Showing posts with label Ramadhan Berkah. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan Berkah. Show all posts

Tips Meraih Ampunan Di 10 Malam Terakhir Ramadhan

 

Minggu ini kita sudah masuk di 10 hari terakhir Ramadhan, Rasulullah sangat perhatian sekali dengan 10 hari terakhir Ramadhan. Bahkan Rasulullah berdiam diri di dalam masjid dan mengurangi  berinteraksi dengan yang lain agar bisa fokus dan mencurahkan sepenuhnya hanya untuk Allah Azza wa Jalla.

Mengapa kita berlomba – lomba mendapatkan malam Lailatul Qodr? Allah menjelaskan dalam Alquran pada Surah Al-Qodr; bahwa malam tersebut lebih baik dari 1000 bulan, kalau kita konversi menjadi 83 tahun. Artinya kita mendapatkan pahala beramal sholeh selama 83 tahun. Sedangkan kita belum tentu sampai  83 tahun dan itu terpotong masa kanak-kanak,remaja,masa sakit,future, dan segala macamnya.

Oleh sebab itu, hendaknya kita bersabar ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadhan untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Berikut ini tips mendapatkan malam Lailatul Qodr di 10 malam terakhir Ramadhan.

1. Mulailah dengan niat beribadah dengan niat yang bersih dan tulus hanya untuk Allah Azza wa Jalla. Jika sampai hari ini ibadah kita terasa belum maksimal dalam melakukannya, bersiaplah untuk melakukan dengan semaksimal mungkin. Jika kita benar-benar ingin memperbaikinya, masih ada waktu untuk itu!!!

2. Lalu, bacalah tafsir surat Al Qadr secara mendalam, dan pahami isi kandungan yg sesungguhnya terjadi pada malam Lailatul Qadr. Kita akan merasakan keagungan dan kekuatan malam Lailatul Qodr Inshaa Allaah.

3. Jangan lagi menunggu hingga malam yang ke 27 untuk mengerahkan segalanya.  Seluruh malam dari 10 malam terakhir seharusnya jadi target kita. Bangunlah setiap malamnya. Jangan sampai Lailatul Qadr terlewatkan begitu saja. Karena Rasulullah tidak fokus pada malam ke-27 saja tapi seluruh hari pada 10 hari terakhir Ramadhan.

4. Jangan pernah ikut-ikutan dengan perayaan-perayaan ataupun kegiatan-kegiatan yang diada-adakan. Ikutilah sunnah yang diajarkan Nabi Shalallaahu 'Alayhi wa Sallam. Tuntunan beliau adalah: "Barangsiapa yang terjaga (tidak tidur) dan berdoa pada malam LaIlatul Qadr dengan iman dan pengharapan akan ganjarannya dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

5. Hafalkanlah doa malam Lailatul Qadr yang diajarkan Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi wa Sallam yaitu: Allaahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa' fu'anni
Artinya: Ya Allah, engkau maha pengampun dan menyukai pengampunan, maka ampunilah aku.

6. Siapkanlah daftar pendek doa-doa yang akan dipanjatkan. Ingat, malam Lailatul Qodr adalah waktu yang sangat istimewa bagi seorang hamba-Nya. Malam Lailatul Qadar! Malam ditetapkannya takdir! Pilihlah doa-doa terbaik untuk agamamu, dunia akhiratmu dan keluargamu. Jangan lupa pula saudara-saudaramu muslimin yang tengah kesusahan di berbagai belahan dunia. Karena doa seorang hamba kepad saudaranya tanpa diketahui oleh saudaranya tersebut akan di Aamiin oleh malaikat.

7. Sempatkan tidur siang sejenak jika memungkinkan agar badan terasa segar. Jagalah perutmu agar tidak terlalu kenyang dan tidurlah segera setelah  isha dan tarawih sekedar untuk menyegarkan diri.  Lalu bangunlah untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.

8. Jangan lupakan keluargamu juga! Rasulullah membangunkan para istri-istrinya pada malam tersebut. Anak-anak pun bisa diajak beribadah untuk beberapa saat, walaupun mungkin mereka tidak selama orang dewasa. Siapkan, semangati dan motivasi terus mereka akan keutamaan Lailatul Qodr!

9. Cara kita berpakaian dan juga mempersiapkan diri berpengaruh secara psikologis pada diri kita. Pakailah pakaian yang bagus dan wewangian (khusus di rumah untuk wanita) ketika beribadah.

10. Pilihlah tempat khusus yang kondusif dan baik untuk beribadah, apakah itu di mesjid atau di rumah. Letakkan sajadah, mushaf dan air minum serta keperluan lain sehingga kita tidak perlu beranjak dari sana jika perlu minum ataupun keperluan lain.

11. Ini BUKAN malam untuk pasang status di media sosial (contohnya: "Alhamdulillaah, nikmatnya bermunajat kepadaNYA malam ini" dsb) di Facebook atau media sosial apapun itu. Biarkanlah itu menjadi rahasia indah antara hamba dengan Rabb-Nya. Boleh jadi haltersebut mengurangi nilai ibadah kita kepada Allah. Maka, segera matikan HandPhone, tablet dan komputer. Putuskan dulu hubungan dengan dunia dan nikmati jalinan hubungan yang indah dengan al-'Afuww!

12. Jika mengantuk, maka lakukan variasi bentuk ibadah antara shalat, bermunajat dan membaca Qur'an. Lakukan secara bergantian. Jangan habiskan malam hanya untuk mendengarkan ceramah atau tilawah, ataupun kalau sangat ngantuk, dengarkan sebentar saja untuk mengusir kantuk.

13. Sabar adalah kuncinya konsistensi. 10 malam terakhir mungkin akan sangat melelahkan bagi kita. Anda mungkin masih harus bekerja, sekolah atau aktifitas lainnya dikeesokan harinya. Ini adalah saat untuk bersabar dengan kelelahan itu semua. Ingatlah Allah telah menganugerahkan sebuah kesempatan berharga (akan luasnya ampunan) yang mungkin saja tidak datang lagi diwaktu yang lain. Bukankah kita akan segera berlari walau apapun yang terjadi jika kita tahu pasti bahwa ini adalah Ramadhan terakhir kita dan syurga Allah hanya selangkah lagi?

14. Ini yang paling penting : husnudzhon lah kepada Allah Azza wa Jalla. Ketika bermunajat, ingatlah kita sedang meminta kepada Raja Yang Maha Pemurah. Jika kita berharap yang terbaik, Dia akan memberimu yang terbaik. Jangan ragu-ragu, yakinlah dan tumpahkan seluruh isi hatimu di hadapan-NYA. Jangan biarkan keragu-raguan dan prasangka buruk menjauhkan kita dari Allah Arrahman Arrahiim.

Allahumma ballighna lailatal qadr.

Oleh  Sheikh Tawfique Chowdhury

Mari Berbagi Kado Lebaran Dengan Anak Yatim Bersama RZ

Silakan yang mau berbagi kebahagian dengan mereka yang kurang mampu dalam acara "RZ Berbagi Kado Lebaran Yatim".
Dengan berbagi kebahagian berarti kita menabung untuk akhirat dan akan bersama Rasulullah di Syurga sangat dekat. Sebagimana hadist Rasulullah:

"Aku dan pemelihara anak yatim di syurga seperti ini (Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah) (HR. Bukhori, Turmudzi, dan Abu Daud)"



Ternyata Ada 12 Bacaan Doa Iftitah Yang Diajarkan Rasulullah



Doa Iftitah adalah salah satu doa sunnah muakkad, yaitu doa yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Selama ini kita mengenal doa iftitah yang dibaca hanya 1 doa atau 2 doa saja. Taukah kita oleh Nabi صلى الله عليه وسلم diajarkan bermacam-macam doa Iftitah. Dalam doa-doa iftitah yang diajarkan Nabi صلى الله عليه وسلم mengucapkan pujian, sanjungan, dan kalimat-kalimat keagungan untuk Allah Azza wa Jalla. Beliau pernah memerintahkan dan menegaskan hal ini kepada orang yang shalatnya salah dengan sabdanya:

لَا تَتِمُ صَلَاةٌ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ حَتَّى يُكَبِّرَ وَيَـحْمَدَ اللهَ جَلَّ وَ عَزَّ وَيُثْنِيَ عَلَيْهِ، وَيَقْرَأَ بِـمَا تَيَسَّرَ مِنَ الْـقُرْآنِ...

"Tidak sempurna shalat seseorang sebelum ia bertakbir, memuji Allah 'azza wa jalla, menyanjung-Nya, dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang dihafalnya....[1]

Berikut ini doa Iftitah yang Beliau baca dalam shalat yang terkadang membaca do'a iftitah ini atau itu atau yang lain, menurut riwayat yang shahih ada 12 doa yang Rasulullah ajarkan dan bisa dipakai semua. Tidak satu golongan pun mengklaim bahwa doa Iftitah mereka lebih baik karena Rasulullah sendiri membaca salah satu doa berikut secara bergantian dalam setiap shalat: 

1.  Doa Pertama

اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِاالْمَاءِ وَلثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

"Ya Allah, jauhkanlah diriku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan timur dari barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku seperti kain putih yang dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah diriku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, es, dan embun."

Beliau membaca do'a ini dalam shalat fardhu'.[2]

2.  Doa Kedua

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي، لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، سُبْحَانَكَ وَبِـحَمْدِكَ، أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ. وَالْـمَهْدِيُّ مَنْ هَدَيْتَ، أَنَا بِكَ، وَإِلَيْكَ لَا مَنْجَا وَلَا مَلْجَأَ مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.

"Aku hadapkan wajahku kepada Tuhan Pencipta seluruh langit dan bumi dengan penuh kepasrahan dan aku bukanlah termasuk orang-orangmusyrik. Shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semata-mata untuk Allah, Tuhan alam semesta, tiada sesuatu pun yang menyekutui-Nya. Demikianlah aku diperintah dan aku termasuk orang yang pertama-tama menjadi musl'im.[3] Ya Allah, Engkaulah Penguasa, tiada tuhan selain Engkau semata-mata. Engkau Mahasuci dan Maha Terpuji, Engkaulah Tuhanku dan aku hamba-Mu. Aku telah menganiaya diriku dan aku mengakui dosa-dosaku. Oleh karena itu, ampunilah semua dosaku. Sesungguhnya hanya Engkaulah yang berhak mengampuni semua dosa. Berilah aku petunjuk kepada akhlaq yang paling balk, karena hanya Engkaulah yang dapat memberi petunjuk kepada akhlaq yang terbaik dan jauhkanlah diriku dari akhlaq yang buruk, karena hanya Engkaulah yang dapat menjauhkan diriku dari akhlaq buruk. Aku jawab seruan-Mu dan aku mohon pertolongan-Mu. Segala kebaikan di tangan-Mu, sedang segala keburukan tidak datang dari-Mu.[4] Orang yang terpimpin adalah orang yang Engkau beripetunjuk. Aku berada dalam kekuasaan-Mu dan akan kembali kepada-Mu, tiada tempat memohon keselamatan dan perlindungan dari siksa-Mu kecuali hanya Engkau semata. Engkau Mahamulia dan Mahatinggi, aku mohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu."

Bacaan di atas diucapkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم dalam shalat wajib atau shalat sunnah.[5]

3. Doa Ketiga

Sama dengan do'a di atas, tetapi tanpa kalimat:

أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ

"Engkau Tuhanku dan aku hamba-Mu...,"

dan beliau menambahnya dengan kalimat:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِـحَمْدِكَ

"Ya Allah, Engkaulah Penguasa, tiada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji."[6]

4. Doa Keempat

Sama dengan do'a di atas sampai dengan kalimat:

وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

"... dan aku termasuk orang yang pertama-tama menjadi muslim,"

dan beliau menambahnya dengan kalimat:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

"Ya Allah, tunjukkanlah aku akhlaq dan amal yang terbaik. Tiada yang dapat memberi petunjuk kepada yang lebih baik tentang hal itu kecuali Engkau semata-mata. jauhkanlah diriku dari akhlaq dan amal yang buruk. Tiada yang dapat menjauhkan dari keburukan hal tersebut kecuali Engkau semata-mata."[7]

 5.  Doa Kelima

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَـهَ غَيْرُكَ

"Mahasuci Engkau, ya Allah. Maha Terpuji Engkau dan Mahanuilia nama-Mu serta Mahatinggi kehormatan-Mu, tiada tuhan selain Engkau semata-mata."[8]

Beliau bersabda: "Kalimat yang paling Allah cintai untuk diucapkan oleh hamba-Nya ialah: 'Mahasuci Engkau, ya Allah....'"[9]

6.  Doa Keenam
Seperti do'a di atas tetapi dengan tambahan kalimat:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ  اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا 
dibaca 3 kali 

"Tidak ada tuhan kecuali Allah (diucapkan 3 kali). Allah Mahaagung lagi Mahabesar (diucapkan 3 kali)."

Do'a di atas dibaca dalam shalat lail.[10]

7.  Doa Ketujuh

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً

"Allah Mahaagung lagi Mahabesar, segala puji yang begitu banyak hanya milik Allah, Mahasuci Allah pada pagi hari dan sore hari."

Pernah do'a iftitah ini dibaca oleh seorang sahabat, kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda (bahwa Allah menyambut dengan firman-Nya): "Aku menyenanginya, Aku bukakan semua pintu langit karena do'a ini."[11]

8.  Doa Kedelapan

وَالْـحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

"Segala puji milik Allah dengan pujian yang sangat banyak, baik, dan penuh berkah."

Do'a ini dibaca seorang sahabat lain lagi, laiu Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: "Aku melihat 12 orang malaikat berebut mencatat do'a ini untuk bisa menyampaikannya kepada Allah."[12]

9.  Doa Kesembilan

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، (وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ) وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّهُ حَقُّ، وَالنَّارُ حَقُّ، وَالسَّاعَةُ حَقُّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقُّ، وَمُحَمَّدٌ حَقُّ. اَللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، (أَنْتَ رَبُّنَا وَإِلَيْكَ الْـمَصِيْرُ، فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ)، (وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي). أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ،(أَنْتَ إِلَهِيْ)، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، (وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ).

"Ya Allah, segala puji milik-Mu. Engkaulah cahaya seluruh langit dan bumi serta segenap makhluk yang ada padanya. Segala puji milik-Mu. Engkaulah Pemelihara seluruh langit dan bumi serta segenap makhluk yang ada padanya. [Segala puji milik-Mu. Engkaulah Penguasa segenap langit dan bumi serta segenap makhluk yang ada padanya]. Segala puji milik-Mu, Engkaulah Yang Mahabenar, janji-Mu mahabenar, firman-Mu mahabenar, pertemuan dengan-Mu mahabenar, adanya surga mahabenar, adanya neraka mahabenar, adanya kiamat mahabenar, adanya para nabi mahabenar, dan adanya Muhammad صلى الله عليه وسلم (sebagai rasul-Mu) mahabenar. Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri dan bertawakal. Hanya kepada-Mu aku beriman. Hanya kepada-Mu aku bertaubat Hanya kepada-Mu aku mengadu, dan hanya kepada-Mu aku memohon keputusan. [Engkaulah Tuhan kami dan Engkaulah tempat kembali. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku yang lalu dan yang akan datang, yang aku lakukan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan]. [Hanya Engkaulah yang lebih tahu daripada aku], Engkaulah yang terdahulu dan Engkaulah yang terakhir. [Engkaulah Tuhanku], tiada tuhan kecuali Engkau [dan tiada daya atau kekuatan kecuali hanya dengan pertolongan-Mu]."[13]

Do'a ini dibaca oleh Nabi صلى الله عليه وسلم dalam shalat lail, [14] sebagaimana halnya doa berikut ini:

10. Doa Kesepuluh

اللَّهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

"Ya Allah, Tuhan Malaikat jibril, Mikail, dan Israfil, Tuhan Pencipta segenap langit dan bumi, Tuhan Yang Maha Mengetahui semua yang ghaib dan yang nyata. Engkaulah yang akan menghakimi para hamba-Mu mengenai apa saja yang mereka perselisihkan. Dengan izin-Mu berilah aku petunjuk memilih kebenaran dan apa'yang mereka perselisihkan. Engkaulah yang member! petunjuk siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus."[15]

11. Doa Kesebelas

Terkadang beliau صلى الله عليه وسلم membaca:

اَللهُ أَكْبَرُ   اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ   سُبْحِانَ اَللهُ   لَا اِلَهَ إِلَّا اَللهُ   أَسْتَغْفِرُ اَللهُ      

"Allah Mahabesar (10 kali), segala puji milik Allah (10kali), Mahasuci Allah (10 kali), tidak ada tuhan kecuali Allah (10 kali), aku mohon ampun kepada Allah (10 kali)."

Dan dilanjutkan:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي (وَعَافِنِيْ)   يَقُولُ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الضِّيقِ يَوْمَ الْحِسَابِ 


"Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rizki, dan [berilah aku keselamatan]" (10 kali) dan dilanjutkan: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penderitaan pada hari menghadapi perhitungan amal di akhirat" (10 kali).[16]

12. Doa Keduabelas

اللَّهُ أَكْبَرُ   ذُو الْمَلَكُوتِ وَالْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

"Allah Mahabesar (3 kali), Tuhan Pemilik seluruh kekuasaan, Pemilik segala keperkasaan, Pemilik semua kebesaran, dan Pemilik semua keagungan."[17]

 Sumber Referensi:
[1]     HR. Abu Dawud dan Hakim, disahkan oleh Hakim, disetujui Dzahabi.

[2]     HR. Bukhari, Muslim, dan lbnu Abi Syaibah (12/110/2), baca Al-lrwa', Hadits no. 8.

[3]     Dalam beberapa riwayat lain digunakan kata-kata: "Dan aku termasuk orang-orang muslim." Tampaknya kata-kata ini perubahan dari beberapa orang rawi sendiri sebagaimana dibuktikan oleh beberapa keterangan. Oleh karena itu, hendaknya orang yang shalat mengucapkan kata-kata "wa ana awwalul muslimiin", bukan "wa ana minal muslimiin." Ada sementara yang menyangka bahwa pengertian "wa ana minal muslimiin" ialah "saya sebagai orang yang pertama berserah diri kepada Allah pada saat banyak orang mengingkari Islam", padahal bukan begitu yang dimaksud, tetapi ialah: "Aku segera melaksanakan perintah-perintah Allah sesuai dengan yang telah diperintahkan." Lafadz tersebut sejalan dengan firman Allah: "Katakanlah, jika Tuhan Yang Maha-rahman punya anak, Akulah yang pertama menjadi penyembahnya." Dan seperti kata Musa عليه السلام: "Dan Aku merupakan orang yang pertama menjadi mukmin."

[4]     Hal yang buruk tidak boleh dinisbatkan (dihubungkan) dengan Allah, sebab tidak ada perbuatan Allah yang buruk, tetapi perbuatan Allah semuanya baik. Perbuatan Allah itu pasti adil, utama, dan penuh kebajikan. Jadi, tidak ada yang buruk. Adanya penisbatan kata buruk kepada Allah oleh Ibnul Qayyim رحمه الله dijelaskan sebagai berikut:

"Allah سبحانه و تعالى pencipta kebaikan dan keburukan. Keburukan ini melekat pada diri sebagian makhluk-Nya, bukan pada penciptaan dan perbuatan-Nya. Oleh karena itulah, Allah jauh dari sifat zhalim, yaitu bertindak meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, tetapi Allah selalu meletakkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Jadi, semuanya baik, sedangkan yang buruk berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Bila sesuatu sudah ditempatkan pada tempatnya, hal itu tidak disebut buruk. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa buruk itu tidak dapat dinisbatkan kepada Allah. Bila Anda bertanya: "Mengapa Allah menciptakan makhluk-Nya buruk?" Jawabnya: "Ciptaan-Nya itu milik Allah dan perbuatan Allah menciptakan itu baik, tidak buruk, karena perbuatan menciptakan dan bertindak dilakukan oleh Allah sehingga sifat buruk mustahil melekat pada-Nya. Adapun apabila makhluk-Nya memiliki sifat buruk, sama sekali tidak bisa dinisbatkan kepada-Nya, sebab perbuatan dan ciptaan Allah semuanya baik. Uraian ini dikemukakan oleh Ibnul Qayyim dalam Kitab Syifa'ul 'Alii fii Masaail Al-Qadhai wa Al-Qadari Wa At-Ta'til, hlm. 178 - 206.

[5]     HR. Muslim, Abu 'Awanah, Abu Dawud, Nasa'i, Ibnu Hibban, Ahmad, Syafi'i, dan Thabarani. Anggapan bahwa Hadits ini hanya berkenaan dengan shalat sunnah adalah keliru.

[6]     HR. Nasa'i dengan sanad shahih.

[7]     HR. Nasa'i dan Daruquthni dengan sanad shahih.

[8]     HR. Abu Dawud dan Hakim, disahkan oleh Hakim dan disetujui Dzahabi. Uqaili berkata: "Hadits ini diriwayatkan dengan beberapa jalan dengan sanad shahih." Baca Al-lrwa' Hadits no. 341.

[9]     HR. Ibnu Mandah dalam At-Tauhid (2/123) dengan sanad shahih. Nasa'i dalam Kitab Al-Yaum wal Lailah dengan sanad mauquf dan marfu'. Baca Jami'ul Masanid, Ibnu Katsir, Juz. 3/2 muka 235/2. Lihat An-Nasa'i Hadits no. 849 dan 850, saya sebutkan dalam Kitab Ash-Shahihah Hadits no. 2939.

[10]    HR. Abu Dawud dan Thahawi dengan sanad hasan.

[11]    HR. Muslim, Abu 'Awanah, dan disahkan oleh Tirmidzi. Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Kitab Akhbar Ash-Bahan (1/210), dari Jabir bin Muth'im رضي الله عنه, ia mendengar Nabi صلى الله عليه وسلم mengucapkan do'a tersebut dalam shalat sunnah.

[12]    HR. Muslim dan Abu 'Awanah.

[13]    HR. Bukhari, Muslim, Abu 'Awanah, Abu Dawud, Ibnu Nashr, dan Darimi.

[14]    Hal ini tidak berarti dalam shalat-shalat wajib tidak boleh dibaca, tetapi maksudnya agar imam tidak membaca do'a ini, sehingga makmum menunggu lama.

[15]    HR. Muslim dan Abu 'Awanah.

[16]    HR. Ahmad, Ibnu Syaibah (12/119/2), Abu Dawud, dan Thabarani dalam Kitab Al-Ausath (62/2) dengan sanad shahih dan yang lainnya hasan.

[17]    HR. Thayalisi dan Abu Dawud dengan sanad shahih.

Alhamdulillah, Mudah Tadabbur Alquran 1 hari 1 Juz



Berikut ini link Tadabbur Al-quran, dengan pembahasan 1 hari 1 juz dengan Ust. Nouman Ali Khan

Bagi yang tidak memiliki waktu untuk membaca Alquran sekaligus maknanya. Berikut ini video Tadabbur Alquran yang disusun 1 hari 1 Juz. Sehingga cukup nonton dan dengar dimana saja dan kapan saja, di akhir Ramadhan kita bisa mengetahui makna kandungan Alquran secara menyeluruh. Hanya membutuhkan waktu 5-10mins!

Juz 1: https://www.youtube.com/watch?v=pt9fUcL8njY

Juz 2: https://www.youtube.com/watch?v=gWZDVYom3RE

Juz 3: https://www.youtube.com/watch?v=wFsYnwI6zEA

Juz 4: https://www.youtube.com/watch?v=h2kwFI7bKi0

Juz 5: https://www.youtube.com/watch?v=9C6QyjX53cg

Juz 6: https://www.youtube.com/watch?v=KVh-W6CjIOc

Juz 7: https://www.youtube.com/watch?v=tXsMMj7m9tQ

Juz 8: https://www.youtube.com/watch?v=6NFo35g7zo8

Juz 9: https://www.youtube.com/watch?v=2i80milYJAc

Juz 10: https://www.youtube.com/watch?v=RlKDxmw466Y

Juz 11: https://www.youtube.com/watch?v=Btsvfuu2eE4

Juz 12: https://www.youtube.com/watch?v=K1uQ1l4LQFE

Juz 13: https://www.youtube.com/watch?v=eThSNtJe7SY

Juz 14: https://www.youtube.com/watch?v=Vvn2WCO_zPg

Juz 15: https://www.youtube.com/watch?v=3xOK85qRQ_o

Juz 16: https://www.youtube.com/watch?v=WAwI1MvBViE

Juz 17: https://www.youtube.com/watch?v=x9nMCACgvqk

Juz 18: https://www.youtube.com/watch?v=y5YpDilwN04

Juz 19: https://www.youtube.com/watch?v=T_DMb8o32c8

Juz 20: https://www.youtube.com/watch?v=DzSDr5xiGIE

Juz 21: https://www.youtube.com/watch?v=0qAhT7MV0Fg

Juz 22: https://www.youtube.com/watch?v=bFUACCm25ok

Juz 23: https://www.youtube.com/watch?v=PKFc1o8Yvzk

Juz 24:https://www.youtube.com/watch?v=R6XHHcbcitI

Juz 25: https://www.youtube.com/watch?v=iLvV_1JT2Ik

Juz 26: https://www.youtube.com/watch?v=v_zrDh9Ny8g

Juz 27: https://www.youtube.com/watch?v=kvUU1g4i2bk

Juz 28: https://www.youtube.com/watch?v=xJRf_4tojx4

Juz 29:
https://www.youtube.com/watch?v=Ugx4MZK3EGQ

Juz 30:
https://www.youtube.com/watch?v=9JL09VjJQWE

Mudah - mudahan bermanfaat dan menambah nilai shaum kita. Karena Ramadhan bulan Alquran
Sebarkan

Waspadalah Dengan Buka Bersama (Bukber)!!!

Buka Bersama


Hal yang sering kita temui di bulan Ramadhan setiap tahunnya adalah "buka bersama" (BukBer). Hal tersebut biasa dilakukan dengan teman-teman lama, teman-teman sekolah sambil bereuni atau dengan teman-teman main lainnya. Sebagai nasihat dan semoga kita bisa pertimbangkan ketika mengadakan buka bersama (BukBer). Ada beberapa catatan kerusakan yang sering terjadi ketika acara BukBer:

1- Lebih mengutamakan mengisi perut dan jalin ukhuwah daripada Shalat Maghrib.

2- Ngobrol, ketawa haha hihi hehe sampai Isya, kadang shalat Maghrib ditinggalkan. Padahal meninggalkan satu shalat saja bisa menghapuskan amalan. Masih adakah nilai pahala berbuka?

مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya” (HR. Bukhari no. 594).

Kalau disebut menghapuskan amalan, berarti meninggalkan Shalat bisa menghapus amalan "Puasa". Na’udzu billahi min dzalik!!!

3- Shalat Maghrib jama’ah pun ditinggalkan hanya karena lebih mementingkan kebersamaan di meja makan dengan teman-teman.

Lihat peringatan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi pria yang enggan berjama’ah,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Shubuh. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada dalam kedua shalat tersebut tentu mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak. Sungguh aku bertekad untuk menyuruh orang melaksanakan shalat. Lalu shalat ditegakkan dan aku suruh ada yang mengimami orang-orang kala itu. Aku sendiri akan pergi bersama beberapa orang untuk membawa seikat kayu untuk membakar rumah orang yang tidak menghadiri shalat Jama’ah.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651, dari Abu Hurairah).

4- Yang paling sering dilakukan adalah shalat Tarawihnya pun ditinggalkan sehingga tidak mendapat pahala shalat taraweh yang nilainya seperti sholat semalam suntuk bersama Imam. Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ بَقِيَّةُ لَيْلَتِهِ

Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dihitung mendapatkan pahala shalat di sisa malamnya.” (HR. Ahmad 5: 163. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

5- Kadang kala campur baur antara laki-laki dan perempuan tanpa batas. Padahal ketika kita shalat jama’ah saja kita sudah diperintah untuk dipisahkan antara laki-laki dan perempuan agar tidak terjadi timbul fitnah.

Kalau mau buka bersama sebaiknya shalat Maghrib, Isya dan Tarawihnya tidak ditinggalkan. Carilah tempat buka bersama yang dekat dengan tempat sholat. Jangan mengutamakan ukhuwah dibandingkan dengan hak Allah Azza wa Jalla? Apakah Allah yang memberi keselamatan ataukah teman-teman kita?

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Referensi Amal Harian Selama Bulan Ramadhan



Berikut ini kegiatan harian dari Ust. DR. Amir Faisol Fath selama bulan Ramadhan, agar kegiatan kita lebih tertuntun
semoga bisa menjadi referensi, sehingga hari - hari kita terisi dengan hal yang baik, membawa keberkahan:

1. Tahajud
2. Akhirkan saur
3. Sholat sunah fajar sblm subuh
4. Subuh jamaah di masjid
5. Dzikir pagi
6. Tilawah 1juz
7. Sholat Dhuha
8. Nafkah halal
9. Hindari bohong (meski bercanda),ghiba
h,khurafat(porno)
10. Sedekah/sedekah buka puasa
11. Silaturahim (minimal sms saudara/teman)
12. Mengajak kawan/saudara kebaikan
13. Istigfar 100x
14. Tasbih 100x
15. Dhuhur jamaah di masjid (laki2)
16. Asar jamaah di masjid (laki2)
17. Dzikir sore
18. Doa sblm buka(waktu yg mustajab)
19. Segera berbuka(sunah dg kurma/air putih)
20. Maghrib berjamaah(laki2)
21. Tilawah 1juz
22. Isya jamaah di masjid(laki2)
23. Tarawih
24. Hadiri majlis ilmu
25. Itikaf
26. Baca hadist (minimal 5 hdist)
27. Baca Al Quran terjemahan

Semoga bermanfaat menambah semangat beribadah di bulan Ramadhan.

Bulan PUASA dan KESUCIAN JIWA



Bulan suci Ramadhan telah menjelang. Mari-lah kita menyambutnya dengan hati penuh rasa syukur. Bagaimana tidak, bulan tersebut penuh dengan keutamaan dan keberkahan yang tidak ada di bulan-bulan lainnya.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai suri teladan kita mem-beri kabar gembira kepada para sahabatnya dengan tibanya bulan Ramadhan. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
"Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewa-jibkan puasa atas kalian di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka dituhip, dan setan-setan dibelenggu. Di dalam bulan ini ada sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tercegah dari kebaikannya, maka sungguh dia tercegah untuk mendapatkannya."   (HR.   Ahmad   12/59,   Nasai 4/129; dishahihkan Syaikh Albani dalam Tamamul Minnah hlm. 395.)
Menurut al-Hafizh Ibnu Rajab رحمه الله, sebagian ulama mengatakan bahwa hadits ini adalah dalil akan bolehnya mengucapkan selamat antara sebagian manusia kepada yang lain berhubungan dengan datangnya bulan Ramadhan. Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak bergembira dengan dibukanya pintu surga?! Bagaimana tidak bergembira orang yang berbuat dosa dengan ditutupnya pintu neraka?! Bagaimana mungkin orang yang berakal tidak bergembira dengan suatu waktu yang saat itu setan dibelenggu?! Waktu mana yang bisa menyerupai waktu semacam ini?! (Lihat Lathaiful Ma'arif hlm. 279.)

SUDAH SIAPKAH KITA?

Bila memang bulan Ramadhan sebentar lagi datang, lantas sudahkah kita mempersiapkan diri untuknya?! Benar, kita harus mempersiapkannya dengan bekal ilmu agar Ramadhan kali ini betul-betul panen pahala dan menuai ridha Allah عزّوجلّ. Maka sudah semestinya kita berusaha mencontoh Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم dalam berpuasa, sebagaimana kita juga mencontoh beliau dalam shalat kita, haji kita, dan seluruh ibadah kita. Allah عزّوجلّ berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. al-Ahzab [33]: 21)
Al-Hafizh Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan, "Ayat yang mulia ini merupakan landasan dasar dalam mengikuti Nabi صلى الله عليه وسلم dalam ucapannya, perbuatannya, dan segala keadaannya." (Tafsir al-Qur'anil Azhim 6/391)
Hal itu karena memang mencontoh petunjuk Nabi صلى الله عليه وسلم dalam setiap ketaatan adalah kunci diterimanya amal shalih seorang hamba bersama dengan kunci lainnya yaitu ikhlas karena Allah عزّوجلّ. Dua syarat tersebut (ikhlas dan mencontoh Nabi Jصلى الله عليه وسلم) seperti dua sayap burung yang tidak sempurna tanpa kedua-duanya. Hanya, mengetahui petunjuk Nabi صلى الله عليه وسلم di bulan Ramadhan bukanlah hanya dengan angan-angan belaka, melainkan dengan ilmu yang bermanfaat yang membuahkan amal shalih.
Hal lain yang perlu kita siapkan untuk menyambut Ramadhan adalah melatih diri untuk berpuasa semenjak sekarang agar kelak kita sudah terbiasa dan tidak kaget dengan ketaatan. Oleh karena itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memperbanyak puasa pada bulan Sya'ban.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ, وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِيْ شَعْبَانَ
Dari Aisyah رضي الله عنها berkata, "Saya tidak pernah mengetahui Rasulullah صلى الله عليه وسلم puasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah mengetahui beliau lebih banyak berpuasa daripada di bulan Sya'ban." (HR. Bukhari: 1969, Muslim: 782)
Di antara hikmah memperbanyak puasa bulan Sya'ban adalah untuk persiapan bulan Ramadhan agar hati dan badan siap untuk menyambutnya dengan kesegaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah عزّوجلّ.

HIKMAH DI BALIK IBADAH PUASA

Sesungguhnya Allah عزّوجلّ mewajibkan bulan puasa kepada kita untuk suatu hikmah yang sangat mendalam maknanya yaitu meraih derajat takwa. Allah عزّوجلّ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. al-Baqarah [2]: 183)
Ayat ini sangat penting untuk kita cermati karena Allah عزّوجلّ memulainya dengan panggilan iman yang menunjukkan bahwa tuntutan dalam ayat tersebut termasuk konsekuensi keimanan seseorang. Seakan-akan Allah عزّوجلّ mengatakan: "Seandainya iman kalian benar-benar sejati maka kalian akan mengerjakan apa yang Kuperintahkan kepada kalian."
Perlu kita pahami bersama bahwasanya puasa yang Allah عزّوجلّ wajibkan kepada kita tidak hanya menahan makan dan minum semata. Akan tetapi lebih dari itu, yaitu menahan anggota badan dari bermaksiat kepada Allah عزّوجلّ, menahan mata dari melihat yang haram, menjauhkan telinga dari mendengar yang haram, menahan lisan dari mencaci dan menggunjing (ghibah), serta menjaga kaki untuk tidak melangkah ke tempat maksiat. Dan kita bisa merenung sebentar; jika makan, minum dan jimak saja yang hukum asal-nya boleh diharamkan oleh Allah عزّوجلّ pada bulan puasa, lantas bagaimana dengan hal-hal yang memang pada asalnya adalah haram?!! Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
"Betapa banyak orang yang berpuasa tidak ada bagian dari puasanya kecuali hanya mendapat lapar belaka." (HR. Ibnu Majah: 1690 dan dishahih-kan oleh Syaikh al-Albani)
Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ
"Puasa adalah perisai. Maka janganlah berkata ko-tor dan berbuat bodoh. Apabila ada yang memerangimu atau mencelamu, maka katakanlah: 'Aku sedang puasa, aku sedang puasa.'" (HR. Bukhari 4/103, Muslim: 1151)
Dalam hadits yang lain Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya serta kebodohan, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari: 1903)
Hal ini menunjukkan bahwa tiga hal di atas mempengaruhi pahala puasa dan menguranginya, sekalipun tidak membatalkannya.
Dari sinilah kita mengetahui hikmah yang mendalam dari disyari'atkannya puasa. Andaikan kita terlatih dengan tarbiyah yang agung semacam ini, sungguh Ramadhan akan berlalu sedangkan manusia berada dalam akhlak yang agung, berpegang dengan akhlak dan adab, karena itu adalah tarbiyah yang nyata. Dan ini-lah hakikat puasa yang sebenarnya. Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah رحمه الله berkata:
"Orang berpuasa yang sebenarnya adalah orang yang menahan anggota badannya dari segala dosa, lisannya dari dusta, perutnya dari makanan dan minuman, dan farjinya dari jimak. Bila berbicara, dia tidak mengelu-arkan perkataan yang menodai puasanya. Jika berbuat, dia tidak melakukan hal yang dapat merusak puasanya. Sehingga ucapannya yang keluar adalah bermanfaat dan baik. Demikian pula amal perbuatannya, ibarat wewangian yang dicium baunya oleh kawan duduknya. Seperti itu juga orang yang puasa, kawan duduknya mengambil manfaat dan merasa aman dari kedustaan, kemaksiatan, dan kezalimannya. Inilah hakikat puasa sebenarnya, bukan hanya sekadar menahan diri dari makanan dan minuman." (al-Wabilush Shayyib wa Rafi'ul Kalim ath-Thayyib hlm. 57)

PENUTUP

Perjumpaan dengan bulan suci Ramadhan merupakan suatu nikmat yang sangat mahal harganya. Tidakkah kita berpikir bahwa banyak saudara kita, sahabat kita, dan kerabat kita yang tahun lalu berpuasa bersama kita, namun pada tahun ini sudah tidak lagi bersama kita?!! Maka marilah kita manfaatkan waktu-waktu bulan puasa ini unruk memperbanyak ibadah kepada Allah عزّوجلّ berupa membaca al-Qur'an, shalat Tarawih, sedekah, do'a, dan sebagainya. Sungguh betapa meruginya orang-orang yang mendapati bulan suci Ramadhan tetapi hanya menyia-nyiakan waktunya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat; hanya dengan tidur, menon-ton TV, jalan-jalan, dan sebagainya; apalagi —wal'iyadzu billah— mereka yang mengisinya dengan keharaman. Manakah ketakwaan dan iman?! Sampai kapankah kelalaian ini?! Belum-kah tiba saatnya kita sadar dari kelalaian ini?!
Akhirnya, marilah kita berdo'a kepada Allah عزّوجلّ agar memberikan kita kenikmatan untuk berjumpa dengan bulan suci Ramadhan dan mengisinya dengan ketaatan.[]

RAMADHAN BULAN AL-QUR'AN

 

Salah satu syiar Islam bulan Ramadhan yang telah banyak dilalaikan manusia adalah mempelajari al-Qur'an. Padahal bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur'an, maka sudah semestinya setiap muslim punya perhatian lebih terhadap al-Qur'an di bulan ini.


Allah عزّوجلّ berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS.Al-Baqarah [2]: 185).
Syaikh Abdurrahman as-Sa'di رحمه الله berkata: "Al-Qur'an merupakan petunjuk kebaikan bagi kalian di dunia dan akhirat. Kitab yang telah menjelaskan kebenaran dengan penjelasan yang gamblang, sebagai pembeda antara yang hak dan bathil, antara hidayah dan kesesatan, dan antara orang yang bahagia dan orang yang celaka".

HIKMAH TURUNNYA AL-QUR'AN
DI BULAN RAMADHAN

Hubungan al-Qur'an dengan bulan Ramadhan adalah hubungan yang penuh makna. Ibadah puasa adalah sarana perbaikan jiwa dan pembersihan hati. Semua ini menyimpan tujuan besar, yaitu agar manusia siap menerima cahaya ilmu dan petunjuk al-Qur'an. Maksud yang terbesar dari puasa adalah membersihkan hati dan pikiran, dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih maka manusia akan mampu memahami kandungan al-Qur'an. Perhatikanlah rahasia hikmah ini dalam urutan ayat tentang puasa, setelah Allah عزّوجلّ menyebutkan kewajiban puasa maka Allah menyebutkan dalam rentetan selanjutnya dengan ayat turunnya al-Qur'an, hal ini dapat dipahami bahwa disyariatkannya ibadah puasa tiada lain demi al-Qur'an.


TUGAS MULIA MEMBACA AL-QUR'AN

Al-Qur'an adalah kalamullah. Membaca al-Qur'an merupakan amalan mulia. Allah عزّوجلّ memerintahkan kita agar selalu membacanya. Orang yang membaca al-Qur'an akan mendapat pujian dan keistimewaan dari Allah عزّوجلّ. Allah عزّوجلّ berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ . لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada me-reka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Fathir [35]: 29-30).

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
Bacalah al-Qur'an, karena sesungguhnya al-Qur'an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at bagi ahli al-Qur'an.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الـم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
Barangsiapa yang membaca satu huruf al-Qur'an maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan bahwa Aliif Laam Miim satu huruf, akan tetapi Aliif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.



Beliau juga bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنْ النَّاسِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ
Sesungguhnya Allah mempunyai orang-orang yang ahli diantara manusia. Ada yang bertanya; siapa mereka wahai Rasulullah? Nabi menjawab: mereka adalah ahli al-Qur'an, mereka adalah wali Allah dan orang khususnya.
Imam Ibnu Shalah رحمه الله mengatakan: "Membaca al-Qur'an adalah kemuliaan, kemuliaan yang Allah berikan kepada manusia. Sungguh para malaikat tidak diberikan hal itu, dan mereka sangat semangat untuk mendengarkannya dari manusia."

HAKEKAT MEMBACA AL-QUR'AN

Hakekat membaca al-Qur'an adalah ittiba', mengikuti dengan segenap hati kandungan al-Qur'an. Menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Allah عزّوجلّ berfirman:
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ
Orang-orang yang telah Kami berikan al-kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. (QS.al-Baqarah [2]:121)
Imam Mujahid رحمه الله berkata: "Firman-Nya mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya yaitu mereka mengamalkannya dengan sebenar-benarnya pengamalan".
Imam Ikrimah رحمه الله berkata: "Yaitu mereka mengikutinya dengan sebenar-benarnya pengikutan".
Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: "Mutaba'ah adalah hakekat membaca yang Allah memberi pujian bagi pelakunya dalam firmannya yang berbunyi:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab. (QS.Fathir [35]: 29)

Maksud membaca adalah membaca secara makna dan mengikutinya, dengan membenarkan beritanya, melaksanakan perintahnya, meninggalkan larangannya, dan menjadikan al-Qur'an sebagai imam".

MANA YANG LEBIH AFDHAL, MEMBACA DENGAN MELIHAT MUSHAF ATAU DENGAN HAFALAN?

Membaca al-Qur'an dengan melihat mushaf adalah ibadah dan membacanya dengan hafalan juga ibadah. Namun, manakah yang lebih utama dari keduanya?
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ شَرَّهُ أَنْ يُـحِبَّ اللهَ وَ رَسُولَهُ فَلْيَقْرَأْ فِيْ الْـمُصْحَفِ
Barangsiapa yang senang untuk mencintai Allah dan RasulNya maka hendaklah ia membaca al-Qur'an dari mushaf.
Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه mengatakan: "Rutinkan untuk melihat al-Qur'an dari Mushaf".
Imam an-Nawawi asy-Syafi’i رحمه الله berkata: "Membaca al-Qur'an dengan melihat mushaf lebih afdhal daripada membaca lewat hafalan, karena melihat mushaf adalah ibadah yang sudah ditetapkan, maka akan berkumpul antara membaca al-Qur'an dan melihatnya".

POTRET SALAF BERSAMA AL-QUR'AN
DI BULAN RAMADHAN

Imam az-Zuhri رحمه الله ditanya tentang amalan di bulan Ramadhan, beliau menjawab: "Amalan di bulan Ramadhan hanya membaca al-Qur'an dan memberi makan."
Imam Abdurrazzaq رحمه الله menukil dari Imam ats-Tsauri رحمه الله bahwasanya jika telah masuk bulan Ramadhan beliau meninggalkan seluruh ibadah selain yang wajib, dan memfokuskan diri untuk membaca al-Qur'an.
Bila bulan Ramdhan datang Imam Malik رحمه الله 'lari' dari majlis ilmu dan memfokuskan diri membaca al-Qur'an dari mushaf.

MEMAHAMI KANDUNGAN MAKNA AL-QUR'AN

Al-Qur'an diturunkan Allah bukan semata untuk dibaca, namun tujuan asasi adalah agar dipahami kandungan ayatnya. Allah عزّوجلّ berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS. Shaad [38]: 29).
Imam as-Syaukani رحمه الله berkata: "Ayat ini adalah dalil bahwasanya Allah عزّوجلّ menurunkan al-Qur'an itu hanyalah untuk ditadabburi dan direnungi maknanya, bukan hanya sekadar membacanya tanpa tadabbur".
Allah عزّوجلّ berfirman:
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا
Apakah mereka tidak memperhatikan al Qur'an? kalau kiranya al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS.an-Nisa' [4]: 82).
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: "Tidak ada sesuatu apa-pun yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba di kehidupan dunia dan akheratnya dan lebih bisa mendekatkan diri menuju keselamatannya dibandingkan dengan mentadabburi al-Qur'an, mendalaminya dengan merenungi makna ayat-ayatnya. Karena dengan cara tersebut akan nampak baginya tanda-tanda kebaikan dan peringatan akan kejelekan".
Termasuk praktek nyata Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabat dalam mentadabburi al-Qur'an adalah kebiasaan mereka yang mengulang-ulang satu ayat al-Qur'an sampai waktu subuh.
Abu Dzar رضي الله عنه berkata: "Nabi shalat malam dengan membaca satu ayat sampai waktu subuh, beliau mengulang-ulang ayat itu terus, ayat tersebut berbuyi;
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Jika Engkau menyiksa mereka, Maka Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Maidah [5]: 118).
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: "Inilah kebiasaan salaf, salah seorang diantara mereka mengulang-ulang ayat sampai subuh".
Imam Ahmad bin Abdirrahman al-Maqdisi رحمه الله berkata: "Selayaknya bagi orang yang membaca al-Qur'an untuk melihat bagaimana kelembutan Allah terhadap makhluknya dalam menyampaikan makna al-Qur'an ke dalam pemahaman mereka, dan hendaknya menyadari bahwa apa yang dia baca bukan ucapan manusia, agar dapat menghadirkan dalam hatinya keagungan yang berkata dan mentadabburi firman-Nya, karena tadabbur adalah maksud inti dari membaca, jika tidak mampu dalam mentadabburinya kecuali dengan mengulang-ulang ayat, maka ulang-ulangilah".

KHATAMAN AL-QUR'AN

Mempunyai target dalam membaca al-Qur'an adalah sunnah yang telah ditinggalkan. Sungguh para salaf mereka punya target yang tetap dalam membaca al-Qur'an pada setiap harinya, disebut dengan hizb, wirid atau juz yang mereka tetapkan terus bersambung hingga khatam al-Qur'an dalam sebulan sekali, dalam sepekan sekali atau setiap tiga hari sekali. Dalil permasalahan ini diantaranya adalah sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang berbunyi;
مَنْ نَامَ عَنْ حِزْبِهِ أَوْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ فَقَرَأَهُ فِيمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الظُّهْرِ كُتِبَ لَهُ كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنْ اللَّيْلِ
Barangsiapa yang tertidur meninggalkan hizbnya atau sedikit darinya, kemudian dia membacanya antara shalat subuh dan shalat zuhur maka akan ditulis baginya pahala bacaan semalam suntuk".
Dan paraktek para sahabat yang mencontoh Nabi صلى الله عليه وسلم dalam pencapaian target membaca al-Qur'an adalah suatu yang sudah maklum diketahui. Sebagai contohnya suatu hari Rasulullah menjamu tamu dari kalangan bani Tsaqif di tendanya, mereka datang menemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم setiap malam setelah Isya agar mendengar ilmu dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Pernah di suatu malam Rasulullah terlambat keluar menemui mereka, salah seorang dari mereka bertanya; "Sungguh malam ini Anda terlambat dalam memberi hadits kepada kami." Nabi menjawab; "Sesungguhnya tadi terlihat dalam fikiranku target bacaan al-Qur'anku, maka aku tidak senang untuk keluar sebelum aku menyelesaikannya."
Rawi hadits ini yaitu Aus bin Hudzaifah berkata: "Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah, bagaimana kalian membagi target bacaan dan hafalan al-Qur'an?" Mereka menjawab; "Tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas dan target surat-surat mufasshal".
Pensyarah kitab Sunan Abu Dawud berkata: "Hizb adalah apa yang dijadikan seseorang untuk dirinya sendiri berupa target dalam membaca al-Qur'an. Maksud ucapan para sahabat hizbnya tiga yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran dan an-Nisaa. Maksud lima adalah dari surat al-Maidah sampai surat at-Taubah, maksud tujuh adalah dari surat Yunus sampai surat an-Nahl. Dan sembilan yaitu dari surat as-Shoffaat sampai surat Hujuraat. Dan maksud surat mufasshol yaitu dari surat Qaaf sampai akhir al-Qur'an".

LAMANYA WAKTU MENGKHATAMKAN AL-QUR’AN

Imam Nawawi رحمه الله berkata: "Kaum salaf memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam batas waktu menghatamkan al-Qur'an, sebagian mereka ada yang menghatamkannya dalam dua bulan, sebagian yang lain dalam sebulan, yang lainnya dalam sepuluh hari, yang lainnya lagi dalam tujuh hari dan inilah yang terbanyak, bahkan ada juga yang menghatamkannya dalam satu hari satu malam.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ الْقُرْآنَ فِي شَهْرٍ قُلْتُ: إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً قَالَ: فَاقْرَأْهُ فِي سَبْعٍ وَلَا تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ
Dari Abdullah bin Amr رضي الله عنهما, bahwasanya Rasulullah berkata kepadaku: "Bacalah al-Qur'an dalam sebulan!" Aku berkata: "Aku masih sanggup kurang dari itu wahai Rasulullah!" Rasulullah pun berkata: "Kalau begitu bacalah dalam waktu tujuh hari dan janganlah engkau minta kurang lagi."
Abdullah bin Amr رضي الله عنهما bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَـمْ يَفْقَهْ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ
Tidak akan faqih orang yang membaca al-Qur'an kurang dari tiga hari.
Al-Hafizh Ibnu Rajab رحمه الله berkata: "Larangan menghatamkan al-Qur'an kurang dari tiga hari hanyalah jika hal itu dilakukan secara terus menerus. Adapun jika dilakukan pada waktu-waktu yang penuh dengan keutamaan seperti pada bulan Ramadhan, wabil khusus pada malam-malam yang diharapkan turun Lailatul Qadr atau dilakukan pada tempat yang punya keutamaan seperti kota Makkah yang dikunjungi oleh orang luar Makkah maka dianjurkan untuk memperbanyak membaca al-Qur'an sebagai bentuk meraih kesempatan keutamaan waktu dan tempat, inilah pendapatnya Ahmad, Ishaq dan selain keduanya dari para imam".
Perhatian: Tidak ada do'a khusus ketika menghatamkan al-Qur'an, adapun do'a-do'a khatam al-Qur'an yang tersebar sekarang ini tidaklah shahih!

MUTIARA KALAM SALAF

1.    Fudhail bin Iyadh رحمه الله mengatakan: "Orang yang menekuni al-Qur'an adalah orang yang membawa bendera Islam, tidak pantas baginya untuk lalai bersama orang yang lalai, lupa bersama orang yang lupa dan tersibukkan bersama orang yang sibuk".
2.    Imam al-Aajurri رحمه الله berkata: "Hendaknya orang yang membaca al-Qur'an untuk menjadikan al-Qur'an sebagai penyejuk hatinya, memenuhi relung hati dalam memperbaiki yang rusak, beradab dengan adab al-Qur'an, berakhlak dengan akhlak yang mulia, dirinya berbeda dengan seluruh manusia yang tidak membaca al-Qur'an".
3.    Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: "Andaikan manusia mengetahui apa yang terdapat dalam membaca al-Qur'an dengan tadabbur niscaya mereka akan menyibukkan diri dengannya dari perkara yang lain. Apabila membaca al-Qur'an dengan merenunginya hingga ketika melewati satu ayat dia berfikir dan mentadabburinya, hal itu lebih baik daripada membaca al-Qur'an sampai selesai tanpa diiringi tadabbur dan pemahaman".
Allahu A'lam.[]

Risalah Shaum Ramadhan


Dari Abdul Aziz bin Baaz untuk kaum muslimin, semoga Allah membimbing kita semua ke jalan ahlul iman, dan semoga Allah memberikan pemahaman kepada kita semua terhadap Sunnah dan Al Qur'an, amin.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Inilah nasehat singkat seputar keutamaan puasa Ramadhan dan qiyamullail, dan fadhilah berlomba-lomba untuk beramal shalih, serta penjelasan tentang beberapa hukum penting yang terkadang masih samar bagi sebagian orang.

Keutamaan Puasa Ramadhan

Diriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa beliau memberi kabar gembira kepada para sahabatnya tentang datangnya bulan Ramadhan, juga menghabarkan kepada mereka bahwa ini adalah bulan dimana pintu-pintu rahmat, pintu-pintu surga dibuka sementara pintu-pintu neraka ditutup serta setan dibelenggu, beliau bersabda:
إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ
“Jika datang awal Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pintupun yang dltutup, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pintupun yang dibuka, setan-setanpun dibelenggu, lalu seorang penyeru menyeru: Wahai pemburu kebaikan! sambutlah, dan wahai pemburu kejahatan! berhentilah, dan Allah menetapkan untuk membebaskan beberapa orang dari neraka, yaitu pada setiap malamnya"
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ بَرَكَةٌ، يَغْشَاكُمُ اللهُ، فَيَنْزِلُ الرَّحْمَةَ، وَ يَحط الْـهَطايَا وَيَسْتَجِيْبُ الدَعَاء،يَنْظُرُ اللهُ عَلَى تَنَافُسِكُمْ فِيْهِ فَيُبَاهِي بِكُمْ مَلاَئِكَتَة، فأرُوا اللهَ مِنْ أَنفُسِكُم خَيْرًا فَإِنَّ الشَّقَى مَن حَرَّمَ فِيْهِ رَحْمَة اللهِ
“Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah akan menaungi kalian, Dia menurunkan rahmat, menghapuskan dosa-dosa, mengabulkan do’a, Allah akan melihat persaingan kalian padanya lalu Allah membangga-banggakan kalian di hadapan malaikat-malaikatNya, maka perlihatkanlah kebaikan dari diri   kalian, sesungguhnya orang yang sengsara adalah orang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini" 
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيـمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيـمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيـمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan penuh harap pahala dari Allah maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat, dan siapa melakukan qiyamullail di bulan Ramadhan karena iman dan penuh harap pahala dari Allah maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat, dan siapa yang melakukan qiyamul lail pada malam-malam lailatul qadar karena iman dan penuh harap pahala dari Allah maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat"

Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، تَركَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ، وَلَـخُلُوفُ فَمِّ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
"Setiap amal bani Adam adalah miliknya, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa sesungguhnya itu hanya untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya, karena ia meninggalkan syahwatnya, makanannya, minumannya karena Aku. Bagi orang yang puasa memiliki dua kebahagiaan; pertama saat berbuka dan kedua ketika bertemu Rabbnya, dan bau mulut orang berpuasa lebih wangi dari pada minyak kasturi"  Dan hadits yang sejenis ini banyak sekali .

Menjaga Shalat Wajib dan Berjama’ah
Hendaknya setiap muslim memanfaatkan kesempatan ini, yaitu Allah عزّوجلّ memberi kesempatan baginya dapat menjumpai bulan Ramadhan, maka hendaklah bersegera untuk memanfaatkannya dengan ketaatan kepada Allah dan menjahui kemaksiatan, bersungguh-sungguh dalam menunaikan apa-apa yang Allah wajibkan terutama masalah shalat lima waktu, karena ia merupakan tiangnya Islam dan kewajiban yang agung setelah dua kalimat syahadat.
Kewajiban muslim dan muslimah adalah menjaga dan melaksanakannya tepat pada waktunya dengan khusu' dan tuma'ninah. Juga termasuk kewajiban yang paling penting bagi kaum laki-laki adalah mengerjakannya secara berjama’ah di masjid yang didalamnya dikumandangkan adzan, sebagaimana firman-Nya:
وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta   orang-orang yang ruku'"   (QS. Al Baqoroh/2: 43).
Firman-Nya yang lain:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa, Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu' “ (QS. Al Baqoroh/2: 238).
Firman-Nya yang lain:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ . الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya” (QS. Al Mukminun/23: 1-2).
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ . أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ . الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya, Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus, mereka kekal di dalamnya” (QS. Al Mukminun/23: 9-11).
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat, barang siapa yang meninggalkannya maka ia telah kafir”.
Menunaikan Zakat
Menunaikan zakat, merupakan kewajiban penting setelah perintah shalat, sebagaimana firman Allah عزّوجلّ:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus” (QS. Al Bayyinah/98: 5).
Firman Allah عزّوجلّ:
وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan   taatlah   kepada   rasul, supaya kamu diberi rahmat” (QS. An Nur/24: 56).
Al Qur'an dan Sunnah telah menjelaskan bahwa siapa yang tidak menunaikannya maka dia akan mendapatkan adzab pada hari kiamat.
Puasa Ramadhan dan Qiyamul Lail
Puasa Ramadhan, termasuk kewajiban yang terpenting setelah shalat dan zakat, dia termasuk salah satu rukun Islam, seperti yang telah disebutkan dalam hadits Nabi صلى الله عليه وسلم:
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَـمْسٍ: شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامُ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ
“Islam dibangun atas lima dasar, bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan melaksanakan ibadah haji”.
Hendaknya seorang muslim menjaga puasa dan qiyamullail-nya dari hal-hal yang Allah haramkan baik perkataan maupun perbuatan, karena tujuan puasa adalah mentaati Allah, mengagungkan kesucian-Nya,    mengendalikan nafsu dari penyelewengan terhadap Rabbnya,    membiasakan sabar dari apa-apa yang Allah haramkan, dan bukanlah maksud puasa itu sekedar meninggalkan makan minum serta hal-hal yang membatalkannya. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda;
وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ
“Puasa adalah perisai, maka jika telah datang hari puasa dari kalian maka janganlah melakukan rofats (perbuatan keji) dan berbuat keributan, jika dia dicela atau diajak ribut maka hendaknya dia mengatakan: saya sedang puasa”.
مَنْ لَـمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Siapa yang berpuasa dan tidak meninggalkan perkataan dusta, bahkan dia melakukannya serta bertindak jahil maka Allah tidak butuh terhadap perbuatannya yaitu meninggalkan makanan dan minuman.
Dari hadits ini dapat diketahui bahwa hendaknya setiap orang yang puasa berhati-hati jangan sampai terjerumus ke dalam apa yang Allah haramkan, dan hendaknya selalu menjalankan apa-apa yang Allah perintahkan, sehingga dengan demikian semoga Allah mengampuni, membebaskannya dari api neraka serta menerima puasa dan qiyamullail-nya.
Beberapa hukum yang samar bagi sebagian orang
Yaitu: Hendaknya bagi orang yang berpuasa untuk menjalankan puasanya karena iman kepada Allah serta mengharap pahala dari-Nya dan bukan karena riya, sum'ah, taklid atau ikut-ikutan terhadap penduduk setempat, namun hendaknya ia menjalankan puasa kerena dasar perintah Allah dan karena mengharap pahala disisi-Nya, demikian pula ketika melakukan qiyamullail hendaknya dikerjakan atas dasar iman dan penuh harap pahala dari-Nya dan bukan karena sebab lain, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda;
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيـمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيـمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيـمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat, dan siapa yang melakukan shalat malam karena iman dan mengharap pahala maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni, dan siapa yang melakukan shalat malam pada malam lailatul qodar maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni”.
Dan beberapa masalah yang kurang difahami hukumnya oleh sebagian orang adalah, apa-apa yang dihadapi oleh orang yang berpuasa seperti luka, muntah, masuknya air ke dalam kerongkongan tanpa disengaja, semua ini adalah tidak membatalkan puasa, namun siapa yang sengaja muntah maka puasanya batal sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
مَنْ ذَرَعَهُ اَلْقَيْءُ فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ, وَمَنْ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ اَلْقَضَاءُ
“Siapa yang muntah maka tidak perlu mengqodha puasa -karena tidak membatalkannya pent-, namun siapa yang muntah dengan disengaja maka harus mengqodha puasanya”.
Masalah lain yang juga terjadi di tengah masyarakat adalah mengakhirkan mandi janabat sampai muncul terbitnya Fajar, juga bagi sebagian wanita yang mengakhirkan mandi dari haidh atau nifas sampai terbit fajar, jika telah suci sebelum Fajar maka wajib baginya puasa dan tidak masalah mengakhirkan mandi sampai terbit Fajar, namun tidak boleh mengakhirkan mandi sampai terbit matahari karena ia harus mandi untuk shalat Shubuh sebelum terbit matahari, demikian pula bagi orang junub tidak boleh mengakhirkan mandi sampai terbit matahari, dia wajib segera mandi untuk shalat Subuh sebelum terbit matahari, dan bagi para kaum laki-laki hendaknya bersegera mandi agar tidak tertinggal shalat Subuh berjam'ah.
Hal-hal yang tidak membatalkan puasa adalah; cek darah, suntik yang tidak diniatkan untuk memasukkan makanan, namun jika hal itu dilakukannya di malam hari maka itu lebih baik jika keadaan memungkinkan, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ
"Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu"  (HR. Tirmidzi dan Nasa'i)  
dan sabdanya yang lain:
فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ
"Siapa yang menjaga dirinya dari syubhat maka dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya” (HR Bukhari dan Muslim).
Ada beberapa masalah di mana hukumnya sudah jelas bagi sebagian orang yaitu; tidak tuma'ninah dalam shalat baik shalat fardhu maupun sunnah. Hadits Nabi صلى الله عليه وسلم menjelaskan bahwa tuma'ninah adalah termasuk rukun shalat maka tanpanya shalat menjadi tidak sah. Tuma’ninah adalah tenang dan khusu' dan tidak tergesa-gesa sampai semua tulangnya kembali pada posisinya semula. Banyak orang yang menjalankan shalat terawih di bulan Ramadhan sementara mereka tidak menyadarinya atau tidak tuma'ninah bahkan mereka seperti burung mematuk makanan. Shalat seperti ini jelas bathil, dan pelakunya tidak mendapatkan pahala bahkan berdosa.
Termasuk masalah yang kurang dipahami oleh sebagian orang; mereka menyangka bahwa shalat tarawih tidak boleh kurang dari duapuluh rakaat, dan sebagian menyangka tidak boleh lebih dari sebelas rakaat atau tiga belas rakaat. Ini adalah keyakinan salah yang menyelisihi dalil.
Hadit-hadits shahih dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah menjelaskan bahwa shalat malam itu sangat longgar dan tidak ada batasan jumlah tertentu, diriwayatkan bahwa beliau shalat malam sebelas rakaat dan terkadang tiga belas rakaat bahkan juga terkadang kurang dari itu baik di bulan Ramadhan atau selainnya. Ketika Beliau ditanya tentang shalat malam beliau menjawab:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى , فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ اَلصُّبْحِ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً
"Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat dan jika kamu khawatir masuk waktu subuh maka laksanakanlah shalat witir satu rakaat" (Mutafaq ala sihhatihi).
Beliau tidak membatasi jumlah rakaat tertentu baik di bulan Ramadhan atau selainnya, oleh karena itu para shahabat pada masa khalifah Umar ada yang shalat dua puluh tiga rakaat, dan terkadang sebagian shalat sebelas rakaat, semua itu diriwayatkan dari Umar radhiyallahu anhu dan dari shahabat lainnya pada masa itu. Sebagian ulama salaf shalat malam di bulan Ramadhan tigapuluh tiga rakaat dan witir tiga rakaat, sebagian mereka shalat empat puluh satu sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimyyah dan lainnya dari para ahlu ilmi, beliau juga menjelaskan tentang adanya kelonggaran dalam masalah ini, beliau menjelaskan bahwa yang paling afdhal bagi orang yang bacaannya panjang, rukuknya panjang, sujudnya panjang maka hendaknya mengurangi jumlah rakaatnya, namun bagi orang yang bacaannya pendek, rukuk serta sujudnya pendek untuk menambah jumlah rakaatnya. Inilah maksud perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Dan barangsiapa yang meneliti sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم maka yang paling afdhal dari jumlah rakaat tersebut adalah sebelas atau tiga belas rakaat baik di bulan Ramadhan atau selain Ramadhan, karena sesuai dengan apa yang sering dikerjakan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Selain itu, hal ini lebih ringan bagi mereka serta lebih mendekati kekhusu'an dan tuma'ninah, namun tidak mengapa bagi orang yang mau menambah jumlah rakaat tersebut.
Dan yang afdhal bagi orang yang shalat malam bersama imam tidak keluar sebelum imam selesai, sebagaimana sabda beliau صلى الله عليه وسلم:
إِنَّ الرَّجُلَ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً
“Jika seseorang shalat malam bersama imam sampai selesai maka Allah akan menulis baginya pahala shalat malam suntuk”.
Disyariatkan bagi kaum muslimin untuk bersungguh sungguh dalam melakukan berbagai macam amalan ibadah di bulan yang mulia ini seperti shalat sunnah, membaca Al Qur'an, mentadabburi ayat-ayat Al Quran, berfikir, memperbanyak tasbih, tahlil, tahmid, takbir, istighfar, dan do'a yang disyari'atkan, serta melakukan amar ma'ruf nahi mungkar, berdakwah di jalan Allah, membantu fakir miskin, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturrahmi, menghormati tetangga, menjenguk orang sakit, dan lain-lain dari berbagai macam kebaikan, sebagaimana Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
يَنْظُرُ اللهُ إلَى تَنَافُسِكُمْ فِيْهِ فَيُبَاهِي بِكُمْ مَلاَئِكَتَة، فأرُوا اللهَ مِنْ أَنفُسِكُم خَيْرًا فَإِنَّ الشَّقَى مَن حَرَّمَ فِيْهِ رَحْمَة اللهِ
“Di bulan Ramadhan, Allah melihat persaingan kalian dalam melakukan kebaikan, lalu Allah akan banggakan-banggakan di antara para malaikat-Nya, maka perlihatkanlah kebaikan kalian di hadapan Allah, sesungguhnya orang yang sengsara adalah orang tidak mendapatkan rahmat Allah".
Sabdanya yang lain:
مَنْ تَقَّرَبَ فِيْهِ بِخَصْلةٍ مِنْ خِصَالِ الْـحَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّ فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ
"Siapa bertaqarrub kepada Allah di bulan Ramadhan dengan melakukan satu amal kebaikan sunnah maka baginya seperti melakukan amalan fardhu di luar Ramadhan, dan siapa melakukan amalan fardhu maka baginya seperti melakukan tujuh puluh amalan fardhu di luar Ramadhan".
Sabdanya yang lain:
عُمْرَةٌ فِى رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً، أَوْ قَالَ: حَجَّةُ مَعِي
“Umrah di bulan Ramadhan pahalanya seperti haji atau seperti haji bersamaku”.
Sangat banyak hadits maupun atsar yang menjelaskan tentang berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan di bulan Ramadhan.
Semoga Allah عزّوجلّ melimpahkan taufiq kepada kita dan kaum muslimin agar kita dapat menjalankan apa-apa yang diridhai-Nya, dan semoga Dia menerima puasa serta shalat malam kita, memperbaiki kondisi serta melindungi kita dari fitnah, juga kita memohon semoga Allah memperbaiki kondisi pemimpin kaum muslimin dan menyatukan mereka dalam kebenaran, sesungguhnya Dia Maha Penolong dan Maha Mampu atas segala sesuatu.
Wassalamu 'Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.[]

Hakikat Kebahagian

 
 

Orang yang bahagia adalah orang yang apabila memperoleh nikmat bersyukur; apabila memperoleh musibah, bersabar; dan apabila berbuat dosa, beristighfar.


Banyak pendapat saling berlainan dalam mendefinisikan makna kebahagian. Masing-masing memiliki kamus tersendiri sesuai pemahaman dan keyakinan pandangannya terhadap kehidupan, lingkungan , dan wawasan ilmunya. Pendapat mereka berkisar seputar harta, kenikmatan dan kesenangan; pengetahuan dan seni; hobi dan rekreasi; kebebasan dan bacaan; kemenangan dan kesuksesan; serta tuntunan-tuntunan hidup yang lain.
Di sisi lain, orang yang beriman dan beramal shalih adalah sebaik-baik makhluk. Neraca timbangan mereka dalam mengukur kehidupan yang bahagia adalah syariat yang suci. Hujjah mereka adalah wahyu Ilahi. Dalil perkataan mereka adalah risalah rabbaniyah yang diemban para Rasul dan dibawa para Nabi Shollohu A’laihi wa Sallam. Kebagian, menurut mereka adalah tauhid yang murni, yang tak tercemari noda syirik. Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”

Iman yagn kuat kepada Allah, Alquran dan Rasul-Nya; sikap ridha terhadap hokum-hukum Allah dan tunduk kepada-Nya siertai dengan ketaatan tanpa tawar-menawar—yang dengannya mereka menjalankan apa yang dilarang--; bersbar terhadap ketentuan takdir di dalamnya; ridha dengan aoa yang dibagikan Allah untuk mereka; menerima hokum Allah yang berlaku atas mereka; memuji Allah atas karunia nikmat yang diberikan kepada mereka dan bersyukur atas hidayah kepada pemberinya, seraya mengharapkan balasan yang baik kepada  Dzat yang menentukan dan memutuskannya.
Singkat kata, orang yang bahagia adalah orang yang apabila memperoleh nikmat bersyukur; apabila memperoleh msuibah, bersabar, dan apabila berbuat dosa, beristighfar.
Ketaatan akan menjadikannya konsisten terhadap wahyu dan sunnah Nabi; msuibah akan menjadikannya sabar—yang dengan itu beribadah dan mengharapkan pahala dari-Nya; sedangkan  dosa-dosa akan membuatnya beristighfar dan meminta ampun pada Allah, serta menyertainya.
Niat seorang mukmin selau berada dalam kebaikan. Bangun dan tidurnya, makan dan minumnya, selalu diniatkan untuk emngharapkan pahala dari Allah Azza wa Jalla, sehingga seluruh aktivitasnya menjelma menjadi ibadah. Desah nafasnya sebagai ketaatan dan aktivitasnya sebagai taqorrub (pendekatan diri kepada Allah). Seluruh kegiatan dan amal ibadahnya adalah lillah (untuk Allah). Niat, perkataan, dan perbuatannya untuk Allah; daya dan upayanya karena pertolongan Allah; usaha dan ikhtiarnya semuanya dia pasrahkan kepada Allah; inabah, taubat, dari kembalinya kepada Allah; demikian pula mahabbah (kecintaan), wala’ (loyalitas) dan pemberiannya adalah karena Allah.

Susah Senang Sama Saja

Jika fasilitas duniawi dianugerahkan kepadanya, dia jadikan  dunia itu untuk menjaga agamanya. Sebaliknya, jika fasilitas tersebut diambil darinya, jika dunia membelakanginya, dia justru memuji Allah karena telah menyelamatkannya dari fitnah, sehingga menjadi orang yang senang dan bahagia.
Jika Allah menganugerahkan pakaian baru, misalnya, dia memperlihatkan nikmat Allah tersebut, menyebut-nyebut karunina-Nya dan mengumumkan kemurahan hati-Nya atas pemberian itu.
Jika Allah memberinya pakaian using dan lusuh, dia tetao memuji Allah, tunduk dan merendahkan diri di hadapan-Nya, dan menganggapnya sebagi pemberian dari Allah. Karena, ia menganggap Allah telah menjauhkannya dari baju—yang mungkin akan—membuat dirinya angkuh, ujub dan sombong; dan Allah menjaganya dari suatu pakaian—yang mungkin—menyimpan benih kecongkakan dan ketakaburan. Dia tahu bahwa pakaian takwa adalah lebih baik dan selimut keshalihan adalah lebih elok serta lebih indah.
Jika dia menduduki satu jabatan, maka dia jadikan jabatannya sebagau jalan untuk meraih syurga, melakukan perbaikan, dan membrai manfaat kepada hamba-hamba Allah Azza wa Jalla lainnya. Dia tahu bahwa jabatan adalah ujian dari Allah, untuk mengetahui apakah pemiliknya bersyukur atas karunia tersebut atau justru dia mengingkarinya.
Jika badannya sehat, dia jadikan itu sebagai saranan berbuat kebaikan dan mencari bekal dengan amal ketaatan. Jika sakit, dia jadikan sakitnya untuk menghilangkan bekas-bekas pengaruh maksiat dan mengikis dosa-dosa. Dia merasa bahagia dalam setiap tempat persinggahan yang dilaluinya sepanjang umur, dan ridha dengan keadaan yang Allah turunkan padanya;

Kenakanlah bagi setiap keadaan, pakaiannya
Baik kenikmatannya ataupun kesengsaraannya


Di setiap keadaan, dia menginvestasikan musibah apapun yang datang untuk kebaikannya kelak. Dia orientasikan musibah apapun yang menimpa untuk mendekatkan diri kepada Allah; mengubah kerugiannya menjadi keuntungan, capek-lelahnya menjadi kesegaran. Jika kehilanganmata, dia mengharapkan gantinya dari Allah. Allah Azza wa Jall berfirman dalam sebuah hadist Qudsi:

“Barangsiapa diuji dengan hal yang dicintainya (yakni kedua matanya), lalu dia bersabar, maka Allah akan menggantikan keduanya dengan syurga.”

Jika Allah mengambil kekasihnya di dunia, maka dia meminta balasan pahalanya dari Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam sebuah hadist Qudsi:

“Tiadalah balasan dari sisi-Ku bagi hamba-Ku yang mukmin apabila Aku mengambil orang yang dicintainya (anak, saudara, teman) di dunia, kemudian dia bersabar danmengharapkan pahalanya, kecuali syurga.” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad)

Memaksimalkan Ibadah di Bulan Penuh Berkah





Tidak terasa bulan yang kita nanti-nanti datang juga. Bulan yang kesembilan dalam kalender Hijriah. Bulan Ramadhan, itulah nama bulan ini sebagaimana yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an.
Bulan ini memiliki banyak keutamaan, di antaranya adalah sebagai berikut:
1.    Al-Qur’an diturunkan oleh Allah pada bulan Ramadhan.
2.    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga diutus pada bulan Ramadhan.
3.    Pada bulan Ramadhan setan-setan akan dibelenggu, seluruh pintu-pintu neraka ditutup dan seluruh pintu-pintu surga dibuka oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
4.    Beramal di bulan Ramadhan bisa menghapuskan dosa-dosa antara Ramadhan yang lalu dengan Ramadhan yang sekarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِر
“Shalat lima waktu, Jum’at yang satu dengan Jum’at yang lainnya dan Ramadhan yang satu dengan Ramadhan yang lainnya dapat menghapuskan dosa di antara (waktu-waktu) tersebut jika menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)
Dan masih banyak sekali keutamaan-keutamaan bulan yang penuh berkah ini.
Berkaitan dengan bulan Ramadhan, Malaikat Jibril ‘alaihissalam pernah berdoa agar orang yang mendapatkan bulan Ramadhan tetapi dosa-dosanya tidak diampuni maka dia akan mendapatkan kerugian dan kehinaan yang besar. Hal tersebut ternyata diaminkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dijelaskan pada hadits berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقِيَ الْمِنْبَرَ فَقَالَ:  آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ، فَقِيلَ لَهُ :  يَا رَسُولَ اللَّهِ ! مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا؟  فَقَالَ :  قَالَ لِي جِبْرِيلُ : أَرْغَمَ اللَّهُ أَنْفَ عَبْدٍ – أَوْ بَعُدَ – دَخَلَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، فَقُلْتُ : آمِينَ …إلخ
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menaiki mimbar seraya berkata, “Amin! Amin! Amin!” Setelah itu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun ditanya, “Apa yang tadi engkau lakukan?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Jibril berkata kepadaku, ‘Mudah-mudahan Allah menghinakan seorang hamba yang telah memasuki Ramadhan tetapi dia tidak diampuni.’ Aku pun mengatakan, ‘Amin.’…”  (HR. Ibnu Khuzaimah di Shahih-nya, Ibnu Hibban di Shahih-nya dan yang lainnya. Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani di Shahih At-Targhib wa At-Tarhib)
Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang merugi dan dihinakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Amin. Oleh karena itu, penting sekali penulis mengingatkan diri penulis dan pembaca agar dapat memanfaatkan bulan Ramadhan ini semaksimal mungkin.

SYARAT AMALAN DITERIMA

Untuk memaksimalkan ibadah kita di bulan ini banyak sekali amalan-amalan yang dapat kita lakukan. Akan tetapi, sebelum penulis menyebutkan semua amalan tersebut, sebaiknya kita mengetahui dua syarat suatu amalan akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dua syarat tersebut adalah:
1.    Ikhlas dan  lawannya adalah syirik
Seluruh amalan kita harus hanya diserahkan kepada Allah dan tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya . Termasuk bentuk syirik adalah riya’ (pamer dan ingin dipuji).
2.    Mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak mengadakan hal yang baru di dalam agama.

AMALAN-AMALAN DI BULAN RAMADHAN

Berikut ini adalah amalan-amalan yang kita lakukan di bulan Ramadhan beserta sedikit penjelasannya:

1.  Shaum/Shiyam/Puasa

Shaum Ramadhan hukumnya wajib dikerjakan oleh semua kaum muslimin dan muslimat yang baligh dan berakal terkecuali orang-orang yang memiliki ‘udzur, seperti: sakit, safar (perjalanan jauh), haidh, nifas dan lainnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah/2: 183)
Shaum/puasa memiliki banyak keutamaan, di antaranya disebutkan pada hadits berikut:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو : أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :  الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، يَقُولُ الصِّيَامُ : أَيْ رَبِّ ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ : مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ ، قَالَ : فَيُشَفَّعَانِ.
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada seorang hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Wahai Rabb–ku! Saya telah menghalanginya dari makanan dan (memenuhi) syahwatnya di siang hari. Berilah saya izin untuk memberi syafaat untuknya. Al-Qur’an pun berkata, ‘Saya telah menghalanginya untuk tidur di malam hari. Berilah saya izin untuk memberi syafaat untuknya.’ Akhirnya mereka pun dapat memberikan syafaat.” (HR. Ahmad di Musnad-nya, Al-Hakim di Al-Mustadrak, Al-Baihaqi di Syu’abul-Iman dan yang lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di Misykatul-Mashabih)
Agar puasa kita bisa mendapatkan hasil yang maksimal hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:
a.    Hendaknya bersahur
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian sesungguhnya pada sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
b.    Hendaknya mengakhirkan sahurnya sampai dekat waktu subuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengakhirkan sahurnya, sehingga jarak antara waktu sahur dengan shalat adalah sepanjang bacaan lima puluh ayat (sekitar sepuluh menit). Banyak orang yang melalaikan hal ini. Bahkan sebagian masyarakat di suatu daerah tidak lagi bersahur karena sudah menjadi adat-kebiasaan mereka. Padahal sahur adalah pembeda antara puasa kita dengan puasa umat-umat sebelum kita.
c.    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersahur dengan tamr (kurma). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
 نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ
“Hidangan sahur yang paling baik adalah kurma.”  (HR. Abu Dawud. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani di Shahih Sunan Abi Dawud)
d.    Tidak perlu melafazkan niat ketika bersahur. Karena niat tempatnya adalah di hati.
e.    Ketika siang hari di bulan Ramadhan, selain mengerjakan hal-hal yang wajib dan menghindari hal-hal yang membatalkan puasa, hendaknya memperbanyak amalan-amalan sunnah dan meninggalkan hal-hal yang dimakruhkan apalagi yang diharamkan.
f.    Hendaknya memperbanyak berdoa ketika berpuasa. Karena ini termasuk waktu yang mustajab (dikabulkan).
g.    Ketika hampir masuk waktu Maghrib, hendaknya benar-benar telah mempersiapkan diri untuk berbuka, sehingga mendapat keutamaan berbuka di awal waktu dan tidak mengakhirkannya.
h.    Ketika berbuka hendaknya berdoa dengan doa berikut:
 ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Dahaga telah pergi. Kerongkongan telah basah. Pahala telah ditetapkan. Insya Allah.” (HR. Abu Dawud. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani di Shahih Sunan Abi Dawud)
i.    Di-sunnah-kan berbuka dengan ruthab (kurma basah). Jika tidak ada, maka digantikan dengan tamr (kurma kering). Jika tidak ada, maka cukup digantikan dengan air.
j.    Jika berbuka di tempat orang lain hendaknya membaca doa:
 أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ
Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di sisi kalian. Orang-orang bertakwa telah memakan makanan kalian. Dan para Malaikat berdoa untuk kalian. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah. Di-shahih-kan  oleh Syaikh Al-Albani di Shahih Sunan Ibni Majah)
k.    Di-sunnah-kan juga menyediakan makanan pembuka puasa untuk orang-orang lain.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرُهُ ، إِنَّهُ لاَ يَنْتَقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ
Barang siapa yang memberi makanan pembuka orang yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahalanya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.  (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani di Shahih Sunan Ibni Majah)
Inilah beberapa hal yang hendaknya kita lakukan ketika kita bersahur, berpuasa dan berbuka.

2. Shalat Tarawih/Qiyam Ramadhan

Setelah Isya’ sampai waktu Subuh di-sunnah-kan mengerjakan shalat Tarawih. Jumhur ulama memandang bahwa shalat Tarawih di-sunnah-kan secara berjamah. Inilah yang dikerjakan dari masa ke masa. Sebenarnya waktu yang paling afdhal untuk mengerjakannya adalah di sepertiga malam yang terakhir. Hal ini banyak orang yang melupakannya. Akan tetapi, jika merasa berat untuk mengerjakannya, maka bisa dikerjakan langsung  setelah shalat Isya’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barang siapa yang mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharapkan ganjarannya, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.“ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hendaknya kita tidak mempermasalahkan jumlah rakaat yang dikerjakan di tiap-tiap masjid. Dan hendaknya kita bisa berlapang dada dalam menerima perbedaan tersebut.

3.  ‘Umrah

Untuk orang-orang yang diberi harta lebih, maka sebaiknya mengisi Ramadhan dengan berumrah ke Mekkah. Pahala umrah di bulan Ramadhan sangatlah besar dan sama seperti pahala orang yang mengerjakan haji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً
“Umrah di bulan Ramadhan seperti haji.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani di Shahih Sunan Ibni Majah)
4. Mencari Lailatul-Qadr

Laitul-Qadr adalah satu malam di bulan Ramadhan yang pada malam itu para malaikat turun. Lailatul-Qadr tidak diketahui kapan akan terjadi di tiap tahunnya. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa malam itu terdapat di antara sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Pada malam itu seluruh bentuk amalan akan dinilai lebih baik dari amalan-amalan seribu bulan. Waktu yang sedikit tetapi dilipatgandakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ini berlaku untuk semua orang. Oleh karena itu, para salaf (orang terdahulu) mengisi malam-malam di akhir Ramadhan dengan beribadah dan tidak tidur.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan menghidupkan malam lailatul-qadr:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِ
“Barang siapa yang mendirikan (ibadah) di malam lailatul-qadr karena keimanan dan mengharapkan ganjarannya, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Al-Bukhari)
Sebagian kaum muslimin salah dalam memahami lailatul-qadr ini, sebagian memandang bahwa pada malam itu akan diturunkan cahaya untuk satu orang yang dipilih oleh Allah, sehingga pada kemudian harinya dia menjadi orang memiliki banyak kesaktian/keanehan.
Pemahaman seperti itu salah dan harus diluruskan.

5. I’tikaf

I’tikaf adalah tinggal di dalam masjid dan tidak keluar darinya sampai waktu tertentu dengan niat ibadah kepada Allah. Dengan ber-i’tikaf kita tidak hanya bisa mencari lailatul-qadr, memfokuskan diri untuk beribadah dan meninggalkan urusan-urusan dunia, tetapi kita juga bisa meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sunnah i’tikaf ini banyak ditinggalkan oleh mayoritas kaum muslimin di seluruh dunia. Padahal para khatib Jum’at dan para penceramah setiap tahunnya menyebutkan keutamaannya. Seharusnya para pemuka agama tidak hanya dapat berbicara di atas mimbar, tetapi juga harus menunjukkan peraktek langsungnya di masyarakat. Jika para pemuka agama beri’tikaf, insya Allah orang-orang yang lain juga akan mengikutinya. Sebaiknya seluruh instansi dan perusahaan yang ada di masyarakat kita meliburkan kegiatannya pada hari-hari ini dan menganjurkan kepada seluruh pegawainya untuk ber-i’tikaf.
Orang yang sudah biasa mengerjakan amalan ini insya Allah akan merasa ada yang kurang jika dia mendapatkan bulan Ramadhan tetapi belum beri’tikaf. Apakah Anda ingin menjadi salah satunya?

6. Banyak Membaca dan Mempelajari Al-Qur’an

Bulan ini adalah kesempatan yang sangat besar untuk meluangkan waktu membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Bagi yang belum bisa membaca Al-Qur’an, maka sebaiknya segera mempelajarinya. Bagi yang bisa membaca, diusahakan untuk menkhatamkan Al-Qur’an. Bagi yang sudah lancar, diusahakan untuk mengkhatamkan beberapa kali dalam satu bulan. Jika telah bisa mengkhatamkan dua kali, diusahakan untuk mengkhatamkan tiga kali, kemudian empat kali, kemudian lima kali dan seterusnya.
Selain membaca diusahakan juga untuk memahami kandungan makna Al-Qur’an, baik dengan membaca terjemahan Al-Qur’an atau buku tafsir.

7. Memperbanyak Seluruh Amalan Kebajikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di bulan Ramadhan sangatlah baik. Kebaikan beliau pada bulan ini lebih baik daripada kebaikan-kebaikannya di bulan yang lain. Beliau sangat mudah berinfak dan membantu orang lain-pada bulan ini sebagaimana dijelaskan oleh pada hadits Ibnu ‘Abbas. Sampai-sampai Ibnu Abbas membuat permisalan ‘Kebaikan beliau lebih cepat dari pada angin (hujan) yang bertiup kencang’. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Inilah beberapa hal yang bisa penulis sampaikan. Mudah-mudahan kita bisa memaksimalkan ibadah-ibadah kita di bulan Ramadhan ini. Dan mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba Allah yang diampuni dosa-dosanya. Amin.
Tamma bi fadhlillahi wa karamihi. Mudahan bermanfaat.[]

Daftar Pustaka
1.    Hadyun-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam fi Ramadhan. Sami bin Muhammad.
2.    Istiqbalul-Muslimin li Ramadhan. ‘Athiyah Muhammad Salim.
3.    Ramadhan Kaifa Nastaqbiluhu wa Kaifa Naghtanimuhu?. As-Sayyid Al-Arabi  bin Kamal.
4.    Taujihat Ramadhaniyah. Ibnu Abdillah Az-Zuhairi.
5.    Buku-buku lain yang telah disebutkan di makalah ini.