Cincin Menurut Islam Bagian 1



Semakin jauh sebuah generasi dengan zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم, semakin buruk kondisi mereka. Contohnya, sebagian pemuda muslim berpakaian dengan pakaian yang tidak bisa dibedakan antara orang Islam dan kafir, ditambah gaya rambut paling mutakhir, bahkan dihiasi dengan perhiasan seperti kalung dan cincin terbuat dari emas. Di samping itu, ada yang mengenakan cincin tunangan meniru tunangan gaya orang kafir, sebagaimana tidak dimungkiri adanya orang yang memakai cincin untuk tolak bala dan semisalnya. Marilah sejenak kita membahas hal-hal berkaitan dengan cincin menurut perspektif Islam, supaya kita tidak jatuh pada kesalahan, sedangkan kita tidak menyadarinya.

HUKUM MEMAKAI CINCIN

Para wanita tidak dilarang memakai cincin dari jenis apa pun baik dari emas, perak, atau selain keduanya. Bahkan jika dimaksudkan untuk berhias buat suaminya, maka itu dianjurkan di dalam Islam.
Adapun bagi kaum laki-laki, para ulama berbeda pendapat tentang hukum memakai cincin bagi mereka.
Pendapat pertama mengatakan sunnah. Alasannya, karena dahulu para sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم tatkala beliau memakai cincin, sebagaimana di dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar رضي الله عنهما berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ وَجَعَلَ فَصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ فَاتَّخَذَهُ النَّاسُ فَرَمَى بِهِ وَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ أَوْ فِضَّةٍ
"Rasulullah صلى الله عليه وسلم memakai sebuah cincin dari emas, beliau menjadikan mata cincinnya (di dalam) mendekati telapak tangannya, lalu manusia pun memakai cincin, kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم melemparkan cincin (emas)nya dan memakai cincin dari perak." (HR al-Bukhari: 5865)
Pendapat kedua mengatakan bahwa memakai cincin bagi laki-laki boleh-boleh saja, dan menjadi sunnah jika ada kebutuhan; contohnya untuk stempel bagi para tokoh seperti seorang raja, hakim, dan semisal mereka. Pendapat  ini  didasari  oleh  kenyataan  bahwa  Nabi صلى الله عليه وسلم tidak memakai cincin, kecuali setelah dikabarkan bahwa para raja tidak menggubris surat yang tidak ada stempelnya.  Di dalam sebuah hadits, Anas ibn Malik رضي الله عنه berkata:
لَمَّا أَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى الرُّومِ قَالَ قَالُوا إِنَّهُمْ لَا يَقْرَءُونَ كِتَابًا إِلَّا مَخْتُومًا قَالَ فَاتَّخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِهِ فِي يَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَقْشُهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
"Tatkala Rasulullah صلى الله عليه وسلم hendak menulis surat ke Romawi, (manusia) berkata, 'Sesungguhnya mereka (para raja) tidak akan membaca surat selain yang berstempel.' Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم memakai cincin dari perak. Sepertinya aku melihat warna putih (perak) itu di tangan Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dan mata (cincin) itu tertulis 'Muhammad Rasulullah'." (HR al-Bukhari: 65, Muslim: 5601)
Pendapat yang kuat, insya Allah adalah pendapat kedua, yaitu dibolehkan memakai cincin bagi kaum laki-laki, dan disunnahkan bagi para tokoh yang membutuhkannya; seperti untuk stempel bagi para raja, hakim, dan semisalnya. Pendapat ini dikuatkan beberapa perkara, di antaranya:
•    Rasulullah صلى الله عليه وسلم kebiasaannya tidak memakai cincin kecuali untuk stempel surat-suratnya.
•    Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak memakai cincin dengan maksud berhias, dan ini dibuktikan dengan kondisi beliau meletakkan mata cincin yang ada ukiran namanya di bagian dalam telapak tangannya, tidak ditampakkan seperti kebanyakan orang yang memakai cincin untuk perhiasan.
•    Adapun sikap para sahabat رضي الله عنهم yang memakai cincin sebagaimana Nabi صلى الله عليه وسلم memakai cincin, maka ini menunjukkan betapa semangatnya para sahabat Nabi untuk mencontoh dan tidak ingin ketinggalan terhadap apa pun yang dilakukan Nabi صلى الله عليه وسلم.
Kesimpulannya, disunnahkan memakai cincin bagi orang yang membutuhkannya seperti untuk stempel. Akan tetapi, hukumnya adalah boleh-boleh saja bagi seseorang memakai cincin dengan maksud berhias dengannya karena hal itu tidak dilarang.

BOLEH MEMAKAI CINCIN DI TANGAN KIRI,
TETAPI DI TANGAN KANAN LEBIH UTAMA

Dibolehkan memakai cincin baik di tangan kanan atau di tangan kiri.
Al-Imam an-Nawawi رحمه الله berkata, "Adapun memakai cincin di tangan kanan atau tangan kiri, maka telah datang dua hadits di dalam perkara ini dan semuanya shahih." (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 14/71)
Hadits yang dimaksud adalah, dari Anas ibn Malik رضي الله عنه beliau berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ خَاتَمَ فِضَّةٍ فِي يَمِينِهِ
"Sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah memakai cincin perak di tangan kanannya." (HR Muslim: 5608)
Anas ibn Malik رضي الله عنه juga berkata di dalam hadits lain:
كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذِهِ وَأَشَارَ إِلَى الْخِنْصِرِ مِنْ يَدِهِ الْيُسْرَى
"Rasulullah صلى الله عليه وسلم memakai cincinnya di sini." Beliau mengisyaratkan ke jari kelingking di tangan kiri-nya. (HR Muslim: 5610)
Adapun tangan manakah yang lebih utama untuk dipakaikan cincin, terdapat perbedaan pendapat seperti yang dijelaskan al-Imam an-Nawawi, beliau berkata, "Para ulama fiqih sepakat atas bolehnya memakai cincin baik di tangan kanan atau kiri, tidak dimakruhkan pada keduanya, meskipun mereka berbeda pendapat di tangan mana yang lebih utama. Kebanyakan para ulama salaf (yang memakai cincin), mereka memakainya di tangan kanan, dengan alasan cincin itu adalah perhiasan (yang baik) dan tangan kanan lebih mulia (daripada tangan kiri), tangan kanan lebih berhak diberi perhiasan (yang baik), dan lebih berhak dimuliakan." (Syarh Shahih Muslim 14/299)
Pendapat ini dikuatkan oleh beberapa perkara, di antaranya:
•    Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah memakai cincin di tangan kiri dan tangan kanan, tetapi di tangan kanan lebih sering, seperti dikatakan oleh Abu Zur'ah رحمه الله.
•    Tangan kanan lebih patut dimuliakan dan diberi suatu (perhiasan) yang baik. Berbeda dengan tangan kiri, maka tangan kiri adalah alat untuk bercebok, dan jika cincin berada di tangan kiri, pasti akan terkena kotoran dan najis.
•    Al-Imam al-Bukhari رحمه الله berkata, "Sesungguhnya hadits Abdullah ibn Ja'far adalah hadits yang paling shahih di dalam bab ini, dan hadits tersebut adalah (menerangkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم) memakai cincin di tangan kanan." Al-Imam Bukhari dan Muslim mengeluarkan sebuah hadits dari Aisyah رضي الله عنها,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطَهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
"Adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم lebih menyukai untuk mendahulukan yang kanan, baik pada saat memakai sandal, bersisir, bersuci, dan di dalam segala urusannya" (HR al-Bukhari 10/402)

MATA CINCIN BOLEH BERADA DI ATAS/LUAR,
DAN LEBIH UTAMA BERADA DI DALAM

Di dalam hadits Ibnu Umar رضي الله عنهما, (HR al-Bukhari: 5865) di atas, ditunjukkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم memakai cincin, dan mata cincinnya diletakkan di dalam tangannya (mendekati telapak tangannya) tidak diperlihatkan. Perbuatan Nabi صلى الله عليه وسلم ini bukan menunjukkan hukum wajib, melainkan menjelaskan perbolehannya; boleh diletakkan di atas/diperlihatkan, atau boleh juga diletakkan di dalam mendekati telapak tangan,  dan inilah yang dilakukan Nabi صلى الله عليه وسلم.
Al-Imam an-Nawawi berkata, "Meletakkan mata cincin di bagian dalam (dekat dengan telapak tangan) lebih utama karena mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم, (alasan lain) hal ini lebih memelihara cincin (dari kerusakan) karena jika mata cincin di atas, pasti akan mudah tergores, demikian pula (meletakkan mata cincin di bawah) lebih menjaga pemiliknya dari sifat berbangga diri dan bermegah-megahan, karena sudah menjadi kenyataan bagi sebagian orang sekarang, (mereka) sebentar-sebentar melihat cincinnya dalam keadaan berbangga diri terhadap cincin di tangannya, padahal sunnahnya (meletakkan mata cincin) itu bukan seperti (apa yang mereka lakukan) sekarang." (Lihat Syarh Shahih Muslim lin Nawawi: 3900 dan Aunul Ma'bud Syarh Sunan Abu Dawud: 3684.)

LARANGAN MEMAKAI CINCIN PADA JARI TENGAH
DAN TELUNJUK BAGI LAKI-LAKI

Para ulama sepakat bahwa khusus kaum laki-laki dilarang memakai cincin di jari tengah dan jari telunjuk sebagaimana dalam sebuah hadits dari Ali ibn Abi Thalib رضي الله عنه, beliau berkata:
نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَخَتَّمَ فِي إِصْبَعِي هَذِهِ أَوْ هَذِهِ قَالَ فَأَوْمَأَ إِلَى الْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِيهَا
"Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang aku memakai cincin di dua jari, yaitu di jari tengah dan jari yang dekat dengannya (jari telunjuk)." (HR Muslim: 5614)
Al-Imam an-Nawawi رحمه الله berkata, "Para (ulama) kaum Muslimin bersepakat bahwa disunnahkan memakai cincin di jari kelingking bagi laki-laki. Adapun wanita, maka tidak terlarang bagj mereka memakai cincin di jari-jari mana pun. (Para ulama) mengatakan bahwa hikmah memakai cincin di kelingking adalah supaya tidak mudah terkotori ketika seseorang menggunakan tangannya (untuk bekerja), karena jari kelingking letaknya di ujung, dan jari kelingking biasanya tidak mengganggu tangan ketika bekerja; berbeda dengan jari-jari lainnya. Dan dimakruhkan bagi laki-laki memakai cincin di jari tengah dan jari telunjuk sebagaimana (larangan) dalam hadits, dengan larangan yang bersifat makruh tanzih (tidak sampai haram)." (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 14/71)

SISTEM SOSIAL Dalam Islam



Sistem sosial Islam terbena di atas teori: Bahawa zuriat-zuriat manusia di atas
muka bumi ini seluruhnya adalah daripada keturunan yang satu. Pada mulanya
Allah menciptakan satu jiwa (diri) sahaja. Daripadanya diciptakan pula
pasangannya. Dan daripada kedua-duanya itulah disebarkan seluruh zuriat
manusia yang kita lihat meneroka dan menghuni di merata pelusuk dunia hari
ini. Titihan sepasang manusia ini terus menerus pada mulanya merupakan satu
umat dengan agama dan bahasa yang satu, tidak ada sebarang perbezaan dan
perpisahan di antara mereka. Tetapi semakin mereka membiak dan bertambah
banyak, semakin bertaburanlah mereka di segenap rantau bumi ini, dan kerana
ini secara tabi'inya mereka pun berpecahlah kepada bermacam-macam bangsa,
umat dan suku. Seterusnya perbezaan juga menjalar kepada bahasa- bahasa,
pakaian-pakaian serta cara-cara kehidupan mereka. Keadaan udara berbagaibagai
daerah itu telah mempengaruhi pula terhadap warna kulit serta bentuk
muka mereka dengan pengaruh yang besar. Semua perbezaan ini adalah
perbezaan-perbezaan tabi'i yang kerana jawatannya. Tidak boleh seseorang
mencabul hak-hak yang diuntukkan buat orang lain kerana berbangga dengan
satu-satu keturunan atau bersandar kepada satu-satu keluarga atau lapisan yang
tertentu di dalam masyarakat. Begitu juga tidak ada di kalangan mereka seorang
lelaki menjadi mulia atau hina kerana keluarganya, atau kerana harta dan
kekayaan yang dimilikinya. Tetapi di dalam masyarakat ini seseorang menjadi
mulia dan terhormat bila mana dia menghiasi dirinya dengan perangai-perangai
yang baik dan mempunyai taqwa serta takut kepada Allah, lebih daripada yang
dipunyai oleh orang-orang lain.
Masyarakat ini tidak dibataskan dengan batas-batas keturunan dan warna kulit,
tidak pula dengan batas-batas geografi. Malah dia melampaui itu semuanya dan
boleh tersibar di seluruh penjuru dan pelusuk bumi ini, sehingga terdiri di
atasnya persaudaraan manusia antara bangsa. Tetapi masyarakat-masyarakat
yang bercorak keturunan dan kebangsaan, ianya tidak dapat disertai melainkan
oleh mereka-mereka yang berasal daripada keturunan tertentu sahaja. Pintunya
tertutup terhadap anak-anak manusia selain mereka. Masyarakat, fikiran dan
akhlaq Islam ini sentiasa membukakan pintunya untuk tiap-tiap orang yang
percaya dengan satu 'aqidah dan satu pengontrol akhlaq yang tertentu di mana
dia turut menggabungkan dirinya ke dalam masyarakat ini dan menikmati segala
hak yang sama dengan apa yang dini'mati oleh orang lain. Kemudian, orangorang
yang tidak mempercayai 'aqidah dan pengontrol akhlaqnya, sungguh pun
negara Islam ini tidak memandang mereka sebagai anak-anaknya dan orangorang
yang bernaung di bawah panji-panjinya, namun dia merangkul mereka
dengan emosi-emosi kemanusiaan yang menyeluruh dan dia tidak memutuskan
hak-hak semulajadi manusia daripada mereka. Jelas dan terang bahawa dua
orang adik beradik, bila mana kedua-duanya menganut fikiran dan 'aqidah yang
berbeza serta menjalani dua jalan yang berlainan dalam hidup ini, tidaklah
bererti bahawa ikatan keturunan di antara kedua-duanya sudah putus. Begitu
juga apabila terbahaginya keturunan manusia atau terbahaginya penduduk
mana-mana negeri kepada dua golongan: satu golongan percaya kepada 'aqidah
dan prinsip-prinsip ini, sedang satu golongan lagi tidak percaya kepadanya,
tidaklah diragukan lagi bahawa mereka sudah terpisah begini kepada dua buah
masyarakat yang berbeza, tetapi persaudaraan manusia masih tetap juga
mengikat antara kedua-duanya. Di atas asas-asas kemanusiaan bersama inilah,
masyarakat Islam telah menyerahkan apa yang boleh5 digambarkan sebagai
hak-hak manusia dan memberikannya kepada seluruh masyarakat yang bukan
Islam.
Sekiranya anda sudah memahami segala tonggak sistem sosial Islam itu, marilah
sekarang kita mengkaji dan menyelidiki tentang peraturan-peraturan dan tata
cara kerja yang telah digariskan oleh Islam untuk berbagai- bagai rupa gotongroyong
atau saling memikulkan tanggungjawab di dalam masyarakat manusia.
Institusi pertama dan yang terpenting kedudukannya dalam masyarakat
manusia ialah rumahtangga. Institusi nilah yang membangunkan binaan
masyarakat dan mengwujudkan anggota-anggotanya dengan jalan perkahwinan
antara sepasang manusia. Dengan perkahwinan ini lahirlah ke alam wujud ini
generasi baharu yang tercabang daripadanya ikatan-ikatan kerabat, pertalianpertalian
adik-beradik dan lainnya dari ikatan- ikatan keluarga. Dan ikatanikatan
ini terus berkembang dan meluas sehingga menghamparkan sayapnya ke
atas masyarakat yang rendang segi-seginya. Selain dari itu, rumahtangga adalah
institusi yang mana di dalamnyalah akhlaq setiap generasi itu dilatih dan
disediakan untuk memikul tanggungjawab untuk ketamadunan manusia yang
hadap adik-beradik dan kerabat yang tertentu sahaja. Selain itu dihalalkan
untuk seseorang mengahwini sebagaimana yang dikehendaki dan sesiapa yang
dikehendaki dari kalangan sanak-saudara dan kerabat dekat atau jauh. Islam
sudah melampaui perbezaan-perbezaan perkauman dan meruntuhkan langsung
tiangnya. Diizinkannya dengan leluasa untuk orang Islam bernikah-kahwin
sesama mereka, disuruhnya mereka bersederhana dalam meletakkan mahar
perempuan dan bersederhana dalam menyediakan kelengkapan-kelengkapan
-nya sehingga mampu ditanggungi oleh kedua-dua belah pihak. Untuk
menjalinkan ikatan perkahwinan dalam pandangan Islam, tidaklah diperlukan
seorang qadi, seorang alim atau seorang kerani, malah sebenarnya ikatan
perkahwinan di dalam masyarakat Islam hanyalah merupakan satu kerja mudah
yang boleh diputuskan dengan saling berkesudian di antara sekelamin manusia
yang sudah baligh dengan disaksikan oleh dua orang saksi. Tetapi ikatan ini
tidak harus dilangsungkan secara sulit dan rahsia, malah wajib dilangsungkan
secara nyata dan terang-terangan.
Islam telah menjadikan suami sebagai ketua atas isterinya dan sebagai pengelola
atas segala urusan rumahtangga agar diletakkannya di atas asas yang kukuh dan
peraturan yang baik. Disuruhkan isteri patuh dan berbakti kepada suaminya
seperti mana disuruhkan anak-anak patuh dan berbakti kepada ibu bapa. Islam
tidak senang dengan rumahtangga yang tidak kuat tiang serta sendinya; rumahtangga
yang tidak ada ketua dan pengelola, tidak ada di dalamnya orang yang
bertanggungjawab terhadap tingkah-laku para anggotanya, juga terhadap
pergaulan dan berbagai-bagai urusan mereka. Bila mana sudah termaklum
bahawa peraturan rumahtangga tidak mungkin beres, kecuali dengan adanya
ketua dan pengelola atas segala urusannya, ketua keluarga adalah lebih patut dan
lebih layak disandang oleh suami daripada orang-orang lain di dalam pandangan
Islam. Tetapi ini tidaklah bererti bahawa Islam telah menjadikan suami sebagai
seorang diktator terhadap anggota-anggota rumah yang boleh mengepalai
mereka sekehendak hatinya, sedang isteri hanya diserahkan kepada suami untuk
dimilik dan tidak ada peranan dan pengaruhnya dalam mentadbir dan
menguruskan rumahtangga. Kasih-sayang dan kasihan-belas adalah merupakan
asas yang hakiki bagi pergaulan rumahtangga di dalam Islam. Jika wanita wajib
mematuhi keinginan suaminya, demikian jugalah suami wajib menggunakan
pengaruhnya untuk kejayaan, kebahagiaan dan keharmonian keluarga, bukan
menggunakannya untuk kezaliman dan pencerobohan. Islam tidak ingin
mengekalkan hubungan suami-isteri melainkan jika hubungan itu disertai
dengan kemanisan kasih-sayang dan kasihan belas, atau sekurang- kurangnya
boleh dilangsungkan pergaulan yang baik. Sekiranya pergaulan ini sudah tidak
mungkin lagi, Islam memberi pilihan kepada suami supaya menceraikan
isterinya dan memberi pilihan kepada isteri supaya berpisah dari suaminya.
Begitu juga Islam mengharuskan kepada Mahkamah Islam untuk membatalkan
nikah bilamana kasih-sayang dan kasihan-belas itu bertukar menjadi kacau-bilau.
Daerah yang paling dekat kita dapati selepas daerah rumah tangga yang sempit
itu ialah daerah kaum-kerabat dan sanak-saudara yang mempunyai hubungan
darah. Islam mahu melihat mereka yang terbuhul di antara satu sama lain
dengan ikatan-ikatan anak-pinak, persaudaraan, atau yang menjadi padanya…
…dia adalah dari ahli neraka." Kata mereka lagi: Ada seorang perempuan lain
menunaikan sembahyang fardu dan bersedekah dengan lembu-lembu dia tidak
menyakiti sesiapa. Rasul Sallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Dia adalah dari
ahli syurga".6
Pernah juga Nabi Sallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Wahai Abu Zar! Jika
engkau memasak sayur, perbanyakkanlah airnya dan bahagi-bahagikanlah
kepada jiran tetanggamu."7
Pendek kata, Islam mahu memesrakan di antara mereka yang dibuhulkan oleh
ikatan-ikatan jiran-tetangga dan menjadikan mereka saling jamin-menjamin
dalam segala suka-duka yang mereka hadapi, dan Islam juga mahu mengadakan
ikatan-ikatan percaya-mempercayai dan harap-mengharapi sehingga tiap-tiap
seorang dari mereka dapat dipercayakan oleh saudaranya terhadap diri,
kehormatan dan harta punyanya. Inilah dia pergaulan Islam dan tatasusilanya.
Ada pun pergaulan yang di dalamnya kita dapati dua orang tetangga yang hanya
dipisahkan oleh sekeping dinding sahaja, sedang mereka tidak kenal-mengenal
meski pun sudah sekian lama mereka berdekatan, pergaulan yang tidak terdapat
di antara penduduk satu kawasan itu sedikit pun kemesraan, kasih sayang dan
saling percaya-memperpayai, maka tidaklah boleh dianggap sama sekali dari
pergaulan Islam.
Kemudian selepas ikatan-ikatan yang agak berhampiran ini, kita menemui satu
daerah hubungan-hubungan yang luas, iaitu hubungan-hubungan yang
merangkum jama'ah Islam seluruhnya. Inilah sedikit prinsip- prinsip dan
lunas-lunas yang di atasnya Islam mendirikan penghidupan sosial kita di dalam
daerah yang luas ini:

"Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat
kami, mereka itu adalah penghuni neraka. (Surah al-Maidah: Ayat 10)."

"Kamu adalah umat yang paling terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Kamu
menyuruh dengan kebajikan dan kamu melarang dari kemungkaran. (Surah Ali
'Imran: Ayat 110).8"

"Awasilah kamu dari sangka mara, kerana sangka mara itu adalah percakapan
yang paling dusta. Dan jangan kamu mengintip, jangan berlawan-lawan, jangan
hasad-menghasad, jangan dengki-mendengki dan jangan kamu mengadakan
pakatan yang jahat. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara.9"


JODOHKU TAK KUNJUNG DATANG




Kecenderungan seorang laki-laki kepada perempuan dan perempuan kepada laki-laki adalah sifat yang normal. Insting/naluri tersebut sesuai dengan hikmah penciptaan Allah عزّوجلّ yang menjadikan manusia berpasang-pasangan.

Salah satu cara untuk menyalurkan insting/naluri tersebut ialah nikah. Nikah merupakan cara yang suci dan halal untuk mengarahkan kekuatan biologis yang tertanam pada setiap insan yang normal. Allah عزّوجلّ berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS ar-Rum [30]: 21)


Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ نِصْفُ الدِّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَا بَقِيَ

"Apabila seorang hamba telah menikah maka sungguh telah sempurna separuh (bagian) agamanya, maka hendaknya dia bertaqwa kepada Allah pada (separuh bagian) sisanya." (HR ath-Thabarani)[1]

Pernikahan memang indah. Keindahannya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ketenteraman, saling memadu kasih, dan anak-anak yang shalih adalah sedikit dari keindahan berumah tangga. Maka tak ayal lagi, setiap muslim dan muslimah yang normal akan merindukan jodohnya-pendamping hidup yang akan menemaninya dalam bahtera rumah tangga—datang secepatnya.


JODOH RAHASIA ILAHI


Tidak ada seorang pun dari kita yang bisa menebak siapa yang akan menjadi jodoh kita. Manusia hanya bisa berusaha, selebihnya Allah عزّوجلّ yang menentukan. Banyak kasus yang kita dengar bertalian dengan jodoh. Ada anak manusia yang sudah dijodohkan, ternyata tidak jadi menikah dengan calonnya tersebut.

Ada juga yang sudah mendapatkan orang dianggap jodohnya, ternyata perkiraannya keliru. Lebih tragis lagi, ada yang sudah menentukan tanggal pernikahan, bahkan calon suami sudah tiba di rumah calon istri satu hari sebelumnya, ternyata pada malam menjelang akad nikah, calon suami diculik hingga pernikahan gagal!! Itulah rahasia Ilahi yang tidak bisa ditebak.

Itulah bukti kebenaran sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

كَتَبَ اللهُ مُقَادِيْرَ الْـخَلَائِقِ أَنْ يَـحْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ بِـخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

"Allah telah menulis takdir para makhluk pada lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi." (HR Muslim: 2653)


SEMUA PASTI ADA HIKMAHNYA


Janganlah bersedih dengan jodoh yang belum kunjung datang. Kita harus yakin bahwa segala yang terjadi dalam kehidupan ini sudah diatur oleh Allah عزّوجلّ. Semua pasti ada hikmahnya. Waktu dan hari akan terus bergulir:

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

Dan hari-hari itu, Kami pergilirkan di antara manusia. (QS Ali Imran [3]: 140)

Hari ini barangkali Anda belum punya suami. Namun, suatu hari nanti boleh jadi pendamping hidup Anda akan datang. Yakinlah bahwa tidak ada sesuatu yang ditetapkan oleh Allah عزّوجلّ, melainkan baik bagi para hamba sekalipun menurut pandangan manusia buruk. Allah عزّوجلّ berfirman:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS al-Baqarah [2]: 216)




KETIKA JODOH TAK KUNJUNG DATANG


Masa-masa gadis 'belum punya pasangan' adalah masa ujian yang butuh kesabaran. Suratan takdir tersebut harus Anda terima. Berikut ini ialah beberapa butir nasihat dan kiat agar jodoh yang Anda nantikan tiba di pangkuan:

1.  Jangan Bermuluk-Muluk, yang Penting Agamanya

Sebagian orang menentukan kriteria bahwa jodohnya harus yang seperti ini dan itu. Gengsi, kata mereka, jika harus menikah dengan 'ikhwan pengajian' (laki-laki muslim yang rajin menyimak majelis ta'lim, Red.) yang papa, belum punya pekerjaan tetap, belum punya rumah, dan rezekinya pas-pasan. Maka kami nasihatkan, buang jauh-jauh prinsip materialisme!! Pilihlah suami (atau istri) yang shalih dan bagus agamanya. Pasangan yang shalih akan memuliakan istri (atau suami) yang dicintainya dan tidak akan menghina istri (atau suami) yang dibenci (kurang disukai)nya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

"Apabila seorang yang engkau ridhai agama dan akhlaknya datang kepadamu (untuk melamar perempuan yang ada di bawah perwalianmu, Red.) maka nikahkanlah dia. Kalau engkau tidak melakukannya, akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi." (HR at-Tirmidzi: 1085, Ibnu Majah: 1967, dan al-Hakim 2/164)[2]

Keshalihan pasangan akan menjadi penyejuk mata di dalam rumah tangga. Perhatikanlah diri Anda sebelum menentukan kriteria jodoh yang Anda inginkan!!

2.  Tidak Memberatkan Dengan Mahar yang Mahal

Sebab, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مِنْ يَمْنِ الْـمَرْأَةِ تَسْهِيْلُ أَمْرِهَا وَقِلَّةُ صَدَاقِهَا

"Termasuk kebaikan dan keberkahan wanita, mudah dalam urusannya dan ringan dalam maharnya." (HR al-Hakim 2/181, Ibnu Hibban: 1256, al-Bazzar: 2/158, dan al-Baihaqi 7/235)[3]

3.  Minta Bantuan Orang Tua, Kerabat, dan Teman

Bukanlah aib Anda meminta bantuan orang tua, kerabat, atau teman agar mencarikan jodoh yang cocok dengan Anda. Seorang laki-laki shalih berkata kepada Nabi Musa عليه السلام:

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ

Berkatalah dia, "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anak gadisku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun." (QS al-Qashash [28]: 27)

Al-Imam al-Qurthubi رحمه الله berkata, "Ayat ini merupakan dalil bahwa seorang wali boleh menawarkan putrinya kepada seorang laki-laki. Ini adalah sunnah yang tetap." (Tafsir al-Qurthubi 13/179)[4]

Umar ibn al-Khaththab رضي الله عنه pernah menawarkan putrinya, Hafshah رضي الله عنها, kepada Utsman ibn Affan رضي الله عنه kemudian kepada Abu Bakr رضي الله عنه. Abu Bakr رضي الله عنه berkata kepada Umar رضي الله عنه "Barangkali engkau marah kepadaku ketika aku sama sekali tidak memberikan jawaban terhadap tawaranmu." Umar رضي الله عنه menyahut, "Ya." Abu Bakr رضي الله عنه berkata lagi, "Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku menerima tawaranmu, melainkan karena aku mengetahui bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah menyebut Hafshah. Aku tidak ingin menyebarkan rahasia Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Andaikan Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak jadi (menikahi Hafshah), niscaya aku akan menerimanya." (HR al-Bukhari: 3783)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Hadits ini menerangkan bahwa seorang insan hendaknya menawarkan putrinya atau yang lain kepada orang yang dia nilai baik dan shalih. Sebab, di dalamnya, terdapat kebaikan yang akan kembali kepada orang yang ditawarkan. Tidak ada (gunanya) rasa malu dalam perkara ini. Dan juga hadits ini menunjuk-kan bolehnya memberikan tawaran kepada orang yang sudah menikah karena Abu Bakr رضي الله عنه ketika itu sudah beristri." (Fathul Bari 9/178)

4. Menawarkan Diri Kepada Orang yang Shalih dan Baik

Boleh seorang wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki yang dia nilai shalih dan bagus. Anas ibn Malik رضي الله عنه berkata:

"Seorang wanita datang menemui Nabi صلى الله عليه وسلم untuk menawarkan dirinya. Wanita itu berkata,'Wahai Rasulullah, apakah Anda ingin menikah dengan saya?" Putrinya Anas berkata, 'Sungguh tidak punya malu, tidak punya malu!' Anas berkata, 'Dia lebih baik darimu, ingin menikah dengan Nabi صلى الله عليه وسلم, lantas menawarkan dirinya langsung kepada Nabi صلى الله عليه وسلم.'" (HR al-Bukhari: 5120)

Al-Imam an-Nawawi رحمه الله berkata, "Dianjurkan agar seorang wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki yang shalih supaya menikahinya." (Syarh Shahih Muslim 9/320)

Jika ada yang menganggap perkara ini termasuk aib dan (menunjukkan bahwa pelakunya) tidak punya malu maka kita katakan bahwa tujuan nikah bukanlah sekadar guna melampiaskan nafsu biologis, melainkan lebih dari itu, yaitu (nikah merupakan) sebuah hajat masyarakat yang dibutuhkan oleh setiap insan yang hidup bersama. Laki-laki membutuhkan wanita. Demikian pula, wanita membutuhkan laki-laki. Tidak mungkin setiap orang untuk merasa cukup (hidup sendiri). Bahkan hal itu termasuk sarana dalam mencari sesuatu yang ia butuhkan dalam menunjang kehidupannya. Apabila dalam urusan duniawi saja setiap orang akan selalu berusaha memenuhi kebutuhannya—padahal mungkin tidak tahan lama—maka terlebih lagi terhadap kebutuhan terhadap pasangan yang akan menjadi teman hidupnya dalam waktu yang lama, tentu hal itu lebih utama untuk dicari! (Lin Nisa' Ahkam wa Adab, Muhammad ibn Syakir asy-Syarif, hlm. 195-196)

Peringatan:

Perbolehan seorang wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki yang shalih bukanlah berarti pernikahan itu menjadi sah hanya dengan persetujuan laki-laki yang ditawari. Tetaplah pernikahan harus mengikuti aturan agama. Di dalam pernikahan tersebut, harus ada wali nikah dan lain-lain.

Al-Imam Ibnu Munir رحمه الله menjelaskan maksud bab (dalam kitab Shahih) al-Imam Bukhari 'Wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki shalih' dalam perkataannya, "Hal ini menunjukkan bolehnya seorang wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki yang shalih karena ingin menikah dengannya. Apabila laki-laki itu menerima maka dia bisa menikahinya dengan memenuhi syarat-syaratnya." (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 9/80)

5.  Tawakkal Sambil Terus Berusaha

Jika usaha Anda sudah maksimal maka serahkanlah urusan jodoh ini kepada Allah. Orang yang bertawakkal dan bertaqwa akan diberi jalan kemudahan. Allah عزّوجلّ berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disang-ka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS ath-Thalaq [65]: 2-3)

6.  Berdo'a

Mintalah kepada Allah عزّوجلّ dengan penuh perendahan diri agar Allah menganugerahkan kepada kita jodoh yang cocok. Mohonlah terus kepada Dzat yang Maha Kuasa ketika jodoh tak kunjung datang. Jangan putus asa dalam berdo'a. Jangan berpra-sangka buruk kepada-Nya. Berbaik sangkalah kepada Allah. Insya Allah, perkara yang sulit akan menjadi mudah. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda (dalam hadits qudsi):

أَنَا عِبْدَ حُسْنِ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ فَلْيَظَنُّ بِيْ مَاشَاءِ، إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ

(Allah عزّوجلّ berfirman,) "Aku menuruti sangkaan baik para hamba terhadap-Ku. Hendaklah ia berpraduga terhadap-Ku sekehendaknya; jika baik (sangkaannya) maka akan baik jadinya, dan jika buruk (sangkaannya) maka akan buruk jadinya." (HR ath-Thabarani dalam al-Ausath: 8115, Ibnu Hibban: 639, Abu Nu'aim 9/306)[5]

Allahu A'lam.[]


[1]     Takhrij lengkapnya bisa diperiksa pada ash-Shahihah: 625 oleh al-Albani.

[2]     Hadits ini dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 1022.

[3]     Sanad hadits ini kuat sekali sebagaimana yang ditegaskan oleh Abu Ishaq al-Huwaini dalam al-lnsyirah fi Adab an-Nikah hlm. 33-34.

[4]     Lihat pula Jami' Ahkam an-Nisa' 3/212-213

[5]     Lihat ash-Shahihah: 1663.

Ibadah Muslimah di Bulan PENUH BERKAH



Bulan Ramadhan yang penuh berkah adalah ladang pahala bagi setiap insan. Tidak ketinggalan wanita muslimah, ibadah apa yang semestinya dikerjakan wanita muslimah di bulan ini? Simak ulasan berikut ini.


PUASA


Para ulama sepakat bahwa yang wajib berpuasa Ramadhan adalah seorang muslim yang berakal, baligh, sehat dan menetap. Adapun wanita, disyaratkan dalam kondisi suci dari haidh dan nifas.[1]

Tidak ada perselisihan di kalangan ulama' bahwa hukum puasa Ramadhan adalah wajib.[2] Kewajiban ini berdasarkan dalil-dalil berikut:

Dalil al-Qur'an

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. al-Baqarah [2]: 183)

Dalil Hadits

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ

Islam itu dibangun di atas lima perkara: Syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya, menegakkan sholat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadhan dan menunaikan haji.[3]

Dalil Ijma'

Para ulama telah bersepakat wajibnya puasa Ramadhan. Barangsiapa yang mengingkari kewajibannya atau meragukannya maka dia kafir, berarti dia telah mendustakan Allah dan Rasulnya. Dalam masalah ini tidak ada udzur, kecuali orang yang jahil baru masuk Islam sehingga belum tahu kewajibannya, maka dia perlu diajari.

Adapun orang yang tidak berpuasa tetapi mengakui kewajibannya maka dia berdosa besar namun tidak kafir.[4]


MEMBACA AL-QUR'AN


Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah menjanjikan pahala yang besar bagi yang membaca al-Qur'an, beliau bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa yang membaca satu huruf al-Qur'an maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan bahwa Aliif Laam Miim satu huruf, akan tetapi Aliif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.[5]

Imam Ibnu Shalah asy-Syafi’i رحمه الله mengatakan: "Membaca al-Qur'an adalah kemuliaan, kemuliaan yang Allah berikan kepada manusia. Sungguh para malaikat tidak diberikan hal itu, dan mereka sangat semangat untuk mendengarkannya dari manusia."[6]

Maka tanamkan dalam dirimu target bisa mengisi hari-hari Ramadhan dengan membaca al-Qur'an, bisa khatam membacanya dengan tadabbur dan memahami kandungan makna al-Qur'an. Semangatlah, semuanya akan berjalan mudah insya Allah.


SHALAT TARAWEH


Shalat Taraweh termasuk syiar Islam yang paling nampak pada bulan Ramadhan. Karena shalat ini punya keistimewaan tersendiri bila dibandingkan pada bulan lainnya.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda;

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang mengerjakan shalat malam di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.[7]

Lantas bagaimana dengan wanita? Apakah wanita lebih afdhol shalat di rumahnya masing-masing, ataukah shalat Taraweh di masjid? Ketahuilah, Islam telah mengizinkan bagi para wanita muslimah untuk pergi ke masjid dan shalat berjama'ah bersama manusia.[8] Akan tetapi, Islam menganjurkan pula agar para wanita shalat di dalam rumahnya, bahkan shalatnya wanita di dalam rumah lebih afdhol dan lebih terjaga dari fitnah.

Dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda;

لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

Janganlah kalian melarang isteri-isteri kalian untuk (shalat berjama'ah) di masjid, akan tetapi rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka.[9]

Maka semangatlah wahai wanita muslimah dengan shalat Taraweh, afdhalnya engkau kerjakan di rumah, itu lebih baik, walaupun boleh juga engkau pergi ke masjid ikut shalat Taraweh berjama'ah dengan memperhatikan adab-adabnya.


MENDIDIK ANAK


Anak adalah amanah Allah عزّوجلّ. Maka sudah semestinya setiap orang tua memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Baik buruknya tingkah laku seorang anak adalah hasil didikan orang tua. Karena jiwa seorang anak masih bersih, siap menerima dan menyerap segala sesuatu yang dilihat dan diajarkan.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi.[10]

Kewajiban orang tua terhadap anak bukan hanya memberi kecukupan makan, minum ataupun pakaian. Namun, ada yang lebih penting yaitu menyelamatkan mereka dari siksa neraka. Allah عزّوجلّ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS.at-Tahriim [66]: 6).

Sahabat mulia Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه mengatakan, "Yaitu ajari dan didiklah mereka".[11]

Hubungannya dengan puasa, dianjurkan kepada para orang tua untuk melatih anak-anak mereka agar berpuasa, supaya kelak mereka terbiasa dengan puasa apabila telah baligh. Hal ini sebagaimana dipraktekkan oleh para sahabat kepada anak-anak mereka. Namun hal itu apabila tidak memberatkan mereka atau membahayakan mereka.[12]

Maka biasakan seorang anak sudah mengenal kewajiban dirinya terhadap Allah, dalam hal ini diantaranya puasa Ramadhan. Tidak mengapa kita siapkan hadiah yang menarik bagi anak yang mampu puasa sehari penuh, sebagai penyemangat untuk mereka. Allohu A'lam.

MEMPERBANYAK DO'A


Hendaknya, setiap hamba tidak bisa lepas dari do'a, terlebih lagi di bulan yang penuh berkah ini. Allah عزّوجلّ memberikan janji akan mengabulkan do'a orang yang berdo'a di bulan Ramadhan. Perharikanlah baik-baik ayat tentang puasa, setelah Allah menyebutkan kewajiban puasa, Allah menyebutkan setelahnya;

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. al-Baqarah: 186).

Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas tentang keutamaan berdo'a di bulan Ramadhan.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda;

عُتَقَاءَ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لِكُلِّ عَبْدٍ مِنْهُمْ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ

Sesungguhnya Allah mempunyai orang-orang yang akan dibebaskan (dari neraka) setiap hari dan malam. Setiap hamba dari mereka punya doa yang mustajab.[13]

Al-Hafizh Ibnu Hajar asy-Syafi’i رحمه الله berkata: "Yaitu pada bulan Ramadhan".[14] Ini merupakan keutamaan yang besar bagi bulan Romadhan dan orang yang berpuasa, menunjukkan keutamaan doa dan orang yang berdoa.[15]




SAHUR DAN BERBUKA


Suatu perbuatan yang biasa akan bernilai ibadah jika diniatkan untuk ibadah. Menyiapkan santapan sahur, hidangan berbuka puasa adalah ladang pahala bagi wanita muslimah.

Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله mengatakan: "Demikian pula seorang istri dia adalah pemimpin di rumah suaminya, dan dia akan ditanya akan kepemimpinannya. Maka wajib bagi seorang istri untuk memberikan nasehat di dalam rumah, memasak, membuatkan kopi, teh, membersihkan tempat tidur, dan tidak membuat masakan melebihi kebutuhan, juga tidak membuat teh yang berlebihan. Wajib baginya untuk menjadi istri yang hemat, karena hemat adalah setengahnya penghasilan, tidak berlebihan terhadap perkara yang seharusnya. Seorang istri juga bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, berupa kebaikan mereka dan perkara yang menunjang keadaan dan kebutuhannya, seperti memakaikan baju, melepaskan baju yang sudah kotor, mengganti sprei yang mereka pakai tidur, menyiapkan selimut ketika musim dingin dan selain dari itu, semuanya adalah tanggung jawabnya. Bertanggung jawab terhadap masakan yang dimasak dari sisi enak dan matangnya, demikianlah dia bertanggung jawab terhadap semua urusan di rumah".[16]

Puasa tidak hanya menahan makan dan minum semata. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya serta kebodohan, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.[17]

Al-Hafizh Ibnul Qayyim al-Jauziyyah رحمه الله berkata: "Orang berpuasa yang sebenarnya adalah orang yang menahan anggota badannya dari segala dosa, lisannya dari dusta, perutnya dari makanan, minuman dan farjinya dari jima'. Bila berbicara, dia tidak mengeluarkan perkataan yang menodai puasanya. Jika berbuat, dia tidak melakukan hal yang dapat merusak puasanya. Sehingga ucapannya yang keluar adalah bermanfaat dan baik. Demikian pula amal perbuatannya, ibarat wewangian yang dicium baunya oleh kawan duduknya. Seperti itu juga orang yang puasa, kawan duduknya mengambil manfaat dan merasa aman dari kedustaan, kemaksiatan, dan kezholimannya. Inilah hakekat puasa sebenarnya, bukan hanya sekedar menahan diri dari makanan dan minuman".[18]

Manfatkanlah kesempatan emas ini wahai saudariku, pahala besar telah menantimu... pahala ibadah di bulan Ramadhan yang hanya sekali dalam setahun!!.

Inilah sebagian dari ibadah wanita di bulan Ramadhan. Semoga kita menjadi hamba yang bertakwa dan tetap istiqamah setelah bulan puasa Ramadhan berlalu. Aamiin. Allohu A'lam.[]


[1]     Al-lqna' Fi Masail al-Ijma' 1/226, Ibnul Qotthon, Bidayah al-Mujtahid 2/556, Ibnu Rusyd, Fiqhus Sunnah 1/506, Sayyid Sabiq.

[2]     Bidayah al-Mujtahid 2/556, Ibnu Rusyd, al-lfshoh 1/241, Ibnu Hubairoh, al-lqna' Fi Masail al-Ijma' 1/226 Ibnu al-Qotthhon.

[3]     HR Bukhari 8 dan Muslim 16.

[4]     Lihat al-Mughni Ibnu Qudamah 4/324, Marotibul Ijma' Ibnu Hazm hlm. 70, Al-ljma' Ibnul Mundzir hlm. 52 dan at-Tamhid Ibnu Abdil Barr 2/148.

[5]     HR. Tirmidzi: 2910. Shahih. Lihat Al-Misykah: 2137oleh al-Albani.

[6]     Al-ltqan Fi U’lum al-Qur'an 1/291, as-Suyuthi asy-Syafi’i.

[7]     HR.Bukhari: 37, Muslim: 759.

[8]     Para ulama telah sepakat bahwa wanita tidak wajib shalat berjama'ah di masjid. (al-Muhalla 3/125, Ibnu Hazm).

[9]     HR. Abu Dawud: 567, Ahmad 9/337. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abu Dawud: 567

[10]    HR.Bukhari: 1835.

[11]    Tafsir at-Thabari 28/165.

[12]    48 Sudan fi Shiyam hlm. 36 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al- Utsaimin.

[13]    HR. Ahmad 12/420. Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih al-Jami' no.2169

[14]    Athrof al-Musnad 7/203, sebagaimana dalam as-Shiyam Fil Islam hal.34, DR. Sa'id bin Ali al-Qohthoni, hal senada dikatakan pula oleh Imam al-Munawi dalam Faidhul Qodir 2/614.

[15]    Faidhul Qodir 2/614, al-Munawi.

[16]    Syarah Riyadhus Sholihiin 3/150, Madar al-Wathon.

[17]    HR.Bukhari: 1903.

[18]    Al-Wabil as-Shoyyib Wa Rafi'ul Kalim at-Thoyyib hal.57, Ibnul Qoyyim.

HADITS-HADITS DHAIF DAN PALSU YANG POPULER DI BULAN PUASA




Sesungguhnya telah mutawatir dalam timbangan ahli hadits[1] bahwa Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta padaku dengan sengaja, maka hendaknya dia bersiap-siap mengambil tempat di Neraka.”

Berangkat dari hadits ini, kami terdorong untuk membuat bab ini sebagai nasehat dan peringatan kepada kita agar tidak terjatuh dalam berdusta kepada Nabi, atau menceritakannya atau juga mengamalkannya.

Berikut beberapa contoh hadits lemah dan palsu dalam masalah ini yang banyak beredar dan popular di masyarakat padahal tidak shahih dari Nabi صلى الله عليه وسلم, maka hendaknya kita mewaspadainya:


1. Keutamaan Bulan Ramadhan

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فيِ رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِيْ أَنْ يَكُوْنَ رَمَضَانُ السَّنَةَ كُلَّهَا …. الخ

“Seandainya sekalian hamba mengetahui keutamaan bulan Ramadhan, niscaya mereka berangan-angan agar setiap tahun dijadikan bulan Ramadhan seluruhnya .…” (hadits panjang)

MAUDHU’. Diriwayatkan Ibnu Khuzaimah 1886, Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at 2/88-89 dari jalan Jarir bin Ayub al-Bajali dari Sya’bi dari Nafi’ bin Burdah dari Abu Mas’ud al-Ghifari.

Jarir bin Ayub adalah seorang rawi pendusta yang sangat masyhur, bahkan Abu Nu’aim berkata tentangnya, “Pemalsu hadits.”.


2. Awal Ramadhan Adalah Rahmat

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلٍ تَطَوُّعًا، مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ … وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَوَسْطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَأَخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ…. الخ

“Wahai manusia! Sesungguhnya bulan Ramadhan ini telah menaungi kalian semua. Bulan penuh berkah, bulan yang mempunyai suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, bulan yang Alloh menjadikan puasa pada bulan tersebut suatu kewajiban dan shalat malamnya sebagai sunnah. Barangsiapa berbuat suatu kebaikan pada bulan itu, maka sama halnya dia telah melakukan suatu kewajiban pada bulan lainnya …. Bulan yang awalnya berupa rahmat, pertengahannya berupa ampunan, dan akhirnya berupa pembebasan dari neraka ….” (hadits panjang)

LEMAH. Hadits ini diriwayatkan Ibnu Khuzaimah 1887, al-Mahamili dalam al-Amali 50 dari jalan Ali bin Zaid bin Jud’an dari Sa’id bin Musayyib dari Salman al-Farisi رضي الله عنه.

Hadits ini lemah, sebab, Ali bin Zaid adalah seorang rawi yang lemah. Imam Ahmad berkata tentangnya, “Dia tidak kuat.”.[2]

Faedah: Syaikh Ali Hasan al-Halabi memiliki risalah khusus tentang kelemahan hadits ini berjudul “Tanqihul Andhor…”, cet Darul Masir.


3. Sehat Dengan Puasa

صُوْمُوْا تَصِحُّوْا

“Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”

LEMAH SEKALI. Diriwayatkan Ibnu Adi dalam al-Kamil 7/2521 dari jalan Nahsyal bin Sa’id dari Dhahak dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما. Nahsyal adalah rawi yang matruk dan suka berdusta. Imam Ishaq bin Rahawaih berkata tentangnya, “Kadzdzab (pendusta).”[3]

Makna hadits ini shahih, sebab telah terbukti bahwa puasa merupakan faktor kesehatan dan dapat mengusir beberapa penyakit yang berbahaya bagi manusia.[4] Syaikh al-Albani memiliki pengalaman menarik tentang hal ini, beliau bercerita: “Pada akhir tahun 1379 H, aku pernah melaparkan diriku selama empat puluh hari berturut-turut, saya tidak merasakan makanan sedikitpun, saya hanya minum air saja! Semua itu saya lakukan untuk pengobatan dari sebagian penyakit, akhirnya saya diberi kesembuhan dari sebagian penyakit, padahal sebelumnya saya telah berobat kepada sebagian dokter selama sepuluh tahun lamanya, tanpa ada hasil yang nampak jelas”.[5]


4. Doa Buka Puasa

كَانَ النَّبِيُّ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ (بِسْمِ اللهِ)(اَللَّهُمَّ) لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Apabila Nabi berbuka puasa, beliau berdo’a, “Dengan nama Alloh. Wahai Alloh, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka. Maka terimalah puasaku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

LEMAH SEKALI. Diriwayatkan ath-Thobarani dalam Mu’jamul Kabir: 12720, ad-Daraquthni dalam Sunannya 240 dan Ibnu Sunni dalam Amalul Yaum wal Lailah 474 dari jalan Abdul Malik bin Harun bin Antharah dari bapaknya dari kakeknya dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما secara marfu’ (sampai kepada Nabi).

Hadits ini lemah sekali, sebab Abdul Malik seorang rawi yang lemah sekali. Ibnul Qayyim berkata tentang hadits ini: “Tidak shahih.”. Ibnu Hajar berkata: “Sanadnya lemah.” Al-Haitsami berkata: “Dalam hadits ini, terdapat Abdul Malik, dia seorang rawi yang lemah.”[6]

Adapun do’a berbuka puasa yang shahih dari Nabi صلى الله عليه وسلم sebagai berikut:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

“Telah hilang rasa dahaga dan telah basah tenggorokan dan telah tetap pahalanya, Insya Alloh.”[7]


5. Berbuka Tanpa Udzur

مَنْ أَفْطَرَ مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلاَ مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صَوْمُ الدَّهْرِ وَإِنْ صَامَهُ

“Barangsiapa tidak berpuasa di bulan Ramadhan tanpa ada udzur atau sakit, maka dia tak dapat ditebus dengan puasa setahun sekalipun dia berpuasa.”

LEMAH. Diriwayatkan al-Bukhari dalam Shahihnya 4/160 (al-Fath) secara mu’allaq, tanpa sanad. Dan diriwayatkan secara bersambung sanadnya oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya 1987, Tirmidzi 723, Abu Dawud 2397, Ibnu Majah 1672, dari jalan Abu Muthawwis dari bapaknya dari Abu Hurairah رضي الله عنه.

Ibnu Hajar berkata: “Dan diperselisihkan pada diri Habib bin Abu Tsabit perselisihan yang banyak sekali. Kesimpulannya, hadits ini mempunyai tiga kecacatan: idhtirab (kegoncangan), tidak diketahuinya keadaan Abu Muthawwis tersebut, dan diragukan apakah bapaknya mendengar dari Abu Hurairah رضي الله عنه.”[8]

Ibnu Khuzaimah juga berkata setelah membawakan riwayat ini: “Kalau memang hadits ini shahih, maka aku tidak mengetahui keadaan Abu Muthawwis maupun bapaknya.” Abu Isa at-Tirmidzi berkata, “Aku mendengar Muhammad bin Ismail (Bukhari) berkata: “Abu Muthawwis namanya Yazid bin Muthawwis, saya tidak mengetahui haditsnya selain hadits ini.’”[9]

6. Tidurnya Orang Puasa adalah Ibadah

صَمْتُ الصَّائِمِ تَسْبِيْحٌ, وَنَوْمُهُ عِبَادَةٌ ,وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ , وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

“Diamnya orang yang puasa adalah tasbih, tidurnya adalah ibadah, doa’nya mustajab dan amalnya dilipatgandakan.”

LEMAH SEKALI. Diriwayatkan ad-Dailami 2/253 dari Rabi’ bin Badr dari Auf al-A’rabi dari Abul Mughirah al-Qawwas dari Abdullah bin Umar secara marfu’.

Sanad ini lemah sekali, sebab Rabi’ bin Badr adalah seorang rawi yang ditinggalkan haditsnya.[10]

Diantara dampak negatif hadits ini adalah menjadikan sebagian orang malas dan banyak tidur di bulan puasa dengan alasan hadits ini.[11]

Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang seorang yang ketika bulan puasa, dia tidur sepanjang hari, bagaimana hukumnya? Dan bagaimana juga kalau dia bangun untuk melakukan kewajiban lalu tidur lagi?!

Beliau menjawab: Pertanyaan ini mengandung dua permasalahan:

Pertama: Seorang yang tidur seharian dan tidak bangun sama sekali, tidak ragu lagi bahwa dia telah bermaksiat kepada Allah dengan meninggalkan sholat, maka hendaknya dia bertaubat kepada Allah dan menjalankan shalat tepat pada waktunya.

Kedua:  Seorang yang tidur tetapi bangun menjalan shalat secara berjama’ah kemudian tidur lagi dan seterusnya, hukum orang ini tidak berdosa (dan tidak batal puasanya -pent) hanya saja luput darinya kebaikan yang banyak, sebab orang yang berpuasa hendaknya menyibukkan dirinya dengan shalat, dzikir, doa, membaca Al-Qur’an dan sebagainya sehingga mengumpulkan beraneka macam ibabah pada dirinya. Maka nasehatku kepada orang ini agar tidak menghabiskan waktu puasanya dengan banyak tidur, tetapi hendaknya bersemangat dalam ibadah.[12]

Namun, jangan difahami dari penjelasan di atas, bahwa orang yang sedang berpuasa tidak boleh tidur, itu pemahaman yang keliru, bahkan kalau seorang tidur sekedarnya dan meniatkan dengan tidurnya untuk istirahat, mengembalikan stamina tubuh, menyegarkan semangat ibadah, dan agar tidak ngantuk dalam sholat malam/tarawih maka dia telah melakukan ibadah dan diberi pahala atas niatnya, sebagaimana ucapan salah seorang sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم:

أَمَّا أَنَا فَأَنَامُ وَأَقُوْمُ, وَأَرْجُوْ فِيْ نَوْمَتِيْ مَا أَرْجُوْ فِيْ قَوْمَتِيْ

“Adapun saya, maka saya tidur dan bangun. Dan saya berharap dalam tidur saya (karena niat tidurnya adalah untuk semangat ibadah berikutnya) apa yang saya harapkan dalam bangun (shalat)  saya.” (HR. Bukhari 4086 Muslim 1733)


7. Ramadhan Bergantung Pada Zakat Fithr

شَهْرُ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلاَ يُرْفَعُ إِلَى اللهِ إِلاَّ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ

“Bulan Ramadhan tergantung antara langit dan bumi, dan dia tidak diangkat kepada Allah kecuali dengan zakat fithr.”

LEMAH. Dikeluarkan oleh Ibnu Syahin dalam at-Targhib dan adh-Dhiya’ dari Jarir. Hadits ini dha’if (lemah). Ibnul Jauzi membawakannya dalam al-Wahiyat seraya mengatakan: “Tidak shahih, di dalamnya terdapat Muhammad bin Ubaid al-Bashri, dia seorang yang majhul (tak dikenal)”.

Makna hadits inipun tidak benar, sebab dia menunjukkan bahwa diterima tidaknya puasa Ramadhan seorang itu tergantung pada zakat fithr, dan barangsiapa yang tidak mengeluarkannya maka puasanya tidak diterima. Saya tidak mengetahui seorangpun dari ahli ilmu yang berpendapat seperti ini.[][13]


[1]     Al-Hafizh al-’Iraqi berkata dalam al-Arbauna al-’Usyariyyah hal. 136: “Hadits ini termasuk hadits yang sangat populer, sehingga dijadikan contoh hadits mutawatir, diriwayatkan dari  seratus sahabat lebih, diantara mereka adalah sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira sebagai calon  penghuni surga”. (Lihat pula Fathul Bari Ibnu Hajar 1/203, Syarh Shahih Muslim an-Nawawi 1/28, Nadzmul Mutanatsir al-Kattani hal.35, Ada’u Ma Wajab Ibnu Dihyah hal. 26, Silsilah adh-Dha’ifah al-Albani 3/71-73, Juz Hadits Man Kadzaba ath-Thobarani).

[2]     Silsilah Ahadits Dha’ifah: 871, lihat juga no. 1569

[3]     Silsilah Ahadits Dhaifah: 253

[4]     Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah 28/8

[5]     Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah 1/419

[6]     Irwaul Gholil: 919

[7]     Hasan. Diriwayatkan Abu Dawud 2357, Baihaqi 4/239, al-Hakim 1/422, dan ad-Daraquthni 240 dan berkata, “Sanadnya hasan.” Dan disetujui al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Talkhis Habir 2/802 dan al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil 920.

[8]     Fathul Bari 4/161

[9]     Tuhfatul Ahwadzi 3/341

[10]    Silsilah Ahadits Dha’ifah: 3784, 4696

[11]    Ahadits Muntasyiroh Lam Tatsbutu Ahmad bin Abdullah as-Sulami hal. 366

[12]    Majmu Fatawa wa Rosail Ibnu Utsaimin 19/170-171 -secara ringkas-

[13]    Silsilah Ahadits Dha’ifah: 43

Hadits Palsu dan Lemah Tentang Keutamaan Berdzikir Dibulan Ramadhan






ذَاكِرُ اللهِ فِي رَمَضَانَ مَغْفُوْرٌ لَهُ، وَسَائِلُ اللهِ فِيْهِ لاَ يَـخِيْبُ

Orang yang berdzikir kepada Allah dl bulan Ramadhan diampuni dosanya dan orang yang meminta kepada Allah عزّوجلّ pada bulan tersebut tidak akan rugi.

Hadits ini di keluarkan oleh ath-Thabrani dalam Mu'jmu al-Ausath 6/195 no. 6170; Al-Ashbahani dalam at-Targhib (1/182, halaman Manuskrip) sebagaimana disampaikan Syaikh al-Albani); al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman 3/311 dan Fadhail Ramadhan, no. 3355; Ibnu Lal dalam Haditsnya 1/115-2/114 (halaman Manuskrip) sebagaimana disampaikan Syaikh al-Albani) dan Ibnu Adi dalam al-Kamil Fi Dhu'afa'ar-Rijal 4/291


KEADAAN SANAD HADITS


Semuanya jalan periwayatan hadits ini kembali kepada Abdurrahman bin Qais adh-Dhabby dari Hilal bin Abdirrahman dari Ali bin Zaid dari Sa'id bin al-Musayyib dari Umar bin al-Khathab رضي الله عنه secara marfu'.

Imam ath-Thabrani رحمه الله dalam al-Mu'jam al-Ausath berkata 6/195, "Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Sa'id bin al-Musayyib kecuali Ali bin Zaid dan tidak juga dari Ali kecuali Hilal bin Abdirrahman. Abdurahman bin Qais menyendiri dalam meriwayatkannya.

Dalam sanad hadits ini ada dua sebab kelemahan;

Pertama, kelemahan Abdurrahman bin Qais adh-Dhabby al-Bashri. Dia dikenal dengan Abu Mu'awiyah az-Za'farani. Dia berasal dari kota Wasith lalu tinggal di Baghdad sebentar, kemudian menetap di Naisabiir.

Di antara para Ulama yang menghukumi Abdurrahman bin Qais ini sebagai perawi lemah adalah:

Abu Zur'ah ar-Razi رحمه الله yang memvonisnya sebagai pendusta (lihat Tadzhib at-Tahdzib, 6/46).

Ahmad bin Hambal رحمه الله yang menyatakan: Laisa bi sy-Syai' dan laisa haditsuhu bi syai' (dia lemah sekali) dan beliau رحمه الله pernah juga menyatakan, "Haditsnya lemah dan dia seorang matrilkul hadits (perawi yang sangat lemah sekali). (lihat at-Tarikh al-Kabir 5/338 dan al-Kamil fi Dhu'afa'ar-Rijal 4/291).

Muhammad bin Ismail al-Bukhari رحمه الله, beliau berkata, "Dzahaba haditsuhu (haditsnya sangat lemah sekali). (lihat Tahdzib al-Kamal 17/364 dan Tadzhib at-Tahdzib 6/46).

Muslim bin al-Hajaj an-Naisaburi رحمه الله, beliau berkata, "Dzahib al-hadits (perawi yang sangat lemah sekali) (lihat ad-Dhu'afa wal Matrukin karya an-Nasa'i, hlm. 68)

An-Nasa'i رحمه الله, beliau berkata, "Matruk (perawi yang ditinggal haditsnya karena sangat lemah sekali). (lihat Tadzib at-Tahdzib, 6/46)

Shalih bin Muhammad al-Baghdadi رحمه الله, beliau berkata, "Dia pernah  memalsukan hadits. (lihat Tahdzib al-Kamal, 17/366).

Ibnu Adi رحمه الله dalam al-Kamil fi Dhu'afa’ar-Rijal 4/291) berkata, "Mayoritas yang diriwayatkannya adalah mungkar tidak ada asalnya dan tidak diikuti para tsiqah"

Ibnu Hajar رحمه الله, beliau berkata,. "Matruk (lihat at-Taqrib, hlm. 349)

Syaikh al-Albani رحمه الله, beliau berkata, "Matruk (lihat Silsilah Ahddits Dha'ifah, no. 3621).

Kedua, kelemahan guru Abdurrahman bin Qais yaitu Hilal bin Abdirrahman al-Bashri al-Hanafi.

Syaikh al-Albani رحمه الله berkata, "Dan gurunya yaitu Hilal bin Abdurrahman -al-Hanafi- tidak jauh darinya. Al-'Uqaili mengatakan saat menjelaskan biografi Hilal, "Mungkarul hadits (perawi sangat lemah sekali). Kemudian al-'Uqaili membawakan tiga haditsnya dan berkata, " Semua ini mungkar tidak ada asalnya dan tidak ada yang menguatkannya. Dengan sebab Hilal ini saja al-Haitsami رحمه الله dalam Majma' az-Zawa’id, 3/143 menyebutkan cacat hadits tersebut. Al-Mundziri dalam at-Targhib 2/73 menyandarkannva kepada al-Baihaqi dan al-Ashbahani dan mengisyaratkan pelemahannya. (Silsilah al-Ahddits Dha'ifah, no 3621)

Demikianlah al-Haitsami dalam Majma' Zawa'id 1/124 berkata tentang Hilal pada hadits yang lain: Diriwayatkan oleh al-Bazar dan ada padanya Hilal bin Abdirrahman al-Hanafi dan dia matruk.


KESIMPULAN


Hadits ini di hukumi Syaikh al-Albani رحمه الله sebagai hadits palsu dalam Silsilah al-Ahddits ad-Dha'ifah, no. 3621 dan beliau hukumi sebagai hadits yang lemah dalam Dha'if at-Targhib wa at-Tarhib, 1/150. Bila melihat kepada keadaan Abdurrahman bin Qais dan gurunya dapat disimpulkan haditsnya lemah sekali.

Wallahu a'lam.[]

Hadits Lemah Tentang Tidurnya Orang yang Berpuasa adalah Ibadah





 رُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ ألنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَسُكُوْتُهُ تَسْبِيْجٌ

Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Abu Aufa رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah dan diamnya adalah tasbih (berdzikir kepada Allah عزّوجلّ)".


TAKHRIJ HADITS


Hadits ini dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman, 3/415, dengan sanad beliau dari Sulaiman bin Amr dari 'Abdul Malik bin Umair dari Abdullah bin Abu Aufa dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Riwayat ini sanadnya palsu, karena ada rawi yang bernama Sulaiman bin Amr. Dia adalah Abu Dawud an-Nakha'i, seorang pendusta dan pemalsu hadits yang terkenal.[1]

Riwayat ini dinyatakan kelemahannya yang fatal oleh imam al-'Iraqi dalam Takhriju Ahaditsil Ihya', hlm. 187, dan al-Munawi dalam Faidhul Qadir, 1/290.

Juga diriwayatkan dari jalur lain dari Abdullah bin Abu Aufa, dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman, 3/415.

Riwayat ini sanadnya angat lemah, karena ada perawi yang bernama Ma'ruf bin Hassan as-Samarqandi. Imam Ibnu Adi berkata tentangnya, "Hadits (yang diriwayatkan)nya munkar (sangat lemah)"[2]

Juga ada jalur lain dari Abdullah bin Abi Aufa رضي الله عنه dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman, 3/415.

Riwayat ini sanadnya sangat lemah bahkan palsu, karena ada rawi yang bernama Khalaf bin Yahya. Dia dinyatakan sebagai pendusta oleh Imam Abu Hatim ar-Razi.[3]

Hadits yang semakna juga diriwayatkan dari Sahabat lain, yaitu Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه, dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dikeluarkan oleh Imam Abu Nu'aim dalam Hilyatul Auliya', 5/83.

Hadits ini juga sanadnya lemah, karena ada rawi yang bernama Abu Thaibah Abdullah bin Muslim as-Sulami al-Marwazi. Imam Abu Hatim ar-Razi berkata tentangnya, "Hadits (riwayatnya) ditulis tapi tidak dijadikan sebagai sandaran." Imam Ibnu Hibban berkata, "Dia selalu salah dan menyelisihi (dalam meriwayatkan hadits)."[4]

Hadits yang semakna juga diriwayatkan dari Shahabat Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dikeluarkan oleh Imam Hamzah bin Yusuf al-Jurjani dalam Tarikh Jurjan, hlm. 370.

Hadits ini dihukumi oleh Syaikh al-Albani sebagai hadits yang sangat lemah karena sanadnya gelap (rawi-rawinya tidak dikenal) dan terputus.[5]

Juga diriwayatkan dari Shahabat 'Abdullah bin 'Umar رضي الله عنهما dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم, sebagaimana yang dinukil oleh Imam al-'Iraqi dalam Takhriju Ahaditsil lhya, hlm. 187 dan dinyatakan lemah sanadnya oleh beliau.





KESIMPULAN


Hadits ini lemah dari semua jalur periwayatannya, bahkan sebagian jalurnya sangat lemah dan yang lain palsu. Hadits ini dihukumi sebagai hadits lemah oleh Imam al-'Iraqi, Imam al-Munawi dan Syaikh al-Albani.[6]

Karena derajat hadits ini lemah, maka ia tidak bisa dijadikan argumentasi dan sandaran untuk menetapkan bahwa tidur dan diamnya orang yang berpuasa bernilai ibadah di sisi Allah عزّوجلّ, karena hukum asal tidur dan berdiam diri adalah mubah (boleh/tidak berpahala dan tidak berdosa).

Bahkan tidur yang berlebihan termasuk sebab besar yang menjadikan hati manusia lalai dan terhalang dari mengingat Allah عزّوجلّ,[7] sehingga mestinya dilakukan sesuai dengan kebutuhan saja.

Meskipun demikian, semua perbuatan yang hukum asalnya mubah, termasuk tidur, jika diniatkan ikhlas karena mengharapkan wajah Allah   عزّوجلّ maka akan bernilai ibadah dan menjadi amal ketaatan yang mendatangkan pahala di sisi Allah عزّوجلّ.[8] Ini berlaku umum bagi orang yang berpuasa maupun tidak.

Inilah makna sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang menjelaskan bahwa seorang suami yang mengumpuli istrinya itu bernilai sedekah.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ ، " أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ ، قَالَ: " أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ، إِنَّ كُلَّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكَلَّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكَلَّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٍ بِالمَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٍ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ، قَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي الْحَرَامِ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهِ وِزْرٌ، قَالُوْا: نَعَمْ، فَكَذَلِكَ إِذَا هُوَ وَضَعَهَا فِي الْحَلالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

Diriwayatkan dari Abu Dzar  رضي الله عنه bahwa ada sekelompok Shahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata kepada Beliau صلى الله عليه وسلم, "Wahai Rasulullah! 'Orang-orang kaya itu pergi dengan membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka berpuasa sebagaimana kami puasa dan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta yang mereka miliki." Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu bagi kalian untuk bersedekah. Sesungguhnya dengan setiap (ucapan atau dzikir) tasbih itu sedekah, dengan setiap takbir itu sedekah, dengan setiap tahmid itu sedekah, setiap tahlil itu sedekah, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah sedekah dan (bahkan) seseorang di antara kalian mengumpuli istrinya itu adalah sedekah." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah salah seorang diantara kami yang menunaikan syahwat akan mendapatkan pahala dengan perbuatannya itu?" Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, 'Bagaimana pendapat kalian jika dia meletakkan atau menunaikan syahwatnya pada sesuatu yang haram, apakah dia mendapatkan dosa karenanya?' Mereka menjawab, "Ya.' Beliau صلى الله عليه وسلم melanjutkan, 'Begitu pula jika dia meletakkan syahwatnya itu pada sesuatu yang halal, maka dia mendapatkan pahala karenanya.[9]

Wabillahittaufiq.[]


[1]     Lihat kitab Lisanul Mizan, 3/97.

[2]     Kitab al-Kamil fi Dhu'afa-ir Rijal, 6/325.

[3]     Lihat kitab Lisanul Mizan, 2/405.

[4]     Lihat kitab Tahdzibut Tahdzib, 6/27.

[5]     Lihat kitab Silsilatul Ahaditsidh Dha'ifati wal Maudhu’ah, 10/231.

[6]     Dalam Takhriju Ahaditsil lhya', hlm. 187; Faidhul Qadir, 6/290 dan Silsiltul Ahaditsidh Dha'ifati wal Maudhu'ah, 10/230.

[7]     Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zadul Ma'ad, 2/82.

[8]     Lihat keterangan Imam an-Nawawi dalam Syarhu Shahihi Muslim. 6/16.

[9]     HSR Muslim, no. 1006.

Keutamaan Shalawat Kepada Nabi



Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَن صلَّى عليَّ صلاة واحدة ، صَلى الله عليه عَشْ رَ
صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ
دَرَجَاتٍ
“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)”.1

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anjuran memperbanyak shalawat tersebut,2 karena ini merupakan sebab turunnya rahmat, pengampunan dan pahala yang berlipatganda dari Allah Ta’ala.3
BEBERAPA FAIDAH PENTING YANG TERKANDUNG DALAM HADITS INI
1. Banyak bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan tanda cinta seorang muslim kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,4 karena para ulama mengatakan: “Barangsiapa yang mencintai sesuatu maka dia akan sering menyebutnya”.5
2. Yang dimaksud dengan shalawat di sini adalah shalawat yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih (yang biasa dibaca oleh kaum muslimin dalam shalat mereka ketika tasyahhud),6 bukan shalawat-shalawat bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang datang belakangan, seperti shalawat nariyah, badriyah, barzanji dan shalawat-shalawat bid’ah lainnya. Karena shalawat adalah ibadah, maka syarat diterimanya harus ikhlas karena Allah Ta’ala semata dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.7 Juga karena ketika para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “(Wahai Rasulullah), sungguh kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, maka bagaimana cara kami mengucapkan shalawat kepadamu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ucapkanlah: Ya Allah, bershalawatlah kepada (Nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga beliau…dst seperti shalawat dalam tasyahhud.8
3. Makna shalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah meminta kepada Allah Ta’ala agar Dia memuji dan mengagungkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan akhirat, di dunia dengan memuliakan penyebutan (nama) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, memenangkan agama dan mengokohkan syariat Islam yang beliau bawa. Dan di akhirat dengan melipatgandakan pahala kebaikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, memudahkan syafa’at beliau kepada umatnya dan menampakkan keutamaan beliau pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk.9
4. Makna shalawat dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah limpahan rahmat, pengampunan, pujian, kemualian dan keberkahan dari-Nya.10 Ada juga yang mengartikannya dengan taufik dari Allah Ta’ala untuk mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (petunjuk-Nya), sebagaimana dalam firman-Nya,
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُه لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ
الظُّلُمَاتِ إِلَ النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيَ رَحِي ما
“Dialah yang bershalawat kepadamu (wahai manusia) dan malaikat-Nya (dengan memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (QS al-Ahzaab:43).
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه
أجمعي، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمي

BULAN RAMADHAN BERSAMA AL-QUR’AN





Salah satu syiar Islam bulan Ramadhan yang telah banyak dilalaikan manusia adalah mempelajari al-Qur'an. Padahal bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur'an, maka sudah semestinya setiap muslim punya perhatian lebih terhadap al-Qur'an di bulan ini.


RAMADHAN BULAN AL-QUR'AN


Allah عزّوجلّ berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS.Al-Baqarah [2]: 185).

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di رحمه الله berkata: "Al-Qur'an merupakan petunjuk kebaikan bagi kalian di dunia dan akhirat. Kitab yang telah menjelaskan kebenaran dengan penjelasan yang gamblang, sebagai pembeda antara yang hak dan bathil, antara hidayah dan kesesatan, dan antara orang yang bahagia dan orang yang celaka".[1]


HIKMAH TURUNNYA AL-QUR'AN DI BULAN RAMADHAN


Hubungan al-Qur'an dengan bulan Ramadhan adalah hubungan yang penuh makna. Ibadah puasa adalah sarana perbaikan jiwa dan pembersihan hati. Semua ini menyimpan tujuan besar, yaitu agar manusia siap menerima cahaya ilmu dan petunjuk al-Qur'an. Maksud yang terbesar dari puasa adalah membersihkan hati dan pikiran, dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih maka manusia akan mampu memahami kandungan al-Qur'an. Perhatikanlah rahasia hikmah ini dalam urutan ayat tentang puasa, setelah Allah عزّوجلّ menyebutkan kewajiban puasa maka Allah menyebutkan dalam rentetan selanjutnya dengan ayat turunnya al-Qur'an, hal ini dapat dipahami bahwa disyariatkannya ibadah puasa tiada lain demi al-Qur'an.[2]



TUGAS MULIA MEMBACA AL-QUR'AN


Al-Qur'an adalah kalamullah. Membaca al-Qur'an merupakan amalan mulia. Allah عزّوجلّ memerintahkan kita agar selalu membacanya. Orang yang membaca al-Qur'an akan mendapat pujian dan keistimewaan dari Allah عزّوجلّ. Allah عزّوجلّ berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ . لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada me-reka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Fathir [35]: 29-30).


Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Bacalah al-Qur'an, karena sesungguhnya al-Qur'an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at bagi ahli al-Qur'an.[3]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الـم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa yang membaca satu huruf al-Qur'an maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan bahwa Aliif Laam Miim satu huruf, akan tetapi Aliif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.[4]




Beliau juga bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنْ النَّاسِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

Sesungguhnya Allah mempunyai orang-orang yang ahli diantara manusia. Ada yang bertanya; siapa mereka wahai Rasulullah? Nabi menjawab: mereka adalah ahli al-Qur'an, mereka adalah wali Allah dan orang khususnya.[5]

Imam Ibnu Shalah رحمه الله mengatakan: "Membaca al-Qur'an adalah kemuliaan, kemuliaan yang Allah berikan kepada manusia. Sungguh para malaikat tidak diberikan hal itu, dan mereka sangat semangat untuk mendengarkannya dari manusia."[6]


HAKEKAT MEMBACA AL-QUR'AN


Hakekat membaca al-Qur'an adalah ittiba', mengikuti dengan segenap hati kandungan al-Qur'an. Menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Allah عزّوجلّ berfirman:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ

Orang-orang yang telah Kami berikan al-kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. (QS.al-Baqarah [2]:121)

Imam Mujahid رحمه الله berkata: "Firman-Nya mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya yaitu mereka mengamalkannya dengan sebenar-benarnya pengamalan".[7]

Imam Ikrimah رحمه الله berkata: "Yaitu mereka mengikutinya dengan sebenar-benarnya pengikutan".[8]

Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: "Mutaba'ah adalah hakekat membaca yang Allah memberi pujian bagi pelakunya dalam firmannya yang berbunyi:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab. (QS.Fathir [35]: 29)


Maksud membaca adalah membaca secara makna dan mengikutinya, dengan membenarkan beritanya, melaksanakan perintahnya, meninggalkan larangannya, dan menjadikan al-Qur'an sebagai imam".[9]


MANA YANG LEBIH AFDHAL, MEMBACA DENGAN MELIHAT MUSHAF ATAU DENGAN HAFALAN?


Membaca al-Qur'an dengan melihat mushaf adalah ibadah dan membacanya dengan hafalan juga ibadah. Namun, manakah yang lebih utama dari keduanya?

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ شَرَّهُ أَنْ يُـحِبَّ اللهَ وَ رَسُولَهُ فَلْيَقْرَأْ فِيْ الْـمُصْحَفِ

Barangsiapa yang senang untuk mencintai Allah dan RasulNya maka hendaklah ia membaca al-Qur'an dari mushaf.[10]

Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه mengatakan: "Rutinkan untuk melihat al-Qur'an dari Mushaf".[11]

Imam an-Nawawi asy-Syafi’i رحمه الله berkata: "Membaca al-Qur'an dengan melihat mushaf lebih afdhal daripada membaca lewat hafalan, karena melihat mushaf adalah ibadah yang sudah ditetapkan, maka akan berkumpul antara membaca al-Qur'an dan melihatnya".[12]


POTRET SALAF BERSAMA AL-QUR'AN DI BULAN RAMADHAN


Imam az-Zuhri رحمه الله ditanya tentang amalan di bulan Ramadhan, beliau menjawab: "Amalan di bulan Ramadhan hanya membaca al-Qur'an dan memberi makan."

Imam Abdurrazzaq رحمه الله menukil dari Imam ats-Tsauri رحمه الله bahwasanya jika telah masuk bulan Ramadhan beliau meninggalkan seluruh ibadah selain yang wajib, dan memfokuskan diri untuk membaca al-Qur'an.

Bila bulan Ramdhan datang Imam Malik رحمه الله 'lari' dari majlis ilmu dan memfokuskan diri membaca al-Qur'an dari mushaf.[13]


MEMAHAMI KANDUNGAN MAKNA AL-QUR'AN


Al-Qur'an diturunkan Allah bukan semata untuk dibaca, namun tujuan asasi adalah agar dipahami kandungan ayatnya. Allah عزّوجلّ berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS. Shaad [38]: 29).

Imam as-Syaukani رحمه الله berkata: "Ayat ini adalah dalil bahwasanya Allah عزّوجلّ menurunkan al-Qur'an itu hanyalah untuk ditadabburi dan direnungi maknanya, bukan hanya sekadar membacanya tanpa tadabbur".[14]

Allah عزّوجلّ berfirman:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا

Apakah mereka tidak memperhatikan al Qur'an? kalau kiranya al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS.an-Nisa' [4]: 82).[15]

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: "Tidak ada sesuatu apa-pun yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba di kehidupan dunia dan akheratnya dan lebih bisa mendekatkan diri menuju keselamatannya dibandingkan dengan mentadabburi al-Qur'an, mendalaminya dengan merenungi makna ayat-ayatnya. Karena dengan cara tersebut akan nampak baginya tanda-tanda kebaikan dan peringatan akan kejelekan".[16]

Termasuk praktek nyata Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabat dalam mentadabburi al-Qur'an adalah kebiasaan mereka yang mengulang-ulang satu ayat al-Qur'an sampai waktu subuh.

Abu Dzar رضي الله عنه berkata: "Nabi shalat malam dengan membaca satu ayat sampai waktu subuh, beliau mengulang-ulang ayat itu terus, ayat tersebut berbuyi;

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Jika Engkau menyiksa mereka, Maka Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Maidah [5]: 118).

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: "Inilah kebiasaan salaf, salah seorang diantara mereka mengulang-ulang ayat sampai subuh".[17]

Imam Ahmad bin Abdirrahman al-Maqdisi رحمه الله berkata: "Selayaknya bagi orang yang membaca al-Qur'an untuk melihat bagaimana kelembutan Allah terhadap makhluknya dalam menyampaikan makna al-Qur'an ke dalam pemahaman mereka, dan hendaknya menyadari bahwa apa yang dia baca bukan ucapan manusia, agar dapat menghadirkan dalam hatinya keagungan yang berkata dan mentadabburi firman-Nya, karena tadabbur adalah maksud inti dari membaca, jika tidak mampu dalam mentadabburinya kecuali dengan mengulang-ulang ayat, maka ulang-ulangilah".[18]


KHATAMAN AL-QUR'AN


Mempunyai target dalam membaca al-Qur'an adalah sunnah yang telah ditinggalkan. Sungguh para salaf mereka punya target yang tetap dalam membaca al-Qur'an pada setiap harinya, disebut dengan hizb, wirid atau juz yang mereka tetapkan terus bersambung hingga khatam al-Qur'an dalam sebulan sekali, dalam sepekan sekali atau setiap tiga hari sekali. Dalil permasalahan ini diantaranya adalah sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang berbunyi;

مَنْ نَامَ عَنْ حِزْبِهِ أَوْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ فَقَرَأَهُ فِيمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الظُّهْرِ كُتِبَ لَهُ كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنْ اللَّيْلِ

Barangsiapa yang tertidur meninggalkan hizbnya atau sedikit darinya, kemudian dia membacanya antara shalat subuh dan shalat zuhur maka akan ditulis baginya pahala bacaan semalam suntuk".[19]

Dan paraktek para sahabat yang mencontoh Nabi صلى الله عليه وسلم dalam pencapaian target membaca al-Qur'an adalah suatu yang sudah maklum diketahui. Sebagai contohnya suatu hari Rasulullah menjamu tamu dari kalangan bani Tsaqif di tendanya, mereka datang menemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم setiap malam setelah Isya agar mendengar ilmu dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Pernah di suatu malam Rasulullah terlambat keluar menemui mereka, salah seorang dari mereka bertanya; "Sungguh malam ini Anda terlambat dalam memberi hadits kepada kami." Nabi menjawab; "Sesungguhnya tadi terlihat dalam fikiranku target bacaan al-Qur'anku, maka aku tidak senang untuk keluar sebelum aku menyelesaikannya."

Rawi hadits ini yaitu Aus bin Hudzaifah berkata: "Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah, bagaimana kalian membagi target bacaan dan hafalan al-Qur'an?" Mereka menjawab; "Tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas dan target surat-surat mufasshal".[20]

Pensyarah kitab Sunan Abu Dawud berkata: "Hizb adalah apa yang dijadikan seseorang untuk dirinya sendiri berupa target dalam membaca al-Qur'an. Maksud ucapan para sahabat hizbnya tiga yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran dan an-Nisaa. Maksud lima adalah dari surat al-Maidah sampai surat at-Taubah, maksud tujuh adalah dari surat Yunus sampai surat an-Nahl. Dan sembilan yaitu dari surat as-Shoffaat sampai surat Hujuraat. Dan maksud surat mufasshol yaitu dari surat Qaaf sampai akhir al-Qur'an".[21]


LAMANYA WAKTU MENGKHATAMKAN AL-QUR’AN


Imam Nawawi رحمه الله berkata: "Kaum salaf memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam batas waktu menghatamkan al-Qur'an, sebagian mereka ada yang menghatamkannya dalam dua bulan, sebagian yang lain dalam sebulan, yang lainnya dalam sepuluh hari, yang lainnya lagi dalam tujuh hari dan inilah yang terbanyak, bahkan ada juga yang menghatamkannya dalam satu hari satu malam.[22]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ الْقُرْآنَ فِي شَهْرٍ قُلْتُ: إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً قَالَ: فَاقْرَأْهُ فِي سَبْعٍ وَلَا تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ

Dari Abdullah bin Amr رضي الله عنهما, bahwasanya Rasulullah berkata kepadaku: "Bacalah al-Qur'an dalam sebulan!" Aku berkata: "Aku masih sanggup kurang dari itu wahai Rasulullah!" Rasulullah pun berkata: "Kalau begitu bacalah dalam waktu tujuh hari dan janganlah engkau minta kurang lagi."[23]

Abdullah bin Amr رضي الله عنهما bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَـمْ يَفْقَهْ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ

Tidak akan faqih orang yang membaca al-Qur'an kurang dari tiga hari.[24]

Al-Hafizh Ibnu Rajab رحمه الله berkata: "Larangan menghatamkan al-Qur'an kurang dari tiga hari hanyalah jika hal itu dilakukan secara terus menerus. Adapun jika dilakukan pada waktu-waktu yang penuh dengan keutamaan seperti pada bulan Ramadhan, wabil khusus pada malam-malam yang diharapkan turun Lailatul Qadr atau dilakukan pada tempat yang punya keutamaan seperti kota Makkah yang dikunjungi oleh orang luar Makkah maka dianjurkan untuk memperbanyak membaca al-Qur'an sebagai bentuk meraih kesempatan keutamaan waktu dan tempat, inilah pendapatnya Ahmad, Ishaq dan selain keduanya dari para imam".[25]

Perhatian: Tidak ada do'a khusus ketika menghatamkan al-Qur'an, adapun do'a-do'a khatam al-Qur'an yang tersebar sekarang ini tidaklah shahih![26]


MUTIARA KALAM SALAF


1.    Fudhail bin Iyadh رحمه الله mengatakan: "Orang yang menekuni al-Qur'an adalah orang yang membawa bendera Islam, tidak pantas baginya untuk lalai bersama orang yang lalai, lupa bersama orang yang lupa dan tersibukkan bersama orang yang sibuk".[27]

2.    Imam al-Aajurri رحمه الله berkata: "Hendaknya orang yang membaca al-Qur'an untuk menjadikan al-Qur'an sebagai penyejuk hatinya, memenuhi relung hati dalam memperbaiki yang rusak, beradab dengan adab al-Qur'an, berakhlak dengan akhlak yang mulia, dirinya berbeda dengan seluruh manusia yang tidak membaca al-Qur'an".[28]

3.    Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: "Andaikan manusia mengetahui apa yang terdapat dalam membaca al-Qur'an dengan tadabbur niscaya mereka akan menyibukkan diri dengannya dari perkara yang lain. Apabila membaca al-Qur'an dengan merenunginya hingga ketika melewati satu ayat dia berfikir dan mentadabburinya, hal itu lebih baik daripada membaca al-Qur'an sampai selesai tanpa diiringi tadabbur dan pemahaman".[29]

Allahu A'lam.[]



[1]     Taisir Karim ar-Rahman 1/178-179.

[2]     Ruh as-Shiyam Wa Ma'aniih hal.52, DR. Abdul Aziz Musthafa Kamil.

[3]     HR.Muslim: 802.

[4]     HR. Tirmidzi: 2910. Shahih. Lihat Al-Misykah: 2137 oleh al-Albani.

[5]     HR. Ibnu Majah: 215, Hakim 1/556. Dishahihkan  oleh  al-Albani  dalam Shahih at-Targhib no.1432

[6]     Al Itqan Fi U'lum al-Qur'an 1/291, as Suyuthi.

[7]     Dikeluarkan oleh Imam at-Thabari dalam tafsirnya 1/568, al-Aajurri dalam Akhlak Hatnalah al-Qur'an hal.5, 35.

[8]     Dikeluarkan oleh Imam at-Thabari 1/567, al-Firyabi dalam Fadhail al-Qur'an no.165.

[9]     Miftah Dar as-Sa'adah 1/202.

[10]    HR. Abu Nu'aim dalam al-Hilyah 7/209, Ibnu Ahmad ar-Rozi dalam Fadhail al-Qur'an Wa Tilawatuh no.115. dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami' no.6289, as-Shahihah no.2342.

[11]    Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya 2/499, al-Firyabi dalam Fadhail al-Qur'an hal. 149-150.

[12]    At-Tibyan Fi Aadab Hamalah al-Qur'an hal.55.

[13]    Wazhaif Ramadhan hal.42.

[14]    Fathul Qadiir 4/430.

[15]    HR. Ibnu Majah no.1350, an-Nasai no.1010. Dishahihkan oleh syaikh al-Albani dalam al-Misykah no.1205.

[16]    Madarij as-Salikiin 1/450.

[17]    Miftah Dar as-Sa'adah 1/553.

[18]    Mukhtshar Minhaj al-Qashidin hal.68, Tahqiq: Ali Hasan.

[19]    HR Muslim 747.

[20]    HR. Ibnu Majah: 1345. Dihasankan oleh al-Hafizh al-Iroqi dalam Takhrij al-Ihyaa 1/276.

[21]    Aunul Ma'bud Syarah Sunan Abi Dawud 2/87.

[22]    Al-Adzkar hal. 153.

[23]    HR. Bukhori: 5054, Muslim: 184.

[24]    HR. Tirmidzi (2946), Abu Dawud (1390), Dishohihkan oleh Al-Albani dalam as-Shohihah (1513), dan al-Misykah (2201).

[25]    Lathaif al-Ma'arif hal.319

[26]    Untuk lebih meluaskan permasalahan ini silahkan periksa kitab Marwiyyat Du'a Khotmil Qur'an karya Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid.

[27]    Dikeluarkan oleh Imam al-Aajurri dalam Akhlak Hamalah al-Qur'an no.37, Abu Nu'aim dalam al-Hilyah 8/92 dengan sanad yang tidak mengapa.

[28]    Akhlak Hamalah al-Qur'an hal.154-161.

[29]    Miftah Daar as-Sa'adah 1/553.

Sistem Akhlak Islam



Sistem akhlaq Islam ini mempunyai perwatakan-perwatakan dan keistimewaankeistimewaannya
yang tidak boleh diketepikan pada tempat ini. Apa yang akan
saya sebutkan sekarang hanyalah tiga perwatakan yang jelas sahaja, iaitu
perwatakan-perwatakan yang merupakan teras dan intinya, malah perwatakanperwatakan
ini sebenarnya, adalah di antara perkara-perkara yang utama
(priorities) dalam masalah sistem akhlaq:

Pertama: Bahawa Islam menjadikan 'menuntut wajah Tuhan dan mencari
keredhaanNya' itu sebagai matlamat yang dicarikan di dalam penghidupan
manusia, dan dengan itu dia mengadakan satu criterion akhlaq yang tinggi.
Tidak ada sesuatu yang dapat menyekatnya daripada mempertinggikan akhlaq.
Oleh yang demikian, dia telah memberikan ketetapan serta keutuhan kepada
akhlaq manusia yang mana membolehkannya maju dan berkembang, dan tidak
akan mungkin lagi bertukar rupa dan berubah warnanya dari satu ketika kepada
ketika yang lain. Begitu juga ketakutan kepada Allah menyediakan untuk akhlaq
satu kekuatan penggerak yang menggalakkan orang mengawasi serta
memerhatikan segala kehendak- kehendaknya tanpa dimasuk campur oleh
mana-mana faktor luar. Ini juga menimbulkan di dalam perasaan manusia dan
membentuk - kerana keimanannya dengan Allah dan hari kemudian - satu
kekuatan yang menakutkan seseorang dan yang menggalakkannya beramai
dengan sendirinya mengikut undang-undang akhlaq.

Kedua: Bahawa dengan galakan dan dorongan mutlak ini, Islam tidaklah
mengada dan merekakan akhlaq dan tatasusila baharu yang tidak pernah
dibiasakan oleh manusia sebelumnya, tidak juga Islam menurunkan
setengah-setengah akhlaq manusia yang sudah dikenali orang dan mengangkat
setengah-setengah yang lain. Dia tidak memakai akhlaq melainkan apa yang
sudah terma'lum di sisi sekelian manusia. Akhlaq yang sudah termaklum itu
tidak disingkirkan, baik kecil atau besarnya, tetapi diambil dan didapatkannya,
kemudian diletakkan tiap-tiap satunya ditempatnya yang sebenar di dalam
penghidupan manusia. Perlaksanaannya diperluaskan secara leluasa ke atas
manusia, sehingga tidak ada lagi cabang-cabang dan segi-segi hidup yang masih
tersisa - seperti kerja-kerja perseorangan, urusan-urusan rumahtangga,
pergaulan-pergaulan sosial, hal-hal politik dan ekonomi, jual beli di pasar,
urusan-urusan di sekolah, di mahkamah, di balai polis, di kem-kem tentera, di
medan perang, di persidangan damai dan urusan-urusan lain seterusnya dari
segi-segi penghidupan manusia yang lain - tidak ada lagi yang masih tersisa
melainkan kita lihat kesan-kesan akhlaq yang sepenuhnya tertanam di dasar
segi-segi tersebut. Islam menjadikan akhlaq menguasai dan mengawasi dalam
segala segi penghidupan. Apa yang dikehendaki oleh Islam dengan yang
demikian itu ialah merebutkan teraju urusan-urusan hidup dari kehendak nafsu
syahwat, dari tujuan-tujuan serta kepentingan- kepentingan diri sendiri dan
meletakkannya di tangan akhlaq yang bersih dan tingkah laku yang baik.

Ketiga: Keistimewaan yang ketiga bagi sistem akhlaq Islam ialah, bahawa dia
meminta dan menuntut manusia agar mendirikan satu sistem hidup yang mana
tiang-tiangnya tegak di atas kerja-kerja yang baik, tidak dikotori oleh sebarang
kemungkaran. Dia menyeru manusia seluruhnya supaya melakukan kerja-kerja
kebajikan dan menyibarkan usaha-usaha baik yang dipandang oleh manusia
setiap zaman dan tempat dengan pandangan memuji dan memuja. Sebaliknya
hendaklah menolak dan menghapuskan segala kemungkaran yang sentiasa
dipandang oleh manusia dengan pandangan keji dan menghina. Orang yang
menyahuti akhlaq ini dan mengalu-alukan seruannya, mereka digolongkan oleh
Islam ke dalam golongannya, dan dari merekalah dijadikan umat Islam. Tidak ada
tujuan Islam yang lain dengan menjadikan mereka itu sebagai satu umat,
melainkan ialah kerana mahu mengembelingkan segala usaha dan kerja sosial
mereka ke arah mendirikan kebajikan serta mengukuh dan menyebarkannya,
juga membendung dan menghapuskan kemungkaran, membungkaskan akar
umbinya. Jika sekiranya umat ini kembali mengerjakan kemungkaran dan
melakukan kejahatan, jika dia mula menurut perjalanan orang-orang yang
menentang kerja-kerja kebajikan dan berusaha memadamkan sinarnya, tidak
tahulah apa yang akan terjadi ke atas dunia dan umat ini. Tidak ada daya dan
kekuatan melainkan dengan Allah saja.



Sistem Poltik Islam



Tawhid, risalat (keRasulan) dan khilafat, adalah tiga tonggak yang didirikan di
atasnya binaan sistem politik Islam. Tidaklah mudah untuk kita mengetahui
secara lengkap sistem-sistem politik Islam dengan segala cabang dan seginya itu,
melainkan bila mana kita memahami terlebih dahulu prinsip-prinsip tauhid,
risalat, dan khilafat itu dengan fahaman yang sempurna. Sebelum itu eloklah
rasanya saya huraikan terlebih dahulu prinsip-prinsip ini satu persatu dengan
ringkasnya.

Tawhid: Ma'na tawhid ialah, bahawa Allah Taala itu pencipta alam ini berserta
manusia yang ada di dalamnya. Dia adalah Tuhan kamu dan Pemilik kamu.
Tidak ada pemerintahan, kuasa (authority), suruhan dan larangan melainkan
untukNya sahaja. Dialah yang layak menerima perhambaan diri dan taat setia
kita, tidak diperkongsikan oleh sesiapa pun. Kemudian, jiwa yang kerananya kita
hidup dan beroleh kekuatan serta bakat yang dapat kita gunakan untuk apa yang
kita mahu, juga segala hak yang dapat kita gunakan di dalam alam ini, dan alam
ini yang dapat kita jalankan tindak-tanduk di dalamnya, itu semua bukan kita
yang mencipta dan mengadakannya sendiri, pun kita tidak tahu yang ianya akan
didatangkan untuk kita. Tetapi Allah2 Subhanahu Wata'ala telah memuliakan
kita dengan semua itu tanpa disyarikati oleh sesiapa. Kita tidak dapat, sedikit
atau banyak, menentukan kesudahan perjalanan hidup kita, atau menetapkan
batas-batas dan tingkatan-tingkatan tertentu untuk segala tenaga serta hak kita
sebagaimana yang kita mahu dan yang kita inginkan. Begitu juga seseorang tidak
mungkin - tidak kira siapa orangnya - masuk campur dalam soal-soal ini, tetapi
segala-galanya itu terpulang kepada Allah Taala sendiri. Dialah sahaja yang
menjadikan kita dan yang mengurniakan kepada kita segala hak-hak dan
kelengkapan ini dan yang membolehkan kita bertindak atas kebanyakan apa
yang telah diciptakannya di dalam dunia ini.
Inilah hakikat tawhid. Ianya menafikan - seperti mana yang kita lihat itu - fikiran
kedaulatan manusia, dan mahu membasmikannya sama sekali; sama ada
kedaulatan itu untuk orang perseorangan, untuk satu-satu lapisan, satu-satu
bangsa atau untuk seluruh manusia di atas muka bumi ini. Tetapi kedaulatan itu
hanyalah layak untuk Allah sahaja. Tidak ada pemerintah melainkan Allah, tidak
ada pemerintahan melainkan pemerintahanNya, dan tidak ada undang-undang
melainkan undang-undangNya.

Risalat: Ada pun risalat (keRasulan), ialah saluran yang melaluinya undangundang
Ilahi sampai kepada kita. Dengan perantaraannya kita menerima dua
perkara: Kitab Allah yang mana di dalamnya Allah menerangkan undang- undangNya.
Keduanya ialah penghuraian dan penafsiran terhadap kitab ini yang
diperkuatkan oleh Rasul dengan perkataan dan perbuatan beliau selaku wakil
dari pihak Allah dan khal'ifat-nya (penggantinya) di dunia ini.

Di dalam kitabNya (Al-Qur'an), Allah telah menerangkan asas-asas dan prinsipprinsip
yang di atasnya sistem hidup manusia harus tegak. Ada pun apa yang
kita kehendaki selepas itu dari penghuraian dan penerangan terhadap asas-asas
dan prinsip-prinsip itu, telah diterang dan ditunjukkan oleh Rasul Sallallahu
'Alaihi Wasallam di dalam hidup beliau dengan mengasaskan satu sistem untuk
penghidupan manusia dan penyusunannya mengikut apa yang dikehendaki oleh
kitab Allah, sehingga ianya menjadi tauladan yang baik untuk orang yang datang
selepasnya. Himpunan antara kedua-dua sumber inilah yang dinamakan di
dalam istilah Islam dengan 'Syari'at'. Syari'at ini adalah merupakan
perlembangaan asasi yang dibangunkan di atasnya kerajaan Islam.

Khilafat: Di dalam bahasa 'Arab, khilafat itu bererti 'wakilan'. Posisi manusia di
dalam alam ini, dari sudut kacamata Islam, ialah sebagai khilafat untuk Allah.
Ertinya dia mewakili Allah di dalam kerajaanNya. Oleh itu dia tidak boleh
bertindak di dalam kerajaan ini melainkan mengikut hak perwakilan dan hak
menjalankan tindakan yang diberikan Allah kepadanya. Tidakkah anda lihat, jika
anda wakilkan kepada seseorang mengenai sesuatu urusan harta punya anda
dan anda jadikannya sebagai wakil anda di dalam urusan itu, anda meyakinkan
diri dengan empat perkara: Pertama, andalah tuan ampunya harta itu dan
pemiliknya yang hakiki, bukan orang yang anda wakilkan itu. Kedua, hendaklah
orang ini bertindak terhadap harta punya anda itu mengikut seperti mana yang
anda suruh dan tunjukkannya. Ketiga, tidak harus baginya membelakangkan
suruhan suruhan anda dan melampaui batas-batas yang anda gariskan untuk diri
dan kerjanya. Dan keempat, dia berkewajipan antara lain membelanjakan harta
itu sebagaimana yang anda kehendaki dia membelanjakannya, bukan
sebagaimana yang dikehendaki oleh dirinya sendiri.
Keempat-empat perkara ini telah tergabung dengan sebatinya di dalam
penggambaran terhadap wakilan, sehingga ianya terkhayal kepada seseorang
dengan hanya semata-mata disebut dan diucapkan perkataan 'wakilan' itu.
Sekiranya anda melihat seorang wakil yang tidak memenuhi syarat-syarat yang
empat ini dan tidak menunaikan tanggungjawabnya mengikut implikasiimplikasinya,
maka anda akan mengatakan, bahawa dia sudah melampaui
batas-batas wakilan dan mencabul piagam yang dikandungi oleh wakilan. Maka
demikianlah kita lihat perkara-perkara yang empat ini juga tersimpan di dalam
gambaran perkataan 'Khilafat'. Hanya pengertian beginilah sahaja yang
dikehendaki oleh Islam dengan khalifat bila dia mengatakan, bahawa manusia
adalah khilafat (wakil) Allah di bumi ini. Kerajaan yang tegak mengikut teori
politik ini tidak lain melainkan khilafah manusia di bawah authoriti Tuhan.
nya yang dituju ialah melaksanakan kehendak dan kemahuan Tuhan
yang Maha Tinggi dengan jalan mengikut hidayatNya tanpa melampaui
batas-batas yang telah digariskannya untuk khilafat ini serta kerja-kerjanya.
Apa yang munasabah disebutkan di sini ialah, bahawa Islam tidak menggantungkan
urusan khilafat ini kepada orang atau keluarga atau lapisan manusia yang
tertentu, tetapi dia menyerahkannya kepada seluruh anggota masyarakat yang
percaya dengan prinsip-prinsip asasi dari tawhid dan risalat di samping
mempunyai kecekapan dan persediaan itu melaksanakan segala apa yang
dikandungi dan yang kehendaki oleh perkataan 'khilafat' itu. Jika ada didapati
dunia ini sebuah masyarakat yang memakai sifat-sifat ini, tidak syak lagi bahawa
ianya layak dengan khilafat ini. Di sinilah tempatnya di mana fikrah pemerintahan
cara republik di dalam Islam mulai tumbuh. Tiap-tiap seorang dari anggotaanggota
masyarakat Islam mempunyai, habuannya dari khilafat tersebut dan
berhak meni'mat, hak-hak ini laksana gigi sikat. Seseorang tidak boleh
mengharamkan hak-hak ini terhadap sesiapa yang dia mahu di kalangan para
individu masyarakat. Ternyata sekali bahawa tiap-tiap kerajaan yang bersedia
untuk menggerakkan perjalanan khilafat ini dan mengendalikan pentadbirannya
tidak tersusun dan terbentuk melainkan dengan pendapat serta sokongan orang
ramai yang memberikan kepada kerajaan sebahagian dari hak-hak mereka iaitu
hak khilafat. Oleh itu, kerajaan tidak boleh terbentuk melainkan dengan
pendapat-pendapat mereka, dan tidak boleh melaksanakan kerjanya melainkan
dengan sokongan serta persetujuan mereka. Barangsiapa yang disukai dan diberi
kepercayaan oleh mereka, dialah mewakili mereka dalam menjalankan
tanggungjawab-tanggungjawab khilafat. Dan barangsiapa yang tidak
dipercayakan lagi oleh anggota-anggota masyarakat, maka dia tidak boleh
berbuat apa-apa selain dari meletakkan jawatan yang penting ini.
Oleh itu, "Republik Islam", adalah sebuah republik yang paling sempurna
sehingga tidak ada tujuan lain di belakanganya. Tetapi yang membezakan
"Republik Islam" dari pada republik Barat yang terkenal itu dan yang meratai
dunia hari ini, ialah bahawa teori politik Barat mengatakan tentang kedaulatan
(sovereignty) republik, sedang Islam mengatakan tentang khilafat orang ramai.
Untuk menjelaskan ini, kita katakan, bahawa hak-hak pemerintahan dan
hukuman di dalam republik Barat adalah dimonopolikan oleh orang ramai.
Merekalah yang memegang terajunya; mereka menggubal undang-undang dan
legislasi serta melaksanakannya di bumi ini sebagaimana yang mereka kehendaki.
Apa yang menjadi tujuan kerajaan mereka ialah menarik hati penghuni-penghuni
negara seluruhnya, memenangi sokongan mereka dan menunaikan kehendakkehendak
mereka. Tetapi di dalam Islam, sebaliknya pemerintahan dan
hukuman adalah untuk Allah sahaja. Dialah yang berhak mengadakan undangundang
dan legislasi untuk hamba-hambaNya tanpa disyarikat dan disaingi oleh
sesiapa. Ada pun orang ramai, maka posisi mereka di dalam Islam tidak ubah
seperti posisi para khalifat yang terpaksa - kerana tabiat jawatan mereka sendiri -
menurut kesan-kesan syari'at Ilahi yang telah dibawa oleh Rasul dari sisi Tuhan
mereka, tidak boleh mereka menyimpang daripadanya walau sebesar urat
rambut sekali pun. Tujuan orang-orang yang membentuk dan menyusunnya
tidak lain melainkan menuntut wajah Allah Subhanahu Wata'ala dan
melaksanakan perintahNya di bumi ini. Pendek kata, bahawa republik Barat
menempatkan dirinya pada jawatan ketuhanan dengan sombong dan angkuhnya
dibumi Allah tanpa sebarang hak, dan dia menggunakan segala kekuatan serta
pengaruhnya mengikut apa yang dikehendakinya sendiri dan yang dikehendaki
oleh anggota- anggotanya. Tetapi "Republik Islam" merupakan pengabdian diri
secara sosial kepada Allah Taala, terikat dengan tali-tali syari'atNya. Segala
kekuatan dan pengaruhnya digunakan hanya dalam batas-batas yang ditetapkan
oleh Allah untuk melakukan kerja-kerja mengikut hidayat Tuhan.
Sekarang saya mahu membentangkan kepada anda dengan ringkasnya,
gambaran yang jelas bagi kerajaan yang terbina di atas prinsip-prinsip tawhid,
risalat dan khilafa't itu.

SISTEM KERAJAAN/PEMERINTAHAN ISLAM

Sistem kerajaan ini - seperti mana yang telah dinyatakan oleh Allah di
beberapa tempat di dalam Kitab SuciNya yang mulia - ialah melaksanakan kerjakerja
kebajikan dan terpuji, iaitu kerja-kerja yang dikehendaki oleh Allah agar
penghidupan manusia dihiasi dengannya dan agar dapat disibarkan kebaikankebaikannya
serta diusahakan sedaya upaya untuk mempertinggi mutunya dan
menyibarkan faedahnya. Seterusnya kerajaan ini bertujuan membungkas dan
menyingkirkan dari bumi ini segala kejahatan dan kemungkaran yang dimurkakan
oleh Allah dan membersihkan bumi ini dari segala noda dan kekotoran.
Islam datang ke dunia ini bukan hanya untuk mendirikan kerjaan dengan erti
menjalankan urusan-urusannya dan mengendalikan pentadbiran-pentadbirannya
sahaja, tidak juga dia datang kerana memberi perhatian kepada kepentingankepentingan
satu bangsa yang tertentu sahaja, menghabiskan segala usaha dan
kepintarannya untuk mencapai segala kehendak-kehendak sosial bangsa itu
sahaja. Tidak sama sekali. Kedudukan perkaranya bukan demikian. Tetapi yang
sebenarnya, Islam meletakkan di hadapan kerajaan yang didirikan mengikut
lunas-lunas dan prinsip-prinsipnya itu, satu sistem yang lebih jauh tinggi dan
luhurnya daripada itu. Untuk mencapai matlamat ini, Islam haruslah menggunakan
segala saluran dan kekuatan yang ada padanya. Ini ialah supaya dapat
dilahirkan apa yang dikehendaki oleh Allah agar diperhiaskan dengannya
penghidupan hamba-hambanya di muka bumi ini, dan supaya penghidupan itu
tercorak dengan warna-warna keindahan, kebaikan, kebijaksanaan, kejayaan dan
kebahagiaan, juga membasmikan apa yang diramal akan menimbulkan
kehancuran di bumi ini, yang boleh mendapatkan berbagai-bagai kejahatan,
kekucar-kaciran serta keinginan berbuat sesuka hati. Begitu juga Islam
membentangkan kepada kita gambaran yang jelas bagi kejahatan dan kebaikan
sehingga dapat kita lihat di dalam cerminnya segala kepentingan yang digemari
serta segala kekejian dan kemungkaran yang dibenci. Jadi, kerajaan Islam itu
dapat mengaturkan projek-projek "islah"nya, di segenap waktu dan keadaan bila
mana dia meletakkan di hadapan matanya gambaran kejahatan dan kebaikan
yang jelas ini.
Apa yang diminta dan dituntut benar-benar oleh Islam agar dipegang oleh para
penganutnya, ialah supaya jangan mereka mengenepikan prinsip-prinsip akhlaq
dalam segala urusan mereka. Begitulah dia menentukan plan yang tetap dan
terjamin buat kerjaannya supaya polisi tidak dijalankan melainkan di atas
kebenaran mutlak, keadilan yang terang serta amanah yang suci bersih. Dia tidak
rela bila-bila masa pun kerajaannya berlindung kepada tipu-helah, pembohongan
dan pencerobohan ke atas orang untuk mendapatkan segala kepentingan tanah
air, kerajaan atau kebangsaan. Dia mengutamakan kebenaran, amanah dan
keadilan daripada tujuan-tujuan, kemahuan-kemahuan dan matlamat-matlamat
diri sendiri dalam segala hubungan dan pertalian di antara pemerintah dan
rakyat di dalam sebuah negara dan di antara satu bangsa dengan bangsa-bangsa
lain di luar negara itu. Oleh itu, Islam telah mempertanggungjawabkan ke atas
kerajaan Islam dan para pentadbirnya - seperti mana dia mempertanggungjawabkan
kepada insan Muslim juga - supaya menunaikan janji jika kamu berjanji,
perbetulkan sukatan dan timbangan, jangan dirugikan harta-punya orang, jangan
kamu lakukan kecuali apa yang kamu kata dan jangan kamu kata kecuali apa
yang kamu lakukan, jangan kamu lupa hak-hak orang lain yang wajib ke atas
kamu, dan jangan kamu lupa pula kewajipan-kewajipan mereka terhadap kamu.
Jangan pula kamu jadikan kuasa dan kekuatan kamu sebagai saluran untuk
melakukan kezaliman, kekejaman dan bermaharajalela, tetapi jadikanlah ianya
sebagai wasilah untuk menegakkan kebenaran serta keadilan. Ketahuilah
bahawa kebenaran itu adalah kebenaran juga dalam segala keadaan. Justeru
bersegeralah kamu menunainya. Bahawasa kuasa itu adalah satu amanah
daripada Allah, janganlah kamu mengunakannya kecuali jika kamu
berkeyakinan bahawa kamu akan diadili tentangnya di hadapan Tuhan kamu
dengan sepenuhnya.
Selain dari itu, kerajaan Islam meskipun wujud di tempat dan kawasan yang
tertentu di bumi ini, namun dia tidak membataskan hak-hak kemanusiaan dan
hak-hak civil dengan sempadan-sempadan geografi. Tentang kemanusiaan, Islam
meletakkan untuknya beberapa hak politik yang disuruh memelihara dan
menjaganya dalam segala keadaan. Hak-hak ini diwajibkan untuk setiap orang
manusia di atas muka bumi ini, tidak kira sama ada orang itu tinggal di dalam
negara Islam itu sendiri mau pun tinggal di luarnya, sama ada dia kawan atau
lawan, berbaik-baik dengan negara Islam itu atau pun bermusuhan dengannya.
Yang dipentingkan dalam hubungan ini ialah penghormatan darah manusia;
ianya diharamkan dalam setiap ketika dan waktu, tidak bolen ditumpahkannya
kecuali dengan kebenaran3 . Tidak halal di dalam syari'at Islam melakukan
pencabulan terhadap wanita, kanak-kanak, orang-orang tua, orang-orang sakit
dan luka dalam keadaan apa sekali pun. Diri dan kehormatan wanita adalah di
antara perkara-perkara yang harus dijaga dan dipertahankan, tidak boleh sama
sekali dicerobohi. Begitu juga orang kebuluran berhak diberi makan, orang
bertelanjang mesti diberi pakaian, orang luka mesti diubati, orang sakit mesti
dirawati, sekali pun si bulur, si bogel, si luka dan si sakit itu dari golongan musuh
negara Islam itu yang menanti-nanti ketika untuk menyerangnya. Hak-hak ini
dan lain-lain lagi yang seumpamanya adalah dikurniakan oleh Islam kepada
manusia kerana ianya manusia, dan hak-hak ini punya kedudukan yang sama
dengan hak-hak asasi di dalam perlembagaan kerajaan Islam.
Ada pun hak-hak awam (civil rights), Islam tidaklah mengkhususkannya untuk
orang-orang yang diperanakkan di dalam negara Islam sahaja. Tetapi sebenarnya
tiap-tiap orang Islam walau di mana pun dia dilahir dan dibesarkan, Islam
mengurniakannya hak-hak itu dengan semata-mata kerana dia berada di dalam
lingkungan negara Islam. Habuannya dari hak-hak itu tidak kurang daripada
orang-orang yang diperanakkan di dalam negara tersebut. Mereka sekeliannya
sama sahaja. Walau pun umpamanya terdapat banyak buah negara Islam dan
banyak bilangannya diberbagai-bagai tempat di bumi ini, maka mestilah seluruh
penghuni setiap negara itu bersama-sama mempunyai hak-hak awam tersebut.
Seorang Muslim tidak payah membawa paspot bilamana dia mahu masuk ke
dalam mana-mana negara itu, malah boleh pula dia mendaki setinggi-tinggi garis
kejayaan yang terdaya olehnya dan melayakkan diri untuk memegang
jawatan-jawatan tanggungjawab yang tinggi tanpa diperhatikan sedikit pun
kepada keturunan, keluarga dan lapisan yang dipunyainya.
Orang-orang bukan Islam yang mendiami negara Islam, untuk mereka Islam
telah menentukan beberapa hak, dan ini tentunya merupakan satu bahagian yang
tidak dapat dipisahkan sama sekali daripada bahagian- bahagian perlembagaan
Islam. Orang-orang yang bukan Islam seperti ini dipanggil di dalam istilah Islam
sebagai ahli dhimmah. Mereka ini telah diberi jaminan oleh Islam yang diri
mereka adalah terpelihara. Tidak syak lagi bahawa jiwa raga, harta benda dan
kehormatan ahli dhimmah ini diharamkan oleh Islam seperti diharamkannya
jiwa raga, harta benda dan kehormatan orang-orang Islam sendiri. Tidak ada
beza apa-apa di antara orang-orang Islam dan ahli dhimmah dalam undangundang
awam dan pidana. Kerajaan Islam tidak boleh campur tangan dalam
sesuatu dari undang-undang keluarga (personal statute) untuk ahli dhimmah. Tetapi mereka
mempunyai kebebasan dalam segala kepercayaan, fikiran, ibadat dan upacara agama mereka.
Ini adalah hak-hak yang banyak diberikan oleh perlembagaan Islam kepada
rakyatnya dari kalangan orang-orang yang bukan Islam, iaitu hak-hak tetap dan
tersendiri yang tidak boleh dicabut atau dirampaskan daripada mereka
selagimana mereka berada di dalam lingkung dhimmah (jagaan) kita dan di
bawah lindungan kita. Walau bagaimanapun kerajaan bukan Islam menindas
rakyatnya dari orang-orang Islam serta mengenakan berbagai-bagai tekanan dan
penyiksaan ke atas mereka, namun tidaklah harus untuk kerajaan Islam, lantaran
itu semua, mencerobohi rakyatnya dari orang-orang bukan Islam dan menyingkir
-kan mereka daripada hak-hak mereka, kerana ini menyalahi syari'at Islam dan
melanggar piagam-piagamnya. Demi kebenaran! Jika seorang Muslim terbunuh
di luar negara kita, tidaklah harus sama sekali bagi kita menumpahkan setitik
darah ahli dhimmah pun di dalam negara kita melainkan dengan kebenaran.
Soal mengendalikan pentadbiran dan menggerakkan perjalanan kerajaan Islam
ini adalah diserahkan kepada seorang 'AMIR' yang mana jawatan serta tugastugasnya
serupalah dengan presiden republik zaman ini. Tiap-tiap orang yang
percaya dan menerima prinsip-prinsip perlembagaan, dia berhak - bila mana
sampai usia kematangannya - menyatakan pendapatnya dalam pemilihan amir.
Apa yang harus diperhatikan secara khusus dalam soal pemilihan amir ini ialah
taqwa, mempunyai pengetahuan yang cukup tentang Islam serta keahlian yang
lengkap untuk mentadbirkan urusan-urusan umat Islam baik waktu damai
maupun waktu perang. Oleh itu jawatan amir ini tidak boleh disandangkan
melainkan kepada orang yang memakai sifat-sifat ini sepenuh-penuhnya, dan dia
juga mendapat kepercayaan umat lebih banyak daripada orang-orang lain.
Kemudian sebuah Dewan Permesyuaratan harus diadakan untuk menolong amir,
yang mana seluruh anggota-anggotanya dipilihkan juga oleh individu-individu
masyarakat. Amir mestilah menjalankan polisi negara dengan mesyuarat
bersama-sama para anggota dewan permesyuaratan. Dia akan tetap menjadi
amir selama mana dibekali dengan kepercayaan umat dan selama mana umat
bergantung kepadanya. Tetapi jika kepercayaan itu telah hilang, dia mestilah
turun dari jawatannya. Selama mana dia mendapat kepercayaan umat, dia masih
tetap menduduki jawatan yang tertinggi itu, perintahnya tetap dipatuhi,
kata-katanya masih didengar dan dilaksanakan. Malah dalam keadaan yang
demikian itu, dia berhak juga menolak fikiran-fikiran para anggota Dewan
Permesyuaratan dalam satu-satu hal yang dilihatnya bahawa kebenaran adalah
berlainan daripada pendapat-pendapat mereka itu. Penghuni-penghuni negara
berhak mengkritik kerajaan amir jika sekiranya ada perkara-perkara yang mereka
nampak harus dikritik.
Ada pun menggubal perundangan dan undang-undang dalam negara Islam, ianya tidak boleh dilakukan melainkan dalam lingkungan batas-batas yang telah
ditetapkan oleh syari'at, tidak boleh sama sekali dilampaui. Umat Islam mestilah
terikat sepenuhnya kepada apa yang diturunkan oleh Allah dan yang telah
diatangkan oleh Rasul Sallallahu 'Alaihi Wasallam. Mana-mana Dewan
Perundangan tidak boleh melakukan padanya walau sekecil-kecil perubahan
sekalipun. Adapun hukum-hukum yang boleh difahami dengan dua fahaman
dan seterusnya, maka orang-orang yang pakar di dalam fiqh Islam hendaklah
menjelaskan fahaman yang betul dan mendapatkan apa yang sebenarnya
dikehendaki oleh syari'at yang tercinta di balik hukum- hukum itu. Perkaraperkara
yang seumpama ini hendaklah diserahkan kepada komiti 'alim-ulama'
dan ahli-ahli fiqh yang ditubuhkan di bawah Dewan Permesyuaratan. Selain dari
itu, kita dapati ada banyak perkara-perkara yang dinaskan secara khusus oleh
syari'at, untuk nas-nas ini, Dewan Permesyuaratan berhak mengadakan
undang-undang dalam lingkungan batas-batas syara'.
Amir dan Lembaga Pelaksanan kerajaan tidak mempunyai authoriti di atas soal
kehakiman dalam Islam. Orang-orang yang memegang jawatan ini mewakili
Allah Subhanahu Wata'ala dan mereka bertanggungjawab secara langsung di
hadapannya. Seorang hakim - meski pun kerajaan yang melantiknya - bilamana
dia ditentukan di dalam Dewan Kehakiman, dia tidak boleh menghukum antara
orang ramai melainkan dengan apa yang Allah turunkan dan yang ditunjuk
ajarkan oleh RasulNya Sallallahu 'Alaihi Wasallam. Tidak ada siapa yang boleh
terlepas daripada kuasa dan keadilannya sehingga orang-orang kerajaan sendiri.
Kepala kerajaan sendiri pun mesti menghadirkan dirinya di hadapan hakim
seperti kebanyakkan penghuni negara jika dia mendakwa atau didakwakan.