Showing posts with label Imam Syafi'i. Show all posts
Showing posts with label Imam Syafi'i. Show all posts

Biografi Imam Syafií Bagian 3 - Guru Imam Syafií

 

PARA SYAIKH (GURU-GURU)NYA

Imam asy-Syafi'i رحمه الله mengambil banyak ilmu dari para ulama di berbagai tempat pada zamannya. Di antaranya di Makkah, Madinah, Kufah, Bashrah, Yaman, Syam, dan Mesir. Hal itu telah disebutkan oleh al-Baihaqi, Ibnu Katsir, al-Mizzy, dan al-Hafizh Ibnu Hajar رحمهم الله.
Ibnu Katsir رحمه الله berkata: "Imam asy-Syafi'i رحمه الله belajar banyak hadits kepada para syaikh dan para imam. Ia membaca sendiri kitab al-Muwaththa' dengan hafalan sehingga Imam Malik رحمه الله kagum terhadap hafalan dan kemauan kerasnya.
Diriwayatkan dari Imam Malik bahwa Imam asy-Syafi'i mengambil ilmu dari ulama Hijaz, sebagaimana ia mengambilnya dari Syaikh Muslim bin Khalid az-Zanji رحمه الله.
Al-Hafiz  al-Mizzi رحمه الله telah menyebutkan para syaikh Imam asy-Syafi'i dalam kitabnya, Tahdzib al-Kamal.
Imam al-Baihaqi رحمه الله juga menyebutkan para syaikh Imam asy-Syafi'i رحمه الله. Di antara syaikhnya yang berasal dari penduduk Makkah adalah:
1.    Imam Sufyan bin 'Uyainah رحمه الله,
2.    'Abdur Rahman bin Abu Bakar bin 'Abdullah bin Abu Mulaikah رحمه الله,
3.    Isma'il bin 'Abdullah bin Qisthinthin al-Muqri رحمه الله,
4.    Muslim bin Khalid az-Zanji رحمه الله,  dan banyak lagi selain mereka.
Dari penduduk Madinah ialah:
1.    Malik bin Anas bin Abu 'Amir al-Ashbahi رحمه الله,
2.    'Abdul 'Aziz bin Muhammad ad-Darawardi رحمه الله,
3.    Ibrahim bin Sa'ad bin 'Abdur Rahman bin 'Auf رحمه الله,
4.    Muhammad bin Isma'il bin Abu Fudaik رحمه الله,  dan banyak lagi selain mereka.
Dari negeri lain di antaranya:
1.    Hisyam bin Yusuf as-Shan'ani رحمه الله,
2.    Mutharrif bin Mazin as-Shan'ani رحمه الله,
3.    Waki' bin al-Jarrah رحمه الله,
4.    Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani رحمه الله,  dan banyak lagi selain mereka.
PERJUMPAAN IMAM AHMAD BIN HANBAL DENGAN
IMAM ASY-SYAFFI  DAN SALING BERBAGI
ILMU DI ANTARA KEDUANYA

Al-Baihaqi رحمه الله meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Isma'il at-Tirmidzi رحمه الله, ia berkata: "Aku mendengar Anmad bin Hanbal رحمه الله menyebutkan tentang Imam asy-Syafi'i: 'Imam asy-Syafi'i benar-benar pembela sunnah.'"
Al-Baihaqi juga meriwayatkan dengan sanadnya dari 'Abdullah bin Ahmad bin Hanbal رحمه الله, ia berkata: "Ayahku bercerita: 'Imam asy-Syafi'i رحمه الله pernah mengatakan bahwa apabila hadits itu shahih menurut kamu dari Nabi صلى الله عليه وسلم, maka katakanlah, niscaya aku akan mengikutinya.'"
Dengan sanadnya dari Ahmad bin Abi 'Utsman رحمه الله, ia bercerita: 'Aku telah mendengar Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata: 'Di antara sikap terpuji Imam asy-Syafi'i رحمه الله adalah apabila ia mendengar satu hadits (shahih -ed) yang belum pernah didengarnya, ia akan mengambil hadits (shahih -ed) itu dan meninggalkan pendapatnya."
Oleh karena itu, Imam asy-Syafi'i رحمه الله pernah berkata: "Jika tidak ada ahli hadits, niscaya kita menjadi penjual kacang."
'Abdur Rahman bin Abu Hatim رحمه الله juga berkata: "Aku mendengar ayahku berkata: 'Ahmad bin Hanbal lebih besar dari Imam asy-Syafi'i karena Imam asy-Syafi'i رحمه الله belajar banyak hal mengenai hadits kepada Ahmad bin Hanbal رحمه الله."   'Abdullah bin Ahmad رحمه الله berkata: "Ayahku pernah berkata kepadaku: 'Imam asy-Syafi'i رحمه الله berkata kepada kami: 'Kalian lebih tahu tentang hadits dan rijal-nya daripada aku. Oleh karena itu, apabila ada hadits shahih, beritahukanlah kepadaku, apakah ia dari Kufah, Bashrah, atau dari Syam hingga aku mengambilnya jika memang hadits itu shahih.'"
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: "Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله tidak membaca satu kitab tertentu di hadapan Imam asy-Syafi'i رحمه الله, tetapi ia mendampinginya sebagaimana Imam asy-Syafi'i رحمه الله mendampingi Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani رحمه الله yang masing-masing saling berbagi manfaat dari ilmu mereka masing-masing.
Kecocokan pendapat Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad dalam ushul fiqih lebih banyak daripada kecocokan Imam asy-Syafi'i رحمه الله dengan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani. Usia Imam asy-Syafi'i 17 tahun lebih tua daripada Imam Ahmad bin Hanbal. Imam asy-Syafi'i رحمه الله datang pertama kali ke Baghdad pada tahun 187 H. ketika Muhammad bin al-Hasan masih hidup dan setelah wafatnya al-Qadhi Abu Yusuf رحمه الله kemudian Imam asy-Syafi'i datang untuk kedua kalinya ke Baghdad pada tahun 197 H. Ketika itulah ia berjumpa dengan Ahmad bin Hanbal. (Semoga Allah merahmati keduanya, amin. pent) 
Pembahasan Kelima:
MURID-MURID IMAM ASY-SYAFI'I رحمه الله

Imam al-Baihaqi رحمه الله menyebutkan sebagian dari murid-murid Imam asy-Syafi'i رحمه الله, sebagaimana telah disebutkan oleh al-Hafizh al-Mizzy dan al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalani. Orang-orang yang mengambil ilmu dari Imam asy-Syafi'i رحمه الله sangat banyak, tidak ada yang dapat menghitung jumlahnya, kecuali hanya Allah عزّوجلّ. Sebab, setiap datang ke suatu negara dan menyebarkan ilmu di sana, beliau pun didatangi oleh banyak orang untuk belajar.
Kami sebutkan di sini murid-murid Imam asy-Syafi'i رحمه الله, yang paling populer adalah:
1.    Ar-Rabi' bin Sulaiman bin 'Abdul Jabbar bin Kamil, Imam al-Muhaddits al-Faqih al-Kabir Abu Muhammad al-Muradi al-Mishri al-Muadzdzin.
la adalah teman Imam asy-Syafi'i رحمه الله yang mengambil ilmunya, syaikh para muadzdzin di Masjid Fusthath, dan seorang yang diminta oleh para syaikh pada zamannya untuk membacakan/ menyampaikan ilmu. Ar-Rabi' رحمه الله lahir pada tahun 174 H.
Diriwayatkan bahwa Imam asy-Syafi'i رحمه اللهL pernah berkata kepadanya: "Jika aku mampu memberimu makanan ilmu, niscaya aku memberikannya." Imam asy-Syafi'i رحمه الله juga berkata: "Ar-Rabi adalah orang yang banyak meriwayatkan tulisan-tulisanku." la wafat pada tahun 270 H.
2.    Abu Ibrahim Isma'il bin Yahya bin Ismail bin 'Amr bin Muslim al-Muzani al-Mishri, al-Imam al-'Allamah, sangat paham tentang agamanya, pemuka para ahli zuhud, murid Imam asy-Syafi'i. la lahir pada tahun 175 H.
Karangannya yang berupa mukhtashar (ringkasan) dalam bidang fiqih memenuhi banyak negeri, yang kemudian disyarah (diuraikan) oleh sejumlah imam besar sehingga dikatakan: "Seorang anak gadis saja memiliki sebuah naskah Mukhtasar al-Muzani yang disimpan di antara barang-barang miliknya."
Imam asy-Syafi'i رحمه الله berkata: "Al-Muzani adalah pembela madzhabku."
Imam adz-Dzahabi رحمه الله mengatakan bahwa Amr bin Tamim al-Makki رحمه الله berkata: "Saya telah mendengar Muhammad bin Ismail at-Tirmidzi رحمه الله berkata: 'Saya telah mendengar al-Muzani mengatakan hal berikut: 'Tauhid seseorang tidak benar sampai ia mengetahui bahwa Allah عزّوجلّ (bersemayam) di atas 'Arsy dengan sifat-sifat-Nya.' Aku (Muhammad bin Isma'il, Pent) berkata: 'Contohnya?' Ia menjawab: 'Sami' (Maha Mendengar), Bashir (Maha Melihat), 'Alim (Maha Mengetahui).'" Al-Muzani wafat pada tahun 264 H.
3.    Abu 'Abdillah Muhammad bin 'Abdillah bin 'Abdul Hakam bin A'yan bin Laits al-Imam Syaikhul Islam Abu 'Abdillah al-Mishri al-Faqih, lahir pada tahun 182.
Ia adalah ulama Mesir sezaman dengan al-Muzani رحمه الله. Ketika Muhammad bin 'Abdillah bin 'Abdul Hakam menaiki kudanya, Imam asy-Syafi'i رحمه الله memandangnya seraya berkata: "Alangkah baiknya jika aku mempunyai anak seperti dia, sementara aku menanggung utang 1000 dinar yang aku tidak dapat membayarnya." Diriwayatkan bahwa terjadi selisih pendapat antara dia (Muhammad bin 'Abdillah bin 'Abdul Hakam) dengan al-Buwaithi رحمه الله karena Imam asy-Syafi'i رحمه الله memilih al-Buwaithi untuk menggantikannya di majelisnya sehingga Muhammad bin 'Abdullah bin 'Abdul Hakam meninggalkan madzhab asy-Syafi'i dan kembali ke madzhab Maliki.
4.    Abu Ya'qub Yusuf bin Yahya al-Mishri al-Buwaithi رحمه الله. Al-Imam al-'Allamah, pemimpin para fuqaha, adalah sahabat Imam asy-Syafi'i رحمه الله, yang mendampinginya dalam waktu yang lama hingga ia menjadi murid Imam asy-Syafi'i رحمه الله yang mengalahkan kawan-kawannya.
Al-Buwaithi رحمه الله adalah seorang Imam dalam ilmu, teladan dalam amal, seorang yang zuhud, rabbani yang banyak tahajjud, selalu berdzikir, dan menekuni ilmu fiqih.
Imam asy-Syaff i رحمه الله berkata tentangnya: "Tidak ada seorang pun dari sahabat-sahabatku yang lebih banyak ilmunya daripada al-Buwaithi." la disiksa karena menolak pendapat yang mengatakan bahwa al-Qur-an adalah makhluk. la sabar menghadapi ujian itu sampai wafat di penjara. (Semoga Allah عزّوجلّ merahmatinya dengan rahmat yang luas, amin. Pent)
Imam ar-Rabi' bin Sulaiman رحمه الله berkata: "Al-Buwaithi رحمه الله, bibirnya senantiasa bergerak menyebut Allah. Aku tidak pernah menemukan orang yang lebih cepat menukil hujjah dari Kitabullah melebihi al-Buwaithi. Aku melihat dia dinaikkan di atas seekor kuda dengan leher dan kaki diikat yang diberi beban batu seberat 40 rithil. "
Al-Buwaithi berkata: "Sesungguhnya Allah Taala telah menciptakan makhluk dengan kata 'Kun' (jadilah!), maka makhluk itu pun jadi (ada). Jika kata 'Kun' itu makhluk, seakan-akan suatu makhluk diciptakan oleh makhluk lain. Jika aku dimasukkan untuk menghadapnya (yaitu, Khalifah al-Watsiq), aku akan (tetap) berkata jujur padanya. Aku akan mati dalam belenggu ini sampai datang satu kaum yang mengetahui bahwasanya telah mati dalam keadaan belenggu segolongan manusia karena masalah ini."
Al-Buwaithi رحمه الله wafat dalam keadaan terbelenggu di penjara Irak pada tahun 231 H.
Selain empat orang yang telah kami sebutkan di atas, masih banyak murid-murid Imam asy-Syafi'i رحمه الله lainnya. Namun, cukup hanya mereka yang kami sebutkan karena mereka itu adalah murid-murid Imam asy-Syafi'i رحمه الله yang paling populer.

KITAB-KITAB KARANGAN IMAM ASY-SYAFI'I رحمه الله

Para ulama telah menyebutkan karangan Imam asy-Syafi'i رحمه الله yang tidak sedikit, di antara karangannya  adalah:
A.  KITAB AL-UMM

Sebuah kitab tebal yang terdiri dari empat jilid (volume) dan berisi 128 masalah. Al-Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkaia: "Jumlah Kitab (masalah) dalam kitab al-Umm lebih dari 140 bab -Wallaahu a'lam-. Dimulai dari Kitab "ath-Thahaarah" (masalah bersuci) kemudian Kitab "as-Shalaah" (masalah shalat)." Begitu seterusnya yang beliau susun berdasarkan bab-bab fiqih. Kitabnya ini diringkas oleh Imam al-Muzani yang kemudian dicetak bersama al-Umm, Sebagian orang ada yang menyangka bahwa kitab ini bukanlah buah pena dari Imam asy-Syafi'i رحمه الله, melainkan karangan al-Buwaithi yang disusun oleh ar-Rabi' bin Sulaiman al-Muradi. Pen-tahqiq kitab Manaaqibusy Syafi'i Imam al-Baihaqi رحمه الله,  telah membantah sangkaan itu sebagaimana Syaikh Ahmad Syakir رحمه الله membantahnya saat men-tahqiq kitab ar-Risaalah karya Imam asy-Syafi'i رحمه الله.
Yang pertama kali mengatakannya adalah Abu Thalib al-Makki dalam kitabnya, Quutul Quluub,  yang diikuti oleh Abu Hamid al-Ghazali,  lalu ditulislah sebuah risalah baru tentang ini.
Bersama dengan kitab al-Umm, dicetak pula kitab-kitab lainnya, yaitu:
1.    Kitab Jimaa'ul-'Ilmi, sebagai pembelaan terhadap as-Sunnah dan pengamalannya.
2.    Kitab Ibthaalul Iktihsaan, sebagai sanggahan terhadap para fuqaba (ahli fiqih) dari madzhab Hanafi.
3.    Kitab perbedaan antara Imam Malik dan Imam asy-Syafi'i رحمه الله.
4.    Kitab ar-Radd 'alaa Muhammad bin al-Hasan (Bantahan terhadap Muhammad bin al-Hasan رحمه الله)

B.  KITAB AR-RISAALATUL JADIIDAH

Sebuah kitab yang telah dicetak dan di-tahqiq (diteliti) oleh Syaikh Ahmad Syakir رحمه الله, yang diambil dari riwayat ar-Rabi' bin Sulaiman dari Imam asy-Syafi'i رحمه الله. Kitab ini terdiri dari satu jilid besar.
Di dalam kitab ini Imam asy-Syafi'i رحمه الله berbicara tentang al-Qur-an dan penjelasannya, juga membahas tentang as-Sunnah berikut kedudukannya dari al-Qur-an al-Karim. Beliau mengemukakan bahwa banyak dalil mengenai keharusan berhujjah dan berargumentasi dengan as-Sunnah. Beliau juga mengupas masalah Nasikh dan Mansukh dalam al-Qur-an dan as-Sunnah, menguraikan tentang 'Hal 'ilal ('illat/cacat) yang terdapat pada sebagian hadits dan alasan dari keharusan mengambil hadits ahad sebagai hujjah dan dasar hukum, serta apa yang boleh diperselisihkan dan yang tidak boleh diperselisih-kan di dalamnya.
Imam asy-Syafi'i رحمه الله juga menyebutkan dalil tentang diakuinya hadits ahad, ijma' dan hal yang berkenaan dengannya, serta qiyas: pembagian dan syarat-syaratnya. Imam asy-Syafi'i رحمه الله juga berbicara tentang ijtihad, istihsan, dan hal lainnya.
Dalam kitabnya ini Imam asy-Syafi'i رحمه الله menulis muqaddimah yang sangat berbobot yang menunjukkan kebaikan niatnya. Imam asy-Syafi'i رحمه الله berkata:
"Segenap puji hanya milik Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, serta telah menciptakan kegelapan dan cahaya. Kemudian, orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, mereka melakukan penyimpangan (berpaling).
Segala puji hanya bagi Allah, yang untuk mensyukuri salah satu nikmat-Nya tidak akan terwujud, kecuali kesyukuran itu merupakan sebuah nikmat dari-Nya. Menunaikan nikmat-nikmat-Nya yang telah lalu akan memunculkan nikmat baru yang juga menuntut rasa syukur kepada-Nya.
Orang-orang yang menyifati-Nya tidak akan mencapai hakikat keagungan-Nya. Hakikat keagungan-Nya itu sesuai dengan yang disifatinya sendiri dan melebihi apa yang disifati oleh hamba-hamba-Nya. Aku memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan kemuliaan wajah-Nya dan keagungan-Nya. Aku memohon pertolongan kepada Allah dengan permohonan pertolongan orang yang tidak mempunyai daya dan kekuatan, kecuali dengan bantuan-Nya. Aku memohon kepada Allah hidayah/petunjuk yang barang siapa mendapatkannya, maka ia tidak akan sesat. Aku memohon maghfirah dan ampunan kepada-Nya atas apa yang telah dan akan aku perbuat dengan permohonan ampun orang yang mengakui penghambaan hanya kepada Dia. Orang yang mengetahui bahwa tidak ada yang memberi ampunan terhadap dosa dan tidak ada yang dapat menyelamatkan seseorang darinya, kecuali Dia. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah, kecuali Allah, Yang Tunggal, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya."
Syaikh Ahmad Syakir رحمه الله telah memberikan muqaddimah yang sangat berbobot dalam kitab ini yang menjelaskan nilai ilmiah yang dimilikinya. Syaikh Ahmad Syakir juga memberikan bantahan kepada orang-orang yang meragukan bahwa kitab ini adalah tulisan Imam asy-Syafi'i رحمه الله. Selain itu, Syaikh Ahmad Syakir رحمه الله menyebutkan pula sebab atau latar belakang mengapa Imam asy-Syafi'i رحمه الله menulis kitab ini.
Selain kedua kitab yang kami sebutkan, ada beberapa kitab lain yang dinisbatkan kepada Imam asy-Syafi'i رحمه الله, seperti kitab al-Musnad, as-Sunan, ar-Radd 'alal Baraahimah, Mihnatusy Syafi'i, Ahkaamul Quran, dan yang lainnya. Sebagiannya lenyap dan sebagian lagi dihimpun oleh beberapa orang dari kalangan asy-Syafi'iyyah. []

Biografi Imam Syafií Bagian 2





COBAAN YANG DIALAMI IMAM ASY-SYAFI'I رحمه الله

 Setelah surat Panglima itu sampai ke tangan Khalifah Harun ar-Rasyid, Khalifah lalu mengirim surat kepada Gubernur Yaman agar mengusir orang-orang 'Alawiyyin. Maka mereka, di antaranya Imam asy-Syafi, digiring dalam keadaan terikat rantai. Imam asy-Syafi'i رحمه الله disiksa sepanjang jalan menuju Irak. Namun, tidaklah diragukan, pada kejadian-kejadian seperti ini Allah عزّوجلّ akan selalu menolong hamba-Nya yang suka mendekatkan diri kepada-Nya dan pada saat hamba itu berlindung kepada Rabb Jalla wa 'Ala.

Ketika rombongan yang disiksa telah sampai ke Irak, Imam asy-Syafi'i رحمه الله bersama rombongan dihadapkan kepada Khalifah Harun ar-Rasyid. Sejumlah riwayat yang maknanya berdekatan menyebutkan tentang pertemuannya dengan khalifah, kecuali ada satu riwayat dusta yang menyebutkan bahwa Imam Muhammad bin al-Hasan[1] dan Abu Yusuf[2] menyuruh khalifah Harun untuk membunuh Imam asy-Syafi'i.

Riwayat ini tertolak karena ketika Syafi'i masuk negeri Iraq, sekitar tahun 184 H, Abu Yusuf telah meninggal. Lagi pula tidak mungkin kedua orang alim tersebut yang memiliki keutamaan dan sifat wara' menganjurkan Harun ar-Rasyid untuk membunuh seorang yang telah dikenal sebagai orang alim. Riwayat-riwayat ini adalah kebohongan yang dihiasi oleh orang-orang yang fanatik terhadap madzhab tertentu dengan maksud agar dapat mencela para ulama dari madzhab lain, seolah-olah madzhab lain itu tidak berdiri di atas Islam. Ini adalah dampak negatif sikap fanatik terhadap madzhab yang telah menimpa ummat Islam. Orang yang membaca kitab-kitab madzhab akan menemukan keanehan-keanehan seperti kisah ini.

Semua itu menunjukkan kepada kita akan pentingnya kembali/ rujuk kepada al-Qur-an dan Sunnah serta membuang jauh perasaan fanatik. Jika tidak demikian, bagaimana mungkin kekuatan ummat disatupadukan. Namun, bukan di sini tempat menguraikan masalah yang sangat penting tersebut. Akan tetapi, keterangan ini memang harus disampaikan pada kesempatan ini.[3] Satu hal lagi yang menunjukkan kedustaan riwayat ini adalah pada riwayat-riwayat lain dikatakan bahwa Muhammad Ibnul Hasan justru membela asy-Syafi'i di hadapan Harun ar-Rasyid. Oleh sebab itu, ketika Allah menyelamatkan asy-Syafi'i (dari cobaan ini, -ed) beliau menekuni ilmu dari Muhammad Ibnul Hasan dan meminta ilmu darinya.[4]

Mari kita biarkan Imam asy-Syafi'i رحمه الله sendiri yang mencerita-kan kisahnya ketika berhadapan dengan Harun ar-Rasyid: "Kami dihadapkan kepada Harun ar-Rasyid sepuluh-sepuluh orang. Setelah larut malam, ia menyuruh kami berdiri seorang demi seorang. Kemudian, ia berbicara dari balik tabir dan memerintahkan untuk membunuh kami. Ketika sampai pada giliranku, aku berkata kepadanya: 'Wahai, Amirul Mukminin, aku adalah budak dan pelayanmu, Muhammad bin Idris asy-Syafi'i.' Ia tidak menanggapi, dan kembali memerintahkan: 'Tebaslah batang lehernya!' Aku kembali berkata: 'Wahai, Amirul Mukminin, aku ingin bicara, mohon dengarkan! Tanganmu yang terbuka dan kekuasaanmu yang kokoh, engkau pasti akan mendapatkan apa saja yang engkau inginkan dariku.' 'Bicaralah,' tukasnya. Maka aku berbicara: 'Wahai, Khalifah, sepertinya engkau menuduhku menyimpang dari ketaatan kepadamu dan condong kepada mereka. Oleh karena itu, aku akan memberikan perumpamaan kepada tuan berkenaan dengan diri tuan, mereka, dan aku. Apa yang dikatakan seorang Amirul Mukminin tentang seseorang yang mempunyai keponakan. Hanya ada dua keadaan:

1.  Salah seorang di antara keponakannya itu bergaul dengannya dan memasukkan dirinya dalam nasabnya dan menganggap ia sama dengannya dan hartanya haram diganggu olehnya, kecuali seizin dia. Begitu juga anak perempuannya haram diambil, kecuali dengan cara menikahinya. Selain itu, ia melihat bahwa apa yang berlaku baginya sama dengan apa yang berlaku bagi dirinya,

2.  Keponakannya yang lain menyangka bahwa ia adalah orang lain dalam nasab. Dia lebih tinggi, sedangkan orang tersebut adalah budaknya sehingga putrinya pun menjadi budak yang halal diambil tanpa harus melalui pernikahan sebagaimana hartanya halal diambil sesukanya.

Menurut engkau, wahai, Amirul Mukminin, kepada siapakah sepantasnya dia berwala'? Ini adalah perumpamaan antara tuan dan mereka ('Alawiyyin). Khalifah memintaku mengulanginya tiga kali, aku pun melakukannya dengan menggunakan redaksi yang berbeda-beda, tetapi maksudnya sama. Maka khalifah memerintahkan pegawainya untuk memenjarakanku."[5]

Dalam sebagian riwayat yang disampaikan olch Ibnu 'Abdil Barr رحمه الله disebutkan sebagai berikut: "Imam asy-Syafi'i رحمه الله bersama rombongan 'Alawiyyin masuk menghadap Khalifah Harun ar-Rasyid. Mereka menghadapnya satu per satu untuk diinterogasi, sementara yang lainnya menunggu dan mendengarkannya dari balik tabir.

Imam asy-Syafi'i  berkata: "Tibalah giliran seorang pemuda 'Alawi penduduk Madinah besertaku. Khalifah menginterogasinya: 'Engkaukah yang memberontak kepadaku dan menganggapku tidak patut menjadi khalifah?' Pemuda 'Alawiyyah itu menjawab: 'Audzubillah (aku berlindung kepada Allah), saya tidak pernah mengucapkan hal itu.' Maka ia pun diputuskan untuk dibunuh. Mendengar keputusan itu, si pemuda Alawi itu menukas: 'Kalau memang aku harus dibunuh, berilah aku kesempatan untuk menulis surat kepada ibuku di Madinah karena ia seorang tua renta dan tidak mengetahui berita tentang aku. Kemudian, ia pun dibunuh."

"Setelah itu, aku dipanggil, tutur Imam asy-Syafi'i. Sementara Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani duduk di samping khalifah. Setelah khalifah berkata kepadaku seperti yang ia katakan kepada pemuda 'Alawiyyah itu, aku menjawab: "Wahai, Amirul Mukminin, aku bukan suku Thalibi atau 'Alawi. Aku adalah laki-laki keturunan al-Muththalib bin 'Abdi Manaf bin Qushay. Aku aktif dalam bidang ilmu dan fiqih. Tuan al-Qadhi tahu siapa aku. Aku adalah Muhammad bin Idris bin al-'Abbas bin 'Utsman bin Syafi' bin as-Saib bin 'Ubaid bin 'Abdu Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin 'Abdi Manaf." "Engkau Muhammad bin Idris?" tanya Khalifah. "Ya, jawabku." Engkau rupanya orang yang pernah diceritakan oleh Muhammad bin al-Hasan." Kemudian, Khalifah Harun memandang Muhammad bin al-Hasan. 'Hai, Muhammad, apakah yang dikatakannya benar?' Muhammad bin al-Hasan menjawab: 'Ya, dia seorang 'alim yang langka.' Khalifah lantas berkata: "Kalau begitu, ia kuserahkan kepadamu sampai ada keputusan."[6]

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: "Maka Imam asy-Syafi'i رحمه الله dibawa dengan dinaikkan ke atas keledai dalam keadaan terikat,menuju Baghdad pada tahun 184 H. Saat itu usianya 30 tahun. Kemudian, Imam asy-Syafi'i dihadapkan kepada Harun ar-Rasyid dan terjadilah percakapan antara keduanya, sementara Imam Muhammad bin al-Hasan duduk di samping Khalifah Harun dan memuji Imam asy-Syafi'i. Maka jelaslah bagi Harun ar-Rasyid, bahwa tuduhan yang ditujukan kepada Imam asy-Syafi'i tidaklah benar. Selanjutnya, Muhammad bin al-Hasan memberinya tempat kepada Imam asy-Syafi'i, sementara al-Qadhi Abu Yusuf setahun atau dua tahun sebelumnya telah wafat.[7] Asy-Syafi'i dimuliakan oleh Muhammad Ibnul Hasan dan asy-Syafi'i pun menimba ilmu darinya."

Inilah ringkasan dari riwayat-riwayat yang menyebutkan per-temuan Imam asy-Syafi'i رحمه الله dengan Khalifah Harun ar-Rasyid, yang menunjukkan adanya tuduhan Khalifah terhadap Imam asy-Syafi'i رحمه الله dan lepasnya beliau dari apa yang dituduhkan kepadanya. Riwayat-riwayat ini juga menunjukkan bahwa Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani رحمه الله telah mengucapkan kata-kata yang baik tentang Imam asy-Syafi'i dan Amirul Mukminin Harun ar-Rasyid telah mengampuni Imam asy-Syafi'i رحمه الله, bahkan memberinya sebagian harta.[8]



D.  MENDAMPINGI IMAM MUHAMMAD BIN AL-HASAN SETELAH SELAMAT DARI COBAAN



Setelah Allah عزّوجلّ menyelamatkan Imam asy-Syafi'i رحمه الله dari tuduhan itu, ia pun mendampingi Imam Muhammad bin al-Hasan رحمه الله untuk mengambil fiqih dan hadits Irak darinya. Ia menuliskan buku-bukunya dan membacakan kepadanya sampai ia (Muhammad bin al-Hasan) berkata: "Kesabarannya terhadapku seperti kesabaran unta, tidak ada pekerjaan baginya selain hanya mendengarkanku." Imam asy-Syafi'i رحمه الله sangat menghormati Imam Muhammad bin al-Hasan sekalipun antara keduanya sering berdebat dan berselisih pendapat.

Perselisihan keduanya telah terkenal karena madzhab Imam asy-Syafi'i adalah madzhab Ahlul Hadits, sedangkan madzhab Muhammad bin al-Hasan ialah madzhab Ahlur Ra'yi (madzhab yang mengedepankan akal). Seperti penulis katakan bahwa sekalipun Imam asy-Syafi'i berbeda pendapat, ia tetap memuji Muhammad bin al-Hasan رحمه الله: "Aku tidak pernah menjumpai seorang pria gemuk yang cerdas selain Muhammad bin al-Hasan."[9]

Pada kesempatan lain, ia berkata: "Aku tidak pernah melihat seseorang yang ditanya tentang suatu masalah yang harus dianalisa, kecuali kulihat pada wajahnya kebencian, kecuali Muhammad bin al-Hasan."[10]

Sekalipun Imam asy-Syafi'i sangat menghormati dan cinta kepada Muhammad bin al-Hasan, tetapi manakala pendapat Muhammad bin al-Hasan bertentangan dengan dalil, ia tidak segan-segan membantahnya. Oleh karena itu, setelah selesai halaqah dan Muhammad bin al-Hasan keluar, ia sering mengadakan diskusi dan berdebat dengan murid-murid Muhammad, tetapi dengan Imam Muhammad sendiri ia segan karena menghormati gurunya itu, kecuali setelah Imam Muhammad mengajaknya, barulah ia melakukan perdebatan dengannya. Itu terjadi berkali-kali, baik di hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid maupun di majelis Imam Muhammad bin al-Hasan sendiri. Sekalipun Imam asy-Syafi'i رحمه الله menuliskan kitab Muhammad bin al-Hasan, ia tidak menerima begitu saja pandangan yang ditulisnya itu, kecuali apabila sesuai dengan dalil, sedangkan yang tidak sesuai, ia bantah. Dalam kaitan ini, Imam asy-Syafi'i رحمه الله berkata: "Untuk memiliki buku Muhammad bin al-Hasan رحمه الله, aku menghabiskan uang sebanyak 60 dinar. Kemudian, aku mempelajarinya lalu aku tuliskan sebuah hadits di samping setiap masalah." Maksud beliau adalah untuk membantahnya."[11]

Inilah sikap generasi Salafush Shalih dari ummat ini dalam mengikuti dalil (syar'i) sekalipun harus bertentangan dengan ucapan syaikh atau gurunya. Oleh sebab itu, tinggilah derajat ummat ini dan menjadi majulah serta sunnah menjadi tersebar. Di antara penyebab utama kemunduran ummat ini adalah sikap fanatisme mereka yang pura-pura alim terhadap madzhab mereka meskipun menyelisihi dalil syar'i yang shahih dan jelas. Akhirnya, merebaklah bid'ah dan matilah Sunnah. Innaa lillahi wa inna ilaihi raji'un.



E.   KEMBALINYA IMAM ASY-SYAFI'I رحمه الله KE MAKKAH



Setelah Imam asy-Syafi'i رحمه الله memperoleh ilmu dari para ulama Irak, sebelumnya ia telah mendapatkan ilmu dari ulama Hijaz, ia merasa telah tiba saatnya untuk menyebarkan ilmu yang dimilikinya. Oleh karena itu, ia bertekad untuk pulang ke Makkah setelah namanya dikenal. Mulailah ia mengajar di Masjidil Haram tempat dahulu ia belajar menuntut ilmu dari para ulama yang mengajar di sana.

Pada musim haji, ribuan orang dari berbagai penjuru datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Mereka yang telah mendengar nama pemuda Quraisy yang ilmunya mengagumkan, bersemangat untuk mengikuti pengajiannya sehingga nama Imam Syafi'i pun semakin dikenal di berbagai negeri.

Pada kesempatan itu Imam asy-Syafi'i رحمه الله ditemui oleh banyak ulama. Mereka kagum terhadap keluasan ilmunya dan kekuatannya dalam menggunakan dalil serta keteguhannya mengikuti sunnah, juga kedalamannya dalam fiqih dan istinbath (penyimpulan) hukum. Mereka juga kagum terhadap ushul dan kaidah-kaidah fiqih yang telah dibuatnya yang semuanya bersumber dari al-Qur-an dan as-Sunnah. Ushul dan kaidah-kaidah itu kebanyakan belum pernah didengar oleh mereka. Di antara orang yang mendengar ilmu dari Imam asy-Syafi'i ketika itu adalah Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله, yang datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Imam Ahmad رحمه الله masuk ke Masjidil Haram untuk berjumpa dengan para ulama besar dan para pakar hadits, di antara yang masyhur dari mereka adalah Imam Sufyan bin 'Uyainah رحمه الله, syaikhnya Imam asy-Syafi'i.

Tatkala ia ikut pada halaqab Imam asy-Syafi'i, ia mendapati sesuatu yang tidak didapati pada halaqah yang lain. Ia memperoleh sesuatu yang baru selain riwayat hadits. Pada halaqah Imam asy-Syafi'i, ada kupasan fiqih dan kaidah-kaidahnya yang belum pernah didengarkannya. Akhirnya, Imam Ahmad meninggalkan halaqah yang lain yang dipimpin oleh para ulama besar. Kemudian, ia pun ikut halaqah Imam asy-Syafi'i رحمه الله. Muhammad bin al-Fadhl al-Farra' bercerita: "Aku mendengar ayahku berkata: 'Aku pergi haji bersama Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله. Aku tinggal dalam satu tempat bersamanya. Pada pagi hari kami keluar, dan sesampainya di masjid aku berkeliling mencarinya. Aku mendatangi majelis (halaqah) Ibnu 'Uyainah رحمه الله dan yang lainnya untuk mencarinya, tetapi ternyata aku malah menemukannya di halaqah seorang Arab pedusunan.[12] Aku berkata kepada Imam Ahmad رحمه الله: 'Hai, Abu 'Abdillah, mengapa engkau di sini, tidak di halaqah Ibnu 'Uyainah?' Imam Ahmad رحمه الله menjawab: 'Diamlah! Kalau tidak sempat mendengar hadits dengan sanad yang tinggi, kamu akan mendapatkannya dengan sanad yang rendah. Tetapi, jika engkau tidak mengambil ilmu orang ini, kita belum tentu mendapatkannya dari yang lain. Karena aku tidak melihat ada seorang yang lebih faqih tentang Kitabullah melebihi pemuda ini.' 'Siapa dia?' tanyaku. Imam Ahmad رحمه الله menjawab: 'Muhammad bin Idris.'"[13]

Dari Ishaq bin Rahawaih رحمه الله, ia berkata: "Ketika aku bersama Ahmad bin Hanbal di Makkah, ia berkata: 'Mari, ikut aku. Akan kutunjukkan kepadamu seorang yang belum pernah engkau lihat.' Ternyata, orang itu adalah Imam asy-Syafi'i."[14]

Imam Al-Humaidi رحمه الله juga berkata: "Ketika Ahmad bin Hanbal رحمه الله tinggal bersama kami di Makkah, ia ikut halaqah Sufyan bin 'Uyainah رحمه الله. Pada suatu hari, ia mengajakku ke suatu tempat, katanya: 'Di sana ada seorang laki-laki dari Quraisy yang mempunyai pengetahuan dan kemampuan berbicara yang sangat baik.' 'Siapa dia?' tanyaku. Imam Ahmad menjawab: 'Muhammad bin Idris asy-Syafi'i.' Pada saat di Irak, Imam Ahmad bin Hanbal pernah ikut di majelis pengajiannya. Karena ia selalu membujukku, akhirnya aku pun duduk bersamanya. Setelah mendengar uraiannya tentang beberapa masalah, kami bangun. 'Bagaimana pendapatmu?' tanya Ahmad bin Hanbal. Aku berusaha mencari-cari kesalahannya, dan itu semua saya lakukan karena ada kedengkian terhadap orang Quraisy. Maka Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata: 'Rupanya engkau tidak senang jika ada pria Quraisy memiliki ilmu dan keindahan bahasa seperti itu. Dia membahas seratus masalah, tetapi salahnya hanya lima atau hanya sepuluh. Tinggalkanlah yang salah dan ambillah yang benar!'"[15]

Hingga hampir sembilan tahun Imam asy-Syafi'i رحمه الله mengadakan majelis pengajian di Makkah hingga beliau pergi ke Irak.



F.  PERJALANANNYA KE IRAK YANG KEDUA



Imam asy-Syafi'i رحمه الله untuk kedua kalinya pergi ke Irak pada tahun 195 H. Perjalanannya yang kedua ini berbeda dengan perjalanannya yang pertama. Jika yang pertama karena diusir, maka yang kedua ini karena kemauannya sendiri. Untuk kali kedua ini, namanya di Baghdad telah terlebih dahulu dikenal sebelum ia datang ke negeri tersebut. Para ulama besar, seperti Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, dan 'Abdur Rahman al-Mahdi telah menyebut-nyebut namanya. Sesampainya di Baghdad, Imam asy-Syafi'i رحمه الله mendapat tempat di tengah-tengah masyarakat. Orang-orang pindah belajar kepada beliau dan meninggalkan belajar ke ulama lain. Imam al-Baihaqi رحمه الله meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Tsaur رحمه الله, ujarnya: "Ketika Imam asy-Syafi'i datang ke Irak, datanglah kepadaku Husain al-Karabisi, ia dan aku condong kepada Ahlur Rayu (kelompok ulama yang lebih banyak menggunakan akal daripada dalil syar'i), katanya: 'Telah datang seorang laki-laki Ahli Hadits yang juga Ahli Fiqih. Mari kita ejek dia.' Maka kami pun berangkat menemui Imam asy-Syafi'i. Husain al-Karabisi mencoba menyampaikan sebuah pertanyaan. Maka Imam asy-Syafi'i رحمه الله terus menjawabnya dengan mengutip ayat-ayat al-Qur-an dan banyak hadits hingga akhirnya kami meninggalkan bid'ah yang kami lakukan (karena menggunakan rasio) dan ikut kepadanya.'"[16]

Di sanalah Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berjumpa dengan Imam asy-Syafi'i رحمه الله, yang sebelumnya mereka pernah bertemu di Madinah. la mengambil ilmu darinya dan ia memujinya dengan berkata: "Dulu putusan-putusan kami, Ashhabul Hadits, didominasi oleh sahabat-sahabat Abu Hanifah. Putusan-putusan itu tidak dicabut sampai datang Imam asy-Syafi'i. Dia adalah orang yang paling paham tentang Kitabullah dan Sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ia tidak puas dengan hanya mencari sedikit hadits."

Hasan bin Muhammad az-Za'farani رحمه الله berkata: "Kelompok Ashbabul Hadits (ulama yang banyak menggunakan hadits) tertidur cukup lama. Maka datanglah Imam asy-Syafi'i رحمه الله membangunkan mereka."

Imam Ibrahim bin al-Harbi رحمه الله bercerita: "Tatkala Imam asy-Syafi'i رحمه الله datang ke Baghdad, di Masjid Jami al-Gharbi terdapat 20 buah halaqah yang diadakan oleh para ulama Ahlur Ra'yu. Pada Jum'at kedua (setelah Imam asy-Syafi'i رحمه الله datang) yang tersisa hanya 3 atau 4 halaqah saja, padahal Imam asy-Syafi'i رحمه الله tidak menetap di Irak, melainkan ia bolak-balik antara Makkah dan Irak, yakni terkadang di Irak dan terkadang di Makkah." Al-Hasan bin Muhammad az-Za'farani رحمه الله berkata: "Imam asy-Syafi'i رحمه الله datang ke negeri kami pada tahun 195 H. dan menetap selama dua tahun. Setelah itu, ia pergi ke Makkah lalu datang lagi pada tahun 198 H. dan tinggal beberapa bulan dan setelah itu ia pergi ke Mesir."[17]

G.   KEPERGIANNYA KE MESIR



Setelah Imam asy-Syafi'i رحمه الله kembali ke Irak, terjadi beberapa peristiwa di ibukota kekhalifahan yang menjadikannya berencana meninggalkan Irak selamanya. Peristiwa paling besar yang menimpa adalah dikuasainya Khalifah al-Ma'mun oleh para ulama ilmu kalam sehingga merebaklah bid'ah dan matilah Sunnah. Terdengar olehnya bahwa Khalifah mulai terjebak ke dalam pembahasan-pembahasan ilmu kalam, sementara Imam asy-Syafi'i رحمه الله sendiri adalah seorang ahli dalam bidang ilmu kalam dan tahu orang-orangnya.

Imam asy-Syafi'i رحمه الله sangat mengetahui apa yang dihimpun dalam hati mereka (ahlul kalam), berupa kedengkian terhadap para ulama hadits (Ashhabus Sunnah) dan kebencian terhadap sunnah dan para penegaknya sehingga beliau pun mengetahui akibat urusan ini yang sangat berbahaya. Hal itu benar-benar terjadi ketika Khalifah al-Ma'mun dekat dengan para ulama ilmu kalam, bahkan ia menjadikan mereka sebagai penulis dan teman-teman bergaulnya sehingga mereka mendapat kedudukan istimewa yang mengakibatkan timbulnya masalah besar yang melanda dunia Islam. Di antaranya adalah dianggap halalnya darah para ulama (boleh dibunuh) dan diancamnya mayoritas mereka dengan hukuman penjara. Adapun fitnah yang paling besar adalah pendapat bahwa al-Qur-an adalah makhluk (bukan Kalamullah yang qadim) sehingga ummat Islam terus-menerus mengeluhkan bahaya ilmu kalam dan orang-orangnya. Inilah di antara faktor paling besar yang melatarbelakangi keinginan Imam asy-Syafi'i رحمه الله untuk pergi meninggalkan Irak dan pindah ke sebuah negeri yang belum dimasuki oleh filsafat. Negeri yang menjadi pilihannya adalah Mesir. Imam asy-Syafi'i رحمه الله memilih Mesir -wallaahu a'lam- karena madzhab Imam Malik رحمه الله tersebar di negeri itu, dan kita tahu bahwa Imam Malik adalah ulama yang tergolong kelompok Ahlul Hadits, dan Ahlul Hadits adalah orang yang paling jauh dari bid'ah dan ilmu kalam.[18]

Imam asy-Syafi'i رحمه الله memilih Mesir sekalipun sebenarnya hati kecilnya menolak. Ia tidak tahu mengapa harus memilih Mesir, tetapi pada akhirnya ia serahkan dirinya kepada putusan Allah عزّوجلّ. Ia pun pergi meninggalkan Irak dan seisinya demi mempertahankan aqidahnya.

Dalam kaitan ini, Imam asy-Syafi'i رحمه الله bertutur dalam rangkaian bait indah berikut:

لَقَدْ أَصْبَحَتْ نَفْسِي تَتُوْقُ إِلَى مِصْرَ * وَمِنْ دُوْنِهَا أَرْضُ الْـمَهَامَةِ وَالْقَفْرِ

فَوَ اللهِ لَا أَدْرِي أَلِلْفَوْزِ وَالغِنَى * أُسَاقُ إِلَيْهَا أَمْ أُسَاقُ إِلَى الْقَبْرِ

Jiwaku menjadi cenderung ke Mesir, namun aku harus menempuh tanah gersang nan tandus

Wallahi, aku tidak mengetahui untuk mendapatkan kekayaan atau meraih kebahagiaankah aku ke sana atau kepada kuburankah aku digiring?[19]

Sesampainya Imam asy-Syafi'i رحمه الله ke negeri Mesir, ia pergi ke Masjid 'Amr bin al-'Ash. Kemudian, untuk pertama kalinya ia berbicara di situ dan serta merta ia dicintai dan digandrungi orang-orang.[20]

Harun bin Sa'id al-Ayli berkata: "Aku tidak pernah melihat orang semacam Imam asy-Syafi'i رحمه الله. Saat datang ke Mesir, orang-orang berkata: 'Telah datang kepada kita seorang laki-laki Quraisy. Kami pun mendatanginya ketika beliau sedang shalat. Ternyata, kami belum pernah melihat seseorang yang shalatnya lebih baik daripadanya, juga wajah yang lebih tampan daripadanya. Manakala ia berbicara, kami pun belum pernah mendengar ada orang lain yang lebih indah bahasanya daripadanya. Karena itu, kami tertarik kepadanya.[21] Di sanalah ilmu dan keluasan pandangan Imam asy-Syafi'i رحمه الله terlihat. Hal itu ia dapatkan dari pengembaraannya, dan ia telah mengambil banyak pelajaran dari pengembaraan itu. Ia telaah kitab-kitab yang telah ditulisnya lalu ia perbaiki kesalahannya. Dia banyak meralat pendapat-pendapatnya dengan mengemukakan pendapat-pendapat barunya lalu ia pun kembali mengarang kitab. Sementara itu, tidak sedikit dari para ulama yang terpengaruh oleh ilmu, manhaj, dan ke-teguhannya mengikuti Sunnah. Mereka belajar dan berguru kepadanya setelah sebelumnya mereka fanatik terhadap satu madzhab, yakni madzhab Imam Malik bin Anas atau madzhab Imam Abu Hanifah.[22]



H.   WAFATNYA IMAM ASY-SYAFI'I رحمه الله



Di akhir hayatnya, Imam asy-Syafi'i رحمه الله sibuk berdakwah, menyebarkan ilmu, dan mengarang di Mesir, sampai hal itu memberikan mudharat bagi tubuhnya. Akibatnya, ia terkena penyakit wasir yang menyebabkan keluarnya darah. Tetapi, karena kecintaannya terhadap ilmu, Imam asy-Syafi'i رحمه الله tetap melakukan pekerjaannya itu dengan tidak mempedulikan sakitnya, sampai akhirnya beliau wafat pada akhir bulan Rajab tahun 204 H -semoga Allah عزّوجلّ memberikan rahmat yang luas kepadanya-.[23]

Al-Muzani عزّوجلّ berkata: "Tatkala aku menjenguk Imam asy-Syafi'i رحمه الله pada saat sakit yang membawa kepada kematiannya, aku bertanya kepadanya: 'Bagaimana keadaanmu, wahai, Ustadz?' Imam asy-Syafi'i menjawab: 'Aku akan meninggalkan dunia dan berpisah dengan para sahabatku. Aku akan meneguk piala kematian dan akan menghadap Allah serta akan bertemu dengan amal jelekku. Demi Allah, aku tidak tahu kemana ruhku akan kembali: ke surga yang dengannya aku akan bahagia atau ke neraka yang dengannya aku berduka. Kemudian, Imam asy-Syafi'i رحمه الله mengarahkan pandangannya ke langit dengan air mata yang bercucuran, seraya mengucapkan bait-bait sya'ir:





wahai, Ilah, Rabb makhluk semesta

kepada Engkau aku ajukan pengharapan

sekalipun aku seorang yang banyak melakukan dosa

wahai, Dzat pemilik karunia dan kemurahan

tatkala kalbuku keras dan jalan-jalanku sempit,

aku jadikan pengharapan dari-Mu sebagai tangga

dosa-dosaku menguasai diriku,

tetapi ketika aku bandingkan dengan pengampunan-Mu

wahai, Rabbku, jauh lebih besar pengampunan-Mu

Engkau senantiasa Pengampun segala dosa dan kesalahan

Engkau tetap Pemurah dan Pemberi karunia serta kemuliaan

maka andai tidak karena kemurahan-Mu

tidaklah bertahan si penyembah iblis

betapa tidak? ia telah memperdaya kekasih-Mu Adam

bila engkau memaafkan aku,

berarti engkau mengampuni si pelaku kezhaliman

yang penuh gelimang dosa dan kesalahan

dan andai Engkau murka kepadaku,

aku tidak akan putus harapan

sekalipun diriku dimasukkan ke Jahannam

karena dosa-dosa yang aku lakukan

sungguh besar dosaku,

baik yang sekarang maupun yang dahulu

namun, ampunan-Mu lebih besar dan lebih banyak
wahai, Dzat Pemberi maaf.[24]

[1]     Keterangan lebih lanjut ada di halaman berikutnya.

[2]     Abu Yusuf adalah Ya'qub bin Ibrahim bin Habib al-Anshari al-Kufi al-Qadhi, teman Abu Hanifah رحمه الله. Adz-Dzahabi berkata tentangnya: "Abu Yusuf adalah seorang mujtahid, al-'Allamah, dan ahli hadits. Lahir tahun 113 H. dan wafat tahun 182 H. Lihat kitab Siyar A'laamin Nubalaa' (VIII/535).

[3]     Lihat kitab Tawaalit Ta-siis, hlm. 130-132; juga kitab Bid'atut Ta'ashshub karya Muhammad 'led 'Abbasi.

[4]     Lihat kitab Manaaqibusy Syafi'i oleh Imam Baihaqi (I/158).

[5]     Manaaqibusy Syafi'i oleh al-Baihaqi (I/112).

[6]     Al-Intiqaa’ (hlm.97).

[7]     Al-Bidaayah wan Nihaayah (X/263).

[8]     Dari kisah ini dapat kita simpulkan bahwa generasi  salaf رحمهم الله selalu mendengar ucapan pemimpinnya sekalipun mereka dizhalimi dan dipenjara. Mereka tidak memandang bahwa mereka harus berontak kepadanya. Imam asy-Syafi'i رحمه الله misalnya, seperti pada kasusnya ini. Sekalipun dianiaya, ia tetap tidak mengucapkan kata-kata yang buruk dan menyakitkan. Untuk tambahan, silakan Anda baca kitab as-Sunnnah oleh Imam al-Khallal (1/73). Lihat pula ujian yang menimpa Imam Ahmad رحمه الله berkenaan dengan pendapat yang mengatakan bahwa al-Qur-an adalah makhluk.

[9]     Ibid. (I/159).

[10]    Ibid.

[11]    'Aadaabusy Syafi'i (hlm. 33-34).

[12]    Imam asy-Syafi'i dianggap seorang Arab badui/pedusunan karena, -wallaahu 'alam- beliau memakai pakaian seperti mereka atau karena bahasa Arabnya seperti mereka yang begitu fasih, dan hafal ucapan-ucapan mereka, wallaahu a'lam.

[13]    Tawaalit Ta-siis (hlm. 56).

[14]    Lihat kitab Sifatush Shafwah (II/250).

[15]    'Aadaabusy Syafi'i (hlm. 44).

[16]    Manaaqibusy Syafi'i (I/220).

[17]    Manaaqibul Baihaqi (I/220) dan Tawaalit Ta-siis (hlm. 72).

[18]    Lihat kitab Manaaqibusy Syafi'i oleh al-Baihaqi (I/463-465).

[19]    Diiwaanusy Syaafi'i (hlm. 47).

[20]    Manaaqibul Baihaqi (II/284).

[21]    Ibid. (II/284).

[22]    Ibid. (I/238).

[23]    Ibid. (II/291).

[24]    Manaaqibusy Syaafi'i oleh al-Baihaqi (11/293-294), 'Aadaabusy Syafi'i (hlm. 77), dan Diiwaanusy Syaafi'i (hlm. 78).

COBAAN YANG DIALAMI IMAM ASY-SYAFI'I رحمه الله



Setelah surat Panglima itu sampai ke tangan Khalifah Harun ar-Rasyid, Khalifah lalu mengirim surat kepada Gubernur Yaman agar mengusir orang-orang 'Alawiyyin. Maka mereka, di antaranya Imam asy-Syafi, digiring dalam keadaan terikat rantai. Imam asy-Syafi'i رحمه الله disiksa sepanjang jalan menuju Irak. Namun, tidaklah diragukan, pada kejadian-kejadian seperti ini Allah عزّوجلّ akan selalu menolong hamba-Nya yang suka mendekatkan diri kepada-Nya dan pada saat hamba itu berlindung kepada Rabb Jalla wa 'Ala.

Ketika rombongan yang disiksa telah sampai ke Irak, Imam asy-Syafi'i رحمه الله bersama rombongan dihadapkan kepada Khalifah Harun ar-Rasyid. Sejumlah riwayat yang maknanya berdekatan menyebutkan tentang pertemuannya dengan khalifah, kecuali ada satu riwayat dusta yang menyebutkan bahwa Imam Muhammad bin al-Hasan[1] dan Abu Yusuf[2] menyuruh khalifah Harun untuk membunuh Imam asy-Syafi'i.

Riwayat ini tertolak karena ketika Syafi'i masuk negeri Iraq, sekitar tahun 184 H, Abu Yusuf telah meninggal. Lagi pula tidak mungkin kedua orang alim tersebut yang memiliki keutamaan dan sifat wara' menganjurkan Harun ar-Rasyid untuk membunuh seorang yang telah dikenal sebagai orang alim. Riwayat-riwayat ini adalah kebohongan yang dihiasi oleh orang-orang yang fanatik terhadap madzhab tertentu dengan maksud agar dapat mencela para ulama dari madzhab lain, seolah-olah madzhab lain itu tidak berdiri di atas Islam. Ini adalah dampak negatif sikap fanatik terhadap madzhab yang telah menimpa ummat Islam. Orang yang membaca kitab-kitab madzhab akan menemukan keanehan-keanehan seperti kisah ini.

Semua itu menunjukkan kepada kita akan pentingnya kembali/ rujuk kepada al-Qur-an dan Sunnah serta membuang jauh perasaan fanatik. Jika tidak demikian, bagaimana mungkin kekuatan ummat disatupadukan. Namun, bukan di sini tempat menguraikan masalah yang sangat penting tersebut. Akan tetapi, keterangan ini memang harus disampaikan pada kesempatan ini.[3] Satu hal lagi yang menunjukkan kedustaan riwayat ini adalah pada riwayat-riwayat lain dikatakan bahwa Muhammad Ibnul Hasan justru membela asy-Syafi'i di hadapan Harun ar-Rasyid. Oleh sebab itu, ketika Allah menyelamatkan asy-Syafi'i (dari cobaan ini, -ed) beliau menekuni ilmu dari Muhammad Ibnul Hasan dan meminta ilmu darinya.[4]

Mari kita biarkan Imam asy-Syafi'i رحمه الله sendiri yang mencerita-kan kisahnya ketika berhadapan dengan Harun ar-Rasyid: "Kami dihadapkan kepada Harun ar-Rasyid sepuluh-sepuluh orang. Setelah larut malam, ia menyuruh kami berdiri seorang demi seorang. Kemudian, ia berbicara dari balik tabir dan memerintahkan untuk membunuh kami. Ketika sampai pada giliranku, aku berkata kepadanya: 'Wahai, Amirul Mukminin, aku adalah budak dan pelayanmu, Muhammad bin Idris asy-Syafi'i.' Ia tidak menanggapi, dan kembali memerintahkan: 'Tebaslah batang lehernya!' Aku kembali berkata: 'Wahai, Amirul Mukminin, aku ingin bicara, mohon dengarkan! Tanganmu yang terbuka dan kekuasaanmu yang kokoh, engkau pasti akan mendapatkan apa saja yang engkau inginkan dariku.' 'Bicaralah,' tukasnya. Maka aku berbicara: 'Wahai, Khalifah, sepertinya engkau menuduhku menyimpang dari ketaatan kepadamu dan condong kepada mereka. Oleh karena itu, aku akan memberikan perumpamaan kepada tuan berkenaan dengan diri tuan, mereka, dan aku. Apa yang dikatakan seorang Amirul Mukminin tentang seseorang yang mempunyai keponakan. Hanya ada dua keadaan:

1.  Salah seorang di antara keponakannya itu bergaul dengannya dan memasukkan dirinya dalam nasabnya dan menganggap ia sama dengannya dan hartanya haram diganggu olehnya, kecuali seizin dia. Begitu juga anak perempuannya haram diambil, kecuali dengan cara menikahinya. Selain itu, ia melihat bahwa apa yang berlaku baginya sama dengan apa yang berlaku bagi dirinya,

2.  Keponakannya yang lain menyangka bahwa ia adalah orang lain dalam nasab. Dia lebih tinggi, sedangkan orang tersebut adalah budaknya sehingga putrinya pun menjadi budak yang halal diambil tanpa harus melalui pernikahan sebagaimana hartanya halal diambil sesukanya.

Menurut engkau, wahai, Amirul Mukminin, kepada siapakah sepantasnya dia berwala'? Ini adalah perumpamaan antara tuan dan mereka ('Alawiyyin). Khalifah memintaku mengulanginya tiga kali, aku pun melakukannya dengan menggunakan redaksi yang berbeda-beda, tetapi maksudnya sama. Maka khalifah memerintahkan pegawainya untuk memenjarakanku."[5]

Dalam sebagian riwayat yang disampaikan olch Ibnu 'Abdil Barr رحمه الله disebutkan sebagai berikut: "Imam asy-Syafi'i رحمه الله bersama rombongan 'Alawiyyin masuk menghadap Khalifah Harun ar-Rasyid. Mereka menghadapnya satu per satu untuk diinterogasi, sementara yang lainnya menunggu dan mendengarkannya dari balik tabir.

Imam asy-Syafi'i  berkata: "Tibalah giliran seorang pemuda 'Alawi penduduk Madinah besertaku. Khalifah menginterogasinya: 'Engkaukah yang memberontak kepadaku dan menganggapku tidak patut menjadi khalifah?' Pemuda 'Alawiyyah itu menjawab: 'Audzubillah (aku berlindung kepada Allah), saya tidak pernah mengucapkan hal itu.' Maka ia pun diputuskan untuk dibunuh. Mendengar keputusan itu, si pemuda Alawi itu menukas: 'Kalau memang aku harus dibunuh, berilah aku kesempatan untuk menulis surat kepada ibuku di Madinah karena ia seorang tua renta dan tidak mengetahui berita tentang aku. Kemudian, ia pun dibunuh."

"Setelah itu, aku dipanggil, tutur Imam asy-Syafi'i. Sementara Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani duduk di samping khalifah. Setelah khalifah berkata kepadaku seperti yang ia katakan kepada pemuda 'Alawiyyah itu, aku menjawab: "Wahai, Amirul Mukminin, aku bukan suku Thalibi atau 'Alawi. Aku adalah laki-laki keturunan al-Muththalib bin 'Abdi Manaf bin Qushay. Aku aktif dalam bidang ilmu dan fiqih. Tuan al-Qadhi tahu siapa aku. Aku adalah Muhammad bin Idris bin al-'Abbas bin 'Utsman bin Syafi' bin as-Saib bin 'Ubaid bin 'Abdu Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin 'Abdi Manaf." "Engkau Muhammad bin Idris?" tanya Khalifah. "Ya, jawabku." Engkau rupanya orang yang pernah diceritakan oleh Muhammad bin al-Hasan." Kemudian, Khalifah Harun memandang Muhammad bin al-Hasan. 'Hai, Muhammad, apakah yang dikatakannya benar?' Muhammad bin al-Hasan menjawab: 'Ya, dia seorang 'alim yang langka.' Khalifah lantas berkata: "Kalau begitu, ia kuserahkan kepadamu sampai ada keputusan."[6]

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: "Maka Imam asy-Syafi'i رحمه الله dibawa dengan dinaikkan ke atas keledai dalam keadaan terikat,menuju Baghdad pada tahun 184 H. Saat itu usianya 30 tahun. Kemudian, Imam asy-Syafi'i dihadapkan kepada Harun ar-Rasyid dan terjadilah percakapan antara keduanya, sementara Imam Muhammad bin al-Hasan duduk di samping Khalifah Harun dan memuji Imam asy-Syafi'i. Maka jelaslah bagi Harun ar-Rasyid, bahwa tuduhan yang ditujukan kepada Imam asy-Syafi'i tidaklah benar. Selanjutnya, Muhammad bin al-Hasan memberinya tempat kepada Imam asy-Syafi'i, sementara al-Qadhi Abu Yusuf setahun atau dua tahun sebelumnya telah wafat.[7] Asy-Syafi'i dimuliakan oleh Muhammad Ibnul Hasan dan asy-Syafi'i pun menimba ilmu darinya."

Inilah ringkasan dari riwayat-riwayat yang menyebutkan per-temuan Imam asy-Syafi'i رحمه الله dengan Khalifah Harun ar-Rasyid, yang menunjukkan adanya tuduhan Khalifah terhadap Imam asy-Syafi'i رحمه الله dan lepasnya beliau dari apa yang dituduhkan kepadanya. Riwayat-riwayat ini juga menunjukkan bahwa Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani رحمه الله telah mengucapkan kata-kata yang baik tentang Imam asy-Syafi'i dan Amirul Mukminin Harun ar-Rasyid telah mengampuni Imam asy-Syafi'i رحمه الله, bahkan memberinya sebagian harta.[8]



D.  MENDAMPINGI IMAM MUHAMMAD BIN AL-HASAN SETELAH SELAMAT DARI COBAAN



Setelah Allah عزّوجلّ menyelamatkan Imam asy-Syafi'i رحمه الله dari tuduhan itu, ia pun mendampingi Imam Muhammad bin al-Hasan رحمه الله untuk mengambil fiqih dan hadits Irak darinya. Ia menuliskan buku-bukunya dan membacakan kepadanya sampai ia (Muhammad bin al-Hasan) berkata: "Kesabarannya terhadapku seperti kesabaran unta, tidak ada pekerjaan baginya selain hanya mendengarkanku." Imam asy-Syafi'i رحمه الله sangat menghormati Imam Muhammad bin al-Hasan sekalipun antara keduanya sering berdebat dan berselisih pendapat.

Perselisihan keduanya telah terkenal karena madzhab Imam asy-Syafi'i adalah madzhab Ahlul Hadits, sedangkan madzhab Muhammad bin al-Hasan ialah madzhab Ahlur Ra'yi (madzhab yang mengedepankan akal). Seperti penulis katakan bahwa sekalipun Imam asy-Syafi'i berbeda pendapat, ia tetap memuji Muhammad bin al-Hasan رحمه الله: "Aku tidak pernah menjumpai seorang pria gemuk yang cerdas selain Muhammad bin al-Hasan."[9]

Pada kesempatan lain, ia berkata: "Aku tidak pernah melihat seseorang yang ditanya tentang suatu masalah yang harus dianalisa, kecuali kulihat pada wajahnya kebencian, kecuali Muhammad bin al-Hasan."[10]

Sekalipun Imam asy-Syafi'i sangat menghormati dan cinta kepada Muhammad bin al-Hasan, tetapi manakala pendapat Muhammad bin al-Hasan bertentangan dengan dalil, ia tidak segan-segan membantahnya. Oleh karena itu, setelah selesai halaqah dan Muhammad bin al-Hasan keluar, ia sering mengadakan diskusi dan berdebat dengan murid-murid Muhammad, tetapi dengan Imam Muhammad sendiri ia segan karena menghormati gurunya itu, kecuali setelah Imam Muhammad mengajaknya, barulah ia melakukan perdebatan dengannya. Itu terjadi berkali-kali, baik di hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid maupun di majelis Imam Muhammad bin al-Hasan sendiri. Sekalipun Imam asy-Syafi'i رحمه الله menuliskan kitab Muhammad bin al-Hasan, ia tidak menerima begitu saja pandangan yang ditulisnya itu, kecuali apabila sesuai dengan dalil, sedangkan yang tidak sesuai, ia bantah. Dalam kaitan ini, Imam asy-Syafi'i رحمه الله berkata: "Untuk memiliki buku Muhammad bin al-Hasan رحمه الله, aku menghabiskan uang sebanyak 60 dinar. Kemudian, aku mempelajarinya lalu aku tuliskan sebuah hadits di samping setiap masalah." Maksud beliau adalah untuk membantahnya."[11]

Inilah sikap generasi Salafush Shalih dari ummat ini dalam mengikuti dalil (syar'i) sekalipun harus bertentangan dengan ucapan syaikh atau gurunya. Oleh sebab itu, tinggilah derajat ummat ini dan menjadi majulah serta sunnah menjadi tersebar. Di antara penyebab utama kemunduran ummat ini adalah sikap fanatisme mereka yang pura-pura alim terhadap madzhab mereka meskipun menyelisihi dalil syar'i yang shahih dan jelas. Akhirnya, merebaklah bid'ah dan matilah Sunnah. Innaa lillahi wa inna ilaihi raji'un.



E.   KEMBALINYA IMAM ASY-SYAFI'I رحمه الله KE MAKKAH



Setelah Imam asy-Syafi'i رحمه الله memperoleh ilmu dari para ulama Irak, sebelumnya ia telah mendapatkan ilmu dari ulama Hijaz, ia merasa telah tiba saatnya untuk menyebarkan ilmu yang dimilikinya. Oleh karena itu, ia bertekad untuk pulang ke Makkah setelah namanya dikenal. Mulailah ia mengajar di Masjidil Haram tempat dahulu ia belajar menuntut ilmu dari para ulama yang mengajar di sana.

Pada musim haji, ribuan orang dari berbagai penjuru datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Mereka yang telah mendengar nama pemuda Quraisy yang ilmunya mengagumkan, bersemangat untuk mengikuti pengajiannya sehingga nama Imam Syafi'i pun semakin dikenal di berbagai negeri.

Pada kesempatan itu Imam asy-Syafi'i رحمه الله ditemui oleh banyak ulama. Mereka kagum terhadap keluasan ilmunya dan kekuatannya dalam menggunakan dalil serta keteguhannya mengikuti sunnah, juga kedalamannya dalam fiqih dan istinbath (penyimpulan) hukum. Mereka juga kagum terhadap ushul dan kaidah-kaidah fiqih yang telah dibuatnya yang semuanya bersumber dari al-Qur-an dan as-Sunnah. Ushul dan kaidah-kaidah itu kebanyakan belum pernah didengar oleh mereka. Di antara orang yang mendengar ilmu dari Imam asy-Syafi'i ketika itu adalah Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله, yang datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Imam Ahmad رحمه الله masuk ke Masjidil Haram untuk berjumpa dengan para ulama besar dan para pakar hadits, di antara yang masyhur dari mereka adalah Imam Sufyan bin 'Uyainah رحمه الله, syaikhnya Imam asy-Syafi'i.

Tatkala ia ikut pada halaqab Imam asy-Syafi'i, ia mendapati sesuatu yang tidak didapati pada halaqah yang lain. Ia memperoleh sesuatu yang baru selain riwayat hadits. Pada halaqah Imam asy-Syafi'i, ada kupasan fiqih dan kaidah-kaidahnya yang belum pernah didengarkannya. Akhirnya, Imam Ahmad meninggalkan halaqah yang lain yang dipimpin oleh para ulama besar. Kemudian, ia pun ikut halaqah Imam asy-Syafi'i رحمه الله. Muhammad bin al-Fadhl al-Farra' bercerita: "Aku mendengar ayahku berkata: 'Aku pergi haji bersama Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله. Aku tinggal dalam satu tempat bersamanya. Pada pagi hari kami keluar, dan sesampainya di masjid aku berkeliling mencarinya. Aku mendatangi majelis (halaqah) Ibnu 'Uyainah رحمه الله dan yang lainnya untuk mencarinya, tetapi ternyata aku malah menemukannya di halaqah seorang Arab pedusunan.[12] Aku berkata kepada Imam Ahmad رحمه الله: 'Hai, Abu 'Abdillah, mengapa engkau di sini, tidak di halaqah Ibnu 'Uyainah?' Imam Ahmad رحمه الله menjawab: 'Diamlah! Kalau tidak sempat mendengar hadits dengan sanad yang tinggi, kamu akan mendapatkannya dengan sanad yang rendah. Tetapi, jika engkau tidak mengambil ilmu orang ini, kita belum tentu mendapatkannya dari yang lain. Karena aku tidak melihat ada seorang yang lebih faqih tentang Kitabullah melebihi pemuda ini.' 'Siapa dia?' tanyaku. Imam Ahmad رحمه الله menjawab: 'Muhammad bin Idris.'"[13]

Dari Ishaq bin Rahawaih رحمه الله, ia berkata: "Ketika aku bersama Ahmad bin Hanbal di Makkah, ia berkata: 'Mari, ikut aku. Akan kutunjukkan kepadamu seorang yang belum pernah engkau lihat.' Ternyata, orang itu adalah Imam asy-Syafi'i."[14]

Imam Al-Humaidi رحمه الله juga berkata: "Ketika Ahmad bin Hanbal رحمه الله tinggal bersama kami di Makkah, ia ikut halaqah Sufyan bin 'Uyainah رحمه الله. Pada suatu hari, ia mengajakku ke suatu tempat, katanya: 'Di sana ada seorang laki-laki dari Quraisy yang mempunyai pengetahuan dan kemampuan berbicara yang sangat baik.' 'Siapa dia?' tanyaku. Imam Ahmad menjawab: 'Muhammad bin Idris asy-Syafi'i.' Pada saat di Irak, Imam Ahmad bin Hanbal pernah ikut di majelis pengajiannya. Karena ia selalu membujukku, akhirnya aku pun duduk bersamanya. Setelah mendengar uraiannya tentang beberapa masalah, kami bangun. 'Bagaimana pendapatmu?' tanya Ahmad bin Hanbal. Aku berusaha mencari-cari kesalahannya, dan itu semua saya lakukan karena ada kedengkian terhadap orang Quraisy. Maka Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata: 'Rupanya engkau tidak senang jika ada pria Quraisy memiliki ilmu dan keindahan bahasa seperti itu. Dia membahas seratus masalah, tetapi salahnya hanya lima atau hanya sepuluh. Tinggalkanlah yang salah dan ambillah yang benar!'"[15]

Hingga hampir sembilan tahun Imam asy-Syafi'i رحمه الله mengadakan majelis pengajian di Makkah hingga beliau pergi ke Irak.



F.  PERJALANANNYA KE IRAK YANG KEDUA



Imam asy-Syafi'i رحمه الله untuk kedua kalinya pergi ke Irak pada tahun 195 H. Perjalanannya yang kedua ini berbeda dengan perjalanannya yang pertama. Jika yang pertama karena diusir, maka yang kedua ini karena kemauannya sendiri. Untuk kali kedua ini, namanya di Baghdad telah terlebih dahulu dikenal sebelum ia datang ke negeri tersebut. Para ulama besar, seperti Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, dan 'Abdur Rahman al-Mahdi telah menyebut-nyebut namanya. Sesampainya di Baghdad, Imam asy-Syafi'i رحمه الله mendapat tempat di tengah-tengah masyarakat. Orang-orang pindah belajar kepada beliau dan meninggalkan belajar ke ulama lain. Imam al-Baihaqi رحمه الله meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Tsaur رحمه الله, ujarnya: "Ketika Imam asy-Syafi'i datang ke Irak, datanglah kepadaku Husain al-Karabisi, ia dan aku condong kepada Ahlur Rayu (kelompok ulama yang lebih banyak menggunakan akal daripada dalil syar'i), katanya: 'Telah datang seorang laki-laki Ahli Hadits yang juga Ahli Fiqih. Mari kita ejek dia.' Maka kami pun berangkat menemui Imam asy-Syafi'i. Husain al-Karabisi mencoba menyampaikan sebuah pertanyaan. Maka Imam asy-Syafi'i رحمه الله terus menjawabnya dengan mengutip ayat-ayat al-Qur-an dan banyak hadits hingga akhirnya kami meninggalkan bid'ah yang kami lakukan (karena menggunakan rasio) dan ikut kepadanya.'"[16]

Di sanalah Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berjumpa dengan Imam asy-Syafi'i رحمه الله, yang sebelumnya mereka pernah bertemu di Madinah. la mengambil ilmu darinya dan ia memujinya dengan berkata: "Dulu putusan-putusan kami, Ashhabul Hadits, didominasi oleh sahabat-sahabat Abu Hanifah. Putusan-putusan itu tidak dicabut sampai datang Imam asy-Syafi'i. Dia adalah orang yang paling paham tentang Kitabullah dan Sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ia tidak puas dengan hanya mencari sedikit hadits."

Hasan bin Muhammad az-Za'farani رحمه الله berkata: "Kelompok Ashbabul Hadits (ulama yang banyak menggunakan hadits) tertidur cukup lama. Maka datanglah Imam asy-Syafi'i رحمه الله membangunkan mereka."

Imam Ibrahim bin al-Harbi رحمه الله bercerita: "Tatkala Imam asy-Syafi'i رحمه الله datang ke Baghdad, di Masjid Jami al-Gharbi terdapat 20 buah halaqah yang diadakan oleh para ulama Ahlur Ra'yu. Pada Jum'at kedua (setelah Imam asy-Syafi'i رحمه الله datang) yang tersisa hanya 3 atau 4 halaqah saja, padahal Imam asy-Syafi'i رحمه الله tidak menetap di Irak, melainkan ia bolak-balik antara Makkah dan Irak, yakni terkadang di Irak dan terkadang di Makkah." Al-Hasan bin Muhammad az-Za'farani رحمه الله berkata: "Imam asy-Syafi'i رحمه الله datang ke negeri kami pada tahun 195 H. dan menetap selama dua tahun. Setelah itu, ia pergi ke Makkah lalu datang lagi pada tahun 198 H. dan tinggal beberapa bulan dan setelah itu ia pergi ke Mesir."[17]

G.   KEPERGIANNYA KE MESIR



Setelah Imam asy-Syafi'i رحمه الله kembali ke Irak, terjadi beberapa peristiwa di ibukota kekhalifahan yang menjadikannya berencana meninggalkan Irak selamanya. Peristiwa paling besar yang menimpa adalah dikuasainya Khalifah al-Ma'mun oleh para ulama ilmu kalam sehingga merebaklah bid'ah dan matilah Sunnah. Terdengar olehnya bahwa Khalifah mulai terjebak ke dalam pembahasan-pembahasan ilmu kalam, sementara Imam asy-Syafi'i رحمه الله sendiri adalah seorang ahli dalam bidang ilmu kalam dan tahu orang-orangnya.

Imam asy-Syafi'i رحمه الله sangat mengetahui apa yang dihimpun dalam hati mereka (ahlul kalam), berupa kedengkian terhadap para ulama hadits (Ashhabus Sunnah) dan kebencian terhadap sunnah dan para penegaknya sehingga beliau pun mengetahui akibat urusan ini yang sangat berbahaya. Hal itu benar-benar terjadi ketika Khalifah al-Ma'mun dekat dengan para ulama ilmu kalam, bahkan ia menjadikan mereka sebagai penulis dan teman-teman bergaulnya sehingga mereka mendapat kedudukan istimewa yang mengakibatkan timbulnya masalah besar yang melanda dunia Islam. Di antaranya adalah dianggap halalnya darah para ulama (boleh dibunuh) dan diancamnya mayoritas mereka dengan hukuman penjara. Adapun fitnah yang paling besar adalah pendapat bahwa al-Qur-an adalah makhluk (bukan Kalamullah yang qadim) sehingga ummat Islam terus-menerus mengeluhkan bahaya ilmu kalam dan orang-orangnya. Inilah di antara faktor paling besar yang melatarbelakangi keinginan Imam asy-Syafi'i رحمه الله untuk pergi meninggalkan Irak dan pindah ke sebuah negeri yang belum dimasuki oleh filsafat. Negeri yang menjadi pilihannya adalah Mesir. Imam asy-Syafi'i رحمه الله memilih Mesir -wallaahu a'lam- karena madzhab Imam Malik رحمه الله tersebar di negeri itu, dan kita tahu bahwa Imam Malik adalah ulama yang tergolong kelompok Ahlul Hadits, dan Ahlul Hadits adalah orang yang paling jauh dari bid'ah dan ilmu kalam.[18]

Imam asy-Syafi'i رحمه الله memilih Mesir sekalipun sebenarnya hati kecilnya menolak. Ia tidak tahu mengapa harus memilih Mesir, tetapi pada akhirnya ia serahkan dirinya kepada putusan Allah عزّوجلّ. Ia pun pergi meninggalkan Irak dan seisinya demi mempertahankan aqidahnya.

Dalam kaitan ini, Imam asy-Syafi'i رحمه الله bertutur dalam rangkaian bait indah berikut:

لَقَدْ أَصْبَحَتْ نَفْسِي تَتُوْقُ إِلَى مِصْرَ * وَمِنْ دُوْنِهَا أَرْضُ الْـمَهَامَةِ وَالْقَفْرِ

فَوَ اللهِ لَا أَدْرِي أَلِلْفَوْزِ وَالغِنَى * أُسَاقُ إِلَيْهَا أَمْ أُسَاقُ إِلَى الْقَبْرِ

Jiwaku menjadi cenderung ke Mesir, namun aku harus menempuh tanah gersang nan tandus

Wallahi, aku tidak mengetahui untuk mendapatkan kekayaan atau meraih kebahagiaankah aku ke sana atau kepada kuburankah aku digiring?[19]

Sesampainya Imam asy-Syafi'i رحمه الله ke negeri Mesir, ia pergi ke Masjid 'Amr bin al-'Ash. Kemudian, untuk pertama kalinya ia berbicara di situ dan serta merta ia dicintai dan digandrungi orang-orang.[20]

Harun bin Sa'id al-Ayli berkata: "Aku tidak pernah melihat orang semacam Imam asy-Syafi'i رحمه الله. Saat datang ke Mesir, orang-orang berkata: 'Telah datang kepada kita seorang laki-laki Quraisy. Kami pun mendatanginya ketika beliau sedang shalat. Ternyata, kami belum pernah melihat seseorang yang shalatnya lebih baik daripadanya, juga wajah yang lebih tampan daripadanya. Manakala ia berbicara, kami pun belum pernah mendengar ada orang lain yang lebih indah bahasanya daripadanya. Karena itu, kami tertarik kepadanya.[21] Di sanalah ilmu dan keluasan pandangan Imam asy-Syafi'i رحمه الله terlihat. Hal itu ia dapatkan dari pengembaraannya, dan ia telah mengambil banyak pelajaran dari pengembaraan itu. Ia telaah kitab-kitab yang telah ditulisnya lalu ia perbaiki kesalahannya. Dia banyak meralat pendapat-pendapatnya dengan mengemukakan pendapat-pendapat barunya lalu ia pun kembali mengarang kitab. Sementara itu, tidak sedikit dari para ulama yang terpengaruh oleh ilmu, manhaj, dan ke-teguhannya mengikuti Sunnah. Mereka belajar dan berguru kepadanya setelah sebelumnya mereka fanatik terhadap satu madzhab, yakni madzhab Imam Malik bin Anas atau madzhab Imam Abu Hanifah.[22]



H.   WAFATNYA IMAM ASY-SYAFI'I رحمه الله



Di akhir hayatnya, Imam asy-Syafi'i رحمه الله sibuk berdakwah, menyebarkan ilmu, dan mengarang di Mesir, sampai hal itu memberikan mudharat bagi tubuhnya. Akibatnya, ia terkena penyakit wasir yang menyebabkan keluarnya darah. Tetapi, karena kecintaannya terhadap ilmu, Imam asy-Syafi'i رحمه الله tetap melakukan pekerjaannya itu dengan tidak mempedulikan sakitnya, sampai akhirnya beliau wafat pada akhir bulan Rajab tahun 204 H -semoga Allah عزّوجلّ memberikan rahmat yang luas kepadanya-.[23]

Al-Muzani عزّوجلّ berkata: "Tatkala aku menjenguk Imam asy-Syafi'i رحمه الله pada saat sakit yang membawa kepada kematiannya, aku bertanya kepadanya: 'Bagaimana keadaanmu, wahai, Ustadz?' Imam asy-Syafi'i menjawab: 'Aku akan meninggalkan dunia dan berpisah dengan para sahabatku. Aku akan meneguk piala kematian dan akan menghadap Allah serta akan bertemu dengan amal jelekku. Demi Allah, aku tidak tahu kemana ruhku akan kembali: ke surga yang dengannya aku akan bahagia atau ke neraka yang dengannya aku berduka. Kemudian, Imam asy-Syafi'i رحمه الله mengarahkan pandangannya ke langit dengan air mata yang bercucuran, seraya mengucapkan bait-bait sya'ir:





wahai, Ilah, Rabb makhluk semesta

kepada Engkau aku ajukan pengharapan

sekalipun aku seorang yang banyak melakukan dosa

wahai, Dzat pemilik karunia dan kemurahan

tatkala kalbuku keras dan jalan-jalanku sempit,

aku jadikan pengharapan dari-Mu sebagai tangga

dosa-dosaku menguasai diriku,

tetapi ketika aku bandingkan dengan pengampunan-Mu

wahai, Rabbku, jauh lebih besar pengampunan-Mu

Engkau senantiasa Pengampun segala dosa dan kesalahan

Engkau tetap Pemurah dan Pemberi karunia serta kemuliaan

maka andai tidak karena kemurahan-Mu

tidaklah bertahan si penyembah iblis

betapa tidak? ia telah memperdaya kekasih-Mu Adam

bila engkau memaafkan aku,

berarti engkau mengampuni si pelaku kezhaliman

yang penuh gelimang dosa dan kesalahan

dan andai Engkau murka kepadaku,

aku tidak akan putus harapan

sekalipun diriku dimasukkan ke Jahannam

karena dosa-dosa yang aku lakukan

sungguh besar dosaku,

baik yang sekarang maupun yang dahulu

namun, ampunan-Mu lebih besar dan lebih banyak
wahai, Dzat Pemberi maaf.[24]

[1]     Keterangan lebih lanjut ada di halaman berikutnya.

[2]     Abu Yusuf adalah Ya'qub bin Ibrahim bin Habib al-Anshari al-Kufi al-Qadhi, teman Abu Hanifah رحمه الله. Adz-Dzahabi berkata tentangnya: "Abu Yusuf adalah seorang mujtahid, al-'Allamah, dan ahli hadits. Lahir tahun 113 H. dan wafat tahun 182 H. Lihat kitab Siyar A'laamin Nubalaa' (VIII/535).

[3]     Lihat kitab Tawaalit Ta-siis, hlm. 130-132; juga kitab Bid'atut Ta'ashshub karya Muhammad 'led 'Abbasi.

[4]     Lihat kitab Manaaqibusy Syafi'i oleh Imam Baihaqi (I/158).

[5]     Manaaqibusy Syafi'i oleh al-Baihaqi (I/112).

[6]     Al-Intiqaa’ (hlm.97).

[7]     Al-Bidaayah wan Nihaayah (X/263).

[8]     Dari kisah ini dapat kita simpulkan bahwa generasi  salaf رحمهم الله selalu mendengar ucapan pemimpinnya sekalipun mereka dizhalimi dan dipenjara. Mereka tidak memandang bahwa mereka harus berontak kepadanya. Imam asy-Syafi'i رحمه الله misalnya, seperti pada kasusnya ini. Sekalipun dianiaya, ia tetap tidak mengucapkan kata-kata yang buruk dan menyakitkan. Untuk tambahan, silakan Anda baca kitab as-Sunnnah oleh Imam al-Khallal (1/73). Lihat pula ujian yang menimpa Imam Ahmad رحمه الله berkenaan dengan pendapat yang mengatakan bahwa al-Qur-an adalah makhluk.

[9]     Ibid. (I/159).

[10]    Ibid.

[11]    'Aadaabusy Syafi'i (hlm. 33-34).

[12]    Imam asy-Syafi'i dianggap seorang Arab badui/pedusunan karena, -wallaahu 'alam- beliau memakai pakaian seperti mereka atau karena bahasa Arabnya seperti mereka yang begitu fasih, dan hafal ucapan-ucapan mereka, wallaahu a'lam.

[13]    Tawaalit Ta-siis (hlm. 56).

[14]    Lihat kitab Sifatush Shafwah (II/250).

[15]    'Aadaabusy Syafi'i (hlm. 44).

[16]    Manaaqibusy Syafi'i (I/220).

[17]    Manaaqibul Baihaqi (I/220) dan Tawaalit Ta-siis (hlm. 72).

[18]    Lihat kitab Manaaqibusy Syafi'i oleh al-Baihaqi (I/463-465).

[19]    Diiwaanusy Syaafi'i (hlm. 47).

[20]    Manaaqibul Baihaqi (II/284).

[21]    Ibid. (II/284).

[22]    Ibid. (I/238).

[23]    Ibid. (II/291).

[24]    Manaaqibusy Syaafi'i oleh al-Baihaqi (11/293-294), 'Aadaabusy Syafi'i (hlm. 77), dan Diiwaanusy Syaafi'i (hlm. 78).

Biografi Imam Syafií Bagian 1



NAMA IMAM ASY-SYAFI'I رحمه الله DAN NASABNYA

Imam asy-Syafi'i رحمه الله adalah Muhammad bin Idris bin al-'Abbas bin 'Utsman bin Syaffi'i bin as-Saib bin 'Ubaid bin 'Abdu Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin 'Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib, Abu 'Abdillah al-Qurasyi asy-Syafi'i al-Makki, keluarga dekat Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan putra pamannya.
Al-Muththalib adalah saudara Hasyim, ayah dari 'Abdul Muththalib. Kakek Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan kakek Imam asy-Syafi'i رحمه الله berkumpul (bertemu nasabnya) pada 'Abdi Manaf bin Qushay,  kakek  Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang ketiga.
Imam an-Nawawi رحمه الله berkata: "Imam asy-Syafi'i رحمه الله adalah Qurasyi (berasal dari suku Quraisy) dan Muththalibi (keturunan Muththalib) berdasarkan ijma' para ahli riwayat dari semua golongan, sementara ibunya berasal dari suku Azdiyah".
Imam asy-Syafi'i رحمه الله dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama Syafi' bin as-Saib, seorang Sahabat kecil yang sempat bertemu dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika masih muda.
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Nabi صلى الله عليه وسلم berada di sebuah tempat yang bernama Fusthath. Kemudian, datanglah kepadanya as-Saib bin ‘Ubaid beserta putranya yaitu, Syafi' bin as-Saib. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم memandangnya dan bersabda:
مِنْ سَعَادَةِ الْـمَرْءِ أَنْ يُشْبِهَ أَبَاهُ
"Suatu kebahagiaan bila seseorang mirip dengan ayahnya,"
As-Saib bin 'Ubaid sendiri mirip dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Pada Perang Badar ia memegang bendera Bani Hasyim bersama pasukan musyrikin. Setelah tertawan, ia menebus dirinya dan masuk Islam. Ketika ia ditanya: "Mengapa engkau tidak memeluk Islam sebelum engkau menebus dirimu?" Ia menjawab: "Tidak patut aku menghalangi kaum Mukminin (untuk menerima tebusan dariku) karena keinginan mereka yang begitu besar (agar aku menebus) diriku."
Imam al-Hakim رحمه الله meriwayatkan dalam Manaaqibusy Syafi’i dengan sanadnya bahwa as-Saib suatu ketika jatuh sakit. Maka Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه mengajak para Sahabat untuk menjenguknya. "As-Saib adalah orang Quraisy yang paling murni nasabnya,"  ucap  Umar رضي الله عنه. Ketika ia didatangkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم bersama dengan al-Abbas رضي الله عنه, pamannya, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
هَذَا أَحِى، وَأَنَا أَحُوْهُ
"Ini saudaraku dan aku saudaranya."



GELAR IMAM ASY-SYAFI’I رحمه الله

Adapun gelarnya adalah "Naashirul Hadiits" (pembela hadits). Beliau mendapat gelar ini karena dikenal sebagai pembela hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan komitmennya dalam mengikuti sunnah.  Rincian rentang hal ini, insya Allah akan ada dalam pembahasan mengenai manhaj-nya dalam menetapkan aqidah.

Pembahasan Kedua:
KELAHIRAN DAN PERTUMBUHANNYA

A.  TAHUN KELAHIRANNYA

Para sejarawan sepakat bahwa Imam asy-Syafi'i رحمه الله lahir pada tahun 150 H, yang merupakan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah رحمه الله.
Imam al-Hakim رحمه الله berkata: "Saya tidak menemukan adanya perselisihan pendapat bahwa Imam asy-Syafi'i رحمه الله lahir pada tahun 150 H, tahun wafatnya Imam Abu Hanifah رحمه الله. Hal ini mengisyaratkan bahwa Imam asy-Syafi'i رحمه الله menggantikan Imam Abu Hanifah رحمه الله dalam bidang yang digelutinya."
Ada pendapat yang mengatakan bahwa Imam asy-Syafi'i رحمه الله lahir pada hari meninggalnya Imam Abu Hanifah. Pendapat ini disinyalir tidak benar, tetapi pendapat ini bukan pendapat yang sangat lemah karena Abul Hasan Muhammad bin Husain bin Ibrahim رحمه الله dalam Manaaqibusy Syafi'i meriwayatkan dengan sanad jayyid bahwa Imam ar-Rabi' bin Sulaiman رحمه الله berkata: "Imam asy-Syafi'i lahir pada hari kematian Imam Abu Hanifah." Namun, kata yaum pada kalimat ini dapat diartikan lain karena secara umum, kata itu bisa diartikan masa atau zaman.
Menurut pendapat yang shahih, Imam Abu Hanifah رحمه الله wafat pada tahun 150 H. Akan tetapi, ada yang berpendapat bahwa beliau wafat pada tahun 151 H. Pendapat lainnya lagi menyatakan bahwa beliau wafat pada tahun 153 H. Hanya saja, saya tidak menemukan dalam buku-buku tarikh (sejarah) yang menyebutkan bulannya secara pasti. Dengan demikian, para sejarawan tidak ada yang berselisih sebagaimana yang telah dikemukakan bahwa Imam asy-Syafi'i رحمه الله lahir pada tahun 150 H., namun tidak ada yang memastikan bulannya. Inilah yang menjadikan penuturan Imam ar-Rabi' bin Sulaiman tersebut lebih mungkin dapat dipahami jika dilihat tidak secara lahiriyah-nya, melainkan dengan cara ditakwil, yaitu kata yaum yang dimaksudkan adalah masa atau zaman. Wallaahu a'lam.

B.   TEMPAT KELAHIRANNYA

Ada banyak riwayat yang menyebutkan tentang tempat kelahiran Imam asy-Syafi'i رحمه الله. Yang paling populer adalah beliau dilahirkan di kota Ghazzah. Pendapat lain mengatakan di kota 'Asqalan, sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa beliau dilahirkan di Yaman.
Disebutkan dalam riwayat Ibnu Abi Hatim رحمه الله dari 'Amr bin Sawad, ia berkata: "Imam asy-Syafi'i رحمه الله berkata kepadaku: "Aku dilahirkan di negeri 'Asqalan. Ketika aku berusia dua tahun, ibuku membawaku ke Makkah."
Sementara Imam al-Baihaqi menyebutkan dengan sanadnya, dari Muhammad bin 'Abdillah bin 'Abdul Hakim, ia berkata: "Aku mendengar Imam asy-Syafi'i رحمه الله berkata: "Aku dilahirkan di negeri Ghazzah. Kemudian, aku dibawa oleh ibuku ke "Asqalan."
Dalam riwayat lain, Ibnu Abi Hatim رحمه الله meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada putra saudaranya, 'Abdullah bin Wahb رحمه الله, ia berkata: "Aku mendengar Muhammad bin Idris asy-Syafi'i رحمه الله berkata: "Aku dilahirkan di Yaman. Karena ibuku khawatir aku terlantar, ia pun berkata: "Temuilah keluargamu agar engkau menjadi seperti mereka sebab aku khawatir nasabmu terkalahkan. Maka ibuku membawaku ke Makkah ketika aku berusia sepuluh tahun.'"
Imam al-Baihaqi رحمه الله memadukan riwayat-riwayat ini. Setelah menyebutkan riwayat putra saudaranya, "Abdullah bin Wahb, ia berkata: "Begitulah yang terdapat dalam riwayat, yaitu bahwa Imam asy-Syafi'i رحمه الله dilahirkan di Yaman. Akan tetapi, menurut pendapat yang shahih, ia dilahirkan di kota Ghazzah."
Selanjutnya al-Baihaqi berkata: "Ada kemungkinan yang ia maksudkan adalah tempat yang dihuni oleh sebagian keturunan Yaman di kota Ghazzah."
Lebih lanjut, al-Baihaqi رحمه الله berkata: "Seluruh riwayat menunjukkan bahwa Imam asy-Syafi'i dilahirkan di kota Ghazzah kemudian ia dibawa ke 'Asqalan lalu ke Makkah. Wallaahu a'lam.
Al-Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: "Tidak ada pertentangan antara satu riwayat dengan riwayat yang lain. 'Asqalan adalah kota yang sejak dahulu telah dikenal, sementara Ghazzah berdekatan dengan-nya. Jadi, bila Imam asy-Syafi'i mengatakan bahwa ia dilahirkan di 'Asqalan, berarti maksudnya adalah kotanya, sedangkan Ghazzah adalah kampungnya."
Ibnu Hajar رحمه الله kembali berkata: "Pendapat-pendapat ini dapat dipadukan, yakni bahwa Imam asy-Syafi'i dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di 'Asqalan. Ketika memasuki usia dua tahun, ibunya membawanya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang terdiri dari orang-orang Yaman karena ibunya dari suku Azdiyah. Ketika Imam asy-Syafi'i berumur sepuluh tahun, ia dibawa ke Makkah karena ibunya khawatir nasab (keturunannya) yang mulia itu lenyap dan terlupakan."
Dengan penggabungan riwayat-riwayat ini, hilanglah ketidakjelasan dan pertentangan antara seluruh riwayat. Wallaahu a'lam.

C.  PERTUMBUHAN DAN KEGIATANNYA
DALAM MENCARI ILMU

Imam asy-Syafi'i رحمه الله tumbuh di negeri Ghazzah sebagai seorang yatim setelah ayahnya meninggal. Oleh karena itu, berkumpullah pada dirinya kefakiran, keyatiman, dan keterasingan dari keluarga. Namun, kondisi ini tidak menjadikannya lemah dalam menghadapi kehidupan setelah Allah عزّوجلّ memberinya taufik untuk menempuh jalan yang benar. Setelah sang ibu membawanya ke tanah Hijaz, yakni kota Makkah, menurut riwayat terbanyak atau tempat dekat Makkah, mulailah Imam asy-Syafi'i رحمه الله menghafal al-Qur-an sehingga ia berhasil merampungkan hafalannya pada usia tujuh tahun.
Imam asy-Syafi'i رحمه الله bercerita: "Aku hidup sebagai yatim di dalam asuhan lbuku. Ibuku tidak mampu membayar seorang guru untuk mengajariku. Tetapi, guru itu ridha dan senang jika aku menjadi penggantinya. Maka setelah aku menamatkan al-Qur-an, aku hadir di masjid dan berkumpul bersama para ulama untuk menghafal hadits atau masalah agama, sementara tempat tinggal kami terletak di Jalan Bukit al-Khaif. Aku menulis (apa yang aku dapatkan) di atas tulang. Setelah banyak, tulang-tulang (yang berisi tulisan itu) aku masukkan ke dalam sebuah bejana besar."
Imam asy-Syafi'i رحمه الله berkata: "Aku datang ke Makkah ketika berusia sepuluh tahun atau sekitar itu. Setelah aku bergabung dengan sanak saudara di sana dan ketika salah seorang dari mereka melihatku bersemangat untuk mencari ilmu, ia pun menasehatiku: 'Janganlah tergesa-gesa dalam (mempelajari) ilmu ini dan bersungguh-sungguhlah atas apa yang bermanfaat bagimu.' Maksudnya, bekerja mencari nafkah. Beliau berkata: "Maka kujadikan kelezatanku dalam menuntut ilmu sehingga Allah عزّوجلّ menganugerahkan rizki karenanya."   Selanjutnya, ia berkata: "Aku miskin, tidak punya harta, dan aku belajar ketika masih kecil. Untuk mendapatkan ilmu, aku harus pergi ke perpustakaan dan menggunakan bagian luar dari kulit yang aku jumpai untuk menuliskannya."
Imam asy-Syafi'i begitu tekun belajar sehingga ia dapat menghafal al-Qur-an pada usia 7 tahun dan hafal kitab al-Muwaththa' (karya Imam Malik رحمه الله, -pent.) dalam usia 10 tahun. Pada saat ia berusia 15 tahun (ada yang mengatakan 18 tahun). Imam asy-Syafi'i berfatwa setelah mendapat izin dari syaikhnya yang bernama Muslim bin Khalid az-Zanji رحمه الله. Imam asy-Syafi'i رحمه الله menaruh perhatian yang besar kepada sya'ir dan bahasa sehingga ia hafal sya'ir dari suku Hudzail.
Bahkan, ia hidup bergaul bersama mereka selama sepuluh atau dua puluh tahun menurui satu riwayat. Kepada merekalah Imam asy-Syafi'i belajar bahasa Arab dan balaghah. Imam asy-Syafi'i belajar banyak hadits kepada para syaikh dan imam. Dia membaca sendiri kitab al-Muwaththa' di hadapan Imam Malik bin Anas رحمه الله dengan hafalan sehingga Imam Malik pun kagum terhadap bacaan dan kemauannya. Imam asy-Syafi'i رحمه الله juga menimba dari Imam Malik رحمه الله; ilmu para ulama Hijaz setelah ia mengambil banyak ilmu dari Syaikh Muslim bin Khalid az-Zanji رحمه الله. Selain itu, Imam asy-Syafi'i رحمه الله juga mengambil banyak riwayat dari banyak ulama, juga belajar al-Qur-an kepada Isma'il bin Qasthanthin (yang diriwayatkan, -ed) dari Syibl, dari Ibnu Katsir al-Makki, dari Mujahid رحمه الله, dari Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما, dari Ubay bin Ka'ab رضي الله عنه dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Pembahasan Ketiga:
PENGEMBARAAN IMAM ASY-SYAFFI رحمه الله
DALAM MENCARI ILMU

Setelah Imam asy-Syafi'i رحمه الله hafal al-Qur-an al-Karim di Makkah, beliau pun senang akan sya'ir dan bahasa sehingga ia selalu bolak-balik ke suku Hudzail untuk menghafal sya'ir-sya'ir mereka. Yang tampak adalah bahwa ia telah hafal banyak dari sya'ir-sya'ir mereka sejak kecil, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Abarri melalui jalur ar-Rabi' bin Sulaiman", ia berkata: "Aku mendengar Imam asy-Syafi'i berkata: 'Ketika aku berada di sebuah tempat belajar, aku mendengar seorang guru mengajarkan suatu kalimat lalu aku menghafalnya.' Katanya lagi: 'Aku keluar dari Makkah sesudah menginjak usia baligh. Setelah itu, aku menetap di tengah-tengah suku Hudzail di pedusunan. Aku mempelajari bahasa dan mengambil ucapan-ucapan mereka. Sungguh, mereka adalah kabilah Arab yang paling fasih bahasanya."
Imam al-Hakim رحمه الله meriwayatkan melalui jalur Mush'ab az-Zubairi, ia berkata: "Imam asy-Syafi'i membaca sya'ir-sya'ir Hudzail dengan cara dihafal. Kemudian, ia berkata kepadaku: 'Jangan kamu ceritakan ini kepada siapa pun.' Di permulaan malam, ia mengulang-ulang pelajarannya bersama ayahku hingga shubuh." Pada awalnya, Imam asy-Syafi'i belajar sya'ir, sejarah, dan peperangan bangsa Arab, juga sastra, dan setelah itu baru belajar fiqih. Yang mendorongnya mendalami ilmu fiqih adalah karena ketika Imam asy-Syafi'i pergi menaiki seekor binatang, ia pun membaca bait-bait sya'ir. Mendengar bacaan itu, berkata kepadanya sekretaris orang tuanya, Mush'ab bin 'Abdullah az-Zubairi: "Orang seperti kamu jika menjadi penyair akan hilang perangainya sebagai manusia, kecuali engkau belajar fiqih." Dari kejadian tersebut tergugahlah hati Imam asy-Syafi'i رحمه الله untuk mendalami fiqih. Sesudah itu, ia pun mendatangi Muslim bin Khalid az-Zanji, seorang mufti Makkah, dan berguru kepadanya. Selanjutnya, Imam asy-Syafi'i pergi ke Madinah untuk belajar kepada Imam Malik.
Diriwayatkan bahwa yang menyuruhnya mendalami fiqih adalah syaikhnya sendiri, yaitu Muslim bin Khalid az-Zanji رحمه الله, seperti disebutkan dalam riwayat al-Baihaqi melalui jalur Abu Bakar al-Humaidi رحمه الله, ia berkata: "Imam asy-Syafi'i bercerita: 'Aku keluar untuk belajar nahwu dan sastra. Kemudian, aku berjumpa dengan Syaikh Muslim bin Khalid az-Zanji رحمه الله lalu ia bertanya kepadaku: 'Hai, anak muda, dari mana asalmu?' Aku menjawab: 'Dari keluarga yang berasal dari Makkah.' 'Di mana kamu tinggal,' tanyanya lagi. Aku menjawab: 'Di Jalan Bukit al-Khaif.' 'Dari suku apa?' tanyanya lagi. 'Dari keturunan 'Abdi Manaf.' jawabku. Maka Syaikh Muslim berkata: 'Bagus, bagus. Allah عزّوجلّ telah memuliakanmu di dunia dan akhirat. Alangkah baiknya jika engkau mempelajari fiqih."
Apa pun yang melatarbelakangi Imam asy-Syafi'i رحمه الله  mempelajari fiqih, keterangan-keterangan di atas menunjukkan bahwa setelah menghafal al-Qur-an, Imam asy-Syafi'i رحمه الله pergi ke suku Hudzail di sekitar Makkah untuk mempelajari bahasa mereka dan menghafal sya'ir-sya'irnya. Setelah itu, ia mengubah orientasinya untuk mendalami fiqih dan berguru kepada seorang mufti Makkah, yaitu Syaikh Muslim bin Khalid az-Zanji رحمه الله. Sesudah Imam asy-Syafi'i banyak menimba ilmu darinya, barulah ia mengadakan pengembaraan pertama ke Madinah.
A.  PENGEMBARAANNYA KE MADINAH DAN PERTEMUANNYA DENGAN IMAM MALIK BIN ANAS رحمه الله

Sebelum pergi ke Madinah untuk menemui Imam Malik, Imam asy-Syafi'i رحمه الله terlebih dahulu mempersiapkan diri dengan menghafal kitab al-Muwaththa'. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ia hafal kitab tersebut dalam usia sepuluh tahun. Riwayat lain menyebutkan ia hafal pada usia tiga belas tahun.  Tentang perjalanannya untuk bertemu dengan Imam Malik, Imam asy-Syafi'i bercerita sebagai berikut: "Aku keluar dari Makkah untuk hidup dan bergaul dengan suku Hudzail di pedusunan. Aku mengambil bahasa mereka dan mempelajari ucapannya. Mereka adalah suku Arab yang paling fasih. Setelah beberapa tahun tinggal bersama mereka, aku pun kembali ke Makkah. Kemudian, aku membaca sya'ir-sya'ir mereka, menyebut peristiwa, dan peperangan bangsa Arab. Ketika itu, lewatlah seorang dari suku az-Zuhri, ia berkata kepadaku: 'Hai, Abu 'Abdillah, sayang sekali jika keindahan bahasa yang engkau kuasai tidak diimbangi dengan ilmu dan fiqih.' 'Siapakah orang yang patut aku temui?' tanyaku. Ia menjawab: 'Malik bin Anas, pemimpin ummat Islam.' Imam asy-Syafi'i رحمه الله berkata: 'Maka timbullah minatku untuk mempelajari kitab al-Muwaththa'. Untuk itu, aku meminjam kitab tersebut pada seorang laki-laki di Makkah. Setelah menghafalnya, aku pergi menjumpai Gubernur Makkah dan mengambil surat untuk aku berikan kepada Gubernur Madinah dan Imam Malik bin Anas.
Sesampainya aku di Madinah, aku memberikan surat tersebut kepada Gubernur. Setelah membaca surat itu, Gubernur Madinah berkata: 'Wahai, pemuda, aku lebih suka jalan kaki dari pedalaman Madinah ke pedalaman Makkah daripada harus menghadap Imam Malik. Aku tidak pernah melihat kehinaan itu hingga aku berdiri di depan pintunya.' Aku berkata kepadanya: 'Jika ia melihat gubenur yang menuju kepadanya, tentu dia akan siap hadir.' Gubernur Madinah menjawab: 'Tidak mungkin. Andaikan aku datang berkendaraan bersama pengawalku dalam keadaan berlumuran debu lembah, barulah ia mau melayani hajat kita.' Sesudah itu, aku pun membuat janji dengan Imam Malik pada waktu 'Ashar lalu berangkatlah kami kepadanya.
Setelah sampai di rumah Imam Malik, pria yang mendampingi kami mengetuk pintu. Keluarlah seorang budak wanita hitam. 'Beritahukanlah kepada tuanmu, bahwa kami datang dan berada di depan pintu,' tutur Gubernur Madinah. Budak wanita itu pun masuk. Setelah lama menunggu, budak itu keluar dan mengatakan kepada kami: 'Kalau punya masalah, harap ditulis, dan akan diberikan jawabannya secara tertulis pula. Bila ingin belajar hadits, diharap datang pada jadwal yang telah ditentukan. Karena itu, kembalilah!' Mendengar keterangan budak wanita itu, Gubernur Madinah berkata: 'Katakan kepada tuanmu, saya membawa surat dari Gubernur Makkah. Ada yang ingin dibicarakan berkaitan dengannya.' Budak wanita itu masuk kembali lalu keluar lagi dengan membawa kursi. Tidak lama kemudian keluarlah Imam Malik رحمه الله, seorang syaikh berbadan tinggi dan penuh wibawa mengenakan baju gamis (hijau).
Gubernur Madinah lantas menyerahkan surat itu. Kemudian, gubernur itu berkata: 'Pemuda ini seorang yang terhormat, baik akhlak dan kepandaiannya. Maka sampaikanlah hadits kepadanya.' Mendengar ucapan itu, Imam Malik mencampakkan surat tersebut lalu berkata: 'Subhanallah, ilmu Rasulullah صلى الله عليه وسلم diambil dengan cara-cara ini.' Aku melihat sang gubernur pun takut untuk bicara dengan beliau. Kemudian, aku maju dan memberanikan diri, aku berkata: "Semoga Allah memperbaikimu. Aku adalah keturunan Muththalib, semoga Allah tetap menjadikan tuan sebagai orang yang shalih.' Imam Malik bin Anas رحمه الله memandangku sesaat, seakan-akan ia mempunyai firasat, kemudian ia bertanya: 'Siapa namamu?' Aku menjawab: 'Muhammad.' Ia berkata: 'Hai, Muhammad, bertakwalah kepada Allah. Tinggalkanlah maksiat, maka engkau akan menjadi orang besar.' Aku menjawab: 'Ya, juga seorang yang diberi kemuliaan.' Imam Malik berkata: 'Datanglah besok, dan akan ada orang yang akan membacakan kitab itu (al-Muwaththa') untukmu.' Aku berkata: 'Sesungguhnya saya dapat menghafalnya."
Imam asy-Syafi'i melanjutkan: "Besoknya aku datang pagi-pagi dan mulailah aku membaca kitab itu. Namun, acapkali saya ingin menghentikan bacaan karena segan kepadanya. Imam Malik رحمه الله tertarik kepada bacaan dan i'rab saya yang bagus." Imam Malik berkata: 'Hai, anak muda, bacalah lagi.' Akhirnya, aku membaca kitab karangannya itu di hadapannya dalam beberapa hari saja. Setelah itu, aku tinggal di Madinah hingga Imam Malik bin Anas wafat."
Kemudian, Imam asy-Syafi'i menceritakan pengembaraannya ke negeri Yaman.
Yang jelas, tinggalnya Imam asy-Syafi'i رحمه الله di Madinah tidak terus-menerus, melainkan diselingi oleh kepulangannya ke Makkah untuk menengok ibunya. Dalam kepulangannya itu, ia menyempatkan diri mendengarkan sya'ir-sya'ir suku Hudzail dan belajar kepada ulama Makkah.
Sejumlah riwayat dan keterangan menyebutkan bahwa Imam asy-Syafi'i رحمه الله pergi ke Madinah dalam usia tiga belas tahun, yakni sekitar tahun 163 H. Kemudian, ia pulang pergi antara Madinah, Makkah, dan perkampungan Hudzail meskipun kebanyakannya ia menetap di Madinah mendampingi Imam Malik bin Anas رحمه الله hingga beliau wafat pada tahun 179 H. Setelah itu, barulah Imam asy-Syafi'i رحمه الله pulang ke Makkah sesudah memperoleh banyak ilmu dari Imam Malik. Maka mulailah nama dan keilmuannya terkenal, padahal umurnya pada saat itu baru 29 tahun. Pada fase ini Imam asy-Syafi'i telah berguru kepada Sufyan bin 'Uyainah, Muslim bin Khalid az-Zanji, Ibrahim bin Abu Yahya, dan Malik bin Anas رحمه الله di Madinah. Selain itu, ia pun belajar kepada ulama lainnya, sebagaimana dituturkan oleh Mush'ab az-Zubairi: "Imam asy-Syafi'i telah mengambil hampir semua ilmu yang dimiliki oleh Imam Malik bin Anas dan menghimpun ilmu para syaikh yang ada di Madinah."

B.  PENGEMBARAANNYA KE YAMAN

Sekembalinya dari Madinah ke Makkah, Imam asy-Syafi'i رحمه الله sibuk dengan ilmunya. Sementara itu, jiwanya sangat gandrung terhadap ilmu sekalipun ia tidak mampu membeli kitab-kitab karena miskin. Begitulah sifat para ulama yang telah dianugerahi oleh Allah عزّوجلّ kelezatan meraih ilmu. Mereka tidak akan pernah merasa puas dengan ilmu yang dimilikinya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun telah menyatakan hal itu dalam haditsnya:
مَنْهُوْمَانِ لَا يَشْبَعَانِ طَالِبُ الْـعِلْمِ وطَالِبُ دُنْيَا
"Dua orang yang rakus yang tidak pernah merasa kenyang: pencari ilmu dan pencari dunia."
Jiwa Imam asy-Syafi'i sangat haus akan ilmu ulama Yaman, sementara yang tersisa dari para ulama Yaman yang merupakan pemuka ulama adalah sahabat Ibnu Juraij , yaitu Hisyam bin Yusuf dan Mutharrif bin Mazin . Ibnu Juraij sendiri mengambii ilmu dari Imam 'Atha.  Namun, karena tidak memiliki biaya cukup, Imam asy-Syafi'i رحمه الله tidak dapat pergi ke Yaman. Ia sendiri telah mendengar dari teman-teman dekatnya bahwa Yaman adalah gudang ilmu, baik ilmu firasat maupun ilmu lainnya sehingga ia berminat untuk berangkat ke negeri tersebut. Hal ini hanya diketahui oleh para sahabat dekatnya dan orang-orang yang bergaul dengannya.
Oleh karena itu, ketika ada seorang Thalibi menjadi pejabat di Yaman, ibunya mendatangi saudara-saudara Imam asy-Syafi'i, meminta agar memohon kepada pria tersebut untuk bersedia pergi bersama Imam asy-Syafi'i ke Yaman. Kemudian, ia pun menyetujuinya, tetapi ibu Imam asy-Syafi'i tidak mempunyai (bekal) yang dapat diberikan kepada Imam asy-Syafi'i. Maka ibunya pun menggadaikan rumah seharga 16 dinar kemudian uang itu diberikan kepadanya.
Imam asy-Syafi'i رحمه الله menceritakan kepergiannya ke negeri Yaman: "Aku berangkat dengan pria itu dengan biaya tersebut. Sesampainya di Yaman, aku diberi suatu pekerjaan. Karena kerjaku bagus, pekerjaanku ditambah. Ketika para pekerja Makkah pulang pada bulan Rajab, mereka pun memuji-mujiku hingga aku menjadi buah bibir di sana. Setelah itu, aku pulang dari Yaman. Ketika aku menghadap Ibnu Abi Yahya, yang aku pernah belajar kepadanya, aku pun mengucapkan salam. Dia mencelaku: 'Engkau belajar kepadaku, tetapi kemudian engkau bekerja? Ingat! Apabila sesuatu telah memasuki dunia seseorang, dia akan betah tinggal di sana. ' Mendengar ucapannya itu, aku pamit. Kemudian, aku menemui Sufyan bin 'Uyainah. Setelah aku mengucap salam, ia menyambutku lalu berkata: 'Informasi tentang-mu telah kudengar. Engkau dikenal orang banyak, apa yang engkau perbuat karena Allah Ta’ala akan kembali kepadamu. Sebaiknya engkau jangan berlebihan.' Imam asy-Syafi'i berkata: 'Nasihat Sufyan bin 'Uyainah ini lebih menggugah hatiku daripada nasihat Ibnu Abi Yahya.'"
Selanjutnya, Imam asy-Syafi'i رحمه الله menceritakan kepulangannya dari Yaman, sebagian kegiatannya di negeri itu, kegigihannya menegakkan keadilan, dan kesungguhannya dalam mencari ilmu sehingga namanya dikenal oleh banyak orang. Barangkali ia dibenci atas prestasinya itu oleh pecinta dunia karena mereka takut ia mendapat simpati dari orang-orang sehingga terjadi pertentangan di tubuh pemerintahan.  Oleh karena itu, seorang panglima Khalifah Harun ar-Rasyid mengirim surat kepada Khalifah Harun ar-Rasyid yang isinya: "Orang-orang khawatir terhadap bahaya kaum 'Alawiyyin karena di kalangan mereka ada seorang pemuda yang bernama Muhammad bin Idris yang dengan lisannya dapat berbuat lebih berbahaya ketimbang pembunuh dengan pedangnya. Oleh karena itu, jika tuan memiliki kepentingan terhadap negeri Hijaz, asingkanlah mereka darinya." Maka Imam asy-Syafi'i رحمه الله diasingkan ke Irak dalam keadaan diikat tangannya bersama beberapa orang 'Alawiyyin.
Inilah sekilas tentang kepergiannya ke negeri Yaman. Cerita ini menunjukkan bahwa ketika ia menetap di Yaman, ia sempat pulang ke Makkah. Inilah yang menjadikan sebagian penulis berpendapat bahwa kepergiannya ke negeri Yaman dilakukannya berkali-kali. Pendapat ini bisa dibenarkan jika dilihat seringnya Imam asy-Syafi'i pulang ke Makkah, tetapi jika ditilik dari asal kepergiannya pertama kali, maka itu hanya satu kali, tidak berkali-kali. Yaitu, ia pergi dengan tujuan menuntut ilmu lalu karena seorang pejabat Yaman dari keturunan Thalibiyyin melihat Imam asy-Syafi'i رحمه الله butuh biaya untuk mencari ilmu, maka ia memberinya pekerjaan agar cita-citanya tercapai.
Ketika prestasinya baik, ia diberi pekerjaan tambahan, namun Imam asy-Syafi'i رحمه الله senantiasa mencari celah untuk meraih ilmu hingga akhirnya setelah terkenal, ia pun mendapat cobaan.

BIOGRAFI AL-IMAM ASY-SYAFI'I RAHIMAHULLAH

Sesungguhnya diantara tanda Allah menghendaki kebaikan bagi hambaNya adalah Allah menjadikannya cinta dengan ilmu. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan menjadikannya faqih/faham tentang agama" (HR Al-Bukhari)

Dan diantara keagungan agama ini Allah telah menjadikan adanya para imam yang memikul ilmu agama, yang menjelaskan kepada umat tentang urusan agama. Merekalah cahaya yang menerangi jalan menuju kebaikan…merekalah yang sangat dibutuhkan oleh orang yang menghadapi kebingungan dalam urusan agama mereka…, merekalah penyejuk hati bagi orang yang menghadapi problematika kehidupan dan berusaha mencari solusi agamis…, merekalah para pejuang yang memerangi jalan-jalan kesesatan yang selalu siap menyimpangkan umat ini…, merekalah yang Allah perintahkan umat agar bertanya kepada mereka dalam firmanNya :
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan/ilmu jika kamu tidak mengetahui" (QS An-Nahl : 43)

Banyak para imam umat ini yang kita banggakan, akan tetapi diantara mereka ada 4 imam yang tersohor, yaitu para pendiri 4 madzhab. Mereka itu adalah Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik bin Anas, Al-Imam Asy-Syaf'i dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah.

Meskipun ada madzhab-madzhab fikih yang lain akan tetapi keempat madzhab inilah yang diterima secara luas dalam dunia Islam hingga saat ini. Bahkan sebagian negeri dikenal dengan madzhab tertentu. Madzhab Syafi'i banyak tersebar di negara-negara Asia tenggara, madzhab Maliki banyak tersebar di negeri-negeri Afrika, madzhab Hanafi banyak tersebar di India, Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan, dan juga di China, adapun madzhab Hanbali banyak tersebar di negeri-negeri Arab, khususnya Arab Saudi.

          Diantara keempat imam tersebut yang sangat cemerlang adalah Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah, beliaulah pendiri dan pemrakasa madzhab Syafi'i yang merupakan madzhab yang banyak dianut di bumi pertiwi nusantara ini.

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Idris bin Al-'Abbas bin 'Utsman bin Syaafi' bin As-Saaib bin 'Ubaid bin 'Abd Yaziid bin Haasyim bin Al-Muthollib bin 'Abdi Manaaf, sehingga nasab beliau bermuara kepada Abdu Manaaf kakek buyut Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Al-Muthollib adalah saudaranya Hasyim ayahnya Abdul Muthholib kakek Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan kepada Syafi' bin As-Saaib penisbatan Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah (lihat Siyar A'laam An-Nubalaa 10/5-6 dan Tobaqoot Asy-Syaafi'iyah Al-Kubro 2/71-72)

Meskipun nenek moyang beliau suku Quraisy di Mekah akan tetapi beliau tidak lahir di Mekah, karena ayah beliau Idris merantau di Palestina. Sehingga beliau dilahirkan di Ghozza (Palestina) dan ada yang mengatakan bahwa beliau lahir di 'Asqolan pada tahun 150 Hijriah, tahun dimana wafatnya Al-Imam Abu Hanifah An-Nu'man bin Tsaabit Al-Kuufi rahimahullah, bahkan ada pendapat yang menyatakan di hari wafatnya Al-Imam Abu Hanifah.

Ayah beliau Idris meninggal dalam keadaan masih muda, hingga akhirnya Imam Asy-Syafi'i dipelihara oleh ibunya dalam kondisi yatim. Karena khawatir terhadap anaknya maka sang ibu membawa beliau –yang masih berumur 2 tahun- ke kampung halaman aslinya yaitu Mekah, sehingga beliau tumbuh berkembang di Mekah dalam kondisi yatim. Beliau menghafal Al-Qur'an  tatkala berusia 7 tahun, dan menghafal kitab Al-Muwattho' karya Imam Malik tatkala umur beliau 10 tahun. Ini menunjukkan betapa cerdasnya Al-Imam Asy-Syafi'i.

Beliaupun belajar dari para ulama Mekah, diantaranya Muslim bin Kholid Az-Zanji Al-Makky yang telah memberi ijazah kepada Al-Imam Asy-Syafi'i untuk boleh berfatwa padahal umur beliau masih 15 tahun. Lalu setelah itu beliau bersafar ke Madinah dan berguru bertahun-tahun kepada Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah.

Pada tahun 195 H beliau pergi ke Baghdad, dan beliau mengajar di sana sehingga banyak ulama yang berputar haluan dari madzhab ahli ro'yu menuju madzhab Syafi'i. di Baghdad beliau banyak menulis buku-buku lama beliau, setelah itu beliaupun kembali ke Mekah. Pada tahun 198 beliau kembali lagi ke Baghdad dan menetap di sana selama sebulan lalu beliau pergi ke Mesir dan menetap di sana meneruskan dakwah beliau hingga akhirnya beliau sakit bawasir yang menyebabkan beliau meninggal dunia pada tahu 204 Hijriyah, rahimahullah rahmatan waasi'ah.


Imam Syafi'i adalah seorang sosok yang memiliki banyak keistimewaan, diantaranya :

PERTAMA : Al-Imam Asy-Syafi'i adalah imam dalam lugoh (bahasa). Beliau telah banyak tinggal bersama Qobilah Hudzal dan menghafalkan banyak qoshidah (bait-bait sya'ir) mereka, sehingga hal ini sangat mempengaruhi kekuatan bahasa Arab beliau. Karenanya tidak pernah ditemukan kesalahan bahasa dari beliau sebagaimana ditemukan dari para ulama yang lain. Ibnu Hisyaam (penulis siroh Nabi) berkata الشَّافِعِيُّ حُجَّةٌ فِي اللُّغَةِ  "Asy-Syafi'i hujjah dalam bahasa Arab" (Al-Waafi bil Wafaayaat 19/143).

Adapun kritikan terhadap Al-Imam Asy-Syafi'i dalam masalah bahasa maka tidak mematahkan keimaman beliau dalam bahasa Arab. Diantara kritikan tersebut :

-         Beliau dikritik karena menyatakan bahwa huruf jar baa' (الباء) memberikan faedah التَّبْعِيْض "sebagian/parsial". Karenanya beliau menyatakan bolehnya mengusap sebagian kepala tatkala berwudu karena Allah berfirman (وَامْسَحُوا بِـرُؤُوْسِكُمْ). Maka beliaupun diingkari oleh sebagian ulama, mereka menyatakan bahwa huruf baa' tidak mengandung makna "parsial", dan ini tidak dikenal dalam bahasa Arab, dan tidak ada ahli bahasa yang menyebutkan bahwa diantara makna-makna yang dikandung huruf baa' adalah untuk parsial. Akan tetapi kenyataannya ternyata banyak ahli bahasa yang menetapkan makna ini (huruf baa' memberi makna faedah parsial) diantaranya adalah Al-Ashma'i dan ulama Kufiyiin (lihat Al-Bahr Al-Muhiith fi Ushuul Al-Fiqh li Az-Zarkasyi 2/15-16).

Ternyata juga setelah diamati ada bukti yang tegas bahwasanya Al-Imam Asy-Syafi'i menyatakan bahwa huruf baa' memberi faedah "parsial". Dan penisbatan hal ini kepada Al-Imam Asy-Syafi'i merupakan kekeliruan sebagaimana dijelaskan oleh Az-Zarkasy (Al-Bahrul Al-Muhiith (2/15). Bahkan jika kita kembali kepada kitab Al-Umm kita akan dapati bahwasanya Asy-Syafi'i berkata :

وَدَلَّتْ السُّنَّةُ على أَنْ ليس على الْمَرْءِ مَسْحُ الرَّأْسِ كُلِّهِ وإذا دَلَّتْ السُّنَّةُ على ذلك فَمَعْنَى الْآيَةِ أَنَّ مَن مَسَحَ شيئا من رَأْسِهِ أَجْزَأَهُ
"Sunnah menunjukkan bahwasanya tidak wajib bagi seseorang untuk mengusap seluruh kepalanya, dan jika sunnah telah menunjukkan demikian maka makna ayat adalah barang siapa yang mengusap sesuatupun dari kepalanya maka sudah cukup/sah) (lihat Al-Umm 1/26)

Yang dimaksud dengan sunnah oleh Al-Imam Asy-Syafi'i di sini adalah hadits tentang Nabi yang berwudu dengan mengusap ubun-ubun beliau saja tatkala beliau memakai sorban.

-         Beliau dikritik karena menafsirkan kata "الْعَوْلُ" dalam firman Allah
ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا (٣)
"Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya" (QS An-Nisaa :3).
Beliau tafsirkan dengan "كَثْرَةُ الْعِيَالِ" (banyaknya anak).
Tafsiran Asy-Syafi'i ini diingkari dengan keras oleh Ibnul 'Arobi yang bermadzhab Maliki, dan menyatakan bahwa tidak ada ahli bahasa yang berpendapat dengan pendapat Asy-Syafi'i (lihat Ahkaamul Qur'an li Ibnil 'Arobi 1/411). Akan tetapi perkataan Ibnul 'Arobi ini telah dibantah oleh para ulama. Makna tersebut ternyata telah disebutkan oleh Al-Kisaai dan Al-Farroo' (lihat Al-Haawi fi Fiqh Asy-Syaafi'i 11/415 dan Al-Majmuu' Syarh Al-Muhadzab 16/125). Bahkan Al-Qurthubi yang juga bermadzhab Malikiyah telah membantah perkataan Ibnul 'Arobi dengan menjelaskan bahwa tafsiran Asy-Syafi'i bukanlah tafsiran yang baru, telah mendahului beliau dua imam besar yaitu Zaid bin Aslam dan Jaabir bin Zaid (lihat Tafsiir Al-Qurthubi 5/21-22)


KEDUA : Sya'ir-sya'ir beliau yang istimewa

Al-Imam Asy-Syafi'i tidak banyak menulis sya'ir-sya'ir, akan tetapi sya'ir-sya'ir beliau sederhana mudah dipahami dan mengandung makna yang sangat dalam. Meskipun ada sya'ir-sya'ir para ulama bahasa yang lain yang lebih nampak ketinggian bahasanya dalam sya'ir-sya'ir mereka akan tetapi ternyata kesohoran sya'ir-sya'ir Asy-Syafi'i lebih besar karena kandungan makna yang dalam dengan penggunaan kata-kata yang sederhana.

Diantara sya'ir-sya'ir beliau ;
أمَتُّ مَطَامِعي فأرحْتُ نَفْسي ** فإنَّ النَّفسَ ما طَمعَتْ تهونُ
Aku bunuh sifat tamak yang ada pada diriku, maka akupun menenangkan diriku
Karena jiwa kapan ia tamak maka rendahlah jiwa tersebut

وَأَحْيَيْتُ القُنُوع وَكَانَ مَيْتاً ** ففي إحيائهِ عرضٌ مصونُ
Dan aku hidupkan sifat qona'ah pada diriku yang tadinya telah mati….
Maka dengan mengidupkannya harga dirikupun terjaga…

إذا طمعٌ يحلُ بقلبِ عبدٍ ** عَلَتْهُ مَهَانَةٌ وَعَلاَهُ هُونُ
Jika sifat tamak telah menetap di hati seorang hamba….maka ia akan didominasi oleh kehinaan dan dikuasai kerendahan

Beliau berkata :
نَعِيبُ زمانَنا والعيبُ فِيْنا *** وَما لِزَمانِنا عَيْبٌ سِوانا
"Kita mencela zaman kita, padahal celaan itu ada pada diri kita sendiri...
Dan zaman kita tidaklah memiliki aib/celaan kecuali kita sendiri"

Beliau berkata :
لَمَّا عَفَوْتُ وَلَمْ أحْقِدْ عَلَى أحَدٍ ** أَرَحْتُ نَفْسِي مِنْ هَمَّ الْعَدَاوَاتِ
Tatkala aku memaafkan maka akupun tidak membenci seorangpun…
Akupun merilekskan diriku dari kesedihan dan kegelisahan (yang timbul akibat) permusuhan

إنِّي أُحَيِّي عَدُوِّي عنْدَ رُؤْيَتِهِ ** لِأَدْفَعَ الشَّرَّ عَنِّي بِالتَّحِيَّاتِ
Aku memberi salam kepada musuhku tatkala bertemu dengannya…untuk menolak keburukan dariku dengan memberi salam

وأُظْهِرُ الْبِشْرَ لِلإِنْسَانِ أُبْغِضهُ ** كَمَا إنْ قدْ حَشَى قَلْبي مَحَبَّاتِ
Aku menampakkan senyum kepada orang yang aku benci… sebagaimana jika hatiku telah dipenuhi dengan kecintaan

النَّاسُ داءٌ وَدَاءُ النَّاسِ قُرْبُهُمُ ** وَفِي اعْتِزَالِهِمُ قَطْعُ الْمَوَدَّاتِ
Orang-orang adalah penyakit, dan obat mereka adalah dengan mendekati mereka… dan sikap menjauhi mereka adalah memutuskan tali cinta kasih


Beliau berkata :
بقَدْرِ الكدِّ تُكتَسَبُ المَعَــالي ....ومَنْ طَلبَ العُلا سَهِـرَ اللّيالي
Ketinggian diraih berdasarkan ukuran kerja keras…
Barang siapa yang ingin meraih puncak maka dia akan begadang

ومَنْ رامَ العُلى مِن ْغَيرِ كَـدٍّ .....أضَاعَ العُمرَ في طَـلَبِ المُحَالِ
Barang siapa yang mengharapkan ketinggian/kemuliaan tanpa rasa letih…
Maka sesungguhnya ia hanya menghabiskan usianya untuk meraih sesuatu yang mustahil…

تَرُومُ العِزَّ ثم تَنامُ لَيـلاً .....يَغُوصُ البَحْرَ مَن طَلَبَ اللآلي
Engkau mengharapkan kejayaan lantas di malam hari hanya tidur aja??
Orang yang yang mencari mutiara harus menyelam di lautan…


Beliau berkata :
إِذَا أَصْبَحْتُ عِنْدِي قُوْتُ يَوْمٍ ... فَخَلِّ الْهَمَّ عَنِّي يَا سَعِيْدُ
Jika di pagi hari dan aku telah memiliki makanan untuk hari ini…
Maka hilangkanlah kegelisahan dariku wahai yang berbahagia

وَلاَ هُتَخْطُرْ مُوْمُ غَدٍ بِبَالِي ... فَإِنَّ غَدًا لَهُ رِزْقٌ جَدِيْدُ
Dan tidaklah keresahan esok hari terbetik di benakku….
Karena sesungguhnya esok hari ada rizki baru yang lain

أُسَلِّمُ إِنْ أَرَادَ اللهُ أَمْراً ... فَأَتْرُكُ مَا أُرِيْدُ لِمَا يُرِيْدُ
Aku pasrah jika Allah menghendaki suatu perkara…
Maka aku biarkan kehendakku menuju kehendakNya


KETIGA : Tegar Di Atas Sunnah dan Memerangi Bid'ah

Al-Imam Asy-Syafi'i digelari dengan نَاصِرُ الْحَدِيْثِ "Penolong hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam". Pengagungan beliau terhadap sunnah-sunnah Nabi sangatlah nampak. Karenanya beliau sering berdebat dengan ahlul bid'ah dan mematahkan hujjah-hujjah mereka. Demikian juga di Baghdad adanya sikap mendahulukan ro'yu (pendapat) dari pada sunnah-sunnah Nabi, sehingga sunnah-sunnah Nabi ditolak dengan berbagai metode. Al-Imam Asy-Syafi'i datang dan membantah dan mematahkan pemikiran yang menyimpang tersebut. Akan datang penjelasan yang lebih dalam tentang bantahan Al-Imam Asy-Syafi'i terhadap ahlul bid'ah.


KEEMPAT : Kharismatik Al-Imam Asy-Syafi'i

Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah memiliki kharismatik dan daya tarik yang luar biasa, hingga ulama-ulama besar yang ada di Baghdad tertarik dengan beliau dan belajar kepada beliau. Seperti Al-Imam Ahmad bin Hanbal dan Abu Tsaur yang masing-masing ternyata memiliki madzhab tersendiri, akan tetapi mereka belajar kepada Al-Imam Asy-Syafi'i dan sangat mencintai dan mengagungkan Al-Imam Asy-Syafi'i. Abu Tsaur pernah ditanya :

"Manakah yang lebih faqih, Asy-Syafi'i ataukah Muhammad bin Al-Hasan?". Dan Muhammad bin Al-Hasan adalah guru Al-Imam Asy-Syafi'i, beliau menimba ilmu darinya tatkala beliau menetap di Baghdad.

Akan tetapi apa jawaban Abu Tsaur??. Beliau berkata :
الشافعي أفقه من محمد، وأبي يوسف، وأبي حنيفة، وحماد، وإبراهيم، وعلقمة، والأسود
"Asy-Syafi'i lebih faqih dari pada Muhammad bin Al-Hasan dan juga Abu Yusuf (Muhamamad bin Al-Hasan dan Abu Yusuf adalah murid senior Abu Hanifah-pen), dan lebih faqih dari Abu Hanifah, dan juga lebih faqih dari Hammad (gurunya Abu Hanifah-pen), dan lebih faqih dari Ibrahim (gurunya Hammad-pen), dan lebih faqih daripada 'Alqomah (gurunya Ibrahim-pen), dan lebih faqih daripada Al-Aswad (gurunya 'Alqomah)" (Mukhtashor Taarikh Dimasyq 6/434)

Padahal Abu Tsaur dahulunya mengikuti madzhab Ahlu Ro'yi di Baghdad sebelum datangnya Al-Imam Asy-Syafi'i. Jawaban Abu Tsaur ini menunjukkan kecintaan yang sangat dalam kepada Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah.

Lihatlah bagaimana cintanya Al-Imam Ahmad kepada gurunya Asy-Syafi'i, sehingga beliau pernah berkata :
سِتَّةٌ أَدْعُوا لَهُمْ سَحراً، أَحَدُهُمْ الشَّافِعِيُّ
"Enam orang yang aku mendoaakan mereka di waktu sahur (sebelum subuh), salah satunya adalah Asy-Syafi'i" (Taariikh Al-Islaam li Adz-Dzhabi 14/312)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal terlalu sering mendoakan Asy-Syafi'i, sampai-sampai anak beliau Abdullah bertanya kepada beliau :
يَا أَبَةِ، أَيُّ رَجُلٍ كَانَ الشَّافِعِيُّ فَإِنِّي سَمِعْتُكَ تُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ لَهُ
"Wahai ayahanda, siapakah Asy-Syafi'i itu, aku mendengarmu banyak mendoakannya?".
Al-Imam Ahmad menjawab :
يَا بُنَيَّ، كَانَ الشَّافِعِيُّ كَالشَّمْسِ لِلدُّنْيَا، وَكَالْعَافِيَةِ لِلنَّاسِ، فَهَل لِهَذَيْنِ مِنْ خَلَفٍ؟
"Wahai putraku, Asy-Syafi'i seperti matahari bagi dunia, seperti keselamatan bagi manusia, maka apakah ada pengganti bagi kedua kenikamatan ini?" (Taarikh Al-Islaam 14/312)

          Karena ilmu dan dakwah Al-Imam Asy-Syafi'i diterima oleh masyarakat dan para ulama secara luas maka munculah orang-orang yang tidak suka kepada beliau. Diantara mereka adalah salah seorang ulama bermadzhab Maliki yang bernama Asyhub. Tatkala Al-Imam Asy-Syafi'i datang ke Mesir beliau tidak bertemu dengan murid-murid Imam Malik kecuali dua orang yaitu Muhammad bin Abdillah bin Abdil Hakim dan Asyhub.

Muhammad bin Abdillah bin Abdil Hakim berkata :

سَمِعْتُ أَشْهُبَ فِي سُجُوْدِهِ يَدْعُو عَلَى الشَّافِعِي بِالْمَوْتِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلشَّافِعِي
"Aku mendengar Asyhub dalam sujudnya mendoakan agar Asy-Syafi'i meninggal. Maka akupun menyebutkan hal tersebut kepada Asy-Syafi'i"

Dalam riwayat yang lain Asyhub berdoa :
اللَّهُمَّ أَمِتِ الشَّافِعِيَّ فَإِنَّكَ إِنْ أَبْقَيْتَهُ اِنْدَرَسَ مَذْهَبُ مَالِكٍ
"Ya Allah matikanlah Asy-Syafi'i, karena kalau Engkau membiarkannya hidup maka akan punah madzhab Imam Malik"

Maka Al-Imam Asy-Syafi'i heran dengan hal ini, lalu ia berkata dengan menyebut sya'ir :
تَمَنَّى رِجَالٌ أَنْ أَمُوْتَ وَإِنْ أَمُتْ     فَتِلْكَ سَبِيْلٌ لَسْتُ فِيْهَا بَأَوْحَدِ
Beberapa lelaki berangan-angan kematianku, dan jika akupun mati….
Maka (kematian) itu adalah jalan yang tidak ditempuh oleh aku sendirian…

فَقُلْ لِلَّذِي يَبْغِي خِلاَفَ الَّذِي مَضَى     تَزَوَّدْ لِأُخْرَى مِثْلِهَا فَكَأَنْ قَدِ
Maka katakanlah kepada orang yang menginginkan berbedanya apa yang telah berlalu…
Hendaknya engkau berbekal untuk menghadapi kematian yang semisalnya maka seakan-akan ia telah datang…

Maka setelah itu Al-Imam Asy-Syafi'i pun meninggal, dan tidak lama kemudian sekita 18 hari atau sebulan Asyhub pun meninggal dunia.

(lihat : Taarikh Dimasyq 51/428, Siyar A'laam An-Nubalaa 10/72, Al-Waafi bil Wafayaat 9/165)


KELIMA : Inovasi Spektakuler

          Diantara keistimewaan Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah beliau telah menyusun sebuah kitab istimewa yang berjudul Ar-Risaalah, yang kitab ini merupakan kitab pertama yang ditulis tentang kaidah-kaidah ushul fiqh. Beliau menulis buku tersebut atas permintaan Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah. Beliau menulis surat kepada Asy-Syafi'i –dan tatkala itu Asy-Syafi'i masih muda belia- agar Asy-Syafi'i membuat sebuah buku yang mencakup makna-makna Al-Qur'an dan mencakup ilmu-ilmu hadits, hujjahnya ijmak, serta nasihk dan mansukh dari Al-Qur'an dan hadits. Maka Al-Imam Asy-Syafi'i lalu menyusun kitab Ar-Risaalah. Maka Abdurrahman bin Mahdi berkata :
مَا أُصَلِّي صَلاَةً إِلاَّ وَأَنَا أَدْعُو لِلشَّافِعِي فِيْهَا
"Tidaklah aku sholat kecuali aku mendoakan Asy-Syafi'i dalam sholatku tersebut" (Tariikh Baghdaad 2/64-65)

Demikian pula halnya dengan kitab Al-Umm yang disusun oleh Al-Imam Asy-Syafi'i sebagai kitab fikih yang disusun dengan penyusunan bab-bab fikih yang luar biasa, sehingga memudahkan para murid beliau untuk belajar dengan baik. Dengan demikian Al-Imam Asy-Syafi'i telah menyusun kitab tentang ushul fikih dan juga menyusun kitab tentang penerapan ushul fikih tersebut dalam kitab fikih beliau yaitu Al-Umm.

Diantara keistimewaan beliau juga adalah beliau telah belajar dari dua madrosah, madrosah Hadits (yang dalam hal ini diwakili oleh Imam Malik yang merupakan guru beliau) dan madrosah Ar-Ro'yu (yang dalam hal ini diwakili oleh Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibaani yang juga merupakan guru beliau). Maka Al-Imam Asy-Syafi'i menggabungkan kebaikan dari dua madrosah ini sehingga jadilah madzhab beliau madzhab yang kokoh.