Kaáb Bin Malik: Sang Penyair Rasulullah

 

Ka'ab ibn Malik al-Anshari al-Khazraji al-Uhudi, seorang sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan salah satu penyair Rasulullah.

Beliau salah satu dari tiga sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang tertinggal ketika terjadi Perang Tabuk, namun karena kejujurannya dalam bertaubat, maka Allah عزّوجلّ menerima taubatnya, bahkan Allah عزّوجلّ menurunkan ayat-ayat al-Qur'an sebagai bukti diterimanya taubatnya.
Ka'ab ibn Malik sangat cinta kepada Allah عزّوجلّ, cinta kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, cinta kepada Islam dan kaum muslimin. Namun demikian, beliau juga manusia biasa, yang tak lepas dari lalai dan melakukan kesalahan, karena kejujurannya dalam berucap, dalam bersikap, dan dalam bertaubat, akhirnya Allah عزّوجلّ menerima taubatnya.

PERANG TABUK

Hampir setiap peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم, Ka'ab ibn Malik رضي الله عنه ikut serta ada di dalamnya, kecuali dalam Perang Tabuk dan Perang Badar yang kala itu tidak ada seorang pun yang dicela sebab tidak ikut serta dalam Perang Badar. Bahkan dalam Perang Tabuk segala persiapan dari perbekalan dan kuda pilihan itu pun telah disiapkan untuk ikut serta berjihad bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabat lainnya.
Beliau sendiri mengatakan: "Tatkala Rasulullah صلى الله عليه وسلم berangkat menuju Tabuk yang tatkala itu aku tertinggal, aku dalam keadaan sehat dan siap, dan aku pun telah memilih kuda untuk berperang menuju Tabuk."
Beliau menceritakan: "Kebiasaan Rasulullah صلى الله عليه وسلم jika berangkat berperang menuju suatu tempat, maka beliau mengalihkan jalan ke arah jalan yang lain sebagai strategi dalam berperang. Tatkala itu adalah musim panas, pasukan akan melakukan perjalanan panjang yang melelahkan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah menginformasikan bahwa kaum muslimin akan berhadapan dengan pasukan Romawi."
Maka berangkatlah pasukan perang yang dipimpin langsung oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم menuju Tabuk. Pada saat itu Musim panas dan musim buah kurma yang saatnya dipanen, menjadikan jihad terasa berat— terutama oleh orang-orang munafik— apalagi pasukan harus berhadapan dengan pasukan Romawi yang pada saat itu adalah pasukan yang sangat besar dan kuat. Hal tersebut merupakan penyebab sehingga banyak dari mereka yang beralasan untuk diizinkan tidak ikut serta pada perang di Tabuk.
Ka'ab menceritakan: "Tatkala itu aku baru tersadar bahwa aku telah tertinggal oleh pasukan kaum muslimin, dan aku tidak mendapati orang-orang yang tertinggal kecuali hanyalah orang-orang yang memang telah dihinggapi oleh sifat kemunafikan atau orang-orang yang memang telah diberi udzur untuk tidak ikut serta dalam peperangan karena kelemahannya." Allahul Musta'an.

PASCA PERANG TABUK

Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak menyadari ketidakhadiran Ka'ab رضي الله عنه hingga beliau tiba di Tabuk. Kala itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم sedang duduk-duduk bersama dengan para sahabat yang lain, lalu beliau bertanya: "Apa yang terjadi pada diri Ka'ab, mengapa dia tidak ikut serta bersama rombongan?" Maka salah seorang dari Bani Salamah menyahut, bahwa Ka'ab telah begini dan begini (persangkaan yang buruk kepada Ka'ab), lalu Mu'adz ibn Jabal رضي الله عنه bangkit lalu mengatakan: "Sungguh kejelekan apa yang engkau persangkakan kepada Kaáb. Wahai Rasulullah, demi Allah, kami tidak mengetahui perihal Ka'ab kecuali kebaikan saja." Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun terdiam.
Ka'ab ibn Malik صلى الله عليه وسلم menceritakan kejadian tatkala Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah kembali dari Perang Tabuk ke Madinah. Beliau mengatakan: "Pada suaru hari di waktu shubuh, Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah kembali dari peperangan, dan seperti kebiasaan beliau bila datang dari safar, beliau segera menuju masjid, lalu shalat dua raka'at kemudian duduk bersama para sahabat. Tatkala itu datanglah orang-orang yang absen dalam peperangan, mereka meminta udzur dan bersumpah menyebutkan alasan-alasan tidak bergabung bersama sahabat lain dalam peperangan; mereka berjumlah 80-an orang. Rasulullah صلى الله عليه وسلم hanya mengangguk dan memohonkan ampunan serta menyerahkan tentang kebenaran alasan-alasan tersebut kepada Allah عزّوجلّ."
Beliau melanjutkan mendengarkan: "Hingga tibalah giliranku, aku pun datang dan mengucapkan salam kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Beliau hanya tersenyum, sebuah senyuman yang menyimpan kemarahan, lalu beliau mengatakan: 'Kemarilah, wahai Ka'ab!' Maka  aku  pun menghadap  di  hadapan  Rasulullah صلى الله عليه وسلم, lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertanya: 'Wahai Ka'ab, apa yang menghalangimu dari berangkat berperang? Bukankah engkau telah menyiapkan segala perbekalannya?' Aku hanya menjawab: 'Benar, wahai Rasulullah, seandainya saat ini saya duduk bersama orang lain dari penduduk dunia selain Anda, tentu saya akan menyebutkan seribu satu alasan supaya saya bisa selamat dari kemarahan, dan saya adalah seorang yang jago dalam berargumen, tetapi seandainya hari ini saya berkata kepada Anda dengan perkataan dusta yang mungkin saja Anda akan menerima alasan-alasan tersebut, tetapi tentu Allah عزّوجلّ akan murka kepada saya, namun bila hari ini saya berkata dengan perkataan yang jujur meski Anda akan marah besar kepada saya, namun saya tetap berharap akan ampunan Allah عزّوجلّ kepada saya...! Wahai Rasulullah, demi Allah, saya tidak memiliki alasan apa pun, dan saya adalah seorang yang sehat, kuat, dan telah diberi kesiapan untuk berperang tatkala saya tertinggal dari Anda."
Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم hanya mengatakan: "Benar, engkau telah berkata jujur, berdirilah, hingga Allah عزّوجلّ nanti yang akan memberikan putusan kepadamu."


UJIAN KA'AB IBN MALIK

Rasulullah صلى الله عليه وسلم hendak memberikan hukuman dalam rangka untuk mendidik para sahabatnya, maka beliau menghukum Ka'ab ibn Malik رضي الله عنه dan dua orang sahabatnya yang senasib dengan beliau.
Beliau menceritakan: "Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang para sahabat untuk berbicara kepada kami, tiga orang yang tertinggal dalam Perang Tabuk, maka kami pun menjauhi manusia hingga bumi yang kami pijak terasa asing, seakan-akan bumi ini bukan tempat yang sebelumnya telah kami tempati. Hal itu berlalu hingga 50 hari. Adapun dua sahabatku yang senasib denganku maka mereka hanya menyendiri di dalam rumah dan menangisi keadaan mereka."
Beliau meneruskan: "Adapun aku, maka aku adalah yang paling muda di antara mereka dan paling berani, meski demikian aku tetap ikut shalat jama'ah di masjid bersama kaum muslimin, aku pun berjalan di pasar-pasar, meski tidak ada seorang pun yang mengajak bicara kepadaku. Aku pun pernah memberanikan diri datang kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, aku ucapkan salam kepada beliau seusai shalat, aku selalu memperhatikan beliau, apakah beliau menggerakkan bibirnya menjawab salamku ataukah tidak, bahkan aku shalat di dekat beliau, dan aku mencuri pandang kepada beliau, bila beliau melihat kepadaku aku segera mengalihkan pandanganku. Demikian keadaanku, seluruh kaum muslimin meninggalkanku, hingga aku datang ke rumah Abu Qatadah, beliau adalah kerabat dekatku yaitu anak pamanku seorang yang sangat aku cintai, barangkali ia mau mengerti tentang diriku. Aku pun menemuinya, lalu aku ucapkan salam kepada beliau, namun demi Allah, ia pun tidak menjawab salamku. Aku katakan: 'Wahai Abu Qatadah, demi Allah, bukankah engkau tahu bahwa aku adalah seorang yang cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasul...??!!' Abu Qatadah hanya terdiam. Aku mengulang-ulang perkataanku, namun ia hanya terdiam lalu mengatakan: 'Allah dan Rasul-Nya-lah yang lebih mengetahui.' Maka aku pun menangis dan pergi meninggalnya."
Beliau melanjutkan: "Tatkala aku berjalan di pasar, tiba-tiba datang seseorang yang mencari-cari keberadaanku, dengan berwajah ceria dia memberikan sepucuk surat kepadaku, ternyata ia adalah seorang utusan dari Raja Ghassan yang diperintah untuk mengantarkan surat rajanya kepadaku. Aku pun membuka isi surat tersebut, Raja Ghassan mengatakan: 'Sungguh telah sampai berita kepadaku bahwa engkau telah diperlakukan tidak baik oleh sahabat-sahabatmu, engkau telah dikucilkan oleh mereka. Maka kemarilah, kami akan merangkulmu dan menghormatimu."'
Maka genap sudah musibah di atas musibah, ujian di atas ujian; dan kini beliau diuji dengan tawaran dari musuh Islam dan kaum muslimin. Seandainya saja imannya tidak kuat, maka beliau akan segera menerima tawaran baik tersebut, namun itu tidak terjadi pada diri Ka'ab ibn Malik رضي الله عنه, beliau justru merobek-robek surat tersebut dan membuangnya di tempat sampah.
Ujian masih belum berakhir, kini datang ujian lagi. Setelah berlalu 40 hari, tiba-tiba datanglah salah seorang utusan Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyampaikan kepada Ka'ab ibn Malik رضي الله عنه: "Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahmu untuk meninggalkan istrimu dan jangan engkau dekati dia." Ka'ab رضي الله عنه mengatakan: "Apakah Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahku untuk aku menceraikan istriku atau sekadar menjauhinya?" Utusan itu menjawab: "Tidak, Rasulullah صلى الله عليه وسلم hanya memerintahkan agar engkau menjauhi istrimu dan tidak mendekatinya." Demi menaati perintah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, datanglah Ka'ab ibn Malik رضي الله عنه kepada istrinya seraya mengatakan: "Wahai istriku, sekarang kembalilah engkau kepada keluargamu hingga Allah عزّوجلّ memberikan putusan-Nya kepadaku."
Hingga berlalu 10 hari, Ka'ab ibn Malik رضي الله عنه menjauhi istrinya karena taat pada perintah Rasul-Nya, sehingga genaplah 50 hari musibah itu menimpa Sahabat Ka'ab ibn Malik رضي الله عنه.
Kesedihan di atas kesedihan terus dialami Sahabat Ka'ab ibn Malik رضي الله عنه namun Allah عزّوجلّ telah menjanjikan kebaikan dan kebahagiaan adalah hasil akhir bagi seorang mukmin yang benar-benar mencintai Allah عزّوجلّ dan mencintai Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan bersabar di atas jalan musibah.

KEMENANGAN BAGI ORANG YANG JUJUR DAN SABAR

Ka'ab ibn Malik رضي الله عنه menceritakan: "Pada waktu shubuh di hari ke-50, seusai aku menunaikan shalat Shubuh di dalam rumahku, tatkala aku sedang duduk mengingat Allah عزّوجلّ, rasa sesak telah menghimpit dada dan seakan bumi ini ciut padahal ia lapang, kala itu aku mendengar suara yang menyerukan memanggil namaku, 'Wahai Ka'ab ibn Malik, bergembiralah...!!!' Maka aku tersungkur sujud, karena itu pertanda bahwa telah terbuka jalan keluar bagiku."
Benar. Bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم seusai shalat Shubuh telah mengabarkan kepada para sahabat bahwa telah diterimanya taubatnya, maka segera salah satu sahabat memberitahukan kepada Ka'ab رضي الله عنه.
Ka'ab رضي الله عنه menceritakan: "Maka aku segera datang kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dan manusia secara bergantian mengucapkan selamat atas diterimanya taubatku hingga aku sampai ke dalam masjid. Tatkala itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم tengah duduk-duduk bersama para sahabat, maka aku mengucapkan salam kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Terlihat sinar cerah di wajah Rasulullah صلى الله عليه وسلم pertanda kegembiraan beliau lalu beliau mengatakan: 'Bergembiralah, wahai Ka'ab, dengan suatu hari yang paling baik semenjak engkau dilahirkan oleh ibumu.' Aku menjawab: Apakah ini datangnya dari Anda atau dari Allah عزّوجلّ?' Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab: 'Bahkan ini datangnya langsung dari Allah عزّوجلّ.' Lalu aku mengatakan: 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah عزّوجلّ telah menyelamatkanku karena kejujuranku, maka setelah ini aku tidak akan berkata kecuali perkataan jujur selama aku masih hidup. Demi Allah, tidaklah ada seorang yang mendapatkan ujian perihal kejujuran yang lebih berat selain dariku.'"
Benar. Allah عزّوجلّ telah menerima taubatnya Ka'ab ibn Malik رضي الله عنه karena kejujurannya, bahkan Allah عزّوجلّ menurunkan ayat-ayat-Nya yang akan senantiasa dibaca hingga hari kiamat. Allah عزّوجلّ berfirman:
لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ . وَعَلَى الثَّلاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Rasulullah, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang mengikuti Rasulullah dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang  yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS at-Taubah 19]: 117-118)
Demikianlah, bagaimana Allah عزّوجلّ menyelamatkan hamba-Nya di dunia sebelum di akhirat, karena sebab kejujuran dalam berucap dan jujur dalam bertaubat kepada Allah عزّوجلّ. Bagaimana dengan kita...??
Semoga Allah عزّوجلّ mengampuni kita semua dan dan merahmati Sahabat Ka'ab ibn Malik, meridhai beliau, dan menempatkan beliau pada tempat-Nya yang tinggi, serta mengumpulkan kita semua bersama dengan para Rasulullah, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang shalih di surga-Nya yang tinggi kelak. Amin.[]

0 comments:

Post a Comment