat yang tidak diketahui banyak manusia. Barang siapa men-jaga diri dari syubhat, maka dia telah menjaga aga-ma dan kehormatannya.'" (Fatawa Nur 'ala ad-Darb, asy-Syaikh Muhammad bin Salih al-Utsaimin, 3/47).
Pendapat yang kuat adalah makruh, sebaiknya ditinggalkan untuk hati-hati.

HUKUM TUKAR CINCIN/CINCIN TUNANGAN

Di antara kebiasaan sebagian kaum Muslimin di zaman ini, tukar cincin pada saat tunangan. Masing-masing calon pengantin memakai cincin tersebut sebagai tanda bahwa keduanya telah terikat dalam pertunangan. Bahkan ada yang menganggap cincin tersebut mengekalkan hubungan mereka. Perkara ini bisa terjadi dikarenakan beberapa sebab. Di antara sebabnya, penjajahan kaum kafir terhadap kaum Muslimin terutama dengan perang pemikiran, adanya kaum Muslimin yang datang dari negeri kafir dengan membawa adat Barat ini, dan sebab lain adalah kebodohan umat terhadap agama Islam.
Para ulama telah berfatwa tentang haramnya tukar cincin saat pertunangan. Asy-Syaikh Ibnu Baz رحمه الله telah berfatwa tentangnya. Beliau berkata, "Saya tidak tahu asal-usul (tukar cincin) ini, sebaiknya kebiasaan ini segera ditinggalkan." (Fatawa Ulama al-Balad al-Haram: 500)
Asy-Syaikh al-Fauzan حفظه الله berfatwa, "Adapun tukar cincin kawin bukanlah termasuk kebiasaan kaum Muslimin. Maka dari itu, tidak boleh sekali-kali memakainya, dengan alasan:
1.    (Kebiasaan tukar cincin kawin) adalah membebek suatu kaum yang tidak ada kebaikan pada mereka; itu diadopsi dari (kaum kafir) oleh kaum Muslimin.
2.    Apabila dibarengi dengan keyakinan bahwa cincin itu berpengaruh terhadap (kelanggengan) hubungan suami istri, maka masuk dalam bab kesyirikan. (al-Muntaqa 5/336)
Asy-Syaikh al-Albani رحمه الله berkata, "(Tukar cincin kawin) merujuk kepada adatnya kaum terdahulu (Nashara). (Dahulu) calon pengantin laki-laki memakaikan cincin kawin di ujung ibu jari calon pengantin wanita dan mengatakan 'dengan nama (tuhan) bapak', lalu memasangkannya di ujung jari telunjuknya dan mengatakan 'dengan nama (tuhan) anak'—maksud nama 'bapak' adalah Tuhan, sedang (tuhan) 'anak' adalah Isa ibn Maryam—, kemudian cincin itu dikenakan di jari tengah sambil mengatakan 'dengan nama ruhul qudus', lalu tatkala dia mengucap 'amin' dia memakaikannya di jari manisnya supaya kekal."
(Al-Albani melanjutkan,) "Wahai kaum Muslimin, jika ini adalah adat yang diadopsi dari kaum Nashara, bagaimana mungkin kalian rela membebek kepada mereka padahal kalian disifatkan sebagai orang Islam. Kalian menyerupai mereka,  padahal  kalian tahu bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, 'Barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.' Bagaimana mungkin kalian terjerumus kepada khurafat yang tidak ada hakikatnya ini. Cincin kawin tidak akan mendatangkan kasih sayang. Tanpa cincin kawin pun, kasih sayang tidak akan lenyap."





KESIMPULAN

1.    Semakin jauh generasi kaum Muslimin dari zaman kenabian semakin buruk kondisi mereka secara umum.
2.    Terjatuhnya manusia ke dalam suatu kesalahan dan kemaksiatan di antaranya disebabkan kebodohan umat terhadap agamanya.
3.    Para wanita tidak dilarang memakai cincin terbuat dari apa pun baik emas, perak, atau selain keduanya, bahkan jika dimaksudkan untuk berhias buat suaminya maka itu dianjurkan di dalam Islam.
4.    Hukum pemakaian cincin pada kaum laki-laki harus diperinci:
•    jika terbuat dari emas maka haram menurut kesepakatan;
•    jika terbuat dari perak maka halal menurut kesepakatan; dan
•    jika terbuat dari besi maka ada perbedaan pendapat, dan yang lebih kuat adalah makruh, demi kehati-hatian maka selayaknya ditinggalkan.
5.    Dibolehkan memakai cincin baik di tangan kanan atau di tangan kiri.
6.    Mata cincin boleh diletakkan di atas/luar, boleh juga di dalam; dan lebih utama di dalam (dekat dengan telapak tangan) sebagaimana alasan yang telah dipaparkan.
7.    Para ulama bersepakat bahwa khusus kaum laki-laki dilarang memakai cincin di jari tengah dan jari telunjuk, dan boleh pada selain keduanya. Adapun kaum wanita maka dibolehkan di jari mana pun.
8.    Tukar cincin kawin hukumnya haram karena merupakan adat yang diadopsi dari kaum kafir. Perbuatan tersebut termasuk ber-tasyabbuh (menyerupai/meniru) kaum kafir, dan suatu ketika bisa menjadi kesyirikan jika diiringi dengan keyakinan yang batil. Wallahu A'lam. []

SISTEM SOSIAL Dalam Islam



Sistem sosial Islam terbena di atas teori: Bahawa zuriat-zuriat manusia di atas
muka bumi ini seluruhnya adalah daripada keturunan yang satu. Pada mulanya
Allah menciptakan satu jiwa (diri) sahaja. Daripadanya diciptakan pula
pasangannya. Dan daripada kedua-duanya itulah disebarkan seluruh zuriat
manusia yang kita lihat meneroka dan menghuni di merata pelusuk dunia hari
ini. Titihan sepasang manusia ini terus menerus pada mulanya merupakan satu
umat dengan agama dan bahasa yang satu, tidak ada sebarang perbezaan dan
perpisahan di antara mereka. Tetapi semakin mereka membiak dan bertambah
banyak, semakin bertaburanlah mereka di segenap rantau bumi ini, dan kerana
ini secara tabi'inya mereka pun berpecahlah kepada bermacam-macam bangsa,
umat dan suku. Seterusnya perbezaan juga menjalar kepada bahasa- bahasa,
pakaian-pakaian serta cara-cara kehidupan mereka. Keadaan udara berbagaibagai
daerah itu telah mempengaruhi pula terhadap warna kulit serta bentuk
muka mereka dengan pengaruh yang besar. Semua perbezaan ini adalah
perbezaan-perbezaan tabi'i yang kerana jawatannya. Tidak boleh seseorang
mencabul hak-hak yang diuntukkan buat orang lain kerana berbangga dengan
satu-satu keturunan atau bersandar kepada satu-satu keluarga atau lapisan yang
tertentu di dalam masyarakat. Begitu juga tidak ada di kalangan mereka seorang
lelaki menjadi mulia atau hina kerana keluarganya, atau kerana harta dan
kekayaan yang dimilikinya. Tetapi di dalam masyarakat ini seseorang menjadi
mulia dan terhormat bila mana dia menghiasi dirinya dengan perangai-perangai
yang baik dan mempunyai taqwa serta takut kepada Allah, lebih daripada yang
dipunyai oleh orang-orang lain.
Masyarakat ini tidak dibataskan dengan batas-batas keturunan dan warna kulit,
tidak pula dengan batas-batas geografi. Malah dia melampaui itu semuanya dan
boleh tersibar di seluruh penjuru dan pelusuk bumi ini, sehingga terdiri di
atasnya persaudaraan manusia antara bangsa. Tetapi masyarakat-masyarakat
yang bercorak keturunan dan kebangsaan, ianya tidak dapat disertai melainkan
oleh mereka-mereka yang berasal daripada keturunan tertentu sahaja. Pintunya
tertutup terhadap anak-anak manusia selain mereka. Masyarakat, fikiran dan
akhlaq Islam ini sentiasa membukakan pintunya untuk tiap-tiap orang yang
percaya dengan satu 'aqidah dan satu pengontrol akhlaq yang tertentu di mana
dia turut menggabungkan dirinya ke dalam masyarakat ini dan menikmati segala
hak yang sama dengan apa yang dini'mati oleh orang lain. Kemudian, orangorang
yang tidak mempercayai 'aqidah dan pengontrol akhlaqnya, sungguh pun
negara Islam ini tidak memandang mereka sebagai anak-anaknya dan orangorang
yang bernaung di bawah panji-panjinya, namun dia merangkul mereka
dengan emosi-emosi kemanusiaan yang menyeluruh dan dia tidak memutuskan
hak-hak semulajadi manusia daripada mereka. Jelas dan terang bahawa dua
orang adik beradik, bila mana kedua-duanya menganut fikiran dan 'aqidah yang
berbeza serta menjalani dua jalan yang berlainan dalam hidup ini, tidaklah
bererti bahawa ikatan keturunan di antara kedua-duanya sudah putus. Begitu
juga apabila terbahaginya keturunan manusia atau terbahaginya penduduk
mana-mana negeri kepada dua golongan: satu golongan percaya kepada 'aqidah
dan prinsip-prinsip ini, sedang satu golongan lagi tidak percaya kepadanya,
tidaklah diragukan lagi bahawa mereka sudah terpisah begini kepada dua buah
masyarakat yang berbeza, tetapi persaudaraan manusia masih tetap juga
mengikat antara kedua-duanya. Di atas asas-asas kemanusiaan bersama inilah,
masyarakat Islam telah menyerahkan apa yang boleh5 digambarkan sebagai
hak-hak manusia dan memberikannya kepada seluruh masyarakat yang bukan
Islam.
Sekiranya anda sudah memahami segala tonggak sistem sosial Islam itu, marilah
sekarang kita mengkaji dan menyelidiki tentang peraturan-peraturan dan tata
cara kerja yang telah digariskan oleh Islam untuk berbagai- bagai rupa gotongroyong
atau saling memikulkan tanggungjawab di dalam masyarakat manusia.
Institusi pertama dan yang terpenting kedudukannya dalam masyarakat
manusia ialah rumahtangga. Institusi nilah yang membangunkan binaan
masyarakat dan mengwujudkan anggota-anggotanya dengan jalan perkahwinan
antara sepasang manusia. Dengan perkahwinan ini lahirlah ke alam wujud ini
generasi baharu yang tercabang daripadanya ikatan-ikatan kerabat, pertalianpertalian
adik-beradik dan lainnya dari ikatan- ikatan keluarga. Dan ikatanikatan
ini terus berkembang dan meluas sehingga menghamparkan sayapnya ke
atas masyarakat yang rendang segi-seginya. Selain dari itu, rumahtangga adalah
institusi yang mana di dalamnyalah akhlaq setiap generasi itu dilatih dan
disediakan untuk memikul tanggungjawab untuk ketamadunan manusia yang
hadap adik-beradik dan kerabat yang tertentu sahaja. Selain itu dihalalkan
untuk seseorang mengahwini sebagaimana yang dikehendaki dan sesiapa yang
dikehendaki dari kalangan sanak-saudara dan kerabat dekat atau jauh. Islam
sudah melampaui perbezaan-perbezaan perkauman dan meruntuhkan langsung
tiangnya. Diizinkannya dengan leluasa untuk orang Islam bernikah-kahwin
sesama mereka, disuruhnya mereka bersederhana dalam meletakkan mahar
perempuan dan bersederhana dalam menyediakan kelengkapan-kelengkapan
-nya sehingga mampu ditanggungi oleh kedua-dua belah pihak. Untuk
menjalinkan ikatan perkahwinan dalam pandangan Islam, tidaklah diperlukan
seorang qadi, seorang alim atau seorang kerani, malah sebenarnya ikatan
perkahwinan di dalam masyarakat Islam hanyalah merupakan satu kerja mudah
yang boleh diputuskan dengan saling berkesudian di antara sekelamin manusia
yang sudah baligh dengan disaksikan oleh dua orang saksi. Tetapi ikatan ini
tidak harus dilangsungkan secara sulit dan rahsia, malah wajib dilangsungkan
secara nyata dan terang-terangan.
Islam telah menjadikan suami sebagai ketua atas isterinya dan sebagai pengelola
atas segala urusan rumahtangga agar diletakkannya di atas asas yang kukuh dan
peraturan yang baik. Disuruhkan isteri patuh dan berbakti kepada suaminya
seperti mana disuruhkan anak-anak patuh dan berbakti kepada ibu bapa. Islam
tidak senang dengan rumahtangga yang tidak kuat tiang serta sendinya; rumahtangga
yang tidak ada ketua dan pengelola, tidak ada di dalamnya orang yang
bertanggungjawab terhadap tingkah-laku para anggotanya, juga terhadap
pergaulan dan berbagai-bagai urusan mereka. Bila mana sudah termaklum
bahawa peraturan rumahtangga tidak mungkin beres, kecuali dengan adanya
ketua dan pengelola atas segala urusannya, ketua keluarga adalah lebih patut dan
lebih layak disandang oleh suami daripada orang-orang lain di dalam pandangan
Islam. Tetapi ini tidaklah bererti bahawa Islam telah menjadikan suami sebagai
seorang diktator terhadap anggota-anggota rumah yang boleh mengepalai
mereka sekehendak hatinya, sedang isteri hanya diserahkan kepada suami untuk
dimilik dan tidak ada peranan dan pengaruhnya dalam mentadbir dan
menguruskan rumahtangga. Kasih-sayang dan kasihan-belas adalah merupakan
asas yang hakiki bagi pergaulan rumahtangga di dalam Islam. Jika wanita wajib
mematuhi keinginan suaminya, demikian jugalah suami wajib menggunakan
pengaruhnya untuk kejayaan, kebahagiaan dan keharmonian keluarga, bukan
menggunakannya untuk kezaliman dan pencerobohan. Islam tidak ingin
mengekalkan hubungan suami-isteri melainkan jika hubungan itu disertai
dengan kemanisan kasih-sayang dan kasihan belas, atau sekurang- kurangnya
boleh dilangsungkan pergaulan yang baik. Sekiranya pergaulan ini sudah tidak
mungkin lagi, Islam memberi pilihan kepada suami supaya menceraikan
isterinya dan memberi pilihan kepada isteri supaya berpisah dari suaminya.
Begitu juga Islam mengharuskan kepada Mahkamah Islam untuk membatalkan
nikah bilamana kasih-sayang dan kasihan-belas itu bertukar menjadi kacau-bilau.
Daerah yang paling dekat kita dapati selepas daerah rumah tangga yang sempit
itu ialah daerah kaum-kerabat dan sanak-saudara yang mempunyai hubungan
darah. Islam mahu melihat mereka yang terbuhul di antara satu sama lain
dengan ikatan-ikatan anak-pinak, persaudaraan, atau yang menjadi padanya…
…dia adalah dari ahli neraka." Kata mereka lagi: Ada seorang perempuan lain
menunaikan sembahyang fardu dan bersedekah dengan lembu-lembu dia tidak
menyakiti sesiapa. Rasul Sallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Dia adalah dari
ahli syurga".6
Pernah juga Nabi Sallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Wahai Abu Zar! Jika
engkau memasak sayur, perbanyakkanlah airnya dan bahagi-bahagikanlah
kepada jiran tetanggamu."7
Pendek kata, Islam mahu memesrakan di antara mereka yang dibuhulkan oleh
ikatan-ikatan jiran-tetangga dan menjadikan mereka saling jamin-menjamin
dalam segala suka-duka yang mereka hadapi, dan Islam juga mahu mengadakan
ikatan-ikatan percaya-mempercayai dan harap-mengharapi sehingga tiap-tiap
seorang dari mereka dapat dipercayakan oleh saudaranya terhadap diri,
kehormatan dan harta punyanya. Inilah dia pergaulan Islam dan tatasusilanya.
Ada pun pergaulan yang di dalamnya kita dapati dua orang tetangga yang hanya
dipisahkan oleh sekeping dinding sahaja, sedang mereka tidak kenal-mengenal
meski pun sudah sekian lama mereka berdekatan, pergaulan yang tidak terdapat
di antara penduduk satu kawasan itu sedikit pun kemesraan, kasih sayang dan
saling percaya-memperpayai, maka tidaklah boleh dianggap sama sekali dari
pergaulan Islam.
Kemudian selepas ikatan-ikatan yang agak berhampiran ini, kita menemui satu
daerah hubungan-hubungan yang luas, iaitu hubungan-hubungan yang
merangkum jama'ah Islam seluruhnya. Inilah sedikit prinsip- prinsip dan
lunas-lunas yang di atasnya Islam mendirikan penghidupan sosial kita di dalam
daerah yang luas ini:

"Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat
kami, mereka itu adalah penghuni neraka. (Surah al-Maidah: Ayat 10)."

"Kamu adalah umat yang paling terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Kamu
menyuruh dengan kebajikan dan kamu melarang dari kemungkaran. (Surah Ali
'Imran: Ayat 110).8"

"Awasilah kamu dari sangka mara, kerana sangka mara itu adalah percakapan
yang paling dusta. Dan jangan kamu mengintip, jangan berlawan-lawan, jangan
hasad-menghasad, jangan dengki-mendengki dan jangan kamu mengadakan
pakatan yang jahat. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara.9"


Sistem Akhlak Islam



Sistem akhlaq Islam ini mempunyai perwatakan-perwatakan dan keistimewaankeistimewaannya
yang tidak boleh diketepikan pada tempat ini. Apa yang akan
saya sebutkan sekarang hanyalah tiga perwatakan yang jelas sahaja, iaitu
perwatakan-perwatakan yang merupakan teras dan intinya, malah perwatakanperwatakan
ini sebenarnya, adalah di antara perkara-perkara yang utama
(priorities) dalam masalah sistem akhlaq:

Pertama: Bahawa Islam menjadikan 'menuntut wajah Tuhan dan mencari
keredhaanNya' itu sebagai matlamat yang dicarikan di dalam penghidupan
manusia, dan dengan itu dia mengadakan satu criterion akhlaq yang tinggi.
Tidak ada sesuatu yang dapat menyekatnya daripada mempertinggikan akhlaq.
Oleh yang demikian, dia telah memberikan ketetapan serta keutuhan kepada
akhlaq manusia yang mana membolehkannya maju dan berkembang, dan tidak
akan mungkin lagi bertukar rupa dan berubah warnanya dari satu ketika kepada
ketika yang lain. Begitu juga ketakutan kepada Allah menyediakan untuk akhlaq
satu kekuatan penggerak yang menggalakkan orang mengawasi serta
memerhatikan segala kehendak- kehendaknya tanpa dimasuk campur oleh
mana-mana faktor luar. Ini juga menimbulkan di dalam perasaan manusia dan
membentuk - kerana keimanannya dengan Allah dan hari kemudian - satu
kekuatan yang menakutkan seseorang dan yang menggalakkannya beramai
dengan sendirinya mengikut undang-undang akhlaq.

Kedua: Bahawa dengan galakan dan dorongan mutlak ini, Islam tidaklah
mengada dan merekakan akhlaq dan tatasusila baharu yang tidak pernah
dibiasakan oleh manusia sebelumnya, tidak juga Islam menurunkan
setengah-setengah akhlaq manusia yang sudah dikenali orang dan mengangkat
setengah-setengah yang lain. Dia tidak memakai akhlaq melainkan apa yang
sudah terma'lum di sisi sekelian manusia. Akhlaq yang sudah termaklum itu
tidak disingkirkan, baik kecil atau besarnya, tetapi diambil dan didapatkannya,
kemudian diletakkan tiap-tiap satunya ditempatnya yang sebenar di dalam
penghidupan manusia. Perlaksanaannya diperluaskan secara leluasa ke atas
manusia, sehingga tidak ada lagi cabang-cabang dan segi-segi hidup yang masih
tersisa - seperti kerja-kerja perseorangan, urusan-urusan rumahtangga,
pergaulan-pergaulan sosial, hal-hal politik dan ekonomi, jual beli di pasar,
urusan-urusan di sekolah, di mahkamah, di balai polis, di kem-kem tentera, di
medan perang, di persidangan damai dan urusan-urusan lain seterusnya dari
segi-segi penghidupan manusia yang lain - tidak ada lagi yang masih tersisa
melainkan kita lihat kesan-kesan akhlaq yang sepenuhnya tertanam di dasar
segi-segi tersebut. Islam menjadikan akhlaq menguasai dan mengawasi dalam
segala segi penghidupan. Apa yang dikehendaki oleh Islam dengan yang
demikian itu ialah merebutkan teraju urusan-urusan hidup dari kehendak nafsu
syahwat, dari tujuan-tujuan serta kepentingan- kepentingan diri sendiri dan
meletakkannya di tangan akhlaq yang bersih dan tingkah laku yang baik.

Ketiga: Keistimewaan yang ketiga bagi sistem akhlaq Islam ialah, bahawa dia
meminta dan menuntut manusia agar mendirikan satu sistem hidup yang mana
tiang-tiangnya tegak di atas kerja-kerja yang baik, tidak dikotori oleh sebarang
kemungkaran. Dia menyeru manusia seluruhnya supaya melakukan kerja-kerja
kebajikan dan menyibarkan usaha-usaha baik yang dipandang oleh manusia
setiap zaman dan tempat dengan pandangan memuji dan memuja. Sebaliknya
hendaklah menolak dan menghapuskan segala kemungkaran yang sentiasa
dipandang oleh manusia dengan pandangan keji dan menghina. Orang yang
menyahuti akhlaq ini dan mengalu-alukan seruannya, mereka digolongkan oleh
Islam ke dalam golongannya, dan dari merekalah dijadikan umat Islam. Tidak ada
tujuan Islam yang lain dengan menjadikan mereka itu sebagai satu umat,
melainkan ialah kerana mahu mengembelingkan segala usaha dan kerja sosial
mereka ke arah mendirikan kebajikan serta mengukuh dan menyebarkannya,
juga membendung dan menghapuskan kemungkaran, membungkaskan akar
umbinya. Jika sekiranya umat ini kembali mengerjakan kemungkaran dan
melakukan kejahatan, jika dia mula menurut perjalanan orang-orang yang
menentang kerja-kerja kebajikan dan berusaha memadamkan sinarnya, tidak
tahulah apa yang akan terjadi ke atas dunia dan umat ini. Tidak ada daya dan
kekuatan melainkan dengan Allah saja.



Sistem Poltik Islam



Tawhid, risalat (keRasulan) dan khilafat, adalah tiga tonggak yang didirikan di
atasnya binaan sistem politik Islam. Tidaklah mudah untuk kita mengetahui
secara lengkap sistem-sistem politik Islam dengan segala cabang dan seginya itu,
melainkan bila mana kita memahami terlebih dahulu prinsip-prinsip tauhid,
risalat, dan khilafat itu dengan fahaman yang sempurna. Sebelum itu eloklah
rasanya saya huraikan terlebih dahulu prinsip-prinsip ini satu persatu dengan
ringkasnya.

Tawhid: Ma'na tawhid ialah, bahawa Allah Taala itu pencipta alam ini berserta
manusia yang ada di dalamnya. Dia adalah Tuhan kamu dan Pemilik kamu.
Tidak ada pemerintahan, kuasa (authority), suruhan dan larangan melainkan
untukNya sahaja. Dialah yang layak menerima perhambaan diri dan taat setia
kita, tidak diperkongsikan oleh sesiapa pun. Kemudian, jiwa yang kerananya kita
hidup dan beroleh kekuatan serta bakat yang dapat kita gunakan untuk apa yang
kita mahu, juga segala hak yang dapat kita gunakan di dalam alam ini, dan alam
ini yang dapat kita jalankan tindak-tanduk di dalamnya, itu semua bukan kita
yang mencipta dan mengadakannya sendiri, pun kita tidak tahu yang ianya akan
didatangkan untuk kita. Tetapi Allah2 Subhanahu Wata'ala telah memuliakan
kita dengan semua itu tanpa disyarikati oleh sesiapa. Kita tidak dapat, sedikit
atau banyak, menentukan kesudahan perjalanan hidup kita, atau menetapkan
batas-batas dan tingkatan-tingkatan tertentu untuk segala tenaga serta hak kita
sebagaimana yang kita mahu dan yang kita inginkan. Begitu juga seseorang tidak
mungkin - tidak kira siapa orangnya - masuk campur dalam soal-soal ini, tetapi
segala-galanya itu terpulang kepada Allah Taala sendiri. Dialah sahaja yang
menjadikan kita dan yang mengurniakan kepada kita segala hak-hak dan
kelengkapan ini dan yang membolehkan kita bertindak atas kebanyakan apa
yang telah diciptakannya di dalam dunia ini.
Inilah hakikat tawhid. Ianya menafikan - seperti mana yang kita lihat itu - fikiran
kedaulatan manusia, dan mahu membasmikannya sama sekali; sama ada
kedaulatan itu untuk orang perseorangan, untuk satu-satu lapisan, satu-satu
bangsa atau untuk seluruh manusia di atas muka bumi ini. Tetapi kedaulatan itu
hanyalah layak untuk Allah sahaja. Tidak ada pemerintah melainkan Allah, tidak
ada pemerintahan melainkan pemerintahanNya, dan tidak ada undang-undang
melainkan undang-undangNya.

Risalat: Ada pun risalat (keRasulan), ialah saluran yang melaluinya undangundang
Ilahi sampai kepada kita. Dengan perantaraannya kita menerima dua
perkara: Kitab Allah yang mana di dalamnya Allah menerangkan undang- undangNya.
Keduanya ialah penghuraian dan penafsiran terhadap kitab ini yang
diperkuatkan oleh Rasul dengan perkataan dan perbuatan beliau selaku wakil
dari pihak Allah dan khal'ifat-nya (penggantinya) di dunia ini.

Di dalam kitabNya (Al-Qur'an), Allah telah menerangkan asas-asas dan prinsipprinsip
yang di atasnya sistem hidup manusia harus tegak. Ada pun apa yang
kita kehendaki selepas itu dari penghuraian dan penerangan terhadap asas-asas
dan prinsip-prinsip itu, telah diterang dan ditunjukkan oleh Rasul Sallallahu
'Alaihi Wasallam di dalam hidup beliau dengan mengasaskan satu sistem untuk
penghidupan manusia dan penyusunannya mengikut apa yang dikehendaki oleh
kitab Allah, sehingga ianya menjadi tauladan yang baik untuk orang yang datang
selepasnya. Himpunan antara kedua-dua sumber inilah yang dinamakan di
dalam istilah Islam dengan 'Syari'at'. Syari'at ini adalah merupakan
perlembangaan asasi yang dibangunkan di atasnya kerajaan Islam.

Khilafat: Di dalam bahasa 'Arab, khilafat itu bererti 'wakilan'. Posisi manusia di
dalam alam ini, dari sudut kacamata Islam, ialah sebagai khilafat untuk Allah.
Ertinya dia mewakili Allah di dalam kerajaanNya. Oleh itu dia tidak boleh
bertindak di dalam kerajaan ini melainkan mengikut hak perwakilan dan hak
menjalankan tindakan yang diberikan Allah kepadanya. Tidakkah anda lihat, jika
anda wakilkan kepada seseorang mengenai sesuatu urusan harta punya anda
dan anda jadikannya sebagai wakil anda di dalam urusan itu, anda meyakinkan
diri dengan empat perkara: Pertama, andalah tuan ampunya harta itu dan
pemiliknya yang hakiki, bukan orang yang anda wakilkan itu. Kedua, hendaklah
orang ini bertindak terhadap harta punya anda itu mengikut seperti mana yang
anda suruh dan tunjukkannya. Ketiga, tidak harus baginya membelakangkan
suruhan suruhan anda dan melampaui batas-batas yang anda gariskan untuk diri
dan kerjanya. Dan keempat, dia berkewajipan antara lain membelanjakan harta
itu sebagaimana yang anda kehendaki dia membelanjakannya, bukan
sebagaimana yang dikehendaki oleh dirinya sendiri.
Keempat-empat perkara ini telah tergabung dengan sebatinya di dalam
penggambaran terhadap wakilan, sehingga ianya terkhayal kepada seseorang
dengan hanya semata-mata disebut dan diucapkan perkataan 'wakilan' itu.
Sekiranya anda melihat seorang wakil yang tidak memenuhi syarat-syarat yang
empat ini dan tidak menunaikan tanggungjawabnya mengikut implikasiimplikasinya,
maka anda akan mengatakan, bahawa dia sudah melampaui
batas-batas wakilan dan mencabul piagam yang dikandungi oleh wakilan. Maka
demikianlah kita lihat perkara-perkara yang empat ini juga tersimpan di dalam
gambaran perkataan 'Khilafat'. Hanya pengertian beginilah sahaja yang
dikehendaki oleh Islam dengan khalifat bila dia mengatakan, bahawa manusia
adalah khilafat (wakil) Allah di bumi ini. Kerajaan yang tegak mengikut teori
politik ini tidak lain melainkan khilafah manusia di bawah authoriti Tuhan.
nya yang dituju ialah melaksanakan kehendak dan kemahuan Tuhan
yang Maha Tinggi dengan jalan mengikut hidayatNya tanpa melampaui
batas-batas yang telah digariskannya untuk khilafat ini serta kerja-kerjanya.
Apa yang munasabah disebutkan di sini ialah, bahawa Islam tidak menggantungkan
urusan khilafat ini kepada orang atau keluarga atau lapisan manusia yang
tertentu, tetapi dia menyerahkannya kepada seluruh anggota masyarakat yang
percaya dengan prinsip-prinsip asasi dari tawhid dan risalat di samping
mempunyai kecekapan dan persediaan itu melaksanakan segala apa yang
dikandungi dan yang kehendaki oleh perkataan 'khilafat' itu. Jika ada didapati
dunia ini sebuah masyarakat yang memakai sifat-sifat ini, tidak syak lagi bahawa
ianya layak dengan khilafat ini. Di sinilah tempatnya di mana fikrah pemerintahan
cara republik di dalam Islam mulai tumbuh. Tiap-tiap seorang dari anggotaanggota
masyarakat Islam mempunyai, habuannya dari khilafat tersebut dan
berhak meni'mat, hak-hak ini laksana gigi sikat. Seseorang tidak boleh
mengharamkan hak-hak ini terhadap sesiapa yang dia mahu di kalangan para
individu masyarakat. Ternyata sekali bahawa tiap-tiap kerajaan yang bersedia
untuk menggerakkan perjalanan khilafat ini dan mengendalikan pentadbirannya
tidak tersusun dan terbentuk melainkan dengan pendapat serta sokongan orang
ramai yang memberikan kepada kerajaan sebahagian dari hak-hak mereka iaitu
hak khilafat. Oleh itu, kerajaan tidak boleh terbentuk melainkan dengan
pendapat-pendapat mereka, dan tidak boleh melaksanakan kerjanya melainkan
dengan sokongan serta persetujuan mereka. Barangsiapa yang disukai dan diberi
kepercayaan oleh mereka, dialah mewakili mereka dalam menjalankan
tanggungjawab-tanggungjawab khilafat. Dan barangsiapa yang tidak
dipercayakan lagi oleh anggota-anggota masyarakat, maka dia tidak boleh
berbuat apa-apa selain dari meletakkan jawatan yang penting ini.
Oleh itu, "Republik Islam", adalah sebuah republik yang paling sempurna
sehingga tidak ada tujuan lain di belakanganya. Tetapi yang membezakan
"Republik Islam" dari pada republik Barat yang terkenal itu dan yang meratai
dunia hari ini, ialah bahawa teori politik Barat mengatakan tentang kedaulatan
(sovereignty) republik, sedang Islam mengatakan tentang khilafat orang ramai.
Untuk menjelaskan ini, kita katakan, bahawa hak-hak pemerintahan dan
hukuman di dalam republik Barat adalah dimonopolikan oleh orang ramai.
Merekalah yang memegang terajunya; mereka menggubal undang-undang dan
legislasi serta melaksanakannya di bumi ini sebagaimana yang mereka kehendaki.
Apa yang menjadi tujuan kerajaan mereka ialah menarik hati penghuni-penghuni
negara seluruhnya, memenangi sokongan mereka dan menunaikan kehendakkehendak
mereka. Tetapi di dalam Islam, sebaliknya pemerintahan dan
hukuman adalah untuk Allah sahaja. Dialah yang berhak mengadakan undangundang
dan legislasi untuk hamba-hambaNya tanpa disyarikat dan disaingi oleh
sesiapa. Ada pun orang ramai, maka posisi mereka di dalam Islam tidak ubah
seperti posisi para khalifat yang terpaksa - kerana tabiat jawatan mereka sendiri -
menurut kesan-kesan syari'at Ilahi yang telah dibawa oleh Rasul dari sisi Tuhan
mereka, tidak boleh mereka menyimpang daripadanya walau sebesar urat
rambut sekali pun. Tujuan orang-orang yang membentuk dan menyusunnya
tidak lain melainkan menuntut wajah Allah Subhanahu Wata'ala dan
melaksanakan perintahNya di bumi ini. Pendek kata, bahawa republik Barat
menempatkan dirinya pada jawatan ketuhanan dengan sombong dan angkuhnya
dibumi Allah tanpa sebarang hak, dan dia menggunakan segala kekuatan serta
pengaruhnya mengikut apa yang dikehendakinya sendiri dan yang dikehendaki
oleh anggota- anggotanya. Tetapi "Republik Islam" merupakan pengabdian diri
secara sosial kepada Allah Taala, terikat dengan tali-tali syari'atNya. Segala
kekuatan dan pengaruhnya digunakan hanya dalam batas-batas yang ditetapkan
oleh Allah untuk melakukan kerja-kerja mengikut hidayat Tuhan.
Sekarang saya mahu membentangkan kepada anda dengan ringkasnya,
gambaran yang jelas bagi kerajaan yang terbina di atas prinsip-prinsip tawhid,
risalat dan khilafa't itu.

SISTEM KERAJAAN/PEMERINTAHAN ISLAM

Sistem kerajaan ini - seperti mana yang telah dinyatakan oleh Allah di
beberapa tempat di dalam Kitab SuciNya yang mulia - ialah melaksanakan kerjakerja
kebajikan dan terpuji, iaitu kerja-kerja yang dikehendaki oleh Allah agar
penghidupan manusia dihiasi dengannya dan agar dapat disibarkan kebaikankebaikannya
serta diusahakan sedaya upaya untuk mempertinggi mutunya dan
menyibarkan faedahnya. Seterusnya kerajaan ini bertujuan membungkas dan
menyingkirkan dari bumi ini segala kejahatan dan kemungkaran yang dimurkakan
oleh Allah dan membersihkan bumi ini dari segala noda dan kekotoran.
Islam datang ke dunia ini bukan hanya untuk mendirikan kerjaan dengan erti
menjalankan urusan-urusannya dan mengendalikan pentadbiran-pentadbirannya
sahaja, tidak juga dia datang kerana memberi perhatian kepada kepentingankepentingan
satu bangsa yang tertentu sahaja, menghabiskan segala usaha dan
kepintarannya untuk mencapai segala kehendak-kehendak sosial bangsa itu
sahaja. Tidak sama sekali. Kedudukan perkaranya bukan demikian. Tetapi yang
sebenarnya, Islam meletakkan di hadapan kerajaan yang didirikan mengikut
lunas-lunas dan prinsip-prinsipnya itu, satu sistem yang lebih jauh tinggi dan
luhurnya daripada itu. Untuk mencapai matlamat ini, Islam haruslah menggunakan
segala saluran dan kekuatan yang ada padanya. Ini ialah supaya dapat
dilahirkan apa yang dikehendaki oleh Allah agar diperhiaskan dengannya
penghidupan hamba-hambanya di muka bumi ini, dan supaya penghidupan itu
tercorak dengan warna-warna keindahan, kebaikan, kebijaksanaan, kejayaan dan
kebahagiaan, juga membasmikan apa yang diramal akan menimbulkan
kehancuran di bumi ini, yang boleh mendapatkan berbagai-bagai kejahatan,
kekucar-kaciran serta keinginan berbuat sesuka hati. Begitu juga Islam
membentangkan kepada kita gambaran yang jelas bagi kejahatan dan kebaikan
sehingga dapat kita lihat di dalam cerminnya segala kepentingan yang digemari
serta segala kekejian dan kemungkaran yang dibenci. Jadi, kerajaan Islam itu
dapat mengaturkan projek-projek "islah"nya, di segenap waktu dan keadaan bila
mana dia meletakkan di hadapan matanya gambaran kejahatan dan kebaikan
yang jelas ini.
Apa yang diminta dan dituntut benar-benar oleh Islam agar dipegang oleh para
penganutnya, ialah supaya jangan mereka mengenepikan prinsip-prinsip akhlaq
dalam segala urusan mereka. Begitulah dia menentukan plan yang tetap dan
terjamin buat kerjaannya supaya polisi tidak dijalankan melainkan di atas
kebenaran mutlak, keadilan yang terang serta amanah yang suci bersih. Dia tidak
rela bila-bila masa pun kerajaannya berlindung kepada tipu-helah, pembohongan
dan pencerobohan ke atas orang untuk mendapatkan segala kepentingan tanah
air, kerajaan atau kebangsaan. Dia mengutamakan kebenaran, amanah dan
keadilan daripada tujuan-tujuan, kemahuan-kemahuan dan matlamat-matlamat
diri sendiri dalam segala hubungan dan pertalian di antara pemerintah dan
rakyat di dalam sebuah negara dan di antara satu bangsa dengan bangsa-bangsa
lain di luar negara itu. Oleh itu, Islam telah mempertanggungjawabkan ke atas
kerajaan Islam dan para pentadbirnya - seperti mana dia mempertanggungjawabkan
kepada insan Muslim juga - supaya menunaikan janji jika kamu berjanji,
perbetulkan sukatan dan timbangan, jangan dirugikan harta-punya orang, jangan
kamu lakukan kecuali apa yang kamu kata dan jangan kamu kata kecuali apa
yang kamu lakukan, jangan kamu lupa hak-hak orang lain yang wajib ke atas
kamu, dan jangan kamu lupa pula kewajipan-kewajipan mereka terhadap kamu.
Jangan pula kamu jadikan kuasa dan kekuatan kamu sebagai saluran untuk
melakukan kezaliman, kekejaman dan bermaharajalela, tetapi jadikanlah ianya
sebagai wasilah untuk menegakkan kebenaran serta keadilan. Ketahuilah
bahawa kebenaran itu adalah kebenaran juga dalam segala keadaan. Justeru
bersegeralah kamu menunainya. Bahawasa kuasa itu adalah satu amanah
daripada Allah, janganlah kamu mengunakannya kecuali jika kamu
berkeyakinan bahawa kamu akan diadili tentangnya di hadapan Tuhan kamu
dengan sepenuhnya.
Selain dari itu, kerajaan Islam meskipun wujud di tempat dan kawasan yang
tertentu di bumi ini, namun dia tidak membataskan hak-hak kemanusiaan dan
hak-hak civil dengan sempadan-sempadan geografi. Tentang kemanusiaan, Islam
meletakkan untuknya beberapa hak politik yang disuruh memelihara dan
menjaganya dalam segala keadaan. Hak-hak ini diwajibkan untuk setiap orang
manusia di atas muka bumi ini, tidak kira sama ada orang itu tinggal di dalam
negara Islam itu sendiri mau pun tinggal di luarnya, sama ada dia kawan atau
lawan, berbaik-baik dengan negara Islam itu atau pun bermusuhan dengannya.
Yang dipentingkan dalam hubungan ini ialah penghormatan darah manusia;
ianya diharamkan dalam setiap ketika dan waktu, tidak bolen ditumpahkannya
kecuali dengan kebenaran3 . Tidak halal di dalam syari'at Islam melakukan
pencabulan terhadap wanita, kanak-kanak, orang-orang tua, orang-orang sakit
dan luka dalam keadaan apa sekali pun. Diri dan kehormatan wanita adalah di
antara perkara-perkara yang harus dijaga dan dipertahankan, tidak boleh sama
sekali dicerobohi. Begitu juga orang kebuluran berhak diberi makan, orang
bertelanjang mesti diberi pakaian, orang luka mesti diubati, orang sakit mesti
dirawati, sekali pun si bulur, si bogel, si luka dan si sakit itu dari golongan musuh
negara Islam itu yang menanti-nanti ketika untuk menyerangnya. Hak-hak ini
dan lain-lain lagi yang seumpamanya adalah dikurniakan oleh Islam kepada
manusia kerana ianya manusia, dan hak-hak ini punya kedudukan yang sama
dengan hak-hak asasi di dalam perlembagaan kerajaan Islam.
Ada pun hak-hak awam (civil rights), Islam tidaklah mengkhususkannya untuk
orang-orang yang diperanakkan di dalam negara Islam sahaja. Tetapi sebenarnya
tiap-tiap orang Islam walau di mana pun dia dilahir dan dibesarkan, Islam
mengurniakannya hak-hak itu dengan semata-mata kerana dia berada di dalam
lingkungan negara Islam. Habuannya dari hak-hak itu tidak kurang daripada
orang-orang yang diperanakkan di dalam negara tersebut. Mereka sekeliannya
sama sahaja. Walau pun umpamanya terdapat banyak buah negara Islam dan
banyak bilangannya diberbagai-bagai tempat di bumi ini, maka mestilah seluruh
penghuni setiap negara itu bersama-sama mempunyai hak-hak awam tersebut.
Seorang Muslim tidak payah membawa paspot bilamana dia mahu masuk ke
dalam mana-mana negara itu, malah boleh pula dia mendaki setinggi-tinggi garis
kejayaan yang terdaya olehnya dan melayakkan diri untuk memegang
jawatan-jawatan tanggungjawab yang tinggi tanpa diperhatikan sedikit pun
kepada keturunan, keluarga dan lapisan yang dipunyainya.
Orang-orang bukan Islam yang mendiami negara Islam, untuk mereka Islam
telah menentukan beberapa hak, dan ini tentunya merupakan satu bahagian yang
tidak dapat dipisahkan sama sekali daripada bahagian- bahagian perlembagaan
Islam. Orang-orang yang bukan Islam seperti ini dipanggil di dalam istilah Islam
sebagai ahli dhimmah. Mereka ini telah diberi jaminan oleh Islam yang diri
mereka adalah terpelihara. Tidak syak lagi bahawa jiwa raga, harta benda dan
kehormatan ahli dhimmah ini diharamkan oleh Islam seperti diharamkannya
jiwa raga, harta benda dan kehormatan orang-orang Islam sendiri. Tidak ada
beza apa-apa di antara orang-orang Islam dan ahli dhimmah dalam undangundang
awam dan pidana. Kerajaan Islam tidak boleh campur tangan dalam
sesuatu dari undang-undang keluarga (personal statute) untuk ahli dhimmah. Tetapi mereka
mempunyai kebebasan dalam segala kepercayaan, fikiran, ibadat dan upacara agama mereka.
Ini adalah hak-hak yang banyak diberikan oleh perlembagaan Islam kepada
rakyatnya dari kalangan orang-orang yang bukan Islam, iaitu hak-hak tetap dan
tersendiri yang tidak boleh dicabut atau dirampaskan daripada mereka
selagimana mereka berada di dalam lingkung dhimmah (jagaan) kita dan di
bawah lindungan kita. Walau bagaimanapun kerajaan bukan Islam menindas
rakyatnya dari orang-orang Islam serta mengenakan berbagai-bagai tekanan dan
penyiksaan ke atas mereka, namun tidaklah harus untuk kerajaan Islam, lantaran
itu semua, mencerobohi rakyatnya dari orang-orang bukan Islam dan menyingkir
-kan mereka daripada hak-hak mereka, kerana ini menyalahi syari'at Islam dan
melanggar piagam-piagamnya. Demi kebenaran! Jika seorang Muslim terbunuh
di luar negara kita, tidaklah harus sama sekali bagi kita menumpahkan setitik
darah ahli dhimmah pun di dalam negara kita melainkan dengan kebenaran.
Soal mengendalikan pentadbiran dan menggerakkan perjalanan kerajaan Islam
ini adalah diserahkan kepada seorang 'AMIR' yang mana jawatan serta tugastugasnya
serupalah dengan presiden republik zaman ini. Tiap-tiap orang yang
percaya dan menerima prinsip-prinsip perlembagaan, dia berhak - bila mana
sampai usia kematangannya - menyatakan pendapatnya dalam pemilihan amir.
Apa yang harus diperhatikan secara khusus dalam soal pemilihan amir ini ialah
taqwa, mempunyai pengetahuan yang cukup tentang Islam serta keahlian yang
lengkap untuk mentadbirkan urusan-urusan umat Islam baik waktu damai
maupun waktu perang. Oleh itu jawatan amir ini tidak boleh disandangkan
melainkan kepada orang yang memakai sifat-sifat ini sepenuh-penuhnya, dan dia
juga mendapat kepercayaan umat lebih banyak daripada orang-orang lain.
Kemudian sebuah Dewan Permesyuaratan harus diadakan untuk menolong amir,
yang mana seluruh anggota-anggotanya dipilihkan juga oleh individu-individu
masyarakat. Amir mestilah menjalankan polisi negara dengan mesyuarat
bersama-sama para anggota dewan permesyuaratan. Dia akan tetap menjadi
amir selama mana dibekali dengan kepercayaan umat dan selama mana umat
bergantung kepadanya. Tetapi jika kepercayaan itu telah hilang, dia mestilah
turun dari jawatannya. Selama mana dia mendapat kepercayaan umat, dia masih
tetap menduduki jawatan yang tertinggi itu, perintahnya tetap dipatuhi,
kata-katanya masih didengar dan dilaksanakan. Malah dalam keadaan yang
demikian itu, dia berhak juga menolak fikiran-fikiran para anggota Dewan
Permesyuaratan dalam satu-satu hal yang dilihatnya bahawa kebenaran adalah
berlainan daripada pendapat-pendapat mereka itu. Penghuni-penghuni negara
berhak mengkritik kerajaan amir jika sekiranya ada perkara-perkara yang mereka
nampak harus dikritik.
Ada pun menggubal perundangan dan undang-undang dalam negara Islam, ianya tidak boleh dilakukan melainkan dalam lingkungan batas-batas yang telah
ditetapkan oleh syari'at, tidak boleh sama sekali dilampaui. Umat Islam mestilah
terikat sepenuhnya kepada apa yang diturunkan oleh Allah dan yang telah
diatangkan oleh Rasul Sallallahu 'Alaihi Wasallam. Mana-mana Dewan
Perundangan tidak boleh melakukan padanya walau sekecil-kecil perubahan
sekalipun. Adapun hukum-hukum yang boleh difahami dengan dua fahaman
dan seterusnya, maka orang-orang yang pakar di dalam fiqh Islam hendaklah
menjelaskan fahaman yang betul dan mendapatkan apa yang sebenarnya
dikehendaki oleh syari'at yang tercinta di balik hukum- hukum itu. Perkaraperkara
yang seumpama ini hendaklah diserahkan kepada komiti 'alim-ulama'
dan ahli-ahli fiqh yang ditubuhkan di bawah Dewan Permesyuaratan. Selain dari
itu, kita dapati ada banyak perkara-perkara yang dinaskan secara khusus oleh
syari'at, untuk nas-nas ini, Dewan Permesyuaratan berhak mengadakan
undang-undang dalam lingkungan batas-batas syara'.
Amir dan Lembaga Pelaksanan kerajaan tidak mempunyai authoriti di atas soal
kehakiman dalam Islam. Orang-orang yang memegang jawatan ini mewakili
Allah Subhanahu Wata'ala dan mereka bertanggungjawab secara langsung di
hadapannya. Seorang hakim - meski pun kerajaan yang melantiknya - bilamana
dia ditentukan di dalam Dewan Kehakiman, dia tidak boleh menghukum antara
orang ramai melainkan dengan apa yang Allah turunkan dan yang ditunjuk
ajarkan oleh RasulNya Sallallahu 'Alaihi Wasallam. Tidak ada siapa yang boleh
terlepas daripada kuasa dan keadilannya sehingga orang-orang kerajaan sendiri.
Kepala kerajaan sendiri pun mesti menghadirkan dirinya di hadapan hakim
seperti kebanyakkan penghuni negara jika dia mendakwa atau didakwakan.

Cara Hidup Islam Part 4


 SISTEM AKHLAQ

Perasaan akhlaq adalah perasaan semulajadi yang mana Allah menciptakan
manusia bersama dengannya. Kerana itu manusia terdorong untuk menggemari
setengah-setengah sifat kemanusiaan dan membenci setengah-setengah sifat
yang lain. Perasaan ini, meskipun berbeza-beza dan berlebih kurang kadarnya di
antara berbagai-bagai individu manusia, namun perasaan bersama (common
sense) - tanpa memandang kepada individu secara perseorangan masih terus
menghukum setengah-setengah sifat tingkah laku sebagai sifat-sifat yang baik,
dan setengah-setengah sifat yang lain pula sebagai sifat-sifat yang buruk.
Kebenaran, amanah, keadilan dan kesetiaan dengan janji umpamanya, adalah
sifat-sifat yang digolongkan oleh manusia ke dalam sifat-sifat tingkah laku yang
layak dipuji dan disanjung dalam setiap peringkat zaman. Tetapi tidak pernah
datang kepada manusia satu waktu di mana dia memandang baik kepada
pembohongan, kezaliman, penipuan dan pengkhianatan. Begitu juga tentang
tolong-menolong, berkasih sayang, bermurah hati, berlapang dada dan bertolak
ansur, semuanya diberi penghargaan serta dijunjung tinggi oleh manusia di
segenap waktu dan zaman. Sebaliknya sifat-sifat keakuan, degil, kikir dan
berpandangan sempit itu tidak pemah dianggap oleh manusia sebagai sifat-sifat
yang patut diberi penghormatan dan penghargaan. Manusia juga masih terus
memulia dan memandang tinggi kepada sifat-sifat sabar, cermat, tabah, lemah
lembut, keberanian dan ketinggian cita-cita. Tetapi dia menghina dan
memandang rendah kepada sifat-sifat gopoh, terburu-buru, tidak tetap pendirian,
dayus dan lemah cita-cita. Manusia masih lagi menganggap sifat-sifat menahan
diri, menjaga maruah, berkelakuan baik dan suka bermesra dengan orang lain itu
di antara perangai-perangai yang indah. Tetapi sifat-sifat suka mengikut
kehendak nafsu, tidak pemalu, kurang sopan dan berkelakuan tidak senonoh itu,
tidak mempunyai tempatnya di dalam lingkungan perangai-perangai yang
dimuliakan oleh manusia. Seterusnya manusia masih lagi memuliakan sifat-sifat
menjalankan tugas dengan sempurna, menunai janji, cergas dalam bekerja dan
menyedari tanggungjawab. Tetapi dia tidak bersimpati kepada orang-orang yang
meringankan tugas, tidak menunai janji, pemalas dan tidak serius bekerja dan
tidak mempedulikan tanggungjawab yang terletak di atasnya.
Semua itu adalah merupakan sifat-sifat peribadi dan perseorangan sahaja. Ada
pun hal-hal kemasyarakatan, baik dan buruknya, juga sifat-sifat masyarakat yang
terpuji dan terkeji, maka segala-galanya dipandang oleh manusia dengan
pandangan yang sama dan ditimbangkan dengan neraca yang satu. Tidak pernah
diketahui masyarakat manusia yang patut disanjung dan dihormati, kecuali
masyarakat yang mempunyai pentadbiran yang baik dan sistem yang sempurna;
masyarakat yang diratai oleh gotong-royong, saling memikul tanggungjawab,
kasih mengasihi, nasihat menasihati, keadilan sosial dan persamaan di antara
sekelian manusia. Sebaliknya manusia tidak memandang dengan kagum dan
hormat kepada masyarakat yang diselubungi oleh gejala-gejala perpecahan,
kacau bilau dan porak peranda; masyarakat yang dikelilingi di segenap
penjurunya oleh dendam kesumat, hasad dengki, kezaliman, perbalahan dan
persaingan di antara sesama para individunya.
Begitulah juga halnya dengan perangai-perangai serta tabiat-tabiat manusia,
baiknya dan buruknya, masih tetap seperti zaman-zaman yang telah lalu.
Perbuatan-perbuatan mencuri, berzina, membunuh, menipu, menerima rasuah,
mencarut, mencerca, megumpat, mendengki, membuat tuduhan-tuduhan palsu
dan melakukan perkara-perkara yang merosakkan di bumi ini, tidak pernah
dipandang orang dengan pandangan yang memuja dan memuji. Tetapi membuat
baik kepada ibu bapa, berbakti kepada adik beradik, menghormati jiran tetangga,
membantu kawan rakan dalam perkara-perkara baik, memberi perhatian kepada
anak-anak yatim serta fakir miskin, menziarahi orang sakit, menolong orang
malang dan susah, semua itu dipuji dan disanjungi oleh manusia sepanjangpanjang
masa. Begitu juga orang tidak pernah menghormati dan memuliakan
pengkhianatan, sikap bermuka-muka, berpura-pura, terlalu meminta-minta dan
sikap gelojoh. Tetapi mereka menghormati dan memandang tinggi kepada sopan
santun, cakap yang manis, gerak geri yang lemah lembut, suka memberi nasihat
dan punya amanah.
Pendeknya, manusia tidak memandang baik dan tidak menghormati kecuali
orang-orang yang bercakap benar, yang boleh diharap dan dipercayai dalam
segala hal. Orang-orang yang serupa sahaja lahirnya dengan batinnya, yang sama
sahaja perbuatan-perbuatannya dengan kata-katanya, orang-orang yang
memadai dengan hak serta habuannya, orang-orang yang berlumba menunaikan
hak-hak dan tanggungjawab- tanggungjawab mereka kepada orang lain,
orang-orang yang hidup dengan penghidupan yang aman damai, yang tidak
mengganggu orang lain, orang-orang yang tidak diharapkan daripada mereka
selain daripada kebaikan dua kebijaksanaan.
Dari yang demikian itu, ternyatalah bahawa prinsip-prinsip akhlaq itu adalah
merupakan hakikat-hakikat yang tetap dan bercorak internasional, yang mana
masih dikenali oleh manusia. Kebaikan dan kejahatan tidaklah tersembunyi
sehingga seseorang perlu mencarinya bila mana dia mahu mengetahui serta
menelitinya. Tetapi kedua-duanya adalah di antara perkara-perkara yang telah
diketahui oleh Bani Adam sejak pertama kali lagi. Allah telah menganugerahkannya
rasa dengan kedua-duanya dan telah perbekalkannya dengan tabiat
semulajadi atas perasaan tersebut. Oleh itu kita lihat Al-Quran menamakan
kebaikan itu dengan 'al-ma'ruf’ (yang termaklum) dan menamakan kejahatan
dengan 'al-mungkar' (yang dibantahi). Apa yang dimaksudkan oleh Al-Qur'an
ialah, bahawa al-ma'ruf itu ialah yang diketahui oleh manusia dan yang digemari
serta disukainya, dan bahawa al-mungkar itu ialah yang dibantahi, dicemuh dan
dipandang jijik oleh manusia. Di dalam pengertian beginilah Al-Quran
mengatakan;

"Maka diilhamkan akan (diri) yang jahatnya dan yang
taqwanya". (Surah As Syams, ayat 8)

Barangkali para pembaca tertanya-tanya dalam hal ini: Jika kebaikan dan
kejahatan tingkah laku itu sudah termaklum dan diketahui orang, dan jika para
penghuni dunia ini sudah bersatu pendapat tentang kebaikan setengah-setengah
sifat dan keburukan setengah-setengahnya yang lain, maka apakah gunanya
berbagai-bagai sistem akhlaq itu diwujudkan di dunia ini? Apakah bukti yang
menjadi sandaran kita bila kita katakan, bahawa Islam mempunyai satu sistem
akhlaq yang tersendiri? Kemudian, apakah perwatakan- perwatakan dan
keistimewaan-keistimewaan yang membezakan sistem akhlaq Islam daripada
sistem-sistem akhlaq lain yang telah dan masih mendapat keutamaan serta
sanjungan di dalam sejarah perkembangan akhlaq?
Jika kita bentangkan berbagai-bagai sistem akhlaq di dunia dengan tujuan untuk
mengkaji masalah ini, akan ternyatalah kepada kita sejak mula-mula lagi, bahawa
sistem-sistem itu berbeza di antara satu sama lain dalam soal memasukkan
bermacam-macam sifat tingkah laku ke dalam sistem masing-masing. Perbezaan
terdapat juga di antara sistem-sistem itu dalam soal menentukan batas dan
tempat penggunaan sifat-sifat tingkah laku itu serta cara mempersesuaikan di
antara sesamanya. Kemudian jika kita memandang dengan dalam dan teliti
kepada sistem-sistem itu, akan ketaralah bagi kita sebab perbezaan ini, iaitu,
bahawa sistem-sistem tersebut berselisih antara satu sama lain dalam
menetapkan norma kebaikan dan kejahatan pada tingkah laku manusia, juga
dalam menentukan saluran pengetahuan yang dapat diperbezakan dengannya di
antara baik dan jahat. Sistem-sistem itu tidak juga mencapai persetujuan dalam
menentukan kekuatan penggerak (sanction) yang bekerja di belakang undangundang
itu sehingga ianya punya kuasa di dalam diri orang. Lebih jauh lagi
sistem-sistem itu tidak sepakat dalam menentukan perasaan yang membawa
orang mematuhi dan mengawasi undang-undang. Kemudian jika kita berfikir
mencari sebab-sebab perselisihan ini, akan lahirlah kepada kita hakikat yang jelas,
bahawa yang menceraikan segala jalan sistem-sistem akhlaq ini seluruhnya dan
yang menjauhkan antara setengahnya dengan setengah, ialah kerana sistemsistem
ini berselisih dalam menggambarkan tentang apakah dia alam buana ini,
di manakah posisi akhlaq di dalam undang-undang alam yang luas ini, dan apakah matlamat hidup manusia di dalam alam.
Perselisihan inilah yang mempengaruhi sistem-sistem tersebut, dan daripadanyalah
timbul perselisihan- perselisihan yang pokok sehingga tentang haqikat,
tabiat dan kedudukan sistem-sistem itu. Bahawa persoalan-persoalan yang di
atasnya tegak asas penghidupan manusia dan persoalan-persoalan yang
menentukan aliran-aliran manusia di dalam penghidupan dunia ini ialah:
Adakah di sana Tuhan untuk alam ini atau tidak? Jika ada, maka adakah Dia
Tuhan yang satu (Esa) atau ada bersama-samanya tuhan-tuhan lain? Dan mana
satu di antara tuhan-tuhan itu yang kita percaya? Apakah sifat-sifat yang ada
padanya? Bagaimana hubungan kita dengannya? Apakah dia sudi membimbing
kita ke arah kebenaran dan memberi hidayat kepada kita atau tidak? Apakah kita
bertanggungjawab di hadapannya? Apakah yang diperhitungkan kepada kita
untuknya? Kemudian apakah matlamat hidup kita dan kesudahannya yang
harus kita letakkan di hadapan mata dan yang harus kita bekerja mengikut
kehendak-kehendaknya dalam penghidupan di dunia ini?
Ini semuanya merupakan persoalan-persoalan pokok dan penting, yang mana di
atas jawapannyalah terhentinya kelahiran sistem hidup manusia. Oleh itu sistem
akhlaq tidak lahir melainkan mengikut apa yang sesuai dengan haqikat jawapan
ini. Di dalam ceramah yang singkat ini tidaklah dapat saya bercakap panjang
lebar tentang berbagai-bagai sistem hidup yang ada di dunia ini dan menceritakan
kepada anda apa yang telah dipilih oleh tiap-tiap sistem itu untuk memberi
jawapan terhadap persoalan yang pokok ini, juga apakah kesan-kesan dan gejalagejala
yang dilahirkan oleh jawapan-jawapan itu terhadap bentuk persoalan ini
dan penentuan jalannya. Saya hanya bermaksud hendak bercakap tentang Islam
sahaja di antara sistem-sistem itu dan akan memberikan jawapan-jawapan yang
saya pilih untuk persoalan-persoalan tadi di samping menjelaskan sistem akhlaq
yang khusus iaitu sistem akhlaq yang tegak di atas asas jawapan-jawapan ini
serta menunaikan kehendak-kehendaknya.
Buat menjawab kepada persoalan-persoalan ini, Islam mengatakan: Bahawa
untuk alam ini ada satu Tuhan, dan tidak ada Tuhan selain Allah. Dialah yang
menciptakan mayapada ini dan mengadakan segala sesuatu di dalamnya. Dia
sahaja yang bertindak dalam hal-hal alam ini, tidak disertai oleh sesiapa pun. Dia
punya perintah dan larangannya. Dialah Tuhan segala langit dan bumi dan
Tuhan apa yang ada di dalam langit dan bumi itu. Sistem alam yang kita lihat
berjalan dengan teratur dan tetapnya ini tidak berjalan melainkan kerana tunduk
kepada perintah dan kehendakNya. Dia adalah Tuhan Yang Bijaksana, yang
Maha Berkuasa, mengetahui yang ghaib dan yang ternyata, tidak terlindung
daripadaNya sebesar zarah pun baik di langit mahu pun di bumi. Dia adalah
'al-malik' (raja) yang quddus, perintahNya berlaku di dalam alam ini dengan
kadar yang tertentu. Tidak pernah Dia penat dan lemah. Manusia adalah hamba
kepada Allah mengikut kejadian serta tabiat semulajadinya, Tugas manusia di
dunia ialah menyembah Allah dan mematuhi segala titah perintahNya. Hidupnya
tidak bererti jika tidak diserahkan sepenuhnya untuk beribadat kepada Allah
dengan ikhlasnya. Bukanlah tugas manusia menentukan sendiri satu methode
tertentu bagi ibadatnya, tetapi ianya ditentukan oleh Allah yang menciptanya
dan yang menjadikannya sebagai salah seorang dari hamba-hambanya. Allah
Subhanahu Wata'ala telah mengutuskan untuknya para Rasul dan diturunkan
pula bersama-sama mereka kitab-kitab untuk memberi hidayat serta
membimbing mereka ke jalan kebaikan dan kebahagiaan. Oleh yang demikian,
manusia tidak harus mengambil sistem hidupnya kecuali daripada pelita yang
terang benderang ini. Selain dari itu, manusia adalah bertanggungjawab di
hadapan Tuhannya terhadap apa yang telah diusaha dan diperolehinya di dalam
penghidupan dunia dan dia akan diadili di hadapan Allah, bukan di dunia ini,
tetapi di akhirat kelak. Penghidupan di dunia ini hanyalah merupakan dugaan
Tuhan terhadapnya. Manusia tidak harus meletakkan di hadapan matanya satu
matlamat yang dicari dan yang dicitakannya di dalam hidup ini melainkan
supaya dia tergolong di dalam golongan orang-orang yang berjaya di sisi
Tuhannya di dalam alam akhirat nanti. Manusia menempuh dugaan ini dengan
segala tenaga yang ada padanya; kerana ini adalah dugaan terhadap segala daya
dan bakatnya serta ujian segala segi penghidupannya. Dia akan diujikan dalam
segala apa yang diusaha dan dikerjakannya di dalam penghidupan dunia ini
dengan ujian yang bersih; tidak dinodai barang sedikit pun oleh kekotoran dunia
ini.
Lebih jauh lagi, ujian ini dijalankan sendiri oleh Tuhan yang mengetahui
segala-segalanya; Tuhan yang tidak terhenti ilmu dan ma'rifatnya - waktu mana
Dia merakamkan segala kerja dan gerak-geri manusia pada juzu'- juzu' alam ini
yang terdiri daripada tanah, air, angin, ruangan-ruangan angkasa, di dalam hati
manusia, fikirannya, tangan dan kakinya. Malah ilmu pengetahuannya meliputi
segala bisikan dan kemahuan yang terlintas di jiwa manusia, tidak ada sesuatu
pun yang terlindung daripadanya.
Inilah dia jawapan Islam tentang persoalan-persoalan hidup yang asasi, dan
inilah Islami terhadap alam serta posisi manusia di dalamnya. Dia menentukan
satu tujuan hakiki lagi luhur yang harus menjadi matlamat utama dari segala
usaha dan kerja manusia di dalam penghidupan dunia ini, iaitu 'menuntut wajah
Tuhan dan mencari keredhanNya'. Beginilah criterion (ukuran) yang diukurkan
dengannya setiap kerja manusia di dalam sistem akhlaq Islam dan dihukum
sama ada baik atau jahat. Selain dari itu, penentuan matlamat hidup ini
membekalkan akhlaq manusia dengan satu pusat di mana seluruh penghidupan
manusia berkisar di sekitarnya. Penghidupan itu tidak lagi akan menjadi seperti
kapal di tengah-tengah lautan yang dipukul badai serta diumbang-ambingkan
oleh gelombang ke kanan dan ke kiri. Penentuan ini juga meletakkan di hadapan
manusia satu tujuan hakiki yang membolehkannya selepas itu menentukan
batas-batas, kedudukan-kedudukan serta gambaran-gambaran praktikal yang
padan untuk tiap-tiap satu dari segala sifat tingkah laku di dalam penghidupan
ini. Oleh kerana ini juga manusia boleh mencapai nilai-nilai akhlaq (ethical values)
yang tersendiri, yang sampai sekarang masih berdiri dengan teguh di tempatnya,
tanpa berkesan dengan perubahan-perubahan suasana dan keadaan. Lebih jauh
dari itu - bila mana menuntut wajah Tuhan dan mencari keredhaanNya itu -
menentukan satu matlamat yang dicari oleh manusia dan satu tujuan bagi segala
usaha dan kerjanya, akhlaq manusia pun mendapat satu tujuan yang tinggi yang
membolehkannya mendaki ketinggian tingkah-laku setinggi-tingginya, tidak
dinodai buat selama-lamanya oleh daki-daki perhambaan diri kepada segala
tujuan dan kehendak nafsu dalam segala peringkat perjalanannya.
Seperti mana Islam memberi ni'mat kepada kita - kerana penggambarannya
terhadap alam dan manusia dengan kriteria ini - dia juga membekalkan kita
dalam waktu yang sama dengan satu saluran yang abadi untuk mengetahui baik
buruknya tingkah laku. Islam tidak sahaja membataskan pengetahuan kita
dengan akhlaq itu dalam lingkungan akal, kemahuan, percubaan atau ilmu-ilmu
kita terhadap akhlaq boleh berubah dengan berubahnya saluran-saluran yang
empat ini dan tidak tetap buat selama-lamanya. Tetapi Islam mengurniakan
kepada kita satu rujukan (reference) tetap yang membekalkan kita dengan
ajaran-ajaran pribudi dalam segala keadaan dan zaman. Rujukan itu ialah kitab
Allah (Al-Quran) dan Sunnah RasulNya Sallallahu 'alaihi Wasallam.
Ajaran-ajaran ini membimbing kita kepada jalan yang lurus dan menyuluh
langkah kita yang betul dalam segala soal hidup, dari masalah-masalah
rumahtangga yang sekecil-kecilnya membawa kepada masalah-masalah serta
problem-problem politik internasional yang besar-besar. Kita dapati di dalam
ajaran-ajaran ini ruangan yang luas, cukup untuk menjadi prinsip-prinsip akhlaq
dalam segala soal hidup. Kita tidak berkehendakkan lagi selepasnya kepada satu
saluran pengetahuan yang lain dalam segenap peringkat penghidupan.
Kemudian di dalam penggambaran Islam terhadap alam dan manusia ini, kita
dapati ada kekuatan pengontrol yang harus menjadi sandaran kepada
undang-undang akhlaq. Kekuatan itu ialah takut kepada Tuhan menyedari
tanggungjawab di hari akhirat serta takutkan akibat buruk di masa depan yang
abadi. Tidak syak lagi, bahawa Islam mahu menyediakan susunan masyarakat
dan fikiran orang ramai (public opinion) yang boleh membawa dan memaksa
orang dari segenap peringkat supaya mengikut serta terus menjaga prinsipprinsip
akhlaq. Begitu juga Islam mahu mendirikan satu sistem politik yang
mana melalui kuasanya. dapat dilaksanakan undang-undang akhlaq ini di
kalangan orang ramai dengan paksa, walaupun pada hakikatnya Islam tidak
bergantung kepada kuasa pengontrol yang luar ini seperti pergantungannya
kepada pengontrol dari dalam jiwa yang dipenuhi dengan keimanan dengan
Allah dan hari kemudian. Dari sana Islam hendak - sebelum dia memerintahkan
manusia supaya mengikat diri masing-masing dengan hukum-hukum akhlaq -
menakutkan manusia dan mengajarnya:
Islam menetapkan keimanan ini - keimanan dengan Allah dan hari kemudian - di
dalam hati manusia, seolah-olah dengan itu dia meletakkan di dalam perasaannya
seorang pengawas dari mata-mata akhlaq yang menggesanya bekerja dan
yang menyuruh dia mematuhi segala titah perintah Allah, tidak kira sama ada
terdapat mata-mata, mahkamah dan penjara di luar yang memaksanya berubat
demikian atau tidak. Pengawas dalam dan pengontrol jiwa inilah pada hakikatnya
yang menolong undang-undang akhlaq Islam dan yang menjadikannya
terlaksana di kalangan orang ramai, sungguhpun di samping itu sokongan
daripada pihak pemerintah dan fikiran umum menyenangkan lagi perlaksanaan
undang-undang ini. Hal ini tentunya lebih wajar dan lebih bijaksana. Tetapi pada
hakikatnya, keimanan ini sahaja pun sudah memadai untuk menjamin hidayat
dan umat Muslimin kepada jalan yang betul jika kemanisan keimanan itu telah
meresapi hati mereka dan jika aqidah ini sudah melekat dengan sebatinya di
dalam jiwa mereka.
Lebih jauh lagi, penggambaran Islam terhadap alam dan manusia ini, menyediakan
faktor-faktor yang menggalak dan memberansangkan seseorang supaya
bekerja mengikut apa yang dikehendaki oleh undang-undang akhlaq. Cukup
untuk mendorong seseorang untuk mematuhi kehendak-kehendak Allah dan
menjunjung titah perintahNya, bahawa dia menerima Allah sebagai Tuhannya,
bakti kepada Allah sebagai cara hidupnya dan keredaan Allah sebagai matlamat
hidupnya. Faktor lain yang kuat juga di samping faktor ini ialah keimanan
dengan hari kemudian serta kepercayaan bahawa orang yang mematuhi Allah
dan menurut segala titah perintahNya akan mendapat kebahagiaan di alam
akhirat yang kekal selama-lamanya. Dia akan mendapat kehidupan yang baik,
masa depan yang gemilang dan keni'matan yang abadi, sekali pun di dalam
dunia yang fana ini dia menanggung bermacam-macam kesakitan, kepedihan,
penderitaan dan kesengsaraan. Sedang orang yang menghabiskan usianya di
dalam dunia ini dengan mendurhakai Allah dan membelakangkan segala
perintahNya, nasibnya di akhirat pasti akan menemui ganjaran yang keras serta
siksa yang tidak akan habis-habis, sekalipun di dunia dia mengecap (beranika
kenikmatan dan kemewahan dari keenakan hidup). Harapan dan ketakutan ini,
jika terhimpun pada seorang manusia dan tertanam di dalam lubuk hatinya,
seolah-olahnya satu faktor yang kuat tumbuh di dasar nuraninya yang
menggalakkannya membuat kebaikan serta berpegang dengan kebenaran dalam
waktu-waktu dan keadaan-keadaan yang barangkali ternyata kepadanya bahawa
berpegang dengan kebenaran boleh memberi kerugian tertentu terhadap
kepentingannya di dalam hidup ini. Begitu juga faktor kejiwaan ini boleh
menjaganya daripada kecenderungan-kecenderungan jahat dan juga menjauhkan
-nya daripada perkara-perkara curang dan jahat dalam keadaan- keadaan yang
ternyata kepadanya bahawa kejahatan merupakan kelazatan untuk nafsu dan
keuntungan di dalam penghidupan dunia ini.Apa yang jelas dari huraian ini
ialah, bahawa Islam mempunyai penggambaraan yang tersendiri terhadap alam
ini seperti mana ianya juga mempunyai criterion tersendiri terhadap kejahatan
dan kebaikan. Islam juga mempunyai rujukan bagi ilmu akhlak berserta satu
kekuatan penggerak dan faktor pendorong kerja yang khusus. Di dalam masalah
ini, Islam memilih satu jalan yang lain daripada jalan-jalan yang dipilih oleh
segala sistem akhlaq di dunia ini. Dengan pertolongan faktor-faktor ini sendiri,
lahirlah bahan-bahan budi pekerti yang terma'lum itu mengikut kadar-kadar
yang tertentu dan dilaksanakan di dalam segenap bahagian dan lapangan hidup.
Lantaran itu, berhaklah kita mengatakan, bahawa Islam mempunyai satu sistem
akhlaq yang sempurna dan sesuai buat selama-lamanya dengan tabiat dan
ajaran-ajarannya.